Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Rumah sakit 4


__ADS_3

"Sayang,?" panggil Rayhan. Rayhan mendongan menatap kedatangan Kinara yang tampak berwajah bingung.


"Andini, Andini." Kinara menggaruk tengkuk yang tak gatal dengan fikrran sedikit heran.


"Tapi yasudahlah," tambahnya, ia tak lagi memperdulikan sikap aneh Andini.


"Tidak tidur Ray.?" Kinara sedikit membetulkan selimut dari tubuh Rayhan.


Wajah Rayhan terlihat begitu pucat dan gelisah, pucat karena sakit yang dideritanya dan gelisah entah karena apa Kinara pun tidak tau.


"Aku pusing dan sulit untuk tidur," jawabnya. Padahal kepala Rayhan sudah tak lagi terasa pusing seperti sebelumnya. Yang membuatnya pusing adalah tentang gosip itu.


"Kau melihat handohone ku Ray,?" tanya Kinara sambil membuka buka selimut Rayhan.


Beberapa saat Rayhan tidak menjawab. Handphone Kinara masih digenggamnya dibalik selimut yang luput dari singkapan Kinara.


"Ketinggalan dirumah mungkin," sahut Rayhan enteng.


Padahal Rayhan sengaja menyembunyikannya, dia khawatir Kinara akan membuka WA dan mengetahui segalanya sebelum ia mendapatkan solusi dari masalah ini.


"Ray aku izin keluar sebentar ya !"


"Tak boleh Kemana-mana ! tetaplah disini !" cegah Rayhan.


"Huumm," Kinara mendengus kesal karena Rayhan melarangnya keluar. Tapi Kinara juga tak ingin membantahnya.


"Kinara bolehkah aku bertanya,?" ucap Rayhan Ragu-Ragu.


...


...


Andini berjalan keluar berniat meninggalkan rumah sakit, diperjalanan tanpa sengaja ia melihat sosok dingin yang Andini kenali.


"Dia,? ngapain dia disini,?" fikir Andini Menerka-nerka.


Fahmi berjalan gontai dengan tatapan lurus, bola matanya seakan tak bergeming dari arah yang ditujunya, Fahmi Betul-Betul fokus dengan jalan didepannya.


Karena merasa penasaran lantas Andini mengikutinya dari belakang.


Setelah berjalan cukup jauh Fahmi berhenti didepan ruangan yang diketahui ruang rawat Rayhan.


Andini yang tengah mengikutinya dari belakang menyernyit penuh tanya saat melihat Fahmi masuk kedalam ruangan tersebut.


Sebelum Kinara menjawab pertanyaan Rayhan Fahmi telah masuk dan menghentikan pembicaraan Kinara.


"Ray," sapa Fahmi, ia tersenyum kecil kepada Rayhan yang sedari tadi menunggunya, Fahmi juga tersenyum kepada Kinara yang tengah duduk disamping Rayhan.


"Kak," balas Kinara sekikas ia menoleh kearah Fahmi.


"Sayang,? boleh pergi belikan aku buah segar?" pinta Rayhan dan tentu saja Kinara menganggukinya.


Tanpa Kinara sadari dalam titah itu ada maksud tersendiri yang telah Rayhan rencanakan.


Rayhan memang sengaja mengundang Fahmi kerumah sakit, sebagai lelaki yang telah mengenal Kinara Fahmi pastinya tau solusi atas masalah yang tengah dialaminya dan tentunya berkaitan dengan Kinara. Sebenarnya keinginan Rayhan cukup sederhana dia hanya ingin bertanya bagai mana reaksi Kinara saat mengetahui kabar miring itu, Rayhan juga akan meminta Fami memberikan solusi atas masalah ini.


Setelah Kinara pergi.


"Soal desas desus itu,?" ucap Fahmi to the point.


Fahmi sudah menduga Rayhan akan menanyakan hal ini kepadanya.


Rayhan pun mengangguk.


"Kabar ini sudah terlalu menyebar luas, kita akan kesulita untuk menutupinya dari Kinara, dia akan tau juga."


"Lalu bagai mana tanggapan orang lain,?" tambah Rayhan.


"Seperti yang kamu tau, sebagian besar percaya, dan sebagiannya hanya menimbang," jelas Fahmi.


