
Kampus.
Seorang Dosen telah habis dengan pelajaran dan pengajarannya. Para mahasiswa pun telah berhamburan keluar untuk melanjutkan aktivitasnya.
Di kelas kini tinggal Fahmi terduduk sendirian.
Meskipun raganya terduduk diatas bangku, namun hati dan fikirannya berada jauh di rumah sakit menemani Kinara.
Beberapa saat kemudian Fahmi menyadari kelasnya sudah kosong, Fahmi segera merapihkan barangnya berniat menyusul mahasiswa lain yang telah keluar lebih awal.
Ditengah Fahmi merapihkan barang-barangnya, Tamara datang menghampirinya.
Karena tidak suka dengan kehadiran Tamara, Fahmi secepat mungkin merapihkan barangnya kemudian bergegas meninggalkan Tamara.
"Tunggu.!" Ucap Tamara.
Fahmi berhenti sebelum tangannya berhasil meraih pintu.
"Apa kau tidak ingin memper juangkan cintamu, apa kau akan menyerah samapai disini.?" Tanya Tamara.
Fahmi hanya menunduk diam.
"Apa kau akan melepaskan Kinara begitu saja,? apa kau akan menyia-nyiakan penantianmu selama bertahun-tahun..?"
"Besok Kinara akan menikah dengan oarang lain, apa kau yakin bisa menerima ini.?"
"Aku hargai keputusan Kinara." Balas Fahmi datar.
Karena tidak ingin meladeni Tamara, Fahmi memutuskan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Tamara.
"Fahmi, apa kau yakin Kinara akan diperlakukan baik oleh Rayhan.?" Teriak Tamara yang sontak membuat Fami menghentikan kaki yang setengah melangkah meninggalkannya.
"Kau tau.? Rayhan terpaksa menerima ini.! Selama ini Rayhan selalu mencari cara untuk membatalkan perjodohan ini, dia hanya tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah memilihkan Kinara sebagai calon Istrinya, calon istri terbaik untuknya."
"Kau harusnya tau ! Rayhan selama ini selalu mencari kesalahan Kinara untuk terlepas dari perjodohan ini."
Fahmi beranjak pergi meninggalkan Tamara tanpa menghiraukan kata-karanya.
Namun dibalik itu Fahmi terus bertanya-tanya akan kebenaran kabar yang Tamara sampaikan.
Sempat tidak menghiraukannya, namun Tamara adalah seorang perempuan yang cukup dekat dengan Rayhan, boleh jadi kabar itu dibuat-buat oleh Tamara namun bisa jadi kabar tersebut memang benar adanya.
"Jika Kinara melakukan kesalahan apakah Rayhan akan meninggalkan Kinara.?" Tanya Fahmi dalam hatinya.
"Aku harus memastikan itu sebelum mereka berdua melangkah lebih jauh. Rayhan tak mungkin mencintai Kinara." Gumamnya.
...
...
Setelah kepergian Rayhan, suasan rumah sakit kembali terasa sepi. Meskipun sebenarnya Kinara tidak terbaring sendirian. Indra, Safiq dan Andini ada disana untuk menemani Kinara.
Tetapi tetap saja, lelaki tampan pemilik tubuh beraroma soft tersebut telah berhasil menyebarkan benih candu dihati dan Fikiran Kinara, dan kini Kinara mulai tak bisa jauh dari Rayhan.
Sesekali Kinara menengok kearah pintu berharap dia segera datang menjenguknya.
Hm, walau sebenarnya Kinara baru ditinggalnya sekitar beberapa menit yang lalu.
Tapi rasa rindu yang mulai menghinggapi hati Kinara membuat waktu yang berlalu tanpa Rayhan terasa melambat dan berjalan begitu lama.
Huummmpp
Kinara melihat sekeliling yang tampak begitu membosankan.
"Ayah, kapan aku pulang.??" Tanya,nya tak sabar.
"Tunggu beberapa hari lagi sayang." Safiq duduk dikursi menghadap Kinara. Dibelainya Kinara penuh kasih.
"Aku bosen disini terus, Yah. Bukannya sembuh, aku malah ngerasa lebih parah, badan Kinara rasanya tak bisa gerak, kaku akibat tidur terus Yah. Ayah ayok bujuk dokter supaya Kinara diizinkan pulang, biar Kinara dirawat dirumah saja."
"Jangan, Yah." Sahut indra. "Jangan dengarkan dia, Ayah tau sendirikan bagai mana nanti Kinara kalau sudah keluar dari sini.?
