
"Berapa bang ?" tanya Kinara sambil merogoh saku celananya.
"lima belas ribu aja neng" jawabnya.
"Anak muda jaman sekarang, kayaknya udah pada kehilangan urat malu, ciuman ditempat terbuka seperti ini, baik kalau mereka udah menikah, lah kalo belum bener-bener gak punya muka mereka itu" desas desus itu Kinara dengar dari beberapa lelaki yang tengah bekerja dibengkel tersebut. Kinara hanya terdiam menanggapi kata-kata mereka, walau Kinara sadari kata-kata itu seperti belati yang menyayat telinganya mengingat orang yang mereka maksud itu Rayhan.
"Terima kasih pak" Kinara menerima beberapa lembar uang sebagai kembalian.
Setelah menguncikan helemnya Kinara kemudian mutar kunci motor kearah on dan siap melajuknnya.
"Ekh neng ??" teriak salah satunya.
"Iya pak" Kinara tersenyum menyahuti bapak didepannya.
" Bapak pesan, jaga harga diri kamu !! secantik apapun perempuan kalo harga dirinya sudah tercoreng, orang tetap akan menilai rendah padanya." dia (bapak) memutar kunci ditangannya
membongar ban motor sang pelanggan.
"Betul tuh neng" tambah yang lain.
Kinara melihat kearah mobil kemudian tersenyum antusias "siap pak, terima kasih atas nasihatnya, kalo gitu saya pamit pak, mari !" selepas memastikan tak ada pengendara lain dibelakangnya Kinara kemudian melajukan motornya menuju kantor Indra.
"Hati-hati neng" teriak mereka.
Di perjalanan Kinara tak hentinya berfikir tentang perjodohan itu.
Kinara tidak ingin pernikahannya didasari keterpakasaan, apagi Kinara kini tau Rayhan ternyata menyukai Tamara.
Kinara memutuskan akan membujuk Indra supaya membantunya membatalkan pernikahan itu.
"Sebelum semuanya terlambat baik gue hentikan permainan ini" batin Kinara.
Setelah memasuki area gedung yang berdiri menjulang tinggi, Kinara segera memarkirkan kendaraan nya. Langkah cepat ia ambil untuk menemui Indra, bersama langkahnya yang sedikit terloncat-loncat riang fikirannya tak henti memikirkan alasan menolak perjodohan itu.
Senyum terus terkembang dari wajahnya, ketika rangakaian alasan telah siap Kinara berikan apabila Indra menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
Kinara telah sampai didepan pintu ruangan Indra, dan siap meraih gagang pintu didepannya, namun sebelum itu ia telah mendengar percakapan yang menghentikan langkahnya.
Percakapan itu....
"Sudahlah yah, ayah jangan terlalu mencemaskan Indra, Untuk sekarang ini Indra hanya fokus kepada Kinara"
"Tapi indra, usia kamu sudah tidak muda lagi sampai kapan kamu akan menyendiri seperti ini ??"
Kinara meyakini dua orang yang tengah berdebat itu ialah Safiq(ayahnya) dan kakaknya Indra.
__ADS_1
"Ayah. Indra sudah bilang, Indra baru akan menikah setelah Kinara menikah, dan bukankah Kinara sudah memiliki calon? dan sebentar lagi mereka akan menika ?!. Jadi, untuk apa ayah mencemaskan Indra ??"
"Lalu ?? bagai mana kalau tiba-tiba Kinara menolak pernikahan itu ?? apa kamu juga akan menunda pernikahanmu??"
"Ayah !!. Bisakah kita jangan terus membahas hal ini,?? Kinara itu segalanya buat Indra yah, jadi wajar kalau Indra sedikit mengalah untuk dia, Indra takut kalau Indra menikah, nanti sipa yang akan menjaga Kinara ?? ayah itu terlalu sibuk sana sini."
"Tapi menunda-nunda pernikahan itu tidak baik Dra !"
"Ayah, Indra mohon hormati keputusan Indra !!."
Kata-kata itu hanya sebagian besar dari percakapan yang bisa Kinara dengar.
Setelah mendengar percakapan itu Kinara telah mengurungkan niatnya meminta indra membatalkan pernikahan. Kinara khawatir jika ia membatalkan pernikahan itu malah membuat Indra melajang lebih lama.
"Tuhan kenapa jadi rumit gini sih ??" Kinara berjalan mondar-mandir didepan pintu masuk. Kinara terduduk bingung pada tangga kantor, dan tiba-tiba....
Seorang perempuan menendang bagian belakang tubuh Kinara.
"Pergi !! perusahaan ini bukan tempat kalian para pencari sumbangan, kalian jangan seenaknya memungut bantuan disini,!! dasar orang miskin tak tau diri !!" teriaknya. Mencaci adik sang direktur. Berulang kata-kata penuh cacian dilontarkannya.
Walau merasa kesal tapi Kinara hanya meliriknya tajam, tanpa membalas atau menjelaskan siapa dirinya, beban fikiran Kinara membuatnya malas berdebat. Namun alaih-alih tak ada perlawanan, perempuan itu kian berbuat seenaknya..
Tanpa menghiraukan larangan teman dibelakangnya perempuan itu langsung menyimbah Kinara.
"Byuuuuurrrtt" Seember air bekas mengpel lantai ditumpahkan diatas kepala Kinara dan sontak membasahi seluruh tubuhnya.
