Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Menunggu Kinara.


__ADS_3

Berita pemukulan yang dilakukan Kinara kepada Anton denga cepat mengisi dan menyebar diseluruh penjuru kampus, Kepala Rektor juga sudah memanggil Kinara dan memberikan surat peringatan, Kinara juga di skors selama satu minggu atas kejadian itu.


Siang itu setelah menemui Kepala Rektor, Kinara tampak mendengus kesal didepan ruang Kepala Rektor. Kinara mengaku memukul Anton hingga babak belur, tapi yang membuat Kinara kesal adalah Kepala Rektor itu menolak penjelasan dan alsan Kinara memukul Anton.


Kinara tau betul berapa kali memukul Anton dan mungkin keadaannya juga tidak separah seperti berita yang beredar luas.


Dalam berita yang beredar Kinara memukul Anton hingga dilarikan kerumah sakit.


"Ini biaya pendaptaran. Aku kembalikan semua biaya yang telah kalian keluarkan," Kinara mengasongkan beberapa lembar uang pengganti biaya pendaptaran. "Aku minta maaf ! aku di diskualifikasi dengan tidak pantas, kalian pasti kecewa, untuk itu aku minta maaf." Pinta Kinara dengan segenap perasaannya.


"Kak, Kakak tidak perlu mengembalikan ini kepada kami," Tolaknya. "Kami tau kok pasti ada alasan kenapa Kakak melakukan ini 'kan.?"


Kinara mengangguk kecil. "Sekali lagi aku minta maaf !" Tanpa menerima kembali uang yang itu Kinara berlalu meninggalkan Kampus penuh kekecewaan.


Kinara berjalan menuju diarea parkiran diperjalanan Kinara dihadang Tamara dan Marisa. Dengan lantang dia berkata, "Berandal ya Berandal aja, walau dunia berubah sekali pun Berandal tidak akan merubah menjadi baik. Aku senang akhirnya ada yang membukakan mata semua orang tentang siapa Kinara sebenarnya." Tamara tampak tersenyum puas.


"Mm Iya, Kira-Kira Rayhan tau nggak ya.? Kalau dia tau Kira-Kira apa yang akan terjadi.?" Tanya Marisa.


"Uuuhhh... Aku sih berharap Rayhan tidak tau, karena aku tak bisa menjamin Rayhan mau bertahan dengan seorang Preman." Timpa Tamara menatap Kinara miring.


Tamara dan Marisa terus menyudutkan Kinara dengan Kata-Katanya, tapi Kinara dia hanya diam mengerat menahan emosinya atas ucapan mereka berdua.


Di tempat lain, diluar kampus.


Rayhan sedang berdiri setengah menyandarkan tubuhnya pada mobil sedan berwarna putih. Sejak empat puluh lima menit yang lalu Rayhan sudah berdiri ditempat itu menunggu Istri tercintanya, Kinara. Rayhan telah berulang kali mehubungi Kinara, tapi tidak diangkat.


Tak jauh dari Rayhan berdiri jiga seorang lelaki muda sedikit lebih tua darinya, tampaknya dia tengah menunggu seseorang yang spesial, terlihat dia tampak gelisah saat beberapa kali mengakat handphone mendekatkan benda tersebut ditelinganya.


"Lagi nunggu yah.?"


Tiba-Tiba lelaki disamping Rayhan menyapa. Rayhan pun segera menegakkan tubuhnya ketika lelaki itu menghampiri.


Rayhan tersenyum lalu menjawab, "Ya. Seperti yang kamu lihat."


Lelaki itu berdiri sejajar dengan Rayhan, "Perempuan atau Laki-Laki.?" Tanyanya datar, lelaki muda tersebut menyandarkan tubuhnya dimobil Rayhan, Rayhan menirukan gaya lelaki muda tersebut, menyandarkan punggungnya dimobil.


"Perempuan" jawab Rayhan, "Kamu sendiri.? Rayhan memiring menoleh Laki-Laki muda itu yang masih dengan posisinya.


"Perempuan juga," Jawabnya Enteng. "Ngomong-Ngomong Perempuan mana yang membuat lelaki tampan sepertimu harus menunggu dibawah teriknya matahari seperti ini,?" Tanyanya yang diakhiri dengan senyum tipis. "Siapa dia? apa dia perempuan yang telah lama mencuri hatimu.?"


Rayhan tersenyum sambil menggeng kecil, "Iya dugaanmu benar." Jawab Rayhan.


Lelaki itu mendesah, "Hm aku penasaran, seperti apa sih perempuan itu.?" Tanyanya menyelidik.


