Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Riuh Kampus.


__ADS_3

Setelah memarkirkan motor Kinara berjalan gontai menuju kelasnya. Di sepanjang perjalanan Kinara disuguhi dengan Kata-Kata yang kurang sedap.


Semua mata menatapnya miring, desas desus kabar tentang perceraiannya dengan Rayhan begitu menyeruak memenuhi tiap sudut kampus.


Tiap mulut yang Kinara temui tak luput berbicara rendah tentangnya.


*Kasian Kinara akan jadi janda.


Kasian Kinara jadi bekas.


Sangat disayangkan pernikahan mereka kandas.


Pernikahan seumur jagung.


Rayhan tidak mencintai Kinara.


Rayhan tidak bisa menerima Kinara.


Kasian Kinara.


Pray for Kinara.


Ikut sedih.


Rayhan akan menceraikan Kinara.


Rayhan mencintai perempuan lain.


Kinara bodoh.


Rayhan menceraikan Kinara untuk mengejar Tamara.


Kejadian di Villa itu sangat kelihatan Rayhan tidak mencintai Kinara*.


Sakit memang, risih apalagi. Tapi sebuah suara yang mengisi earphone yang terselip ditelinganya begitu menguatkan dan selalu mendorong Kinara untuk berfikir baik.


Tiap lontaran cercaan yang didengar Kinara secara otomatis didengar juga oleh Ryahan dibalik panggilan yang tidak terputus.


Rayhan sengaja melakukan itu, memberi Kinara earphone dan terus menghubungkan panggilannya. Rayhan tau Kinara akan mendengar cercaan demi cercaan dari Mulut-Mulut jahil tak bertanggung jawab, untuk itu Rayhan terus menghubungkan panggilannya kepada Kinara untuk sekedar menghiburnya dan membantu meyakinkan Kinara bahwa ucapan mereka tidak ada yang benar.


Dan tiap kali mendengar cercaan itu Rayhan akan langsung berkata. "Tidak Apa-Apa ! biarkan saja mereka berbicara sampai puas ! bahkan sampai lelah tak berdaya, anggap saja mereka sedang yoga mulut ! Sayang kamu tidak perlu menghiraukannya karena aku tidak begitu, kamu juga tau sendiri. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, kau harus tau sayang aku bisa sakit saat sedikit saja jauh darimu." Itulah ucapan Rayhan yang membuat Kinara kuat, ada kalanya Kinara terkikik geli saat Rayhan menggombalinya hingga Kinara tidak begitu menghiraukan desas desus tersebut.


"Kak Kinara.?" Teriak dua orang yang tidak Kinara kenali. Dia terburu mendatangai Kinara seakan ada hal penting yang ingin disampaikannya.


Kinara yang tengah berjalan pun berhenti sejenak. "Ya ?" jawabnya sambil berbalik kearah perempuan itu.


"Ikut aku," pinta mereka sambil menarik sebelah tangan Kinara.


Mereka (Perempuan) tampak sangat kegirangan, entah apa yang membuatnya sesenang itu Kinara pun tak mengerti.


"Ada apa? kenapa menarikku seperti ini?" tanya Kinara Terheran-heran.


Perempuan itu tak menjawab ia hanya


menyeret dan menarik Kinara dengan terburu.


Hingga akhirnya langkah mereka pun berhenti tepat didepan sebuah mading besar.


"Lihat ! kami telah mendaptarkan Kak Kinara," ucap keduanya senang.


Pada mading tersebut terdapat lembaran pengumuman dan lembaran pendaptaran juga anggota yang telah mendaptar di Kompetisi tahunan kampus yang bekerja sama langsung dengan majalah ternama. Mereka yang lolos tiga besar, secara langsung akan menjadi model sampul majalah tersebut.


"Apa ini bazar.?" Tanya Kinara.


"Bukan Kak ini kompetisi kecantikan tahunan, mereka yang masuk tiga besar akan langsung mendapat kontrak eksklusif, dan menjadi model sampul majalah ternama Kak." Jelasnya.


"Ooh." Ucap Kinara singkat.


"Apa semua nama yang ada disini mereka yang ikut kompetisi.?" Tanya Kinara setelah melihat sekilas lembaran data pendaptar yang tertera disana.


Perempuan itu mengangguk.

__ADS_1


Kinara kembali membaca satu persatu nama anggota yang telah mendaptar.


Yuli


Sina


Eka


Alma


Wika


Kinara


Lala


Mia


Marisa


Tamara.


Sampai disana Kinara berhenti membaca.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut." Ucap Kinara dengan nada keberatan.


"Kenapa Kak.?" Tanya perempuan itu setengah kecewa.


"Tidak Apa-Apa." Jawab Kinara.


Dalam hatinya Kinara berkata. "Tidak ! aku tidak akan mengikuti kompetisi kecantikan ini, Tamara ada disana aku tak ingin kembali bersaing dengannya."