Kinara, bersama orang-orang yang menyaksikan hal tersebut ternganga hebat.
π±π±π±π±
Kinara berbalik dengan wajah mengerikan seperti hendak menelannya hidup-hidup.
Sementara pegawai lain yang telah mengenal Kinara menelan bulat ludah mereka,"Masalah besar." wajah-wajah itu kian ketakutan.
"Mati kita" bisik salah satu diantara mereka.
"Apa dia akan memecat kita semua ??" mereka kian menggigil tatkala taatapan tajam mematikan terarah secara bergantian. Mata kecil itu nampak lebih mengerikan dari singa kelaparan, wajahnya memerah nafasnya tersengal-sengal seperti menahan gundukan emosi yang kian menggunung dan siap menumpahkan api kemarahan.
Kinara berdiri dengan mata melotot tak berkedip.
"Panggil direktur kalian !! cepat !!" teriak Kinara, teriakan itu bak gelegaran pertir malaikat sang pencabut nyawa.
Seketika mereka tertunduk takut tak terkecuali perempuan yang menyimbah Kinara.
Tak lama kemudian datang seorang lelaki, bersamanya berjalan Indra sang direktur.
__ADS_1
Indra berlari kepada Kinara "Dik.?? ada apa kenapa pakaian mu basah kuyup ??" Indra membuka tuxedo yang dipakainya.
"Dik??. jadi dia adik bos perusahaan ini?? batin perempuan yang menyimbah Kinara.
Tanpa berfikir panjang perempuan yang diketahui bernama Nirmala itu bertekuk lutut memohon maaf.
Nirmala memegangi tangan Kinara "Saya mohon. Mohon maafkan saya, saya tidak tau kalau nona ini adik nya pak bos." Kinara memalingkan wajahnya penuh kebencian.
"Apa kau sadar apa yang kau lakuka itu heuh ?? keterlaluan !!" bentak Indra. Indra hendak melayangakan pukulan namun ditahan Kinara.
Perempuan itu beralih memegang tangan Indra namun ditepisnya.
"Saya mohon ampuni kehilapan saya tuan" rintihnya. "Saya kira nona ini, ingin meminta sumbangan dikantor kita pak !!"
Amarah Kinara kian memanas ketika mendengar alasannya. "Apa kau kira bisa berbuat seenaknya hanya karena orang itu datang untuk meminta sumbangan ??" Kinara menatap semua pegawai yang berdiri mengelilinginya dengan kepala tertunduk. "Siapa yang merekrutnya diperusahaan ini ??" mata tajam Kinara berputar mencari pengakuan. Mereka hanya saling menyenggol tanpa ada yang mengaku. "Mengaku atau aku pecat !!" bentak Kinara geram.
Indra hanya diam terpaku. Indra tau apapun yang diputuskan Kinara adalah yang terbaik.
Dari belakang, seseorang dengan gemetar berusaha mengacungkan tangannya. Kemudian maju kedepan beberapa langakah, "Sa -say-a. Minta maaf non, saya berjanji hal ini tidak akan terulang"
"Kalian dengar !!" teriak kinara penuh ancaman. "Selagi kalian bekerja diperusahaan ini, jaga sikap kalian !!. Kalau sampai salah satu dari kalian berani merundung orang lain baik itu dalam waktu kerja maupun diluar waktu kerja, saya sendiri yang akan mecat kalian !! paham !!"
"Paham non" ucap mereka serentak. "Dan kamu !!" Kinara merendah sedikit berbisik. "Serendah apapun martabat orang lain bahkan hewan sekalipun tidak selayaknya kau perlakukan sehina itu !! Mengerti !. Jika kau ingin tetap bekerja disini jaga sikapmu baik-baik, atau aku sendiri yang akan mengantar mu keluar dari gerbang perusaan. Paham !!" bentak Kinara.
"Paham, paham non," jawabnya gelagapan.
Indra menyeret Kinara kedalam ruangannya.
Indra memboyong Kinara duduk diatas kursi "Dik, kakak mohon maaf atas kejdian ini, seharusnya kakak lebih memerhatika kariawan kakak"
Kinara melepas Tuxedo yang menutupi sebagian tubuhnya "sudahlah, aku hanya tidak suka orang yang semena-mena dan menganggap rendah orang lain, aku hanya tak yakin dia akan minta maaf andai hal sama ia lakukan kepada orang lain" Kinara berdiri dan menaruh Tuxedo kakaknya diatas Kursi. "Ayah mana kak ??"
Indra sekilas menengok jam tangannya "mungkin di mushala dek, ia apa kakak perlu membelikanmu pakaian ganti ??"
"Tidak kak, ada pakaian dibagasi, lagian aku buru-buru" Kinara melangkah meninggalkan ruangan Indra.
Sebelum Kinara sampai diambang pintu Kinara berbalik "Kak ??"
Indra mendongakkan wajahnya "ada apa dik ??"
"Apa jika aku menikah kakak akan segera menikah ??
Indra tersenyum kecil lalu kembali pada layar laptop dihadapannya "Dik. Kakak itu belum punya calon tidak secepat itu juga, kalo kamu punya saran dengan senang hati kakak akan menerimanya, asalkan dia baik." dengan lincah Indra mengetik papan keyboard diatas mejanya.
"Akan segera Kinara temukan"
__ADS_1
Indra hanya tersenyum heran atas pertanyaan adik kesayangannya itu.