
Didalam Taxi.
Sekilas ekor mata Rayhan menangakap mata Kinara yang terus Mencuri-curi pandang darinya, walau setelahnya Kinara akan kembali memalingkan wajahnya ketepi jendela.
"Aku rasa kau tak perlu Malau-Malau seperti itu ! tataplah aku samapai kau puas, jangan terburu memalingakan wajahmu." Ucap Rayhan tanpa beralih dari layar pipih ditangannya, dia tanpa ragu menggoda Kinara.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu," Ucap Kinara lirih.
"Kemarilah," Rayhan menarik tubuh Kinara lalau mendekatkannya lebih intim.
Saat bersamaan Kinara kembali merasakan degup jantung yang terpacu hebat.
"Pak, cepat dong pak ! kenapa terasa lebih lambat sih.?" Batin Kinara. Dia sedikit dibuat tidak nyaman dengan perasaan aneh yang terus menghinggapinya.
"Berhenti Pak !" Pinta Rayhan.
"Kenapa berhenti bukankah tujuan kita masih jauh, ya.?"
Tanya Kinara sedikit tak paham.
Rayhan hanya tersenyum, senyum yang membuat jiwa Kinara kembali tak karuan.
Segera Kinara memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Tunggu disini sebentar !"
"Apa kau akan lama Ray,?" Tanya Kinara.
"Tidak ! cuma sebentar. Kau tunggu saja disini," suruh Rayahan.
Sebelum Rayhan turun dari Taxi terlebih dahulu mengacak pucuk kepala Kinara seraya berkata, "Tunggu aku, jangan Kemana-mana !"
Ditatapnya Rayhan yang mulai turun dari Taxi yang menepi didepan sebuah kedai makanan, dan saat bersamaan Kinara menyentuh lembut pucuk kepala yang sempat dipegang Rayhan.
"Apa yang kau lakukan selalu membuat aku gugup, Ray." Batin Kinara, dia masih memegang lembut pucuk kepalanya sambil Tersenyum-senyum sendiri.
Tiga puluh menit kemudian Rayhan telah kembali sambil menenteng beberapa tas ditangannya.
Setelah itu mereka berdua pun kembali melaju menuju kediamannya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai dipekarangan, disana terlihat sedan berwarna putih terparkir didepan rumah.
"Mobil siapa,?" Rayhan menyernyit.
Kinara menggeleng sama tidak tau.
Setelah cukup menyelidiki, Rayhan mencoba mengetuk pintu kaca, setelah beberapa ketukan akhirnya bersamaan dengan kaca mobil yang diturunkan nampaklah dua orang yang tengah duduk didalamnya.
"Mamah, Ayah."
Rayhan dibuat terkejut saat Tiba-Tiba Rahman datang mengendarai mobil, karena setaunya Rahman belum membeli mobil baru dan tidak memiliki mobil berwarna tersebut.
"Ini mobil siapa, ?" tanya Rayhan.
"Kalian sudah kembali,?"
Segera Karin keluar untuk menghampiri Kinara dan langusung memeluknya.
Rayhan tidak dihiraukannya.
Kinara balas memeluk Karin, "Mamah, maafin Kinara !" melepas pelukan. "Sudah menunggu lama ya.? Maaf Mah tadi...
"Tidak Apa-Apa sayang," Putus Karin.
"Mentang-Mentang sudah ada menantu anak sendiri diacuhkan," Gumam Rayhan.
"Ayah."
Kinara mengulurkan tangannya menyalami Rahman, "Maaf telah membuat ayah menunggu.!"
"Tidak Apa-Apa sayang," tutur Rahman sambil membelai rambut Kinara.
"Lebih baik sekarang kita masuk ! dan makan," ajak Rayhan.
Rahman dan Karin mengangguk setuju begitupun dengan Kinara.
Mereka pun akhirnya masuk kedalam rumah yang terlebih dahulu dibuka Kinara.
Saat memasuki rumah, Karin sempat dibuat kagum dengan kondisi rumah yang sangat rapih.
"Sayang, kalian yang merapihkan ini,?" tanya Karin.
__ADS_1
Sebelum menjawab, terlebih dahulu Kinara menatap Rayhan. "Ia Mah," Jawab Kinara.
"Bukan Mah, Kinara bohong ! Rayhan tidak serajin itu, dia sendri yang merapihkannya."
