
Kesibukan Kinara saat menyiapkan sarapan untuk Rayhan, membuat ia tidak sadar akan sepasang mata yang sedang memerhatikannya sejak tadi.
"Ada apa sih dengan sikapnya, ? semenit marah, semenit baik, semenit menyebalkan, semenit kemudian berubah menyenangkan.
Apa sebenarnya yang ia inginkan, apa dia lelaki penyuka petak umpet ? sikapnya selalu saja misterius, menyebalkan.!" Gerutunya kesal.
"Itu semua karena kamu selalu diam dan cuek kepadaku, coba saja kalau kau terbuka, mungkin aku tidak semenyebalkan itu.!"
Suara itu membuat Kinara menarik kuat nafas dan spontan membulatkan kelopak matanya, kata-kata cercaan yang akan ia lontarkan kembali tiba-tiba hilang seketika.
"Astagaaa." Kinara meringis malu, yang ternyata cercaannya didengar orang yang dicercanya.
"Sejak kapan dia berdiri disitu." Batin Kinara bertanya-tanya, sedetik kemudian dia menoleh kecil kearah Rayhan.
"Harum sekali, apa yang dia buat.?" Batin Rayhan tergerak untuk mengetahui masakan apa yang berhasil menggoda salivanya.
"Apa sarapan ku sudah selesai kau buat.?" Suara itu kini terdengat begitu dekat ditelinga Kinara, membuat Kinara terkejut dengan hati yang juga berubah bergetar hebat.
"Sudah, tapi maaf aku tidak tau apa kau akan menyukainya atau tidak." Kinara tiba-tiba merasa malu akan kehadiran Rayhan yang datang secara tiba-tiba, di keadaan itu Kinara juga merasakan hawa panas yang cukup aneh terdesir ditubuhnya, beberapa utas kata yang Rayhan lontarkan kepadanya sekilas nampak bisa saja, tapi untuk saat ini kalimat sederhana itu mampu membuat tubuhnya menggigil hebat.
Setelah selesai menaruh dan menata makanannya dengan baik, Kinara melesat pergi meninggalkan Rayhan yang masih mematung didepan makanan yang ia siapkan.
"Kinara.?" Panggilan itu menghentikan langkah Kinara yang hampir keluar dari area dapur.
Dengan berat hati Kinara berusaha berbalik menghadap ke sumber suara yang masih berdiri membelakanginya.
"Apa kau hanya menyiapkan satu piring makanan saja.?"
"Ya, a.. apa, aku perlu menghidangkan menu makanan lain.?"
Dari belakang, terlihat Rayhan menggeleng kecil sambil sedikit menyendok nasi dan menyicipinya, perlahan dia menguyah dan menelannya penuh perhitungan, beberapa saat dia terdiam tanpa ekpresi, membuat Kinara yang menyaksikan langsung hal tersebut meremas jemarinya khawatir, khawatir jika masakannya tidak sesuai dengan selera Rayhan.
Sarapan yang l**uar biasa enak....
Batin Rayhan memuji rasa lain dari masakan Kinara.
Kinara sedikit melihat-lihat ekspresi wajah yang Rayhan keluarkan saat mencicipi masakannya.
"Apa dia tidak suka makanannya,? kenapa dia masih berdiri disana dan tak memakan makanannya.?" Batin Kinara bergemuruh khawatir.
"Dari mana dia tau aku menyukai nasi goreng,?" Batin Rayhan heran. "Apa dia sedang mencoba membujuk ku dengan masakan kesukaan ku ini.?"
"Ray,? apa kau tidak menyukai makanannya.? Apa perlu aku membuatkanmu menu lain, ? tapi mungkin kau akan menunggu cukup lama." Tanya Kinara mencoba memastikan. Tetapi Rayhan masih terdiam, entah apa yang tengah dipertimbangkannya sehingga membuatnya mengambil waktu yang cukup lama sekedar untuk mengatakan ia atau tidak.
__ADS_1
"Tidak usah.!"
Akhirnya kata-kata itu keluar mengikuti tubuhnya yang berbalik sambil membawa nasi goreng buatan Kinara menuju meja makan.