"Lalu aku harus bagai mana ? bagai mana jika Kinara sampai tau? Kira-Kira apa yang akan terjadi padanya? Kira-Kira apa reaksi dia,?" tanya Rayhan khawatir.


"Bukankah kau bisa tanyakan langsung kepada Kinara,?" saran Fahmi.


"Hubungan kami baru saja membaik, aku takut lukanya akan kembali meradang, sebelum aku bertanya padanya bukankah lebih baik jika aku siapkan solusi untuk meredakan emosinya,?" tukas Rayhan.


Fahmi mengangguk setuju, "Kamu benar. Tamara memang keterlaluan. Tapi bolehkah aku bertanya.?" Fahmi menatap Rayhan dengan tatapan menuntut kejujuran.


"Tentu !" sahut Rayhan.


"Apa itu benar kamar Tamara,? disini hanya kamu dan Tamara yang tau," tanya Fahmi penasaran.


"Itu memang aku." Seketika Fahmi menatapnya Intens.


"Tapi aku bersumpah ini hanyalah jebakan aku berani bersumpah, seseorang telah mengancamku, dia juga mengancam Kinara dan aku tak bisa diam begitu saja, aku datang kesana hanya ingin mengetahui siapa dalang dibalik peneroran itu," bebr Rayhan.


"Peneroran.?"


"Ya, sebenarnya Kinara sudah tau siapa dalangnya tapi dia bungkam tak mememberi tau aku siapa orangnya, sedangakan aku penasaran, itulah sebabnya aku datang kekamar hotel itu untuk mencari tau, dan tanpa aku sadari aku dijebak Tamara."


"Tamara memang gila dan kini dia mengubah fitnah itu seolah kenyataan. Ray loe Benar-Benar telah salah memasuki kehidupan."

__ADS_1


"Maksudnya,?"


"Sebelumnya, bukankah loe pernah dekat dengan Tamara,? dan itu adalah kesalahan terbesar loe, Ray."


Rayhan berdecak menyesal.


"Semua ini sudah terlanjur bukan,?" sahut Fahmi.


"Lalu sekarang kita harus bagai mana,?" tanya Rayhan.


Fahmi menghela kasar nafasnya. "Soal Kinara aku rasa dia akan lebih mampu mengatasi masalahnya sendiri. Tapi perlu aku peringatkan Ray, Tamara tidak akan melepaskan kalian berdua, aku yakin walau masalah ini selesai, dia nggak akan tinggal diam, Tamara akan kembali berulah dan mungkin lebih gila lagi. Aku sarankan jangan sampai Tamara tau kalau hubungan kalian Baik-Baik saja. Atau Tamara akan bertindak lebih."


"Apa,? apa dia segila itu,?" tanya Rayhan tak percaya.


"Lalu apa yang harus kami lakukan,?" tambah Rayhan.


"Alangkah baiknya jika kalian Pura-Pura berjauhan saja, dengan begitu Tamara akan merasa puas dan mungkin akan berhenti menganggu hubungan kalian."


"Jika itu harus terjadi maka akan aku lakukan,"


"Oo ia soal Kinara, asal kamu bisa meyakinkannya, Kinara tidak akan termakan kabar itu, percayalah."


Rayhan pun mengangguk.


"Aku berharap begitu, tapi masalah ini telah melukai hatinya, aku sedi....


Kata-Kara Rayhan terhenti saat seseorang memasuki ruang rawatnya.


"Ray," ucap Kinara sambil mendorong pintu ruangan dan sontak membuat Fahmi dan Rayhan nenoleh dan terkejut hebat.


"Sayang, kamu tidak pergi,?" tanya Rayhan kaget dan hampir tak percaya.


Kinara tak menjawab, matanya menatap Rayhan dan Fahmi secara bergantian, tatapan yang sulit diterka.


Ada segaris kekecewaan yang timbul diwajahnya.


"Kau mendengar semuanya Kinara,?" tanya Fahmi.


Kinara kembali diam membuat Rayhan ketakutan.


"Sa, Sayang."


"Aku sudah dengar semuanya," sela Kinara.


"Kinar, Kinar aku bisa jelasin," Fahmi mencoba untuk memberi alasan tapi sepertinya Kinara tidak menginginkan itu.


