Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Ancaman Tamara.


__ADS_3

Rayhan turun menapaki anak tangga, dilihatnya Kinara termenung penuh fikir garis wajahnya terlihat cemas juga emosi.


Tanpa menyadari kehadiran Rayhan Kinara kembali kedapur dan menaruh handphonenya diatas meja.


Kinara.. Kau telah merebut Shan dariku, untuk itu aku bersumpah akan merebut apapun yang ada padamu termasuk Rayhan.


Sebuah pesan ancaman Tamara kirimkan kepada Kinara dan Rayhan mengetahuinya.


"Sayang." Ucap Rayhan sambil memeluk Kinara dari belakang, Kinara yang lagi melamun pun mengerejab sadar.


"Ray," Sahut Kinara lirih dengan nada gelisah.


"Ada apa Sayang.? Kau melamun.?" Tanya Rayhan.


Kinara hanya tersenyum kecil menyembunyikan kekhawatirannya.


"Tidak Ray." Jawab Kinara berbohong.


"Kamu Kira kamu pandai menyembunyikan perasaan mu.? Tidak ! kau bodoh dalam menyembunyikan itu, katakan apa yang kamu khawatirkan.?"


"Aku hanya takut, hatiku ini sangat lemah Ray, aku takut tak bisa melepaskan apa yang tuhan titipkan, semua itu sudah terlalu lekat denganku hingga membuatku sulit melepaskannya, jika semuanya pergi rasa sakit akan tertinggal disini."


"Apa yang kamu takutkan ini.?" Tanya Rayhan semakin merekatkan pelukannya.


"Kamu Ray, semua tentangmu selalu membuat aku takut, jujur aku masih takut kau pergi dari ku."


Rayhan membalikkan tubuh Kinara. "Apa alsanmu mengatakan ini Kinara,? Tamara apa dia mengusik mu lagi.?"


"Bolehkah jika aku merasa takut.?" Ucap Kinara sambil menatap mata Rayhan.


"Ya, kau berhak merasa takut, tapi ini jangan terlalu atau kamu tidak akan merasa tenang. Satu yang perlu kamu tau Sayang." Rayhan menangkup lembut pipi Kinara. "Rasa cinta ku ini lebih besar dari ke khawatiran mu."


"Apa kau yakin dengan itu.?" Tanya Kinara menyakinkan.


"Tentu Sayang. Apa yang membuatmu tak bisa meyakini hati ku ?"


"Mm karena kamu belum meyakinkan hatiku sepenuhnya." Ucap Kinara manja.


"Oo itu. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkan mu.?"


Kinara menyernyit penuh fikir. "Mm." Gumamnya.


"Oke kalau gitu aku mau bertanya sesuatu padamu Sayang.?"


"Apa yang ingin kamu tanyakan, Ray.?"


"Apa alasanmu menerima pernikahan ini.?" Tanya Rayhan.


"Apa aku perlu menjawab pertanyaan mu ini, Ray?" Balas Kinara.


"Ya, tentu. Karena aku takut sesuatu terjadi dan kau meninggalkan ku karena itu."


"Aku menikahimu karena, karena aku mau hidup bersamamu."


"Cuma itu alasnnya.?"


"Ya. Hanya ini saja."


"Apa tidak ada yang lain.?" Tanya Rayhan sambil menyisir lembut rambut Kinara.


Kinara menggeleng sambil tersenyum menyembunyikan perasaannya.


"Apa kamu tidak mencintai ku.?"


Kinara kembali menggeleng.


"Menyayangiku.?"


Kinara pun kembali menggeleng.


"Baiklah," Rayhan melepaskan pegangannya kemudian bergegas meninggalkan Kinara dengan wajah kecewa.


Sadar candaannya menyinggung perasaan Rayhan, Kinara segera mencegah kepergian Rayhan.

__ADS_1


"Ray." Kinara berlari menahan Rayhan.


Tapi sayangnya perasaan Rayhan terlanjur tersinggung dan dia pun tak ingin lagi mendengarkan penjelasan Kinara.


Kinara pun semakin panik. "Ray bukan itu maksud aku, aku tidak bermaksud mengatakan itu, aku, aku."


Rayhan berhenti kemudian berbalik, menatap Kinara dengan tatapan mengerikan membuat Kinara menyesali ucapannya.


"Apa yang ingin kamu katakan Kinara.?" Tanya Rayhan dengan tatapan dingin.


.......


Kinara tak menjawab, hingga akhirnya Rayhan memutuskan untuk melangkah kembali meninggalkan Kinara yang masih diam membisu.


"Ray aku mohon kau jangan marah, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." Ucap Kinara sambil memegangi tangan Rayhan.


