
"Kinar, aku akan menjelaskan kesalah fahaman ini kepada Rayhan. Aku ingin minta maaf, aku nggak tau kenapa aku bisa jadi egois begini.? Aku bisa jelasin ini semua kepada Ray." Ucap Fahmi dengan wajah menyesal dan bersalah
Kinara menarik nafas menahan bibirnya untuk tidak menangis mengingat kekacauan yang telah Fahmi lakukan dihari pernikahanya.
"Sekarang bukan waktu yang tepat. Saat ini mungkin Rayhan tidak ingin mendengar penjelasan siapa pun, biarkan dia tenang terlebih dahulu. Sekarang Kakak cepat pergi sebelum Ray melihat Kakak disini." Ucap Kinara sambil menutup pintu yang sempat ditahan Fahmi.
"Tunggu, apa kau mau memaafkan aku.?" Tanyanya memastikan.
"Ya, sudah aku maafkan. Meskipun aku belum mengerti alasan Kakak melakukan ini kepada ku."
"Terima kasih, aku berjanji akan menjelaskan semua ini kepada Rayhan."
Kinara mengangguk kecil. "Lebih baik sekarang Kakak pergi.!"
Setelah menutup pintu Kinara duduk dikursi membenamkan wajahnya pada tangan yang ia lingkarkan diatas meja. "Kenapa ada saja hal-hal yang membuat Rayhan meragukan ku.?" Kinara membuang kasar nafasnya.
"Tidak puas bertemu ditempat umum dengan lancangnya dia menemui istriku dirumah suaminya, menjijikan.!" Ucap Rayhan sembari melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Tak lama kemudian rasa kantuk mulai menghampiri Rayhan, dan akhirnya dia tertidur.
Tok Tok Tok.
"Heuuh siapa lagi.??" Gumam Kinara kesal. "Kenapa harus banyak sekali orang yang mengetuk pintu." Langkah lunglainya mencoba meraih pintu, melihat siapa yang datang kali ini.
Seorang ibu datang bersama anak lelaki (salah datu anak didiknya).
"Guru Kinar." Ucap anak lelaki itu sambil memeluk Kinara kesenengan.
"Ada apa, Faldi.?" Tanya Kinara sambil merendahkan tubuhnya.
"Guru, kenapa guru tidak datang.? Bukankah guru sudah berjanji akan melatihku.?" Ucap Faldi (Murid Kinara).
"Guru Kinar, sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu waktu Guru. Saya tidak bisa melihat Faldi terus murung dan tidak semangat berlatih hanya karena bukan Guru yang melatihnya." Ucap lirih Ibu Faldi.
"Oo jadi begitu, kamu nakal ya." Kinara mencubit gemas hidung Faldi. "Udah mulai pilih-pilih kamu sekarang, ya.?"
"Guru, dua hari lagi ada kompetisi antar sekolah, dan aku mau Guru menjadi pelatihku kalau tidak lebih baik aku mundur." Ucapnya setengah mengancam.
"Baiklah, baiklah Guru akan menurut, kapan kita bisa mulai latihan.?" Tanya Kinara.
"Malam ini." Sahut Faldi tanpa ragu.
"Tapi..
"Ayolah Guru aku tidak punya banyak waktu." Rengek Faldi.
"Oh baiklah tunggu disini sebentar."
Sebelum pergi, Kinara terlebih dulu meminta izin kepada Rayhan. Dia telah berulang-ulang mengetuk pintu kamar Rayhan, namun si empunya tidak nyaut-nyaut entah kemana mimpi membawanya sehingga sulit sekali dibangunkan.
"Ya, sudahlah. Kalau mau marah, marah saja sesukamu." Ucap Kinara kesal.
Tapi biar begitu Kinara tetap meninggalkan jejaknya meminta izin kepada Rayhan dalam secarik kertas.
Jam menunjukan pukul 22:07.
Rayhan terbangun dari tidurnya, "Jam berapa ini.?" Gumam Rayhan sambil mengucek-ngucek matanya.
"Sudah cukup malam berapa lama aku tertidur.?" Rayhan duduk ditepi tempat tidurnya. "Rumah kok sepi sekali, ya.?" Rayhan melirik kiri dan kanan. "Dimana dia.? Kenapa aku tidur sendirian.?"
Rayhan melenggang meraih pintu untuk mencari Kinara. Alangkah terkejutnya ia saat menyadari pintu kamar yang sedari tadi dikuncinya, "Astaga, pantas saja dia gak ada dikamarku." Rayhan berjalan kecil menuju kamar lain. "Kinara, ?Kinara.?" Panggilnya namun Kinara tidak ada disudut manapun.
Saat hendak masuk kedalam kamar Rayhan mendapati secarik kertas yang Kinara tempelkan di pintunya.
