Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Ngajak Ribut.


__ADS_3

"Yah,?" Panggil Karin seraya mendongakkan wajahnya menatap Rahman yang tengah serius membaca koran ditangannya.


"Apa, Mah." Sahutnya datar.


"Mm, pengantin kita lagi ngapain, yah.?" Tanya Karin yang tiba-tiba merasa gemas.


"Mamah ini ! pertanyaan Mamah ada-ada saja. Apa Mamah sedang mengingatkan Ayah pada adegan malam pertama kita.?" Ucapnya setengah menggoda.


"Kinara malu-malu kayak Mamah gak, yah.?" Karin tersenyum geli saat membayangkan malam pertama yang kini tengah dialami anak dan anak mantunya.


"Mah, Mah." Rahman menggeleng senyum.


"Ya tentu.! Semua pasangan pasti merasakan perasaan yang sama saat malam pertamanya." Ucap Rahman yakin.


"Hiiss, Rayhan beringas kayak Ayah gak ya.?" Goda Karin sambil terkikik geli.


"Ikh, apaan sih.? Gak salah.?" Sekilas Rahman menoleh istrinya yang tengah senyum-senyum sendiri. "Bukannya Mamah yag selalu menuntut Ayah untuk lebih beringas.?" Rahman kembali fokus pada lembaran koran ditangannya.


Karin memukul kecil paha suaminya, "Ikh, sejak kapan Mamah meminta Ayah melakukan itu.?" Sahutnya tak terima.


"Mamah kebiasaan deh suka nggak ngaku." Goda Rahman.


Karin tersenyum geli. "Tapi Kinara gitu gak, ya.? Jangan-jangan.?" Karin terkikik geli saat membayangkan tingkah ambyar pasangan pengantin baru itu.


"Tapi Ayah rasa mereka itu masih sangat malu-malu."


"Kenapa.?" Tanya Karin.


"Ya, mereka itu menikah kerena dijodohkan terlebih mereka berdua belum begitu saling kenal, Ayah yakin dirumah itu banyak sekali kecanggungan." Fikir Rahman dengan tatapan melambung ke angkasa.


"Oh tidak.!" Karin Tiba-Tiba terbangun dari berbaringnya, spontan.


"Apa, Mah.?" Tanya Rahman heran.


"Seharusnya kita tidak boleh meninggalkan mereka berdua."


Rahman tersentak, "Mah." Rahman menatapnya intens, keduanya kini tetlibat saling menatap penuh tanya.


"Apa yang Mamah fikirkan sama dengan fikiran Ayah.?"


Karin mengangguk kecil.


"Mah, besok kita OTW." Ucap Rahman sambil melipat korannya menaruh dan kemudian membaringkan tubuhnya, seperti orang terburu-buru.


"Siap, Yah."


Karin kemudian kembali membaringakan tubuhnya disamping Rahman.


Rahman dan Karin Sama-Sama berfikir bagai mana bila Kinara dan Rayhan malah tidur terpisah.


...


...


Fajar telah meningsing, suara-suara burung berkicauan riang.


Rayhan yang telah terbangun sejak subuh tadi, kini tengah terduduk diatas kursi ruang makan.


Sesekali dia membuka tudung saji yang masih tampak kosong.


Sejak setengah jam yang lalu Rayhan telah duduk ditempat itu menunggu Kinara keluar dari kamarnya berharap segera menyiapkan sarapan untuknya.


Sebenarnya mudah saja bagi Rayhan untuk membeli sarapan jadi, namun setelah mencicipi masakan yang Kinara hidangkan tadi malam, Rayhan lebih menginginkan sarapan itu Kinara sendiri yang membuatnya.


Setengah jam kemudian.


Tok tok tok..


Rayhan mengetuk pintu kamar Kinara.


"Kinar, Kinara." Panggilnya sambil mencoba mengusir canggung dihatinya.


Pagi ini rencananya Kinara ingin menikmati hari minggunya dengan duduk santai diam dikamarnya saja. Dia juga tidak akan menyiapkan makanan untuk Rayhan, selain lagi malas Kinara merasa usahanya hanya akan sia-sia karena Rayhan tidak akan tertarik dengan masakannya, seperti beberapa hari ini Rayhan tak sedikitpun menyentuh masakannya, membuatnya malas untuk memasak.

__ADS_1


Apalagi hari ini hari minggu mungkin saja Rayhan akan pergi dan mencari makan diluar dan tak akan mengindahkan masakan yang susah payah dibuatnya.


Kinara yang baru habis mengganti pakaiannya berjalan malas untuk membuka pintu kamarnya, "Ngapain sih tu orang masih pagi udah ribut aja." Kakinya sedikit dipaksakan untuk melangakah menggapai pintu.


Beberapa detik kemudian Kinara membuka pintu kamarnya sedikit, hanya sebagaian kepalanya nongol keluar melihat lelaki yang telah beberapa kali memanggil dan mengetuk kamarnya.