Setelah menyanggah ucapan Kinara Rayhan melangkah menuju meja makan untuk menata makanan yang dibawanya.
"Benarkah itu sayang ?" Tanya Karin mencoba memastiksn.
"Tidak Mah ! Rayhan suka bercanda Mah."
"Waah menantu Ayah sudah mulai memahami sikap Rayhan ya,?"
Kinara tersipu malu dengan pujian Rahman, walau kejadian sebenarnya tidak seperti itu.
"Kinara,?" Panggil Rayhan.
"Ya,?" Kinara menoleh kesumber suara.
"Boleh kesini sebentar ! Sayang."
Kinara tersentak saat Rayhan kembali mengucapkan kalimat intim kepadanya.
Sebelum memenuhi titah Rayhan, Kinara tertegun dengan perasaan yang kembali bergetar aneh.
"Kalimat itu,? apa dia sedang Pura-Pura didepan Mamah dan Ayah.?" Fikir Kinara.
Setelah itu Kinara mencoba mengayunkan langkah dengan kaki yang Tiba-Tiba menggigil, ucapan Rayhan sanggup membuat tubuhnya terasa bergetar tak karuan.
Sambil melangkah Kinara memalingakan wajahnya kesembarang arah untuk mengalihakan tatapan Rayhan yang masih tertuju padanya.
"Rayhan, kau tak boleh terus menatapku seperti itu! karena aku gugup, Ray."
Ucapnya dalam hati.
Huuuhh.
Sebelum berbicara kepada Rayhan ditariknya nafas Dalam-Dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.
"Ada apa.? Ada yang perlu aku bantu,?" tanya Kinara mencoba menetralkan suasana hatinya.
Ditatapnya Kinara yang terlihat gugup. Rayhan tersenyum gemas, "Ada apa.? Kenapa wajahmu terlihat kurang baik,? apa kau gugup.?"
Fikiran Kinara serasa ditampar, "Apa itu benar,? Apa wajahku terlihat gugup.?"
"Sudah, aku cuma bercanda kok. Mari ! bantu aku menyiapkan makan malam."
Kinara mengangguk patuh.
Kinara tengah membuka tas tadi yang dibawa Rayhan, sedangkan Rayhan sibuk menata piring untuk mereka gunakan.
Setelah itu semuanya duduk dihadapan mereka sebuah bingkisan kecil berupa nasi goreng spesial kegemaran Rayhan.
Setelah membaca doa mereka dengan lahapnya menyatap nasi goreng tersebut, namun belum dengan Kinara dia masih mematung didepan bingkisan yang telah dibukanya.
"Kinara kenapa tidak makan sayang,?" Tanya Karin.
"Kinara.. . ..
Sulit diucapkan sebenarnya Kinara sangat tidak menyukai nasi goreng. Entah kenapa,? makanan yang bagi sebagian orang begitu menggiurkan sama sekali tidak bisa diterima oleh lidahnya.
"Kenapa Sayang kamu tidak suka makanannya,?" Tanya Rayhan.
Ingin mengatakan tidak suka dengan makanannya tapi Kinara tidak ingin mengecewakan Rayhan, meskipun tidak menyukai makanannya tapi disisi lain menghormati suami itu lebih penting dari pada memperdulikan lidahnya.
"Bukan, bukan.!" Sanggah Kinara.
Diperhatikannya makanan tersebut, "Demi menghormatimu akan aku makan makanan yang tidak aku sukai ini."
Satu suapan masih bisa terima lidahnya, dua tiga Kinara tak mampu lagi, mulutnya Benar-Benar terkuci untuk menerima makanan yang satu ini, rasanya tenggorokan pun Tiba-Tiba kering dan seret sulit sekali untuk menelannya, meski begitu demi menghormati Rayhan Kinara masih berusaha untuk memakannya walaupun perutnya mulai menunjukan penolakannya [Mual-Mual].
Kali ini disuapan kelima Kinara Benar-Benar tak mampu lagi, meskipun telah di dorong dengan segelas air makanan tersebut masih enggan untuk masuk kedalam perutnya, alhasil.
"Kinara izin kedapur sebentar," ucapnya sambil menahan makanan yang hampir keluar dari mulutnya.