"Aku izin keluar sebentar. Sudah aku siapkan makan malam dimeja, jika tidak suka biarkan saja ditempatnya.!" Tulis Kinara.
Sayangnya disana Kinara tidak menjelaskan kemana ia akan pergi membuat Rayhan kembali salah faham.
Dengan kesal Rayhan meremas kertas itu dan membuangnya kesembarang arah. "Dasar Manusia-Manusia tidak tau diri.!" Rayhan mengira Kinara pergi bersama Fahmi, karena sebelum ia tidur Rayhan sempat melihat Fahmi mendatangi Kinara.
...
...
"Faldi latihannya sampai disini dulu yah, sudah malam, Guru pulang dulu."
"Baik guru, terima kasih." Ucap Faldi tulus.
"Guru, mari saya antar." Pinta orang tua Faldi.
"Tidak usah, saya mau minta temen untuk jemput saya." Tolak Kinara lembut.
"Tapi ini sudah malam."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Kinara merabai sakunya. "Aduuh gue lupa bawa handphone lagi." Gumam Kinara.
"Buk, apa saya boleh minta tolong.?" Ucap Kinara sedikit tidak enak.
"Ya, tentu. Silahkan."
"Apa saya boleh pinjem handphone, saya mau nelpon temen saya tapi lupa kalau saya tidak bawa .." Kinara menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh, tentu saja boleh."
Dengan senang hati ibu itu mengambil telpon genggamnya dan memberikanya kepada Kinara.
Digemggamnya benda pipih tersebut, tetapi Kinara bingung harus minta bantuan kepada siapa.
Tidak mungkin Kinara menelpon Rayhan, yang jelas-jelas No'nya saja dia tidak tau. Jika menelpon Fahmi dan meminta menjemputnya bisa repot dia ntar.
Terpaksa Kinara meminta bantuan Andini.
Tak beberapa lama kemudian Andini datang menjemputnya, Kinara segera naik dan terlebih dahulu pamit kepada ibu yang sedari tadi menemaninya menunggu Andini menjemput.
Diperjalanan menuju kediaman Rayhan.
"Din, gue minta maaf ya ! karena ngerepotin loe."
"Nyatai aja kali, kebetulan gue belum tidur, loe gak usah ngerasa gak enak gitu ! sama temen sendiri juga." Sahut Andini.
"Tapi gak ada otak juga kalo minta bantuannya Malam-Malam begini."
Kinara.
"Lebih gak ada otak kalo loe minta bantuan orang lain, apa gunanya gue coba." Andini.
Huummp. Kinara membuang nafasnya.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa loe gak dianter Rayhan.? Bukannya pengantin baru pengennya nempel terus ya.?" Goda Andini.
"Gue kena masalah, Din." Ucap Kianra lemah.
"Apa.? Maksud loe.?" Tanya Andini setengah berteriak.
"Kita berhenti disana sebentar yuk.!" Pinta Kinara.
Setelah mereka berdua duduk, Andini mulai membubuhi Kinara dengan bermacam pertanyaan.
Dari kejadian malam itu hingga kejadian yang menimpa Kinara pagi tadi dirumah sakit.
Andini menggeleng tak mengerti. "Kenapa sih Ray, loe itu gak percaya sama istri loe sendiri.? Heran gue." Andini mengerang. Dia benar-benar dibuat kesal atas sikap Rayhan yang terlihat tidak bisa mempercayai Kinara.
"Sudahlah, aku sudah menduga ini jauh-jauh hari. Butuh waktu untuk Rayhan mengenaliku, biarkan waktu yang mengajarinya."
Hhmmmh. Desah Andini.
"Kamu ada benarnya, tapi kalau terus begini apa hubungan kalian tidak akan goyah.?"
"Aku tidak tau, jika harus berakhir atau tetap bertahan aku serahkan semua ini kepada sang pemilik waktu." Ucap Kinara pasrah.
"Tapi Kinar kalo Ray jadi suami gue, gue bakalan mertahanin dia sampai titik darah penghabisan." Andini menopangkan telapak tangan diwajahnya. "Loe nyadar gak siiiiiiikkh dia itu ganteng bangeeett," Ucapnya gemas. "loe beruntung dapetin dia."
Kinara melipatkan tangannya di atas meja. "Hmm, sepertinya sulit mendapat kepercayaan Rayhan."
"Tapi, gue rasa kejadian dirumah sakit itu berbau cemburu deh.!"
"Maksud loe.?" Kinara memiringkan kepalanya.
"Ya, gue rasa Ray cemburu sama loe, deh."
Kinara berdecak sambil tersenyum setengah lucu. "Gak secepat itu juga kali, Din."
"Ikh apanya yang nggak, dia itu punya hak cinta sama loe, sekarang diakan suami loe."
