
"kalian minta maaf atau turun" ancam Indra.
"Sana loe turun !!," suruh Kinara.
"Loe yang turun !!, loe yang marah duluan" Rayhan seakan tak mau kalah.
"Loe yang nyebelin duluan". Kinara
"Kalau gitu loe yang turun !!" Suruh Rayhan.
"Loe sana !!" Kinara.
"Diaaam" teriak Indra membuat pak sopir mendadak ngerem. Seketika mereka terdiam.
Indra tak sanggup lagi mendengar keributan mereka yang tak akan ada habisnya, "kalian berdua, turun!!"
"Loe yang turun !" suruh Kinara. pertengkaran itu belum berakhir.
"Turun kalian !" pinta Indra mengulangi.
Kinara dan Rayhan akhirnya memutuskan untuk turun mengikuti perintah Indra.
"Den apa ini tidak berlebihan??" Tanya pak sapri. Supir pribadi Rayhan.
"Saya hanya memberikan waktu untuk mereka berdua, melihat mereka berdua bertengkar, membuat saya berfikir dan ingin melihat siapa yang akan mengalah dan minta maaf, kita perhatikan saja dari jauh pak!!. Apa dalam keadaan marah seperti ini Rayhan akan meninggalkan Kinara??".
"Baik den" turut sapri.
Indra kemudian menonaktipkan handphone untuk memastikan Kinara tidak meminta bantuannya.
Rayhan dan Kinara berjalan dibawah temaramnya malam, diwaktu yang cukup larut seperti ini sangat sulit sekali mendapatkan angkutan terpaksa mereka terus berjalan.
Kinara berjalan cukup jauh didepan Rayhan, meskipun tidak berani memulai berbicara, tapi sesekali dia berhenti untuk memastikan Rayhan tidak meninggalkannya, sama halnya dengan Kinara. Rayhan, meskipun dia nampak cuek kepada Kinara namun dalam hatinya diam-diam memberi perhatian kepada Kinara dengan tidak meninggalkannya sendirian.
Tiba-tiba rintik hujan turun membasahi bumi yang gersang, hawa panas berubah dingin kian menusuk tulang. Rayhan berlari kepada Kinara, tas rangsel yang awalnya ia gendong segera ia lepaskan untuk memayungi Kinara yang sebagian rambutnya telah dibasahi air hujan.
__ADS_1
"Kita ke sana" ajak Rayhan. menunjuk pada sebuah halte bus.
Sayangnya. sebuah halte tak cukup memayungi mereka, hujan kali ini begitu deras dan angin bertiup begitu kencang hingga percikan air yang dibawanya masih membasahi dua insan yang berteduh dibawah atap halte.
Rayhan. Melihat Kinara yang semakin basah kuyup, tergerak hatinya untunk menghalau tubuh Kinara dari derasnya air hujan, Rayhan membiarkan dirinya kebasahan demi melindungi Kinara.
"Duuaarrrrr" suara petir bergantian memecah kesunyian membuat Kinara begitu ketakutan. Kinara berjongkok sambil menutupi kedua telinga dengan kedua tangan, matanya tertutup rapat tiap kali dentuman itu menghentak bumi.
Rayhan merendah, dengan lembut menyibak rambut yang menutupi telinga Kinara, disana Rayhan memakaikan earphone dan memutarkan musik untuk Kinara perdengarkan.
"Terima kasih" ucapan itu begitu tulus dari hati terdalam. Disambut senyum ikhlas dari bibir Rayhan.
"Apa suara petirnya masih kuat??" tanya Rayhan. Lalu Kinara menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk malu sebab wajah Rayhan tepat dihadapannya. Kinara kembali menutup telinga dan menutup rapat matanya ketika suara petir kembali bersahutan.
Rayhan memeluk Kinara dan berbisik "Tenang aku ada disini." Ucap Rayhan lembut.
"apa kita kesana sekarang??" Tanya sapri dari jarak yang cukup jauh.
"Tunggu sebentar !!" Pinta Indra. Sambil terus memantau mereka dari kejauhan.
Pagi ini Kinara terbangun karena cahaya silau menusuk matanya, disana berdiri seorang lelaki setengah telanjang tengah membuka gordeng yang membalut sebagian kamarnya, mata kinara menyipit bersama terbukanya kain penutup jendela. Dia, Kinara sedikit terkejut karena kehadiran orang lain dikamar pribadinya, kemudian Kinara mengucek-ngucek mata untuk memperjelas bayangan pada kornea matanya.
Sebelum semuanya nampak jelas bayangan itu kian mendekat, dia lelaki yang setengah telanjang berjalan menuju kearahnya, Kinara terkejut saat melihat bayangan yang mulai nampak jelas. Kinara hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun urung saat menyadari tubuhnya hanya berbalut selimut tanpa sehelai kain menempel ditubuhnya.