"Apa makanannya enak.?" Tanya Kinara saat wajah datar Rayhan melewati Kinara yang masih belum beranjak dari tempatnya.
"Biasa aja." Ucapnya lempeeeng...
Rayhan yang kini telah duduk dimeja makan, terlihat tengah disibukan dengan menyendok dan menyantap makanan itu dengan lahapnya, sedangkan Kinara sendiri masih berdiri mematung diantara sekat pemisah ruang dapur dan ruang makan.
Ditatapnya Rayhan penuh keraguan, sejak Rayhan menyantap masakannya Kinara menunggu sebuah ucapan dan exspresi yang mungkin akan terlontar saat mungkin menyukai atau tidak menyukai masakannya. "Apa kata-kata itu berarti dia terpaksa memakan masakanku.?" Batinnya dibuat tak mengerti.
"Kenapa kau masih berdiri disitu.?" Tanya Rayhan, sekilas dia mendongakkan wajahnya menatap Kinara.
"Kemarilah ! temani aku makan." Pintanya dengan mimik muka yang tak bisa ditelusuri alurnya.
Pelan-pelan Kinara melangkah menuju meja makan, diambilnya kursi dan duduk jauh dari Rayhan.
"Apa kau perlu duduk sejauh itu.?" Tanya Rayhan tanpa menoleh kearah Kinara.
Mendapat lontaran kata-kata seperti itu dari Rayhan membuat Kinara segera mendekatkan kursinya tanpa pertimbangan.
"Kenapa kau tidak makan.?" Tanya Rayhan ketika melihat Kinara hanya termanggu menatapnya.
"Oo." Jawabnya singkat.
Kinara kembali terdiam canggung, untuk saat ini kata-katanya seperti menjauh dan sulit terucap dari mulutnya, kedua bibir yang biasanya aktip bergerak ketika berhadapan dengan orang lain. Kini, didepan Rayhan, tiba-tiba diam kaku membisu seribu basa.
Kinara berharap Rayhan segera menyelesaikan sarapannya, agar dia bisa segera terbebas dari rasa aneh itu.
"Apa, kau tidak berniat minta maaf kepadaku." Rayhan kembali melontarkan kata tanpa menoleh Kinara.
"Minta maaf,? atas kesalahan apa.?" Jawab Kinara enteng.
"Kau yakin tidak ingat kesalahnmu.?" Tambah Rayhan.
Kinara mencoba mengingat dan mencari kesalah yang Rayhan maksudkan tapi otaknya kaku tak bisa berfikir sejauh itu, "Kesalahan apa, ? bukannya kau yang harus minta maaf.?" Hanya itulah kata-kata yang tersirat dikepala Kinara, kejadian konyol yang Rayhan lakukan dengan Tamara tadi malam cukup melekat difikirannya.
"Lalu semalam kalian berdua ngapain berduaan ditempat sepi, mencurigakan bukan.?" Lagi-lagi ucapan itu terlontar tanpa menolehnya.
"Oo tadi malam itu.? Aku fikir ada orang lain yang lebih perlu meminta maaf." Kinara memberenggut kesal saat mengingat kejadian menyakitkan yang membuat hatinya seperti diiris hidup-hidup.
Barulah Rayhan menghentikan aktivitasnya lalu mendongakkan wajahnya menatap Kinara yang tampak tengah dikecewakan, tanpa Kinara perjelas pun Rayhan mengerti maksud dari bait kata yang Kinara ucapkan, "Baik, aku mengalah.! Aku minta maaf !, tapi sungguh aku tidak bermaksud memamerkan kemesraan ku seperti yang kau fikirkan.!"
__ADS_1
"Ok, aku pun begitu, aku tidak bermaksud berduaan ditempat sepi seperti yang kau maksud, kami hanya kebetulan bertemu, dan bukannya kau juga melihat kami tidak melakukan hal bodoh seperti yang orang lain lakukan." Sindir Kinara dengan raut wajah tanpa dosa, "Tapi yasudahlah bukankah itu bukan kali pertama." Tambahnya.