"Apa.?" Tanya'nya malas.


"Loe gak masak.?" Tanya Rayhan bernada kesal.


"Malas." Decak Kinara enteng.


"Loe, ! gak mikirin gue yang sudah lapar dari tadi?" Cetus Rayhan.


"Akh bodo." Tandas Kinara sambil melangkah dan duduk ditempat tidurnya membiarkan Rayhan berdiri di ambang pintu.


"Loe, !" Rayhan mendengus kesal. "Gue minta loe turun dan siapkan sarapan untuk gue suami loe, sekarang juga.!"


Kinara membuang mukanya, "Ikh, enak aja Nyuruh-Nyuruh gue." Kinara mendecak, kesal. "Suruh saja Tamara masak.!" Ucapnya lirih.


"Apa.?" Bentak Rayhan, menuntut Kinara memperjelas kata-katanya.


Kinara yang tak suka dibentak Rayhan melotot, kesal. "Gue bilang kenapa gak suruh Si Tamara saja buat masakin sarapan loe.!" Ucapnya setengah berteriak.


"Kenapa malah Bawa-Bawa dia sih, istri gue'kan loe." Rayhan


"Kenapa loe ? gak suka.?" Sela Kinara.


"Loe, masih pagi udah nyebelin ya." Kesal Rayhan.


"Salah loe juga masih pagi udah ngajak ribut aja." Sahut Kinara tak mau kalah.


Rayhan nyelonong masuk melewati pintu kamar Kinara. "Siapa yang ngajak ribut, gue datang Baik-baik." Ketusnya tak terima.


Kinara berdiri dari duduknya, "Tadi loe ngapain Gedor-Gedor pintu kamar orang, ? ganggu aja." Kinara membuang kesal wajahnya. "Difikir-fikir loe dan Tamara sama-sama nyebelin, yah.? Ekh ngomong-ngomong loe berdua ! pada udah keabisan stok urat malu, ya? kagak ngira Mesra-Mesraan ditempat terbuka, niat pamer lu.?" Timpal Kinara bernada tak suka.


"Apa loe bilang,? gue mesra-mesraan, gak salah.?" Rayhan menyeringai tak terima. "Bukannya kalian berdua yang gak punya urat malu.? Kalian sengaja'kan ketemuan ditempat yang sepi,? idih niat banget loe.!" Cibir Rayhan.


"Loe pintar ngelak juga rupanya." Tunjuk Rayhan.


"Siapa yang ngelak, ? emang begitu kenyataannya! loe kalo gak mau ngaku salah gak usah membalikkan fakta, Nuduh-Nuduh sembarangan.!" Teriak Kinara geram.


"Siapa yang ngembalikkan fakta, emang loenya aja yang gak mau ngaku.!"


"Gue ? gak ngaku, ? gak salah ? bukannya loe yang gak mau ngaku.!" Kinara menekan kata terakhir lalu menunjuk Rayhan.


"Loe.!" Balas Rayhan.


"Loe." Tunjuk Kinara tak mau kalah.


"Loe.!"


Mereka berdua tak mau kalah dan tak ada yang mengalah, saling tuduh dan saling tujuk layaknya sepasang musuh yang dipertemukan.


Drrrtt Drrt Drrt.


Rayhan merasakan getaran disaku celananya.


"Tunggu.!" Ucap Rayhan seraya merogoh benda pipih tersebut lalu menggeser layar handphonenya, satu tangannya berisyarat agar Kinara tetap diam.


Mulut Kinara terbungkam menahan bait kata yang hampir terlonjak keluar dari mulutnya.


"Halo Mah, ada apa." Tanya Rayhan dengan tangan masih menahan Kinara untuk tidak bicara.


"Ray, Mamah cuma mau ngasih tau kamu. Sepertinya, malam ini mamah akan pulang kerumah." Jawab Karin disebrang telpon.


"Apa.??" Teriaknya terkejut.


Kinara yang melihat expresi Rayhan menyernyit heran.


"Ia Ray, kami berdua sedang siap-siap menuju kesana."


Rayhan menarik kuat nafas tanpa membuangnya.

__ADS_1


"Sekarang cepat pindahin barang-barang loe.!" Suruh Rayhan setelah memutus sambungan telponnya.


"Pindahin kemana,? keluar.?" Tanya Kinara datar tak berdosa.


"Please Kinara ! sekarang bukan waktunya bercanda." Tuturnya serius.


"Ya ya ya." Dengan malas Kinara mengambil koper dan mengisinya dengan pakaian.


Kinara befikir mungkin Rayhan menyuruhnya untuk pindah kamar.


"Loe ! ngapain.?" Tanya Rayhan saat melihat aktivitas Kinara.