__ADS_1
Ayah, Indra tak yakin Kinara akan nurut untuk tetap duduk dirumah. Ayahkan tau, mana bisa dia diam sebentar saja, Ayah bayangkan deh saat nanti Kinara terbebas dari sini dia bakal berubah jadi gangsing, berputar terooss, gak bisa istirahat sebentar saja." Ucap indra setengah meledek.
Ikkkh.. Desis Kinara sambil menatap kesal kepada Indra.
"Kakak kamu benar Kinara. Kalo kamu sekarang pulang, kamu tidak akan ingat istirahat, Ayah takut masa pemulihanmu malah terganggu."
"Kak Indra apaan sih." Kinara membuang mukanya sambil berdecak kesal. "Dia gampang bilang begitu karena belum pernah ngalamin tidur ditempat empuk yang membosankan ini." Gumamnya dalam hati.
"Kak, pinjem handphone dong." Pinta Kinara sambil mengulurkan tangannya.
"Eh, Kinar gue pamit dulu yah, udah malem." Ucap Andini sambil menyambar tas berwarna abu-abunya diatas meja.
"Ia Din, makasih udah temenin gue, besok datang lagi, yah.!"
Andini tersenyum geli. "Pasti dong bahkan gue besok bakal datang lebih awal dan lebih semangat." Ucapnya gemas.
"Ikh kenapa dia.??" Heran Kinara melihat tingkah Andini yang terlihat kesenengan.
Indra memberikan handphonenya. "Apa kamu nggak inget besok hari apa.?"
Kinara menyernyit. "Hari apa.??" Ucapnya tak mengerti maksud Indra.
"Pura-pura saja."
"Ikh apaan sih pada nggak jelas deh."
Lewat handphone Indra, tangan Kinara tergerak mengikuti hatinya membuka-buka media sosial milik Rayhan.
Kinara tak henti tersenyum kagum saat melihat gambar Rayhan yang tengah tersenyum manis.
...
...
...
Rayhan yang baru selesai mandi dan berganti pakaian, dengan handuk kecil di pundaknya berjalan gontai menuju sofa di ujung tempat tidurnya, digenggamannya benda pipih yang baru selesai ia charg.
Rayhan tampak senyum-senyum sendiri saat melihat beberapa photo yang Kinara simpan didalam handphonenya.
Ya, handphone Kinara yang diberikan penjaga warung malam itu.
Rayhan tersenyum gemas. "*Kalau seperti ini kau terlihat lebih manis, aku hampir tak percaya gadis galak ini besok akan resmi menjadi istriku."
"Hemh. Kau tau baru aku tinggal sebentar saja, aku sudah merindukan mu. Istri galak, besok kamu akan menemaniku disini. Setidaknya aku tak akan merindukanmu seperti sekarang ini*."
Rayhan berpindah tempat duduk, saat ini ia tengah duduk bersandar diatas tempat tidurnya, tetapi aktivitasnya belum berubah ia masih menatapi photo Kinara.
Rayhan terus menggeser layar handphone milik Kinara, hingga sampai pada sebuah photo.
Deeegggg..
Rayhan terdiam sesaat. Hatinya seperti diremas melihat calon istrinya masih menyimpan photo lelaki lain dalam handphonenya, terlebih dia adalah Fahmi lelaki yang telah menyukai Kinara lebih dulu darinya.
"Kenapa dia masih menyimpan photo laki-laki ini.??" Dengan hati kesal dan jengkel Rayhan langusng menghapus satu persatu photo Fahmi dari handphone Kinara.
Selain menghapus Photo Fahmi, Rayhan juga mencopot memori chard di handphone Kinara dan memasukannya kedalam handphonenya.
"Perempuan ini,! untung saja penjaga itu memberikan handphonenya kepadaku. Kalau tidak, pasti mereka sudah menyalin photo-photomu.!" Rayhan berdecak tidak rela kemudian melempar kasar handohone Kinara diatas tempat tidurnya. "Aku tak rela photo-photomu menyebar dan dilihat orang lain.!"
Tok tok tok.
"Masuk." Ucap Rayhan sedikit berteriak.
Setelah Rayhan mempersilahkannya, Karin langsung masuk membawakan baju untuk Rayhan kenakan besok.
__ADS_1
Rayhan tersenyum menyambut kedatangan Karin dengan baju pengantinnya.