"Kalian menyembunyikan ini,?" ucap Kinara bernada kecewa.


"Tapi aku sudah tau semuanya,Ray" putus Kinara.


"Kinara, kami bisa jelasin, kami hanya takut kamu tak bisa menerimanya, jadi jadi, jadi kami," ucap Fahmi Terbata-bata.


Bagai mana ini bisa terjadi, kejadian yang dirahasiahkan tapi Kinara malah mengetahui segalanya.


"Sudahlah.... Terlalu banyak yang kalian sembunyikan dariku, aku rasa." Kinara menunduk terluka.


"Kinara... Sayang," bujuk Rayhan.


"Berhenti aku tak butuh penjelasan mu karena aku sudah tau semuanya," kilah Kinara. Tampaknya ia tak bisa menerima keadaan ini.


"Kinara kami hanya takut kamu tersinggung," ucap Fahmi mencoba memberi alasan.


Kinara kembali menatap mereka dengan tatapan penuh kecewa.


"I- i - ia, kami takut kamu tak bisa menerima ini," Imbuh Rayhan.


Rayhan pun bergerak turun dari tempatnya berniat mendatangi Kinara yang masih termenggu ditempatnya.


"Tapi aku nggak !" balas Kinara sambil tertawa ngakak.


Seketika wajah pucat menegangkan itu kembali berdarah dan berseri kembali.


"Menegangkan !" ucap Fahmi sambil membuang nafasnya lega.


Rayhan pun sama, ia menepis kasar keringat dingin didahinya. Kinara sempat membuat keduanya bersitegang.


Sedangkan Kinara masih tertawa.


"Bagai mana akting ku,? hebat bukan?, Kira-Kira kalian mau ngasih aku nilai berapa,?" tanya Kinara cengengesan.


"Bagu, bagus !" Fahmi pun memberi tepuk tangan atas prank Kinara yang sempat membuat jantungnya hampir copot.


"Seratus," ucap Rayhan.


"Ya seratus," imbuh Fahmi sambil mengacungi Kinara dua jempolnya.


"Kemarilah !" pinta Rayhan.


Kinara pun mengangguk patuh kemudian berjalan dan duduk disebelah Rayhan yang tengah duduk berhadapan dengan Fahmi.


"Jadi kamu sudah tau semuanya,?" tanya Fahmi. Dan Kinara mengangguk.

__ADS_1


"Sebenarnya dari kemarin kabar ini sudah mulai menyebar, dan aku pun sudah tau semuanya."


"Tapi kenapa kau terlihat begitu santai Sayang,?" tanya Rayhan.


"Ya, karena aku sudah tau semuanya, bukankah semua itu fitnah ? aku rasa aku tak perlu mempermasalahkan ini dan untuk komentar dan pendapat miring mereka, aku juga tidak perlu memperdulikannya, mereka berkata seperti itu sebab mereka dibutakan oleh kebohongan dan mereka tidak mengetahui keadaan sebenarnya. Selama itu tidak merugikan aku, ya aku kira aku tak perlu pusing, aku anggap itu bumbu dalam masakanku."


Fahmi kembali bertepuk tangan, "Kinara, kau hebat !" Fahmi kembali mengacungkan kedua jempolnya.


"Sayang ku memang terbaik," ucap Rayhan sambil merangkul pundaknya.


"Oo ia aku setuju dengan usul Kak Fahmi tadi..


Aaa aww...


Ringis Andini. Tanpa mereka sadari ternyata Andini tengah mengintip dan menguping percakapan mereka. Naas untuk Andini, ia tidak tau jikalau pintu tidak ditutup dengan baik sehingga membuatnya terjatuh saat tanpa sengaja mendorongnya.


"Andini," ucap Kinara dan Fahmi kompak.


"Lagi ngapain?" tanya Fahmi dan Kinara. Bukannya menolong, Kinara malah membubuhinya dengan pertanyaan.


"Din, sedang apa disitu.?"


"Din, apa yang sedang kamu lakukan ?"


"Din, kamu nguping ya," tambah Rayhan.


"Din, kamu ngapain rebahan disitu.?" Kinara kembali bertanya.


Aduuuuhhh...


Rungis Andini yang masih tertelungkup ditempatnya.