"Apa maksudmu.?" Tanya Rayhan, tak mengerti. Dahinya berkerut menuntut penjelasan.
"Tidak, tidak. Kau habiskan saja makanan mu, jangan banyak bicara nanti kau tersendak." Pungkas Kinara mengalihkan topik pembicaraan.
Setelah melepas kasar nafasnya Rayhan kembali pada makanan dipiringnya.
Nasi goreng yang Kinara buatkan untuk Rayhan setengahnya sudah berpindah dikantung perut Rayhan, "Entah kenapa masakan ini lebih enak dari yang aku bayangkan, rasanya baru kali ini mendapat masakan seenak ini." Batin Rayhan bergumam tak henti memuji masakan Kinara.
Disela mengunyah makanannya, sesekali Rayhan menoleh kearah Kinara yang terduduk tapi tak bisa diam karena mungkin bosan, tak jauh darinya.
"Ray, apa kau masih lama.?" Dengan susah payah Kinara mengucapkan kata yang ingin ia ucapkan sejak ia duduk menyebelahi Rayhan.
"Apa kau ingin pergi.?" Tanya Rayhan.
"Bu bukan begitu aku hanya perlu menjemur pakaian, tapi kalau ...
Rayhan yang mengerti kecanggungan yang tidak Kinara ungkapkan segera menyuruhnya pergi walau sebenarnya dia memerlukan kehadiran Kinara untuk menemaninya di meja makan.
"Oo tidak apa-apa pergilah, aku juga hampir selesai." Tutur Rayhan lembut.
Setelah Rayhan mengizinkannya pergi Kinara segera bergegas untuk menjemur pakaiannya, sesaat Kinara tertegun dan berbalik untuk menatapnya sebentar, ada hal aneh yang terjadi pada Rayhan pagi ini, entah jin dari kalangan mana yang membuat sikap Rayhan tiba-tiba berubah cepat, yang pagi ini bahkan Rayhan masih membuat Kinara kesal, dengan secepat itu juga sikap Rayhan kini telah berubah manis.
"Kinara." Panggil Rayhan.
Kinara kembali tertegun, tapi kali ini ia tanpa berbalik, dia hanya diam termenggu ditempatnya.
"Orang tua ku akan datang hari ini, aku harap kita bisa bekerja sama, aku tak ingin mereka tau kalau kita pernah pisah ranjang, untuk itu tidurlah dikamarku, ia aku sudah membereskan pakaianmu."
"Oh pantas saja. Jadi, itu alasan dia memindahkan semua barangku, jadi karena itu.? Dan bagai mana dengan perubahan sikapnya saat ini.? Apa ini juga, hanya berupa sandiwara yang tengah disusunnya.? Pantas, tadi dia mengatakan turuti saja perintahku, ini toh maksudnya, aku disuruhnya untuk pura-pura didepan orang tuanya,? akh sangat menyakitkan. Aku kira ini benar-benar datang dari hatinya. Ternyata tidak, aku salah besar.!" Batin Kinara bergemuruh kecewa.
...
...
...
"Aku harus segera menepati janjiku kepada Kinara untuk menjelaskan ini semua kepada Rayhan, agar dia tidak terus mengabaikan Kinara." Gumam Fahmi dalam hatinya.
Benda pipih itu masih ditangannya, beberapa percakapan didalam grup yang sempat Fahmi baca tampaknya tengah menyudutkan Kinara.
Entah dari mana kabar itu mereka dapatkan. Tiba-Tiba saja mereka [anggota grup] dihebohkan dengan berita pernikahan dan berita tentang Rayhan dan Kinara yang tidur terpisah, dan dengan cepat berita itu menjalar keseluruh sudut kampus. Kinara dan Rayhan kini tengah menjadi topik hangat.
__ADS_1
Pemberitaan itu membuat Fahmi meringis, dia tau betul sebuah alasan yang membuat Rayhan bersikap dingin kepada Kinara. Semua itu adalah kesalahan dirinya, andai saja hari itu Fahmi tidak mengikuti perkataan Tamara, mungkin tak akan ada kejadian seperti ini.