Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Amplop.


__ADS_3

Pukul empat pagi Kinara terbangun dari tidurnya.


Pelan-Pelan Kinara membuka mata menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan kemudian duduk sebentar untuk mengumpulkan kesadaran yang baru kembali dari alam mimpi.


Kinara masih duduk ditepi ranjang dengan kaki terurai hampir menyentuh lantai.


Diliriknya kiri dan kanan mencari Rayhan, namun dia tidak ditemukannya.


"Benar saja Rayhan tidak kembali," Gumam Kinara sedikit menyesal dan kecewa.


Pagi ini cuaca cukup dingin, Kinara melirik suhu pendingin ruangan. "Tidak terlalu rendah tapi kenapa bisa sedingin ini.?" Ucapnya.


Kinara menggapai kain yang sebelumnya telah ia simpan dilemari paling atas, lalu berjalan keluar menuruni anak tangga menuju ke dapur.


Hari ini Kinara akan kembali ngampus untuk itu Pagi-Pagi sekali ia bangun berniat membuat sarapan untuk dirinya dan Rayhan dan kedua mertuanya dilanjut mengemas rumah.


Saat menuruni anak tangga terakhir, sekilas Kinara menoleh kearah ruang keluarga dengan lampu yang masih menyala.


Kinara mengubah arahnya berganti meuju ruang keluarga untuk mematikan lampu, tapi saat hendak mengutik saklar lampu Kinara melihat seseorang tidur terlentang diatas kursi dengan posisi memeluk dada.


Kinara pun berjalan kearahnya, dan ternyata dia adalah Rayhan yang mungkin ketiduran setelah bermain catur, karena terlihat papan dengan bidak catur yang masih tercecer diatas meja tak jauh darinya.


Setelah merapihkannya, Kinara berjongkok didepan wajah Rayhan, melihatnya terlelap seperti itu tak menghilangkan kekaguman Kinara pada ketampanan wajah Rayhan.


Tangan Kinara refleks tergerak dengan sendirinya untuk membelai rambut Rayhan, tetapi sebelum sempat menyentuh kepalanya Kinara segera menahan keinginannya, beberapa saat membiarkan tangannya melayang di udara.


Selamat pagi Rayhan.


Ucap Kinara.


Dia masih terdiam didekat Rayhan sambil menatapnya Dalam-Dalam.


"Kau sangat tampan Ray," kalimat itu diikuti senyum penuh kekaguman.


"Walau sedang tertidur tapi wajahmu tetap berseri," kembali ditatapnya wajah Rayhan yang seolah tanpa celah keburukan saat ia tatap dari arah manapun.


"Kau dengar Baik-Baik,!" Ucap Kinara setengah berbisik. "Kau itu menyebalkan, sikapmu selalu saja Berubah-ubah dengan cepat kadang dingin dan secepat kilat berubah manis, tapi biar begitu sepertinya aku telah jatuh cinta padamu Ray, tapi maaf aku tidak bisa mengungkapkannya langsung."


Setelah mengungkapkan pearasaannya Kinara beralih menyelimuti tubuh Rayhan dengan kain yang sebelumnya ia kenakan.


Kinara kembali berjongkok didepan wajah Rayhan, "Tidur nyenyak Ray !" Ucapnya kemudian berdiri.


"Terima kasih."


Terdengar suara serak khas bangun tidur, mengikuti sentuhan tangan yang Tiba-Tiba menahannya.


"Kau tidak tidur Ray.?"


Wajah Kinara kini bersemu malu, karena mungkin Rayhan Diam-Diam mendengarkan Kata-Kata konyol yang diucapkannya.


Pertanyaan Kinara tidak dijawabnya, Rayhan masih malas untuk berbicara.


Dengan mata tertutup, Rayhan menarik Kinara kedalam dekapannya, "Kemarilah.!"


Kinara mencoba keluar dari lingkaran tangan Rayhan, "Ray, aku harus menyiapkan sarapan."


Tanpa mengendurkan dekapannya Rayhan berkata, "Tetaplah begini ! bukankah ini lebih nyaman dari pada berbicara dan menatapku Diam-Diam.?"


"Kau mendengarnya Ray.?"