Kinara tersenyum kecil. "Kagak, mana ada perasaan kayak gitu, walau dia suami gue, tapi gue masih ragu."
"Kinara, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi cinta.?"
"Ia gue tau, tapi kalau Rayhan secepat itu miliki perasaan untuk gue, gue sedikit kurang yakin. Apalagi dia lagi deket sama Tamara." Kinara memberenggut kesal.
"Heloowww, Tamara.? Loe kayak gak tau dia aja. Emang loe bisa relain dia untuk Tamara.?"
"Nggaklah mana bisa.?" Ucapnya setengah berbisik.
"Apa.? Coba ulang.?"
__ADS_1
"Ikh apaan sih." Kinara tersenyum malu.
"Aduh cie, Kinara. Gue denger loh." Ucap Andini menggoda.
"Ikh apaan sih,"
"Loe mulai suka sama Rayhan ya.? Ia'kan, ia'kan.?"
"Nggak, Din. Tidak semudah itu, apalagi gue rasa dia terlalu berlian untuk gue yang tembaga."
"Jangan gitulah Kinar, loe itu berlian lebih malah, hanya loenya aja yang gak sadar. Kinar ? mahasiswa sekampus saja bertekuk lutut dihadapan loe masa Rayhan kagak, tidak sesulit itu membuatnya jatuh cinta sama loe, ia gak.? Gue yakin dia itu cinta sama loe kayak loe cinta sama dia."
Andini terus saja menggoda Kinara, membuat wajah Kinara memerah, malu.
"Kinar.?"
"Nggak Din, nggak." Sahut Kinara menyembunyikan perasaannya. "Sudah jangan bahas itu lagi.!"
"Kinar lihat deh.!" Andini melihat sesuatu yang janggal didepannya.
"Apaan, Din.?" Sahutnya malas.
"Loe lihat perempuan itu.?" Andini menunjuk seorang perempuan yang tengah dikejar dua orang lelaki.
"Aku rasa dia dalam kesulitan."
"Ya biarkan saja ! jangan ikut campur.!" Ucap Kinara datar sambil melahap mie dipiringnya.
"Tapi, Kinar loe yakin gak akan bantu dia.?" Tanya Andini, masih dalam pandangannya.
"Din, loe tau gak gue baru saja celaka gara-gara nolongin orang, ni kepala diikat kayak gini.." Kianra menunjuk kepalanya yang masih diikat kain kasa.
"Tapi kayaknya gue kenal itu orang, tapi ketemu dimana, ya.?" Fikir Andini sedikit mengingat-ingat."
Kinara mendongakan wajahnya menatap lurus kearah seorang perempuan yang tengah dikejar dua lelaki.
...
...
Di kediaman Rayhan.
Rayhan berjalan mondar mandir diruang tamu, resa menunggu Kinara yang tak juga pulang.
Waktu sudah menunjukan jam 00:45. Tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Kinara.
"Kemana dia.?" Ucap Rayhan emosi.
"Berani sekali dia pergi bersama laki-laki lain, bahkan sudah tengah malam begini dia belum pulang, Ban***t.!!" Rayhan meremas jemarinya penuh amarah.
...
...
Kinara dan Andini memboyong perempuan kerumah sakit, perempuan yang baru mereka selamatkan dari tangan dua lelaki jahat suruhan lelaki hidung belang.
"Oh tidak.!" Tanpa sengaja Kinara melihat jam yang tergantung di dinding Rumah sakit tersebut. Waktu menunjukan jam 01:00.
"Din, aduh gimana ya.?" Ucap Kinara cemas.
"Gue pulang duluan, ya. Udah terlalu malam. Gue takut Rayhan bangun dan sadar gue gak ada dirumah, bisa mati gue kalo dia salah faham lagi."
"Tapi, bagai mana dengan luka loe.?"
"Sudah, nanti gue obatin dirumah saja. Gue duluan ya maaf udah ngerepotin loe."
"Tapi sorry ya gue gak bisa nganterin loe, gue mau nungguin dia."
"Nggak apa-apa. Kebetulan didepan ada ojek." Ucap Kinara sambil berlari terburu-buru.
"Hati-hati." Teriak Andini.
...
...
Jam menunjukan pukul 1:30.
Rayhan menggeleng kesal. Emosinya memuncak. "Kinara tak bisa di maafin lagi, keterlaluan.!" Ucap Rayhan emosi sambil membanting pintu kamarnya.
Tak lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman rumahnya, Rayhan meremas kain seprai ditangannya. "Apa-apaan ini.?? Jam segini baru pulang." Gumam Rayhan penuh emosi.
Saat itu Rayhan berfikir suara deruman itu berasal dari motor Fahmi yang baru saja mengantar Kinara pulang.
__ADS_1