Setibanya didapur tepatnya di wastafel Kinara memuntahkan semua makanan yang Benar-Benar tak bisa diterimanya.
"Kinara,?" Panggil Rayhan.
Kinara tersentak seketika langsung menghadap kearah Rayhan terlebih dahulu merapihkan wajahnya.
"Ada apa,?" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Tidak ada, aku mau mencuci piring." Tuturnya berbohong.
Diliriknya rak piring yang masih tertata rapih dan tak ada satupun piring kotor diatas wastafel.
Rayhan melangak kecil mendekati Kinara, "Kau akan berbohong padaku Kinara.?"
"Tapi Ray," Kinara sedikit ketakutan, takut Rayhan akan kecewa padanya.
Dipegang lembut kedua pipi Kinara dan sedikit mengangkatnya, "Kau tak perlu menyiksa dirimu untuk menghormatiku, kau terpaksa memakannya bukan.?"
Kinara menunduk lemah, "Maafkan aku Ray."
"Tidak Apa-Apa ! aku yang minta maaf, harusnya aku bertanya padamu terlebih dahulu saat akan membeli makanan ini, maaf aku tidak tau kalau kau tidak menyukai nasi goreng."
"Ray, aku minta maaf." Karena merasa bersalah tak terasa airmata mulai menitis diwajah Kinara.
Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya, "Sudah kau tidak perlu bersedih, tapi aku sangat berterima kasih karena kau telah sangat menghormatiku."
Kinara mengangguk kecil dipelukan Rayhan.
Dibelainya perempuan yang tengah membenamkan wajah didadanya.
Rahman.
Dia berjalan hendak menaruh piring kotor kedapur, namun urung saat melihat Rayhan yang tengah memeluk Kinara begitu lekatnya.
Rahman akhirnya mundur dan kembali duduk di meja makan sambil Tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa tidak jadi, Yah.?"
Karin terheran ketika melihat Rahman kembali dengan piring kotor ditangannya.
Tapi pertanyaan Karin tidak dijawab Rahman ia masih sibuk memikirkan hal yang baru dilihatnya sesekali ia pun terlihat tersenyum gemas.
"Kalau gitu Mamah saja yang menaruhnya kedapur."
Karin berdiri untuk mengambil piring yang awalnya dibawa Rahman.
Seketika Rahman menahannya, "Jangan kedapur dulu ! Mah."
Karin menyernyit tak mengerti, "Ayah kenapa sih,? Mamah heran deh. Emangnya ada apa.?"
Rahman memaksa Karin untuk duduk kembali.
"Sudah jangan banyak tanya ! lebih baik turuti saja perintah ayah,!" Rahman berbisik. "Jangan sampai Mamah mengganggu mereka."
Karin melotot, "Jadi anak dan menantu kita,?" Ucap Karin setengah bertetiak gemas.
Rahman menempelkan telunjuk dibibirnya,"Shhhhttt. Jangan Keras-Keras."
Karin mengangguk seketika membekap mulutnya.
"Makanya tetap duduk disini, jangan jadi pengganggu." Ucap Rahman setengah berbisik.
Karin pun ikut tersenyum gemas saat membayangkan aktivitas dua pengatinnya saat didapur.
"Mah, Ayah.? Kenapa Senyum-Senyum, ada yang lucu.?"
Tanya Rayhan yang baru kembali dari dapur.
"Ia kami sedang membayangkan, euuuhhh." Rahman dibuat gelagapan saat sadar ternyata Rayhan yang bertanya kepadanya.
"Teater, yah teater." Terang Karin berbohong.
"Ia betul itu, kami berdua sedang membayangkan teater yang kami tonton."
Rayhan tersenyum setengah tak percaya, "Barengaan.?"
"Ya tentu," Sahut Karin.
"Karena kami'kan nontonnya Bareng-Bareng," Tambah Rahman.
Rayhan mengangguk, "Oo baiklah. Kalau begitu Ray masuk kamar dulu ya Mah."
"Ia, iya sayang silahkan.!"
"Kinara gak ikut Ray,?" tanya Rahman.
"Kinara masih didapur," jawab Rayhan sambil tersenyum miring.
"Oo," Karin Mengangguk-angguk.
__ADS_1
Setelah itu Rayhan bergegas masuk kedalam kamarnya sambil menggeleng dan tersenyum lucu atas tingakah aneh kedua orang tuanya.