Rayhan mengangguk kecil.

__ADS_1


Kinara meringis malu sebab kekonyolannya yang tanpa berfikir Rayhan akan mendengar Kata-Katanya.


"Kau Pura-Pura tidur.?"


Rayhan menggeleng.


"Rayhan mohon lepaskan aku !" Sekuat tenaga Kinara mencoba melepaskan Rayhan, namun itu cukup sulit dan tak semudah yang dibayangkan.


"Akan aku lepaskan setelah kau ulangi Kata-Katamu tadi.!"


Kinara terdiam.


"Kau boleh pergi ! tapi cium aku terlebih dahulu !" tanpa membuka mata Rayhan memiringkan kepalanya membiarkan wajahnya terkulai dihadapan Kinara.


Kinara termenggu menatapi wajah Rayhan, hatinya jelas memaksa untuk menuruti perintah namun otak melarang, MALU sebuah perasaan yang sering membuat seseorang memangkas habis keberaniannya, seperti halnya Kinara dia masih terdiam seperti itu karena malu.


Setelah cukup lama menunggu Kinara menuruti perintahnya, Rayhan berinisiatif sendiri untuk mencium Kinara terlebih dahulu.


Rayhan sedikit mengangkat kepalanya bersamaan dengan mendekatnya bibir Kinara yang sengaja ia tarik perlahan.


Cuuppp....


Kinara terkejut hebat disaat bibir lembut itu sekilas mendarat dibibirnya.


"Sekarang kau boleh pergi !" Ucap Rayhan sambil tenyum manis dengan mata yang sedikit dipaksa terbuka.


Kinara malah mematung ditempat sepertinya sukma Kinara menghilang beberapa saat, sejak Rayhan mencium bibirnya fikiran Kinara masih melayang diudara, Lagi-Lagi Kinara berharap ini bukan hanya mimpi belaka.


"Pergilah ! jika kau tetap disini aku tak bisa menjamin kau bisa lari dari hal kedua yang bisa saja aku lakukan."


Segera Kinara berdiri untuk menghindari hal kedua yang Rayhan maksudkan.


Tanya Rayhan sambil menyipitkan matanya menghalau cahaya lampu munusuk matanya.


Sekilas Kinara menoleh kearah jam yang tergantung di dinding, "Setengah lima Ray." Jawab Kinara.


Saat itu juga Rayhan bangun dari berbaringnya, "Aku ke atas dulu, tolong ! bangunkan aku jam enam pagi." Pintanya.


Rayhan kini telah berdiri dibelakang Kinara yang hendak bergegas kedapur, "Kinara.?" Panggilnya.


"Ya.?" Jawab Kinara.


"Kemarilah !"


Kinara pun membalikan tubuhnya mengikuti titah Rayhan.


Secepat kilat Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya, "Jangan bergerak !" pintanya, terucap lirih.


Dipeluknya Kinara erat dengan tangan yang melingkar sempurna ditubuh perempuan mungil tersebut, Kinara pun hendak membalas pelukan Rayhan, tapi kembali urung karena masih malu dan kaku, Kinara hanya meremas jemarinya dibelakang tubuh Rayhan.


Setelah puas memeluk Kinara, Rayhan beralih mencium pucuk Ubun-Ubun Kinara berlanjut pada keningnya, "Siapkan sarapan yang enak untukku.!" Ucap Rayhan dengan suara serak, dan tak lupa menyematkan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.


Kinara hanya mengangguk, karena saat berhadapan langsung dengan Rayhan untuk mengatakan ia pun bibir Kinara terkunci rapat.


Seringkali Kinara hanya menikmati setiap perlakuan lembut Rayhan tanpa bisa mengekspresikan apalagi membalasnya.


Rayhan melenggang dan perlahan meninggalkan Kinara yang masih berdiri menatapi punggung yang berjalan menjauhinya, "Rayhan, aku harap ini detik awal kebahagiaanku, saat kau memperlaku'kanku semanis ini hatiku selalu didera rasa takut, takut suatu saat terjadi lagi salah faham yang membuatmu kembali menjauhiku. Jika salah faham itu kembali datang mungkin kali ini aku tak akan mampu tenang seperti sebelumnya. Karena, kini aku mulai jatuh cinta padamu, dan rasa tidak ingin kehilangan semakin merasuk kedalam jiwaku."


