
"Ray, bisa kau lepaskan pelukanmu !" Pinta Kinara setengah menggerutu.
"Kenapa ? ada apa? mulai gerah ya ? gerah dalam tanda kutip." Goda Rayhan.
"Ia gerah, juga itu disana." Ucap Kinara setengah berbisik.
"Apa ?" Tanya Rayhan seraya melepaskan pelukannya. Sebelum berbalik, beberapa saat Rayhan menatap Kinara yang tampak sedang menusukan tatapannya pada sesuatu yang berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka lebar.
"Kau lupa menutup pintunya Ray, disana ada orang memperhatikan kita." Bisik Kinara tanpa membuka deretan gigi yang memagari mulutnya, sorot matanya masih tertuju pada sosok yang berdiri mengintip dibelakang pintu.
"Hah siapa?" Tanya Rayhan, terkejut. Ia pun segera berbalik mengikuti mata Kinara yang tertuju kesebrang sana.
"Siapa.? Kak Indra.?" Tanya Rayhan.
Kinara menggeleng.
"Sepertinya bukan."
"Bukan ? Lalu siapa.?" Sahut Rayhan.
"Aku tidak tau" jawab Kinara.
"Apa ada orang bertamu.?" Tanya Rayhan lagi.
Rayhan sejenak berfikir Mengingat-ingat sesuatu. Sebelum dirinya naik kedalam kamar, dia sempat melihat mobil berparkir dihalaman.
Karena merasa penasaran akhirnya Rayhan memutuskan berjalan mencari tau siapa yang mungkin sedang mengintip dibalik pintu, tapi seiring Rayhan melangkah maju, orang itu berlalu pergi meninggalkan kamar Kinara sehingga Rayhan hanya bisa melihat bagian punggungnya saja sebelum akhirnya Benar-Benar tak terlihat lagi.
"Kak," Ucap Kinara saat telah memasuki ruangan Indra.
Kinara hendak bertanya kepada Indra siapa yang bertamu kerumahnya Pagi-Pagi sekali.
"Ya," Sahut Indra, melepas kaca mata yang membingkai wajahnya.
Indra yang sedang sibuk dengan bermacam file perusahaan segera menghentikan aktivitasnya.
"Apa Kakak mengundang seseorang untuk datang pagi ini.?" Tanya Kinara.
"Seseorang ? siapa.?" Timpal Indra.
"Tadi, seperti ada seseorang berdiri didepan pintu kamarku, membuat aku dan Rayhan sedikit terkejut, Rayhan sempat mengikutinya, tapi sepertinya dia melangkah dengan cepat dan pergi begitu saja." Jelas Kinara.
Sekilas Indra menoleh pergelangannya, "Ya Kakak memang meminta teman Kakak untuk datang, tapi sepertinya ini terlalu pagi, tidak mungkin juga dia datang secepat itu." Balas Indra.
Saat bersamaan handphone diatas meja bergetar, sebuah pesan masuk pun dibuka Indra.
"Dra, sorry gue ada urusan... gue balik dulu."
Selepas membaca itu Indra menyernyit tak percaya, orang yang dimaksud Kinara bisa jadi dia yang saat ini tengah mengirim pesan padanya. Ada sebait tanya difikiran Indra saat membaca pesan tersebut, 'Kenapa dia pergi dengan Terburu-buru ?'. Indra juga membandingkan kejadian ini dengan kejadian yang baru saja dialami Kinara.
"Ada apa dengan dia ? setelah melihat Kinara kenapa dia terburu pergi ? apa ada yang salah .?" Fikir Indra.
"Mm Kakak tidak tau Dik, mungkin, mungkin." Indra masih berfikir dalam. "Dia memang teman Kakak, tapi....." Indra kebingungan hendak mengatakan apa kepada Kinara, memang betul kedatangan dan kepergian temannya itu sangat mengundang tanya dan membuat orang lain salah paham. "Mungkin dia salah kamar dan pergi karena malu melihat kalian berdua sedang, sedang." Indra mengacak rambutnya, tampak binggung.
"Sedang apa.? Kami tidak melakukan Apa-Apa," Sela Kinara. "Hanya saja Rayhan lupa menutup pintu kamar, lagian aku hanya sedang memeluk Rayhan dan aku rasa tidak begitu memalukan." Jelas Kinara.
Sejenak Indra termenggu penuh fikir, dalam benaknya berbagai pertanyaan pun muncul.