"Lalu, apa yang ingin kamu katakan ? aku mohon katakanlah !" Pinta Rayhan.


Tak ingin Rayhan larut dalam kemarahannya, Kinara langsung memeluknya erat dan berkata. "Aku mencintaimu, mencintai mu, aku menyayangimu aku tak ingin kehilangan mu Ray, aku mohon kau jangan marah lagi, duniaku hancur melihat kau marah seperti tadi. Aku minta maaf ! aku minta maaf Ray !" Ucap Kinara menyesal.


Mendapati ketakutan Kinara yang begitu besar, Rayhan tersenyum senang. Tapi, senyum itu Rayhan sembunyikan dari Kinara.


Sambil menahan senyumnya Rayhan berkata dengan ekspresi datar yang ia Buat-Buat. "Akan aku fikirkan." Ucapnya lempeng sambil melepaskan pelukan Kinara dengan wajah kecewa, tapi setelah berjalan membelakangi Kinara Rayhan tersenyum gemas. Dapat dipastikan Rayhan hanya menguji keseriusan Kinara.


Rayhan berjalan dengan langkah lebar menuju kamarnya seperti halnya orang yang marah dan hendak pergi meninggalkan rumah.


Mendapati sikap Rayhan yang belum memaafkannya, Kinara lantas mengejar Rayhan kedalam kamar.


"Ray, aku mohon jawab aku sekarang, aku ingin dengar, aku ingin dengar kata maaf dari mu Ray." Ucap Kinara ketakutan.


Tapi Rayhan tidak menggubrisnya walau Kinara terus menghadang langkah Rayhan.


"Mau kemana Ray.?" Tanya Kinara saat melihat Rayhan berganti pakaian, pakaian yang cukup rapih.


"Ray, mau kemana?" Ulang Kinara dengan mata yang mulai Berkaca-kaca.


"Kemasi barang mu Kinar ! aku antar kerumah Kak Indra," Ucap Rayhan tanpa menoleh ke arah Kinara, tanpa melihat raut wajah Kinara yang mulai menangis sedih.


"Tidak ! cepat kemasi barang mu Kak Indra sudah menunggu," Balas Rayhan sambil mengambil tas yang cukup besar dari dalam lemari.


Kinara kembali memeluk Rayhan berharap emosi Rayhan mereda.


"Ray, aku mohon ! aku tidak mau pulang, aku tidak mau pulang ke rumah Kak Indra aku mau tetap disini bersamamu, aku minta maaf, aku minta maaf ! bila ucapanku tadi keterlaluan dan menyinggung mu, Ray. Hiks hiks." Kinara masih menangis terisak dipelukan Rayhan. Ia terus memohon agar Rayhan tidak memulangkannya ke rumah Indra.


"Sudah jangan menangis lagi." Tutur Rayhan lirih sambil mencoba melepaskan pelukan Kinara, tapi semakin Rayhan mencoba melepaskannya Kinara semakin kuat memeluk Rayhan.


"Lepaskan Kinara," Pinta Rayhan.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkan ku."


"Kamu tidak perlu melakukan ini Kinara, cepat lepaskan aku !"


"Tidak Ray !" Teriak Kinara dalam tangisannya. "Kau masih marah aku tidak akan melepaskanmu."


Melihat Kinara yang terus menangis dan tak mau melepaskannya, Rayhan pun luluh.


"Sudah aku tidak marah kok Sayang" Ucap Kinara sambil tersenyum lembut kepada Kinara.


"Kau tidak marah Ray.?" Kinara mendongak untuk menatap wajah Rayhan.


"Tidak Sayang, aku tidak marah. Mana bisa aku marah kepadamu, Sayang." Sekilas Rayhan mencium kening Kinara. "Sudah jangan menangis lagi," Pinta Rayhan sambil menghapus linangan air mata diwajah Kinara.


"Apa itu berarti kau tidak akan mengantarku pulang ke rumah Kak Indra.?"


"Siapa bilang,?" Sahut Rayhan. "Aku tak akan mengurungkan niatku Kinara."


Mendengar perkataan Rayhan wajah Kinara kembali menunduk sedih.


Tak pernah Kinara harapkan sebelumnya, Rayhan akan mengantarnya pulang ke rumah Indra hanya karena masalah kecil saja.


"Ray," Panggil Kinara lirih.


"Cepat kemasi barangmu ! bawa apa yang kau butuhkan !" Suruh Rayhan.

__ADS_1


Sementara Rayhan sibuk mengemasi barangnya Kinara masih menangis terisak sambil menurunkan sebagian besar pakaiannya.


"Sayang apa yang kamu lakukan ?" Tanya Rayhan sedikit bingung.


