
Sempurna...
Gugup dan kecanggungan yang luar biasa Sampe-Sampe tangan Kinara dibuat gemetar hebat.
Dihadapannya lelaki bertubuh tinggi, putih, tubuhnya masih dihiasi Bulir-Bulir bening yang berjatuhan dari rambut hitam yang sedikit Acak-acakan, sungguh memacu detak jatuk berlari dengan sempurna. Dan yang paling parah dia berdiri didepannya tanpa sehelai benang pun.
Wajar jika Kinara akan gemetar dan menggilil sehebat itu, mengingat ini adalah kali pertama Kinara melihat dan menyentuh tubuh seorang lelaki secara langung.
Sudahlah, tak perlu Menduga-duga perasaan itu. Kinara Benar-Benar dibuat gugup gemetaran bahkan tangan yang bisanya terasa ringan saat menjinjing barang yang lebih berat dari sponge ini, malam ini detik ini sanga berat dan sulit digerakkan, kaku yang Sebenar-benar kaku, bahkan hampir tak bertenaga saking gugupnya.
"Kinara, boleh sedikit lebih Kuat,?" ekor dari iris berwarna coklat tersebut sekilas meolehnya.
"Ba ba baik," bibir pun Ikut-Ikutan kaku dan sulit untuk digerakan.
Kinara berulang kali menelan kasar salivanya saat tangan itu menyentuh punggung Rayhan yang terlihat melebar sempurna.
Kinara telah dibuat kesulitan mengendalikan dirinya untuk tidak bergetar gugup saat mencoba Menggerak-gerakan tangannya ke kiri dan ke kanan sesuai lekuk punggung Rayhan.
"Kinara. Ada apa,? sepertinya kau kurang nyaman,?" Tanya Rayhan.
"Maaf Ray, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Di aturnya nafas sebaik mungkin untuk menjaga lidah agar tidak terpeleset dan berkata yang tidak seharusnya.
"Mulai saat ini kau harus terbiasa melakukan ini, juga melakukan hal yang lebih dari sekedar menggosok punggungku."
"Apa maksudmu Ray,?" Kinara menghentikan aktivitasnya dan menatap Rayhan penuh tanya, diremasnya sponge tersebut Sekuat-kuatnya.
"Kau tak mengerti.?"
Ucapan itu terdengar memiliki maksud tersendiri.
"Apa maksudnya.?"
Batin Kinara bergemuruh ketakutan.
"Ya, y ya, aku tidak mengerti Ray," ucap Kinara Terbata-bata.
Mendengar ucapan Kinara dengan reaksinya yang bisa Rayhan tebak memaksanya berbalik untuk sedikit menjahili Kinara.
Rayhan pun berbalik.
Saat bersamaan, Kinara mengerejabkan matanya Berulang-ualng dengan kecepatan penuh seolah memaksanya untuk menghindari dada Rayhan.
Rayhan berbisik lembut menggoda Kinara, "Kau tidak tau apa yang biasa sepasang suami istri lakukan.?" Rayhan berjalan kecil menyeret Kinara, Kinara pun berjalan menghindarinya.
"Ra, Ra, Rayhan apa yang akan kamu lakukan.?"
Bergetar hebatlah seluruh tubuh Kinara dibuatnya.
Tatapan Rayhan saat ini tak lebih dari singa kelaparan yang bersiap menyantap mangsanya.
"Heiii.... kau adalah istriku, aku halal melakukan apapun kepadamu, termasuk......." dibelainya pipi Kinara penuh hasrat.
Sekarang Kinara telah terpojok pada dinding kamar mandi dan tak bisa lagi menghindar dari Rayhan yang telah siap menerkamnya.
Deru nafas Rayhan bergemuruh, sorot matanya mulai nakal saat menatap Kinara.
"Rayhan," Kinara menggigil ngeri melihat emosi Rayhan yang sepertinya akan kehilangan kendali.
Perlahan wajah yang awalnya berjarak, kini semakin dekat perlahan terus mendekat tubuhnya pun mulai menghimpit semakin menutup ruang gerak Kinara.
Sepertinya Rayhan akan melancarkan aksinya, mengambil haknya sebagai seorang suami sekarang juga.
Kinara meremas jemarinya yang dingin menggigil saat Rayhan semakin mendekatkan bibirnya, perlahan namun pasti. Bibir dengan hebusan hangat tersebut tingal berjarak beberapa mili dari bibirnya.
Dalam kondisi ini Rayhan terlihat garang, menakutkan.
Tapi saat itu, Kinara mendaptkan sedikit celah untuk melarika diri dari Rayhan.
Dia merosot dan keluar dari celah bagian samping tubuh Rayhan, beruntungnya Kinara, dia lupa menutup pintu kamar mandi sehingga memudahkannya untuk kabur dari singa yang hampir melahapnya Hidup-Hidup.
Mendapati Kinara yang lari darinya Rayhan hanya tersenyum, bukannya marah Rayhan malah tertawa kecil, menertawakan reaksi Kinara yang terlihat tak karuan.
Beberapa saat setelah keluar dari kamar mandi Kinara masih berdiri ditempatnya, sedang mengatur uluran nafas yang hampir terputus karena ulah Rayhan.
"Ada apa,?" Rayhan yang baru keluar dari kamar mandi, tersenyum miring.
Kinara sendiri masih mematung ditempatnya.
Dilepasnya handuk putih yang terlilit dibagian pinggang.
"Apa yang akan kau lakukan Ray,?" tanya Kinara sambil menatap Rayhan secara intens.