"Kak. Kak." Panggil perempuan itu sambil Memggerak-geakan tangannya didepan wajah Kinara yang tampak sedang berfikir.


Kinara mengerejab sadar. "Sepertinya aku tak bisa ikut, maaf !" ucap Kinara melengos dan bergegas menjauhi kerumunan. Dua Perempuan itu masih mengekor dibelakang Kinara, mereka masih terus memohon agar Kinara bersetuju mengikuti ajang tersebut.


Kinara berhenti. "Aku tidak bisa," jelas Kinara, tak lama kemudian ia kembali berjalan.


"Tapi Kak !" Teriak perempuan itu dari belakang, Kinara pun kembali berhenti.


Mendengar itu Kinara pun berbalik kemudian berjalan mendatanginya.


"Tak ada yang berhak menyombongkan diri, jika kompetisi didasari hal semacam itu maka kita akan kesulitan mendapatkan pemenangnya, tanpa ada kompetisi pun kalian sudah mengetahui siapa yang akan menang." Beber Kinara.


"Tapi Kak ! mereka tidak berhak terus menyudutkan Kakak!" bentaknya kesal.


Dua perempun ini adalah junior Kinara merereka begitu menyayangi seniornya itu, mereka berdua bersama Orang-Orang dibelakangnya[teman] sangat mengidolakan Kinara, tapi Akhir-Akhir ini terlalu banyak desas desus yang menyudutkan Kinara hingga membuat mereka geram.


"Jangan berkecil hati ! aku juga tidak masalah mereka berkata seperti itu."


"Tapi Kak !" perempuan itu sejenak menunduk lalu beberapa saat kembali mendongak. "Bagai mana dengan kompetisi itu,?"


"Kakak punya keluarga yang harus Kakak tanya terlebih dahulu, jika mereka setuju Kakak akan ambil kesempatan ini jika mereka keberatan maka Kakak terpaksa mundur." Jelas Kinara lemah lembut.


"Tapi Kak untuk mendaptarkan Kakak kami sudah mengeluarkan banyak, kami yang selalu ada dibelakang Kakak mengumpulkan uang kecil untuk pendaptaran itu, kami ingin Kakak ikut karena kami yakin Kakak pasti menang." Ucap perempuan itu. Ketika Kinara menolak permintaannya perempuan itu tampak sedikit kecewa dan menangis sedih.


Kinara mengelus pundak perempuan itu dengan lembut. "Baiklah terima kasih sudah mendukung Kakak," Kinara menghela nafasnya dengan kasar sambil menggaruk dahinya penuh fikir. "Soal kompetisi ini Kakak akan tanyakan dulu kepada keluarga Kakak, jika mereka tidak keberatan maka Kakak ikuti keinginan kalian, tapi jika mereka keberatan Kakak mohon maaf, dan untuk biaya pendaptaran itu nanti akan Kakak ganti sepenuhnya."


Kedua Perempuan itu meloncat kegirangan saat mendengar Kinara menyetujui keinginannya walaupun belum pasti juga.


Rayhan yang ikut mendengarkan percakapan mereka tersenyum kagum, tutur lembut Kinara saat berbicara membuat perasaan Rayhan terhanyut akan kelembutan Kinara.


"Ternyata dia bisa sangat lembut. Jauh setelah lebih mengenal dia sikap baik selalu aku temukan." Puji Rayhan dalam hatinya.


Setelah kepergian dua perempuan tersebut Kinara masih mematung dengan segala pertimbangan. Sebenarnya Kinara sangat tidak berniat mengikuti kompetisi ini apalagi saat harus bersaing dengan Tamara, jujur Kinara sangat malas untuk mengusik Tamara apalagi harus bersaing dengannya.


"Sayang, Sayang." Panggil Rayhan dibalik earphone yang sejak tadi menempel ditelinga Kinara.


Kinara pun tersadar dari lamunannya.


"Ya?" jawab Kinara.

__ADS_1


"Ada apa Sayang.?" Tanya Rayhan.


"Tidak ada Ray, nanti aku ceritain dirumah saja." Sahut Kinara sambil kembali berjalan menuju kelasnya.


Saat hendak memasuki kelas, Kinara dihadang Tamara dan Marisa.


Tamara berkata.


"Kinara...!! Jangan harap kamu bisa lolos di Tiga Besar ! akan aku pastikan kau kalah sebelum bertanding !" Ancam Tamara penuh tekanan.


Kinara tidak menghiraukan ucapan Tamara ia tetap berjalan menyebrangi Tamara yang masih berdiri di depan pintu.


Mendapati Kinara tak menanggapi mereka Marisa akhirnya berteriak.


"Kinara ! dalam setiap pertandingan kau selalu dikalahkan oleh Tamara, kali ini aku sarankan mundur sebelum kau dipermalukan oleh kekalahan !" Ucpan itu diakhiri dengan tawa merendahkan.


Mendengar itu Kinara hanya menghentikan langkahnya tanpa berbalik.