Dia lelaki yang Kinara maksud adalah Doni sahabatnya, Doni memang sudah ber_rencana akan datang berkunjung kerumah Indra pagi ini. Dan mungkin juga dia telah datang, tapi secepat itu ia kembali pergi dan kepergian itu setelah Doni memergoki Kinara. Kejadian ini sangat aneh, Doni datang kemudian pergi tanpa pamit, itu semua sontak mengandung tanya diotak Indra, dia tak habis fikir atas perilaku Doni. Bukan karena malu, tapi sepertinya ada penyebab lain yang mendorong Doni untuk pulang lebih cepat.
"Sudahlah jangan terlalu difikirkan !. Doni memang sedikit pemalu, pendiam dan tertutup, itu sebabnya dia tak begitu memiliki banyak teman." Terang Indra, atas itu Kinara pun memangut mencoba mengerti situasi yang mungkin sedang dihadapi Doni.
...
...
Semilir angin malam menusuk tulang mengusik jemari untuk menarik selimut menutupi tubuh yang kedinginan.
Kinara, tubuh mungilnya terus saja di seret seret merapat mencari kehangatan, bersembunyi dan terbenam di dada Rayhan seperti anak ayam yang bersembunyi dibalik sayap induknya.
"Kau kedinginan Sayang ?" Bisik Rayhan lembut.
Dalam kantuknya Kinara pun mengangguk.
__ADS_1
"Kemarilah ! peluk aku ! kau tidak akan kedingianan lagi Sayang." Ucap Rayhan sambil mengeratkan pelukannya ditubuh Kinara.
Seiring pajar yang mulai menyingsing, rasa hangat mulai menyerbak menyentuh kulit. Harum aroma surya membawa semangat untuk menjalani aktivitas baru.
Disana, dirumah itu, Perempuan perparas cantik tengah mempoles wajahnya dengan sederhana, bersiap pergi kekampus. Seperti biasa, kaos oblong celana jeans telah membalut tubuh mungilnya, meski terlihat sangat sederhana tapi terhadap perempuan itu Rayhan mampu tergila gila, jika sebentar saja ia pergi, Rayhan akan merasa resah dan kesepian.
"Sayang," ucap Rayhan, ia masih duduk malas ditepi ranjang memerhati pantulan Istri tercintanya dicermin.
"Ya," Jawab Kinara, sekilas ia menoleh lelaki yang tak henti memerhatikannya.
"Apa kita perlu melakukan ini ?"
Setelah sempat sakit dan dirawat, ini adalah hari pertama Rayhan kembali ngampus. Yang Rayhan maksud adalah Berpura-pura asing seperti yang pernah Fahmi katakan saat dirumah sakit.
Kinara menghela panjang nafasnya.
"Jika kamu rasa perlu melakuka ini, kita lakukan ! tapi jika kamu keberatan, bukankah lebih baik mereka tau kebenarannya.?" Balas Kinara.
Rayhan mendesah resah, dia kebingungan menanggapi situasi seperti ini, baik buruknya tetap Kinara yang mendapatkan imbasnya. Pura-Pura atau pun terbuka keduanya tetap berpengaruh buruk untuk Kinara.
Namun, keputusan Rayhan memilih Berpura-pura dengan harapan jiwa Kinara akan aman dari ancaman Tamara.
Rayhan turun dari tempat tidur berjalan perlahan mendekat lalu memeluk Kinara.
"Meski berat akan aku coba yang terbaik yang bisa melindungimu, Sayang." Ucap Rayhan sembari memeluk dan mengecup pucuk Ubun-Ubun Kinara dengan penuh kasih.
...
...
Hilir mudik kendaraan sibuk memasuki area parkiran kampus. Rayhan berdiri mematung, setiap pengendara motor yang masuk tak luput dari perhatiannya, sebelum memastikan Istrinya datang dengan selamat Rayhan masih belum beranjak dari tempatnya.
Meski berdiri ditempat itu bukanlah hal yang mudah, pasalnya Rayhan harus terus menyunggingkan senyum kepada Orang-Orang yang lewat dan menyapanya, sungguh ini bukan yang diinginkan Rayhan apalagi ketika yang menyapanya itu perempuan perempuan genit, tapi Rayhan tetap kukuh menunggu Kinara.