Kinara tetap diam tak menjawab.


"Kenapa banyak sekali pakaian yang kamu bawa Kinara,?" Tanya Rayhan lagi.


"Bukankah kau akan mengantarku pulang ke rumah Kak Indra.? Aku memerlukan ini semua, Ray." Jawab Kinara sambil memebetenggut sedih.


Mendengar Kata-Kata Kinara Rayhan sejenak termenung.


Ckkk. Rayhan menggaruk kepalanya kesal karena melupakan sesuatu.


"Aku lupa memberi tau kamu Sayang," Rayhan merengkuh mensejajarkan posisinya dengan Kinara yang bersideku lulut didepan lemari dan tengah mengemasi pakaiannya. "Kak Indra mengundang kita makan malam, Kak Indra bilang, dia sangat merindukan kamu, untuk itu kita di undang datang kerumahnya."


"Kalau cuma makan, kenapa harus bawa pakaian segala sih ? kita'kan bisa pulang lagi."


"Kita bermalam disana, kasian Kak Indra katanya dia sangat meridukan mu, selain itu ada hal yang perlu aku pelajari dari dia, untuk itu tidak ada salahnya kalau kita nginep disana satu malam saja." Jelas Rayhan.


"Jadi kau tidak akan memulangkan aku.?"


"Memulangkan.?" Rayhan menyernyit tak mengerti. "Mana mungkin."


"Apa kau masih marah padaku ?" Tanya Kinara.


"Tidak Sayang aku tidak penah marah pada mu."


"Tidak marah.? Lalu tadi.?"


"Tadi. Ooh." Rayhan memangut mengerti penyebab Kinara menurunkan semua pakaiannya. Rayhan sadar Kinara telah salah menanggapi candaannya.


"Aku hanya, aku hanya, hanya bercanda. Aku ingin menguji apa benar kau tidak mencintai dan menyayangiku.?" Ucap Rayhan lirih sambil tersenyum jahil.


Mendengar itu Kinara langsung melempar Rayhan dengan baju yang hampir ia masukkan kedalam koper.


"Tega kamu Ray!" Teriak Kinara kesal.


"Aku minta maaf !" Ucap Rayhan sambil memeluk Kinara untuk meredakan emosinya.


Didalam pelukan Kinara kembali terisak, "Kamu tau ? betapa panik dan sedihnya aku ketika kamu seperti itu ?"


"Aku minta maaf Sayang ! aku janji tak akan ngulangi ini lagi."


"Jadi kamu nggak marah?" Tanya Kinara sambil mendongak.


"Nggak Sayang nggak, aku nggak marah kok, karena sekarang aku sudah tau kalau kamu itu sangat takut kehilangan aku." Rayhan melepaskan pelukannya. "Dan perlu kamu tau Sayang, sekuat apapun Tamara merebut aku dari kamu, usaha Tamara selamanya akan Sia-Sia, jika pun usahanya berhasil dia hanya akan mendapatkan ragaku tidak dengan hatiku, karena hatiku telah terpaut padamu, aku nyaman dengan kamu aku tak bisa berpisah darimu aku mencintaimu Kinara, tak ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisimu disini." Rayhan menuntun tangan Kinara, menempelkan tangannya di dada Rayhan.


Beberapa saat mereka saling memandang dengan tangan yang masih menempel di dada Rayhan.


Hingga akhirnya suara dering handphone menyadarkan keduanya.


"Kak Indra, kenapa Kak.?" Tanya Rayhan setelah menggeser layar kepada warna hijau.


"Apa Kinara setuju nginep disini.?" Tanya Indra.


"Nggak ! aku nggak mau," Kinara yang menjawab, suara itu terdengar begitu nyaring karena Rayhan sengaja meloadspeaker panggilannya.


"Ooh ya sudah ! mungkin lain kali saja Ray," Sahut Indra tampak sedikit kecewa.


"Ya." Belum juga Rayhan selesai bicara Indra sudah menutup panggilannya.


"Yuk berangkat !." Ajak Kinara, ia berdiri meninggalkan tumpukan pakaian tanpa merapihkannya kembali.


"Lah ini bagai mana ?" Ucap Rayhan sambil menunjuk pakaian Kinara.


"Kamu yang beresin !"


Rayhan sibuk merapihkan pakaian Kinara sementara Kinara sibuk mengemasi keperluannya, berhubung esok hari minggu Kinara akan sedikit bersantai tanpa memikirkan kuliahnya.


"Sudah.?" Tanya Rayhan yang diangguki Kinara.


Setelah itu mereka berduapun berangkat menuju rumah Indra.

__ADS_1


__ADS_2