Rayhan kembali menoleh sambil tersenyum tipis, "Dia bukan perempuan biasa, meski sedikit tomboy tapi dia sangat cantik, dia juga sangat menarik, dia mandiri, dia sangat sederhana."


"Apa dia kekasihmu.?" Sahutnya penasaran.


"Lebih dari itu, dia Istriku." Jawab Rayhan yakin.


"Istri mu.? Waah.. " Ucapnya kagum, dia kemudian mengulurkan tangan dan langsung dibalas Rayhan. "Selamat ya Bro ! semoga lenggeng." Ucapnya ditengah menggenggam jemari Rayhan dan Rayhan pun tersenyum simpul atas itu.


"Terima kasih." Balas Rayhan.


Beberapa saat keduanya terdiam tanpa bicara. Rayhan masih menunggu begitu juga lelaki muda itu.


Rayhan Berkali-kali mengecek handphonenya, Laki-Laki muda itu seperti menirukan Rayhan, tapi sebenarnya bukan, lelaki muda itu tampak resah sebab perempuan yang sedang ditinggunya tak juga membalas atau membaca pesannya.


"Mm tidak diangkat ya.?" tanya Rayhan sambil tersenyum kikuk, karena yang dialami lelaki itu sama dengan yang tengah dialaminya, Kinara tidak juga mengangkat panggilannya atau membalas pesan.

__ADS_1


Lelaki muda itu tampak menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, "Sama ya?" jawabnya, atas itu Rayhan pun tersenyum.


Kembali ke area parkir.


Rupanya Tamara belum habis dengan segala perkataan yang sempat membuat Kinara muak. Selain muak ada beberapa perkataan Tamara yang cukup melekat difikiran Kinara.


"Ya, mudah saja bagi Rayhan meninggalkanmu, dan aku rasa itu lebih baik mudah karena mereka belum punya anak. Kau tau'kan Kinara? anak adalah pengikat terkuat dalam sebuah rumah tangga."


Saat ini Kinara telah diatas motor dan siap melaju bersama itu, tetapi ucapan Tamara cukup mengganggu hingga Kinara pun tertegun beberapa saat memikirkan ucapan Tamara. Selain Tamara ucapan Rayahan pun kembali diingat Kinara, beberapa waktu lalu Rayhan sempat berkata, "Tambah satu anggota lagi pasti rumah ini tidak akan sepi seperti ini." Anggota yang Rayhan maksud adalah anak.


Sambil mengusap halus perutnya Kinara berkata penuh harapan, "Semoga aku segera mendapat titipan." Ucapnya.


Saat hendak menstarter motor, Tiba-Tiba handphonnya bergetar Kinara segera merogoh benda pipih tersebut dari saku celananya.


Beberapa pesan telah masuk dari dua nomor yang berbeda, satu dari nomor atas nama Rayhan dan pesan yang lain dari nomor tanpa nama.


Entah kebetulan atau tidak nomor itu meninggalkan panggilan tak terjawab yang cukup banyak sebanyak panggilan atas nama Rayhan.


Sebuah pesan dipilih Kinara dan dibukanya, isi pesan tersebut.


"Sayang, aku tunggu dipintu gerbang." Pesan dari Rayhan.


Pesan tersebut membuat Kinara tercengang tak percaya. Kinara merasa pesan ini hanya iseng saja, karena setaunya Rayhan masih menangani perusahaan Indra di Brunei.


Meski sempat tidak percaya, tapi akhirnya Kinara melangkah juga, tapi sebelumnya dia telah berjanji kalau sampai Rayhan membohonginya Kinara tidak akan mendengarkan dia lagi.


Di Depan Gerbang.


Rayhan berjalan resah, lalu kembali menyandarkan punggungnya disisi mobil, lelaki muda itu masih berdiri ditempatnya sambil menatap kearah gerbang kampus berharap seseorang yang ditunggunya segera muncul.


"Menunggu itu membosankan, ya." Ucap lelaki disamping Rayhan.


Lalu tak lama kemudian seseorang dari pintu gerbang berteriak kesenengan, "Hai." Kinara melambaikan tangannya. Dari sisi ini Kinara tampak tersenyum sangat manis.


"Itu dia." Ucap Rayhan juga Lelaki yang disampingnya kompak, tapi ucapan kelaki itu melemah saat menyadari perempuan yang ditunggu kawan disebelahnya adalah wanita yang tengah ditunggunya juga.