Setelah Rayhan menghilang dari tatapannya, Kinara kembali meneruskan aktivitasnya memasak dan mengemas rumah,


Disibaknya tirai yang menutupi jendela kaca, pagi ini ditemani dengan cahanya yang masih Remang-Remang, matahari tampak enggan dan malas menampakan cahayanya untuk menyinari bumi seperti mana Kinara yang suka Malu-Malu tak jelas dan seringakali menyembunyikan perasaannya bila berhadapan dengan Rayhan.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 05:45. Kinara hampir selesai dengan tugasnya tinggal menunggu nasi matang.


Berjalan perlahan menuju kamar Rayhan, Kinara terhenti sebentar saat melihat Karin dan Rahman keluar dari kamarnya dengan pakaian yang Sama-Sama telah rapih, Kinara tertegun beberapa saat untuk menyapa kedua mertuanya, terlihat Rahman tengah sibuk dengan panggilan yang tak bisa ia dengar dengan jelas.


"Halo, Dra. Kami berangkat sekarang untuk mengecek lokasi kau tunggu saja Aba-Aba dari kami."


"Mamah, Ayah.?" Kinara menyapa keduanya sambil bertaut senyuman, "Udah rapih, mau kemana.?"


"Ooh kita mau ke ke ke..." Karin menggaruk tengkuknya bingung harus Berpura-pura mau kemana kepada Kinara.


Rahman berbisik pada seseorang yang ada dalam panggilannya, "Dra, udah dulu ada Kinara."


Karin menyenggol Rahman, "Kita mau kemana Yah.?"


Tanpa menatap Kinara Rahman menjawab, "Temen Ayah ultah."


"Ultah.?? Sepagi ini,?" Kinara menyernyit Terheran-heran.


Karin kembali menyenggol Rahman.


"Ayah mau nyurvei lokesi untuk."


Brrreegghh..


Karin menginjak kuat kaki Rahman.


Rahman pun Terjinjit-jinjit dan meringis kesakitan, "Apa-Apaaan Mamah ini sakit."


Karin memelototi Rahman, yang hampir membocorkan rencana mereka didepan Kinara.


"Sorry, sorry," bisik Rahman sambil memebekap mulutnya.


Melihat keanehan tingah laku kedua mertuanya Kinara berfikir dalam.


"Euuuhhh." Kinara dibuat bingung, ia Menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, "Kalau gitu Kinara ke kamar aja kali ya Mah.?"


"Ia, ia Sayang pergilah."


Ucap Karin sambil Mengibas-ibas tangannya setengah mengusir.


Kinara pun beranjak menuju kamar Rayhan begitu juga Rahman dan Karin mereka melanjutkan langkahnya untuk menyurvei lokasi.


Ditengah melangkahkan kakinya Kinara Sayu-Sayu mendengar percakapan kedua mertuanya.


"Yah, kira-kira rencana kita berhasil gak yah,?" tanya Karin sedikit khawatir.


"Kita berdoa saja, semoga gak ada halangan," ucap Rahman.


Kinara termenggu memikirkan rencana yang mereka maksudkan, tapi kemudian Kinara mengabaikannya tanpa sedikitpun menaruh curiga.


Dibukanya pintu kamar.


Kinara tertatih dengan mata tak bisa lepas dari wajah Rayhan yang tengah tertidur lelap, wajah tampan itu selalu berhasil menggoda dan membuat jantungnya berpacu hebat.


Sebelum membangunkan Rayhan, terlebih dahulu Kinara mengambil pakaian untuk Rayhan kenakan pagi ini.


Saat menarik pakaian Rayhan tanpa sengaja sebuah map amplop ikut tertarik dan terjatuh tepat dikaki Kinara, segera Kinara mengambilnya, sebuah nama yang tertulis disana menghancurkan Kinara.


"Kenapa Rayhan menyimpan ini,? apakah Rayhan belum mempercayai ku.?"


Kinara tertegun dengan perasaan hampa.

__ADS_1


__ADS_2