"Sayang, ..??" Suara itu berbisik begitu dekat ditelinga Kinara. Sepasang bola mata yang bagitu teduh tengah menatapnya hangat.
"Ngapain loe disini" teriak Kinara terkejut mendapati Rayhan dikamarnya.
"Ngapain ??" Rayhan kembali bertanya. Rayhan menatap Kinara dengan sorot mata nakal. Rayhan kian mendekatkan wajahnya membuat Kinara memiringkan posisinya menjauhi tatapan Rayahn.
"Kau tidak ingat apa yang kita lakukan tadi malam ??"; kata itu terdengar begitu nakal, "Perlukah aku mengingatkannya kembali ??" bisiknya nakal. Seketika tubuh setengah telanjang itu terhempas kasar menindih Kinara yang masih duduk diatas kasur.
"Aaaaaaaakhh" teriak Kinara seketika terbangun dari tidurnya,dia merinding lalu melirik kekiri dan kanan kemudian kedepan disana duduk Rayhan dan Indra dalam mobil yang sama.
Rayhan dan Indra yang dikejutkan oleh teriakan Kinara, sama menatapnya heran. Kinara sendiri mendadak tak karuan, masih terngiang kata-kata nakal Rayhan dalam mimpinya.
__ADS_1
"Untung hanya mimpi" ucap Kinara. Kemudian memalingkan wajah yang kian memerah pada kaca mobil menyembunyikan rasa malu yang menghinggapinya sebab bermimpi tidur bersama Rayhan, Kinara bahkan tak bisa menolak hatinya begitu bergetar ketika Rayhan tersenyum tipis padanya.
Sekilas Rayhan menatap Kinara yang tampak aneh ketika terbangun dari tidurnya. Dengan gelengan dan senyum tipis, kemudian Rayhan kembali pada layar pipih ditangannya.
Kinara terus memalingkan wajahnya ketepi jendela, setelah mimpi itu dirinya merasa tak sanggup untuk menatap Rayhan walau sedikit saja.
Lima belas menit kemudian. Kendaraan roda empat yang Sapri kemudikan memasuki pekarangan Keluarga Rahman. Disana berdiri dua orang yang tengah menunggu kedatangan mereka, mereka berdua ialah Rahman dan Karin. Seketika senyum dibibir mereka mengembang saat melihat mobil Indra memasuki halaman.
Tak lama setelah mesin dimatikan Rayhan turun dan melempar senyum manis pada orang-orang yang tetap berada didalam mobil.
"Nak tidak mampir dulu ??" Tanya karin dengan senyum tersungging dari wajahnya.
"Insya alloh lain kali" jawab Indra. "Sekarang sudah terlalu larut" tambahnya.
"Oo. baiklah" pasrah Karin.
"Dah tanteu." Kinara dan Indra sama melambaikan tangannya. Dibalas karin dan Rahman juga Rayhan yang tetap tersenyum kepada Kinara walau tidak dibalasnya.
"Rayhan..!?" Panggil Rahman menghentikan langkah Rayhan. Segera Rayhan berbalik pada sumber suara.
"Nak," Rahman memegang lembut kedua belikat Rayhan bangga. "Terima kasih telah menerima perjodohan ini, ayah harap kamu akan menjaga Kinara dengan baik, !! jangan kecewakan mereka, hanya dengan ini balas budi ayah kepada keluarga Kinara"
Rayhan tersenyum tipis penuh keyakinan "akan Rayhan coba".
"Berjanjilah kepada ayah, jaga dia baik-baik !" Rayhan tersenyum simpul membalas permintaan Rahman.
"Akan Rayhan coba mengenalinya lebih jauh" Rayhan belum bisa berjanji sepenuhnya. Dalam hatinya masih bayak keraguan terhadap Kinara.
Flashback.
*D**uapuluh dua tahun yang lalu, Rahman mengalami kecelakaan mobil yang merenggut penglihatannya, kala itu usia Kinara baru sekitar delapan bulan saat ditinggal wafat ibundanya yang telah lama mengidap kangker rahim. Sebelum wafat dia(ibunda Kinara) terlebih dahulu mendonorkan kornea matanya kepada Rahman, kala itu keadaan ibunda Kinara sudah sangat drop dan lemah suara yang hampir tak terdengar itu susah payah mengatakan "**Tolong jaga Kinara*** putriku" setelah empat kata itu suara ibunda Kinara tak terdengar lagi, dia kritis dan dua hari kemudian meninggal dunia*.
Falshbackoff.
💥💥happy reading semu maaf cerita ini masih begitu ngambang sehingga sedikit sulit memahami maksud yang saya tulis💥💥
__ADS_1