Rasa khawatir pun mulai menyerang ketika lima belas menit telah berlalu tapi Kinara belum juga datang padahal tadi, kendaraan mereka beriringan tidak terlalu jauh.
Rayhan masih berdiri ditempatnya menunggu Kinara, barulah saat mobil Tamara memasuki area parkir saat itu pula Rayhan terpaksa berjalan meninggalkan tempat itu untuk menghindari Tamara.
Saat ini Rayhan memilih duduk minum dikantin untuk sekedar mengisi waktunya sambil menunggu kabar dari Kinara.
"Cerewetmu kaya anak burung pipit, Ray" Balas Kinara dalam pesan yang baru saja masuk, tak lupa Rayhan tersenyum geli saat membaca celotehan dari Istrinya.
Bagai mana tidak dipanggil cerewet, pesan yang masuk dari Rayhan terus membubuhi handphone Kinara.
Sayang.
Masih dimana?.
Sayang aku tunggu diparkiran.
Sayang kenapa lama.
Sayang masih dimana.
Sayang kamu Baik-Baik saja'kan?
Sayang apa motormu mengalami masalah kenapa belum sampe.
Sayang.
Sayang..
Sayang kalo sudah sampe jangan lupa balas, aku khawatir.
"*Ya, itu karena aku khawatir sama kamu." Balas Rayhan.
"Oo terima kasih sudah sangat mengkhawatirkan aku. Aku Baik-Baik saja, sekarang kamu bisa tenang'kan.?"
"Ya, aku tenang sekarang, kamu dimana.?" Tanya Rayhan lagi.
"Lihatlah ! aku dibelakangmu, Ray !"
Rayhan dengan terburu membalikkan tubuhnya menoleh kearah Kinara yang berdiri cukup jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
Disana, perempuan yang selalu membuatnya khawatir berdiri sambil tersenyum, sangat manis membuat hati Rayhan terhanyut dan terbuai akan keindahan senyum menawan Kinara.
"Bagai mana.? Apa ada yang kurang dariku.?" Tanya Kinara dalam pesannya.
"Tidak ada Sayang, kau sangat cantik dan manis." Jawab Rayhan.
"Baiklah, apa sekarang aku boleh pergi.?" Tanya Kinara.
"Bisakah kau tetap disana.? Aku masih ingin melihat senyummu sebentar lagi." Balas Rayhan sambil sesekali menoleh kearah Kinara yang berdiri bersandar pada tiang.
"Mm. Boleh, tapi mungkin beberapa saat lagi betisku akan bengkak, Ray."
Sekilas Rayhan menoleh kearah Kinara yang kini telah menunduk fokus pada layar digenggamannya.
"Baiklah kau boleh pergi Sayang, Mmmuch. Kita bertemu lagi dirumah ya Sayang." Balas Rayhan.
"Ia πππ. Aku pergi Ray."
"Jaga diri Baik-Baik !"
Tiba-Tiba Tamara datang, saat itu Rayhan masih menunduk pada layar handphonenya sambil Tersenyum-senyum sendiri. Rayhan sebenarnya menyadari kedatangan Tamara, tapi dia sengaja Pura-Pura tidak melihat Tamara. Rayhan sengaja Berpura-pura menyibukan dirinya di layar pipih itu, Rayhan pun berulangkali mengechat Kinara memintanya untuk menelpon agar dirinya terlihat sibuk dan bisa dengan mudah menghindari Tamara, tapi Kinara tidak juga membalas chatnya.
Dan tanpa Rayhan sadari jemarinya telah memegang layar dengan acak hingga tanpa sengaja menelpon Kinara.
Karena merasa risih Rayhan pun berdiri hendak pergi tanpa menoleh kepada Tamara yang kini telah duduk dihadapnnya, tapi Tamara tidak membiarkan Rayhan pergi begitu saja, meski sadar Rayhan mengabaikannya Tamara tetap berusaha menyapa Rayhan.
"Ray," Ucap Tamara seakan mencegah Rayhan pergi dari tempatnya.
Rayhan yang Pura-Pura sibuk pun terpaksa berhenti lalu menoleh tipis.
"Ya.? Oh.. Tamara, sejak kapan duduk disitu ? maaf gue nggak lihat." Jawab Rayhan dingin.
"Baru, ya tidak Apa-Apa." Balas Tamara.
"Oo kalau gitu, gue ke kelas dulu ya." Ucap Rayhan dengan risihnya.