Tamara berjalan Kecil mendekati Kinara, kedua tangannya ia lipatkan didada penuh keangkuhan.


"Kinara, aku bersyukur akhirnya kau ikut dalam kompetisi ini, kompetisi yang sangat Ditunggu-tunggu banyak orang, kompetisi yang akan menyadarkan semua orang, membuka mata semua orang, kompetisi yang akan membuat semua orang tau bahwa mahasiswi terbaik dan tercantik di kampus ini adalah aku !" bentak Tamara dengan sombongnya menunjuk dirinya.


Kinara masih terdiam.


"Dan yang paling penting, aku ingin menyadarkan Rayhan, menyadarkan dia bahwa perempuan yang pantas ia pilih itu aku !" bentak Tamara penuh keyakinan, yakin kalau dia bisa menyadarkan Rayhan tentang siapa perempuan yang pantas ia pilih.


Ketika mendengar Tamara menyebut nama Rayhan seketika Kinara mendongak dengan mata membulat sempurna.


"Oo ia Kinara. Aku rasa jalan ku menuju Rayhan telah terbuka sangat lebar. Pernikahanmu dengannya tinggal menghitung detik detik terakhir menuju perceraian,Ckckk menyakitkan bukan?." Ucap Tamara setengah meledek, Tamara tidak tau bahwa sebenarnya hubungan Kinara dan Rayhan sangat Baik-Baik saja. "Baguslah ini lebih baik, aku sarankan secepatnya kau urus perceraian mu itu, segera lepaskan dia, bebaskan dia untuk memilih perempuan yang dicintainya. Dan satu lagi, perlu aku ingatkan Kinara." Tamara menunjuk dirinya. "Aku bersumpah akan melakukan apapun untuk merebut apa pun yang kamu miliki termasuk Rayhan !" Ucapnya penuh tekanan.


Mendengar itu emosi dihati Kinara begitu membara giginya merekat kuat, jemarinya diremas penuh emosi. Ingin sekali Kinara menampar dan menyumpal mulut Tamara sampai dia tak bisa Berkata-kata lagi, tapi Kinara terus berusaha mengendalikan dirinya, Kinara juga berusaha menahan diri agar tidak terpancing oleh Kata-Kata Tamara.


"Kenapa hanya diam Kinara.?" Tanya Tamara seperti menantang Kinara.


"Ouh.. Aku tau kamu pasti sedang mempersiapkan hatimu untuk menerima kekalah ini 'kan? atau kamu sedang ketakutan Kinara ? takut kalau kamu akan kembali dipermalukan.? Isshh itu memang sangat memalukan Kinara juga sangat menyakitkan dan sangat menyedihkan, tapi tidak Apa-Apa dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan, kebahagiaan aku, aku bahagian saat melihatmu menyedihkan." Ucap Tamara puas. Tamara berjalan kecil memutari Kinara dengan mata memicing tajam.


"Melihat gayamu yang seperti ini, aku sangat yakin kamu akan kalah Kinara."


Kinara kembali menghela nafasnya dalam dalam emosi didadanya sudah sangat membuncah sepertinya akan meledak, tapi Kinara tetap berusaha mengendalikan dirinya.


"Tamara.?" Ucap Kinara mencoba tenang.


"Kau siap bertanding dengan ku Kinara.? Apa kau yakin mampu menandingi kemampuanku.?" Sahut Tamara.


"Tidak ! dalam hal ini aku tak akan mampu, tetapi aku menang dalam hal lain yang tidak kamu ketahui." Jawab Kinara pasti.


Mendengar ucapan Kinara Tamara pun tertawa.


"Kemampuan apa yang tidak aku ketahui itu.?" Tamara menggeleng dengan senyum meledek.


"Kamu tidak perlu mengetahuinya. Karena, meski kamu terus berusaha merebutnya kamu tidak akan bisa melakukan itu, dan tetap aku pemenanangnga."


"Apa itu Kinara.?" Selidik Tamara.


Kinara menunjuk dadanya. "Hati, kamu tak akan bisa merebut itu." Tegas Kinara.


Mendengar ucapan Kinara yang seperti itu emosi Tamara langsung meninggi.


Tamara langsung bergerak hendak menyerang Kinara tapi beruntung Marisa menahannya.


"Apa maksudmu Kinara.?"


"Ya, aku akui kamu memang andal dalam segala bidang yang kamu geluti termasuk menghancurkan rumah tangga orang lain." Kinara menekan kata terakhir.


Tamara menatap Kinara dengan sorot kebencian.


"Tapi Tamara, kamu itu ceroboh, kau selalu gegabah dalam bertindak, harusnya kamu sadar perilakumu itu sangat merugikan dirimu."


Ucapan Kinara membuat emosi Tamara kian menjadi.


Marisa berbisik. "Kau tau pukulannya seperti apa.? Lebih baik kita mundur !" ajak Marisa sambil menarik Tamara menjauh dari Kinara.

__ADS_1


Hiisss..


Kinara mendengus kesal.


__ADS_2