"Lah, Kan loe nyuruh gue ngemasi barang-barang gue.!" Sahutnya tak paham akan maksud Rayhan.


"Otak loe kaku juga ya." Ejek Rayhan sambil merangkul sebagian pakaian yang tengah Kinara masukkan kedalam koper lalu memindahkannya kekamar utama, kamar Rayhan.


"Woii mau loe bawa kemana barang-barang gue.?" Teriak Kinara.


"Sudah diam saja ! loe hanya perlu turuti perintah gue.!"


Kinara memberenggut kesal karena Rayhan tak memberinya alasan mengapa barang-barangnya tiba-tiba dipindahkan.


"Loe, dari pada cuma duduk disitu gak guna lebih baik pergi buatin gue sarapan.!" Ucap Rayhan disela kesibukkannya memindahkan barang Kinara.


"Kok dia cepet banget mindahin barang-barang gue, dia bawa kemana.? Batin Kinara bergejolak penuh tanya.


Rayhan yang hampir keluar dari pintu kamar, tertegun sejenak. "Kenapa masih duduk, ? loe mau bikin gue mati kelaparan.?"


"Ikh, apaan sih nyuruh-nyuruh aja. Dia kira gue pembantu.?" Kesal Kinara. Dengan hati yang cukup gondok Kinara berdiri dari duduknya untuk memenuhi titah Rayhan.


"Ok. Asal loe jawab dulu pertanyaan gue, kalau tidak.!"


Rayhan menghentikan aktivitasnya mengemasi dan memindahkan barang-barang Kinara, ia tiba-tiba berubah melangkah mendekati Kinara, "Kalau tidak, apa.?" Ia menatap Kinara intens sepertinya penuh maksud.


Kinara yang mendapati Rayhan tiba-tiba berdiri dan menatapnya seperti itu berhasil dibuat gemetar tak karuan, fikiranya melambung kesegala arah. "Apa yang akan kau lakukan.?" Tanyanya gugup.


Dia sedikit memundur-mundurkan langkahnya [kecil] diikuti Rayhan yang setengah menyeret langkahnya.


"Ray, apa yang akan kau lakukan.?" Tanyanya memastikan. Karena terpojok, Kinara lantas mendorong tubuh Rayhan menjauhkannya, tetapi saat bersamaan Rayhan menarik tengkuk Kinara dan merapatkan tubuhnya. Rayhan berbisik, "Kita akan tudur sekamar."


"Apa.?" Kinara kembali mendorong Rayhan.


Rayhan tersenyum geli melihat expresi Kinara yang tengah terkejut setengah mati, kemudian kembali pada aktivitasnya.


"Kenapa harus sepanik itu sih.? Bukannya wajar sepasang suami istri tidur bersama.?" Rayhan sengaja menggoda Kinara, sekilas dia melihat wajah Kinara yang bersemu merah Rayhan pun menggeleng dan tersenyum kecil.


"Tapi.. Aakkhh." Kinara melayangkan tangannya diudara, bingung harus berkata dan berbuat apa, mendengar perkataan Rayhan yang seperti itu membuatnya takut dan gugup.


Meskipun secara agama dan negara Rayhan berhak atas apapun yang ada padanya termasuk tidur bersama, tetapi Kinara belum siap, terlalu besar semua ini untuknya.


Tanpa melanjutkan perdebatannya Kinara melenggang kedapur membawa hatinya yang berdecak tak karuan.


Saat telah sampai didapur Kinara tertegun seraya berfikir masakan apa yang bisa ia selesaikan dalam waktu singkat.


Hum.


"Ray, loe mau gue masakin apa.?" Teriak Kinara yang berdiri dilantai bawah, dia hanya mendongakkan wajahnya menunggu sahutan Rayhan.


"Apa aja yang asal cepet." Teriaknya dari lantai atas tanpa melihat kearah Kinara.


"Ikh, awas saja kalo gak dimakan, gue timpukin dimukanya." Gerutunya kesal.


"Gue masak apa.?" Kinara masih termangun didepan kulkas yang ia buka lebar daun pintunya.


Setelah cukup berfikir, diambilnya telur sosis sedikit daging, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, daun bawang, daun seledri dan sedikit sayur sebagai pelengkap.


Lalu setelah semua bumbu ia iris kecil.


Kinara mulai memanaskan minyak dimasukannya bawang merah, bawang putih kemudian telur dan daging, setelah cukup matang ia menambahkan nasi daun bawang daun seledri dan tak lupa garam, sedikit merica dan penyedap. Ya, Kinara hanya membuat nasi goreng alakadarnya.


Selain cepat, banyak orang tak bisa menolak makanan yang satu ini, tapi tidak dengan dirinya, Kinara tidak begitu menyukai masakan khas Indonesia yang satu ini.


Tapi biar begitu Kinara bisa bisa memastikan masakannya bisa diterima dan tentunya enak.

__ADS_1


__ADS_2