Rayhan pun kembali meneruskan langkahnya, tapi dengan sigap Tamara mengekang tangan Rayhan menahannya untuk tidak pergi.
Mendapati perlakuan kurang menyenangkan dari Tamara lantas Rayhan menatap Tamara dengan tatapan dingin menusuk, tidak suka, tatapan itu seolah berisyarat agar Tamara segera melepaskannya. Namun Tamara masih memegangi Rayhan dengan erat hingga terpaksa Rayhan melepaskan pegangan itu dengan kasar, sorot mata Rayhan tak sedikit pun menunjukan ekspresi lembut atau pun menyenangkan.
"Ray, duduklah sebentar ! ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Tamara.
"Katakan apa yang ingin kamu tanyakan ! aku sibuk," Jawab Rayhan ketus.
"Apa benar kalian akan bercerai ?" Tanya Tamara.
Mendengar pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulut Tamara membuat mata Rayhan kembali menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kalau saja Tamara paham tatapan itu mengandung ketidak sukaan Rayhan atas Kata-Kata yang baru saja diucapkannya.
Rayhan yang emosi dan kesal ingin sekali menyangkal dan mengatakan tidak atas pertanyaan itu, tapi sekuat tenaga Rayhan menahan dirinya, demi Kinara.
"Menurutmu.?" Timpal Rayhan.
"Yang aku dengar seperti itu," Ucap Tamara lembut, sebelah tangannya mengusap halus punggung tangan Rayhan yang digunakan untuk menopang tubuhnya. "Ray, kamu yang sabar ya ! kamu harus kuat menghadapi ini ! aku tau kamu bisa melewati dan menyelesaikan ini dengan cepat." Ucap Tamara. Kata-Kata itu seolah menguatkan tetapi sebenarnya lebih mendorong Rayhan untuk segera melepaskan Kinara.
Saat Tamara mengusap halus punggung tangannya, Rayhan meremas jari sebelah tangannya yang lain, deretan giginya tampak mengerat kuat, dia jelas tidak suka Tamara melakukan itu kepada dirinya.
Saat Tamara mengusap lembut punggung tangan Rayhan, tanpa sengaja dia menyentuh cincin pernikahan yang masih melingkar dijari manis Rayhan, tamara tersentak cincin itu mengundang keraguannya atas berita yang beredar.
Karena Tamara terus menumpukan jemarin diatas punggung tangannya, Rayhan tampaknya tak bisa lagi menahan diri atas perlakuan Tamara yang menurutnya sangat keterlaluan, lantas Rayhan menepiskan tangannya melepas paksa genggaman Tamara.
"Kamu tidak perlu ikut campur atas masalah yang aku hadapi ! jalani hidupmu ! tak perlu mengurus hidup orang lain." Dengus Rayhan sangat jengkel dan kesal.
Bukannya mengiakan permintaan Rayhan Tamara malah memberi ujaran menohok. "Ray, aku tau masalah ini membuat emosi mu tidak stabil. Untuk itu aku disini, aku siap menjadi teman berbagimu, aku siap menjadi pereda emosimu, kapan pun kau butuh aku, panggil saja ! aku siap melayanimu Ray, kau tak perlu sungkan."
Rayhan semakin dibuat geram oleh ucapan Tamara, ia kemudian sedikit merengkuhkan tubuhnya berbicara dekat penuh emosi berbisik ditelinga Tamara.
"Aku peringatkan sekali lagi ! kau tak perlu ikut campur dalam masalah yang aku hadapi, aku bisa menyelesikannya sendiri tanpa campur tangan darimu ! dan ingat ! atas apa yang kau laku'kan saat ini kepadaku, aku tak suka !." Berang Rayhan. Rayhan yang emosi kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Tamara.
Tetapi Tamara seolah tidak menghiraukan peringatan Rayhan, dengan lantang ia berkata: "Ray, aku serius dengan ucapanku !"
Rayhan sejenak berhenti, menoleh dengan sudut mata yang dingin, tanpa menghiraukan ucapan Tamara Rayhan pun kembali melangkah meninggalkannya.
"Sial bisa bisanya itu perempuan berkata serendah itu, dia fikir gue apa.?" Erang Rayhan.
__ADS_1
Setelah cukup jauh dari Tamara Rayhan kembali mengecek notif dilayar handphonenya, Kinara masih belum membalas membuat Rayhan kembali mendengus kesal.