"Kau pasti akan sangat tampan sayang." Karin menggantung pakaian Rayhan.
Hari yang ditunggunya, telah datang menghampiri. Hari esok adalah hari yang Karin impi-impikan, melihat putranya menikah adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup semua orang tua.
Meskipun pernikahan Rayhan digelar sangat sederhana, namun tidak apa-apa itu bukan persoalan besar untuknya, yang terpenting Rayhan dan Kinara segera sah menjadi sepasang suami istri, soal resepsi mewah, itu semua bisa ia atur lain waktu.
"Sayang sekali aku tak bisa melihatnya memakai gaun pengantinnya." Ucap Rayhan sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa sayang, jika Kinara sudah membaik kapanpun kau mau, kau bisa memintanya untuk memakai gaun ini, sekarang cepatlah istirahat ! besok sebelum ke KUA kita temui Kinara terlebih dahulu untuk meminta restunya, semoga pernikahan kalian berjalan lancar."
Rayhan mengangguk setuju.
Setelah Karin keluar dari kamarnya, Rayhan mengutik lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Sebelum tidur Rayhan bergumam. "Besok, akan ku jemput engkau perempuan galak, setelah kita resmi menjadi suami istri aku sendiri yang akan merawatmu dirumah ini."
Malam berlalu dengan lambat dari detik ke menit dari menit ke jam semuanya terasa lebih lama.
Menanti pagi menyambut kebahagiaan.
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Rayhan berdiri menatapi pantulan bayangan dalam cermin didepannya, kemeja putih dengan jas berwarna hitam, membuatnya terlihat begitu berwibawa. Sesekali bibirnya tersenyum menyambut hari bahagianya.
"Ray." Panggil Karin.
Ditatapnya Rayhan yang tengah berdiri didepan cermin, begitu gagah.
Karin tak hentinya mengucapkan sukur atas kebahagiaan yang bertubi-tubi menghampirinya.
"Sudah siap Ray.?" Tanya Rahman.
Rayhan mengangguk.
Seiring langkahnya menuju KUA, hitungan mundur dimulai. Inilah hari dimana Rayhan akan melepas masa lajangnya.
...
...
Dirumah sakit.
Sejak malam tadi Kinara tak bisa tidur nyenyak, tak sedikitpun matanya mencoba untuk terlelap, Kinara dibuat gugup dan takut akan pernikahannya hari ini.
Kinara begitu takut Rayhan akan membatalkan pernikahannya dan takut pernikahnnya tidak berjalan lancar, terlebih sejak Kinara dirawat, dia tidak mendapatkan kabar tentang kelanjutan perjodohan itu.
"Apa, Rayhan membatalkan pernikahan ini.? Dimana mereka sekarang.? Kenapa tidak ada seorangpun yang datang atau menghubungiku." Tanya Kinara cemas dan panik.
Tak lama kemudian.
Kinara mendengar pintu kamarnya terbuka, Kinara menoleh kearah pintu yang terbuka lebar, disana berdiri keluarga dan sahabatnya yang telah berpakaian sangat rapih.
Indra, Safiq dan Rahman, Bayu, Andini juga Aman, tak lama kemudian masuklah Rayhan yang digandeng Karin kedalam ruang rawat Kinara.
Rayhan tampak sangat tampan dan berwibawa dia terus tersenyum manis untuk Kinara, dia telah siap untuk mengucapkan akad dan sumpahnya di KUA.
Saat pertama melihat Rayhan masuk kedalam ruang rawatnya, Kinara dibuat gugup gemetaran. "Diakah suamiku.?" Gumamnya sedikit tak percaya.
Bahkan Kinara tidak mampu menatap Rayhan yang tengah duduk dikursi samping tempatnya dirawat.
"Apa kau siap menjadi istriku.?" Kata-kata itu sukses membuat tubuh Kinara bergetar hebat, jantungnya seperti hendak meloncat keluar, darahnya tiba-tiba terasa panas dan berdesir kuat.
Tak mampu menatap mata Rayhan Kinara terus menundukan matanya, bahkan saat menyetujui ucapan Rayhan Kinara tetap menunduk malu.
"Tunggu aku menjemputmu."
Setelah itu Rayhan berdiri dan melangkah meninggalkan Kinara yang masih terbaring dirumah sakit.
__ADS_1
Ditatapnya punggung lelaki yang menjauh meninggalkan ruangannya, dan beberapa menit lagi Rayhan akan sah menjadi suaminya.