"Rebahan, rebahan bantuin !" pinta Andini dengan wajah kesal.


Kinara pun berdiri untuk membantu Andini tetapi Rayhan mencegahnya. Kedua mata Rayhan mengerejab mengisyaratkan sesuatu.


"Oh," Kinara memangut paham akan maksud Rayhan.


"Woii tolongin !" teriak Andini.


"Kak !" ucap Kinara.


"Aku,?" sahut Fahmi sambil menunjuk diri. Tanpa disuruh pun Fahmi paham bahwa Kinara sedang menyruhnya.


"Baiklah," patuh Fahmi. Dia pun mengalah dan menuruti pinta Kinara.


"Mari aku bantu berdiri," ucap Fahmi sambil mengulurkan tangannya didepan wajah Andini.


Tak percaya Fahmi yang akan membantunya Andini kemudian menatapnya dengan tatapan penuh keraguan. Sementara Fahmi juga masih menatap Andini, menunggu dia menerima uluran tangannya.


Dan tak bisa dihindari mereka berdua terlibat saling menatap lekat dengan waktu yang cukup lama.


"Aku bantu," ulang Fahmi dan seketika Andini mengerejap sadar bahwa dari tadi ia tengah menatap Fahmi.


"Oh, terima kasih," ucap Andini sambil menggenggam tangan Fahmi yang terasa begitu hangat dan lembut.


"Aduuhhh," ringis Andini sambil memegangi lututnya.


Setelah dibantu Fahmi, Pelan-Pelan Andini melepaskan pegangannya, ia mencoba berdiri tanpa dibimbing Fahmi.


Baru juga Fami melepaskan tangan Andini dan membiarkannya berjalan sendiri, beberapa langkah Andini kembali terjatuh tapi beruntung dengan sigap Fahmi menangkapnya.


Fahmi menarik Andini kedalam dekapannya, dan saat itu juga mata keduanya kembali bertemu dan saling menatap lekat.


Desiran angin menyentuh lebih lembut dan membuai., Hawa sejuk, tapi darah didalam tubuh berdesir panas, detak jantung meronta tanpa terkendali, tanpa alasan wajah itu terlihat lebih indah dari biasanya. Mata bening bibir merah memacu tubuh bergetar tak karuan.


"Ukhu Ukhu Ukhu.." Batuk Rayhan membuyarkan semuanya. Rayhan telah berusaha menahan dirinya untuk tidak batuk tetapi tenggorokannya begitu gatal sehingga Rayhan sulit menahan dirinya.


Fahmi mengerejap sadar begitu juga Andini.


"Sorry, sorry," ucap Fahmi canggung. "Mana yang sakit ?" tanya Fahmi sambil merengkuh mengecek kaki Andini.


"Kamu terluka mari aku antar ke Dokter," ajak Fahmi dan telah diangguki Andini.


Dan akhirnya Andini pun pergi dipapah Fahmi.


"Indahnya," ucap Kinara sambil tersenyum gemas dengan mata masih mengikuti langkah mereka yang mulai menghilang dari pintu.


"Aku minta maaf batuk ku mengacaukan semuanya," ucap Rayhan sama tersenyum gemas.


Kinara mengubah tatapnnya.


"Ray," ucap Kinara sambil menggenggam jemari Rayhan.


"Aku mohon ! lain kali kau tak perlu mengundang orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah kita, bukankah lebih baik kau bicara dulu padaku dan kita cari jalan keluarnya Bersama-sama," tutur Kinara lembut penuh permohonan.


Rayhan membalas genggaman Kinara. " Sebelumnya aku minta maaf Sayang, aku melakukan ini karena menghawatirkan perasaanmu aku takut kamu tersinggung," jelas Rayhan.


Kinara tersenyum lembut. "Terima kasih karena sudah peduli dengan perasaanku. Tapi kedepannya, apa pun yang terjadi sepahit apa pun itu aku harap akulah Satu-Satunya orang yang pertama kau datangi," ucap Kinara.


Rayhan pun mengangguk paham. "Baik sayang," turut Rayhan. Diciumnya punggung tangan Kinara lalu memeluknya erat. "Sekali lagi aku minta maaf ! aku berjanji tak akan mengulangi hal ini."

__ADS_1


__ADS_2