Mendengar teriakan Kinara Rayhan segera menegakkan tubuhnya lalu berjalan kearah Kinara yang saat itu tengah berlari kearahnya. Kinara tampak begitu tersenyum lebar ketika Rayhan benar benar pulang untuknya.


Sementara Kinara dan Rayhan tengah saling berpelukan melepas rindu, lelaki yang tadi bersama Rayhan malah berbalik memalingkan wajahnya penuh kecewa. Dia terlabat, perempuan yang telah lama menjadi mimpinya ternyata telah dimiliki lelaki lain.


Lelaki yang tadi bersama Rayhan ternyata adalah Shan lelaki yang sempat mengatakan cintanya kepada Kinara sewaktu Kinara masih mengenyam pendidikan SMA.


Meski setelah dirinya memutuskan pergi menuai pendidikan diluar negri dan mengalami lose kontak dengan Kinara, tapi sampai saat dirinya kembali hari ini, Shan tidak pernah sedikit pun melupakan Kinara, Shan malah selalu memiliki harapan besar bisa hidup bahagia bersama Kinara.


Setelah sekian lama tinggal di New York fokus mengenyam pendidikan S1 dan S2nya. Shan, demi sebuah reuni kelas akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia, selain reuni kelas Shan juga berniat menemui seseorang yang telah membuatnya rela menunggu hingga bertahun tahun, seseorang itu adalah Kinara.


Tapi takdir selalu berkata lain untuk dirinya dan Kinara, sejak saat itu hingga kini cinta Shan kepada Kinara hanya sampai dibertepuk sebelah tangan saja.


"Ray, siapa lelaki yang tadi bersamamu.?" Tanya Kinara setelah merenggangkan tubuhnya dari Rayhan.


"Ooh dia.?" Rayhan sejenak menoleh kearah lelaki yang tadi sempat berdiri bersamanya.


"Aku lupa, kami belum sempat berkenalan." Jawab Rayhan kikuk. Pertanyaan Kinara mendorong Rayhan untuk berkenalan dengan lelaki itu dan dia pun telah melangkah mendekati lelaki yang saat itu telah mengambil langkah untuk pergi. Melihat lelaki itu berjalan menjauh Rayhan mengambil langkah cepat hendak mengikutinya, tetapi langkah itu terpaksa terhenti saat Kinara memanggilnya.


"Ray." Panggil Kinara sontak membuat Rayhan menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ayah menyuruhku datang kerumah, bisa kau antar aku kesana.?" Tanya Kinara yang tentunya langsung mendapat anggukan sedia dari Rayhan.


Kini Rayhan telah duduk didepan kemudi dengan Kinara yang duduk disampingnya, tak lama kemudian mobil pun melaju melewati kendaraan Shan yang masih terparkir ditempatnya. Disana, sejak pertama melihat Kinara memeluk Rayhan fikiran Shan tak henti dipenuhi oleh bayang bayang pujaan hati yang kini telah dimiliki orang lain, Kinara. Ada sepucuk kecewa dihati Shan kepadanya, kecewa karena ternyata Kinara tidak pernah menunggunya, kecewa karena ternyata Kinara tidak pernah merindukan dirinya, bahkan saat bertemu pun Kinara malah mengabaikannya atau bahkan tidak mengenalinya.

__ADS_1


.....


.....


"Kinara." Safiq duduk dengan jemari saling bertautan, saat ini Safiq tampak sedang marah kepada Kinara.


"Ya.?" Jawab Kinara enteng seolah tidak ada masalah apapun padanya.


Lalu kemudian Safiq menyodorkan sebuah amplop kepada Kinara, dan dengan segera Kinara membuka dan membacanya. Amplop itu ternyata surat peringatan dari Kepala Rektor yang baru Safiq ambil beberapa jam yang lalu.


"Apa ini Kinara.? Kenapa kamu membiarkan Kepala Rektor memanggil Ayah, kenapa ini harus terjadi? Ayah merasa sangat malu, kamu di DO dengan secara tidak hormat !" Bentak Safiq.


"Ya biarkan saja, lagian Kinara tidak keberatan." Balas Kinara datar.


"Nggak keberatan kamu bilang.? Ini surat peringatan Kinara ! apa yang telah kamu lakukan? bisa bisa kamu dikeluarkan dengan tidak hormat dari kampus."


"Ayah Kira Kinara akan mengkhawatirkan itu.?" Ucap Kinara sambil menaruh kembali lembar surat yang telah dibacanya.


"Kinara, segera minta maaf ! sebelum mereka melaporkan kejadian ini ke polisi." Titah Safiq dengan nada khawatir.


"Ayah ! Kinara tidak akan melakukan itu ! kalau Kinara minta maaf, itu berarti Kinara mengaku kalau Kinara yang salah." Balas Kinara tak terima.


"Kinara !" Bentak Safiq dengan nada tinggi. "Jangan keras kepala Kinara. Jangan Mentang-Mentang mengerti ilmu bela diri dan kamu bisa Semena-mena ? tidak Kinara ! kemampuan itu harusnya kamu gunakan untuk melindungi orang, bukan malah menyakiti orang lain ! minta maaflah !"


"Ayah, lalu apa aku tidak boleh melindungi diriku dengan kemampuan ku? aku hanya melakukan itu, tapi mereka malah melebih lebihkan kejadian ini, harusnya aku yang melaporkan bukan dilaporkan.!" Dengus Kinara kesal.


"Ayah mohon ! lembutkan hatimu ! dan minta maaflah kepadanya !" Pinta Safiq lirih.


"Tidak akan Ayah ! Ayah boleh memintaku yang lainnya tapi untuk merengkuh dan memita maaf pada ******** itu, maaf Kinara tidak mau dipadang rendah !" Jawab Kinara menohok.


"Kinara ! Minta maaf !" teriak Safiq.


"Ayah. Kinara tidak perlu minta maaf," Sahut Rayhan yang baru menjejakan kakinya melewati pintu, seketika Safiq pun menoleh tapi tidak dengan Kinara, ia malah bersandar santai pada sandaran kursi.


"Ray," Ucap Safiq. Saat Rayhan perlahan mendekat Safiq pun berdiri menyambutnya.


Rayhan tersenyum simpul kepada Safiq lalu menoleh kearah Kinara sambil membalas senyum darinya, setelah puas menatapi wajah istri yang selalu membuatnya meremang Rayhan duduk disampingnya lalu Safiq pun kembali duduk.


"Ayah tidak perlu khawatir," Ucap Rayhan sambil menyodorkan sebuah vidio di handphonenya tanpa fikir panjang Safiq langsung mengambilnya, dan Safiq pun tercengang atas itu.


Vidio tersebut adalah vidio saat Anton Tiba-Tiba masuk kedalam rumah dan menggoda Kinara.


"Kinara !" ucap Safiq lirih, binar mata hitam dalam kelopak yang sedikit bergurat keriput itu menatap Kinara penuh sesal, menyesal karena ia telah menarahi putrinya tanpa mencari tau sebab dan alasan Kinara memukuli Anton. "Ayah minta maaf !" ucapnya menyesal.


"Lain kali Ayah tidak boleh memaksaku melakukan ini. Aku direndahkan dan aku dihinakan. Dia kelaki itu tak pantas mendapat maaf dariku." Ujar Kinara tegas.


"Ayah minta maaf !" Ulang Safiq lirih.


"Baiklah sekarang tidak ada lagi yang perlu dicemaskan, mulai lusa Kinara sudah boleh kuliah lagi, Kepala Rektor telah menarik surat scorsing Kinara, dia juga meminta maaf atas kejadian ini, dia juga merasa menyesal telah melayangkan surat itu untuk Kinara." Jelas Rayhan, atas itu Safiq tampak mengangguk paham.


...


Malam ini, sesuai yang direncanakan sebelumnya, malam reuni. Shan duduk diatara mereka yang tengah menikmati acara reuni yang baru saja usai. Dalam reuni yang hampir bubar itu tampak masih dipenuhi orang orang yang datang dengan pasangannya Masing-Masing. Tawa dan hingar bingar meriahnya pesta, suka cita dan tawa bahagia juga masih memenuhi ruangan itu. Ada yang sibuk makan ada yang sibuk mengobrol ada juga yang berjoget ria, mereka semua tampak begitu menikmati pesta malam ini, tapi kecuali Shan.


Dari mulai acara dibuka hingga saat ini, Shan hanya duduk terdiam tanpa teman apalagi pasangan, Shan juga tampak hanya merenung penuh kecewa, sebotol alkohol berulang kali telah ia tuangkan. Kepalanya mulai pusing mata juga mulai kabur tapi Kinara dalam bayangannya tak pernah hilang.


Tak lama kemudian, "Shan." Sapa seseorang bertubuh putih dan Sexy tampak sangat menggoda.


"Kau kembali Shan." Ucapnya lembut, senyum itu berulang kali menghipnotis Shan.

__ADS_1


Shan mendongak terkejut saat melihat kehadiran sosok perempuan yang sudah lama ditunggunya, "Kinara". Ucap Shan dan dia pun langsung memeluk perempuan itu.


__ADS_2