"Berganti. Apalagi,?" terangnya datar.
__ADS_1
"Apa kau akan melepas handukmu,? didepanku.?"
"Mm ya, tentu. Ada apa,? atau kau mau membukakannya untukku.?"
"Tidak ! itu tidak mungkin." Sanggah Kinara.
"Oo kalau kau tidak mau melihatnya, berbaliklah.!" Suruh Rayhan.
Kinarapun menurut untuk berbalik menghindari Rayhan yang hendak membuka handuknya.
Perlahan Rayhan pun membuka handuknya dan kembali menampakan lekuk tubuh dari atas hingga bagian bawahnya.
Naas memang, Kinara rupanya salah tempat berbalik. Dia yang awalnya berniat menghindar untuk tidak melihat tubuh Rayhan secara langung, Kini semua itu, lekuk itubuh itu, semua aktivitas Rayhan saat mengganti pakaiannya malah dilihat jelas dengan sangat detail oleh mata telanjang Kinara.
Bukan main, Kinara bisa melihat jelas apapun yang ada pada tubuh Rayhan, termasuk.....π€ͺπ€ͺ
Aaaaa...
Kinara berteriak hebat sambil menutup matanya.
"Ada apa,?" tanya Rayhan setengah terkejut.
Tanpa berbicara Kinara menunjuk kearah cermin yang memantulkan bayangannya dengan sempurna.
"Ooh," Rayhan memangut sambil tersenyum lucu.
"Kau telah melihatnya,?" tanyanya lempeng tanpa dosa.
"Tidak !. Apa kau sudah selesai Rayhan.?"
Kinara masih menutup matanya.
"Ya, kau boleh membuka matamu."
Setelah memastikan Rayhan menutup seluruh tubuhnya, Kinara pun mepaskan tangan dari wajahnya.
"Hadeuuhh perasaan macam apa ini, perasaanku selalau dibuat gemetar dan gugup tak karuan didepan Rayhan." Gumam Kinara dalam hatinya.
Waktu telah menunjukan pukul 11:35. Tapi Kinara masih berjalan Mondar-mandir disamping ranjang tempat Rayhan menyandarkan punggungnya.
Rayhan mengerti, saat ini Kinara sedang cemas dan kebingungan.
Rayhan tau, tidak mudah untuk Kinara bisa langsung tidur seranjang bersama dirinya.
"Kau mau tidur,?" Tanya Rayhan.
Kinara tidak menjawabnnya. Karena tidak mungkin dia mengatakan keberatann tidur bersama Rayhan.
Ditaruhnya buku yang sempat ia baca diatas nakas kemudian turun dari tempat tidurnya.
"Tidurlah terlebih dahulu.!"
Rayhan melenggang hendak keluar.
"Kau mau kemana,?" Tanya Kinara.
"Aku mau ambil minum. Tidurlah ditempat tidurku.!"
"Tapi, Ray."
"Kau tidak perlu khawatir, jika kau belum bisa tidur satu ranjang denganku, aku akan tidur disofa." Tutur Rayhan.
"Ray, aku...
"Sudah ! tidak perlu minta maaf, tidurlah ! ini sudah malam."
Kinara pun hanya mengangguk patuh.
"Aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kau sanggup, semoga kau bisa nyaman dengan ku, Kinara." Gumam Rayhan.
Sebelum kembali melangkah meninggalkan Kinara, Rayhan sempat tertegun menatapinya.
"Rayhan maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menghindar darimu, tapi aku merasa kesulitan dengan ini." Gumam Kinara merasa bersalah.
Meskipun Rayhan tidak menuntutnya, namun Kinara tetap merasa tidak enak hati karena secara tidak langsung dia telah menolak untuk tidur bersama Rayhan.
Seperti niatnya, Rayhan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil air minum.
Sebelum ke dapur Rayhan sempat melewati ruang keluarga dengan lampu yang masih menyala.
Setelah mendapatkan airnya Rayhan berjalan menuju Ruang keluarga, disana Rahman terduduk didepan sebuah telvisi berukuran cukup besar yang dibiarkan menyala.
"Ayah.?"
__ADS_1
Rayhan duduk menyebelahi Rahman.
"Kamu belum tidur,?" tanya Rahman tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Belum, Ayah sendiri.?"
Dibukanya botol lalu meneguknya perlahan.
"Ayah belum ngantuk Ray."
"Rayhan juga sama Yah."
"Apa Kinara sudah tidur.?"
"Sepertinya sudah Yah."
"Kau belum ngantuk Ray.?"
"Belum Yah."
"Bagai mana kalau kita bermain catur ajak Rahman."
"Boleh," ditaruhnya botol berisi air minum diatas meja.
Lalu Rayhan bergegas mengambil papan catur diatas meja samping telvisi.
Di kamar.
Kinara resah dan gelisah. Beberapa menit telah berlalu, namun Rayhan tidak juga kembali ke kamarnya, padahal jika diukur seharusnya Rayhan sudah kembali sejak tadi.
"Kemana Rayhan.? Kenapa dia belum kembali, apa dia marah padaku,? apa Rayhan tidur dikamar lain, tidak seharusnya aku menghindarinya."
Kinara yang sudah berbaring beberapa kali terbangun untuk memastikan Rayhan telah kembali, walau keadaannya Rayhan belum juga memasuki kamarnya.
"Kinara, kau seharusnya membunuh egomu, dia suamimu tidak sepatutnya kau lakukan ini kepadanya," fikiran Kinara bergemuruh kesal dan tak henti merutuki dirinya.
Diruang keluarga.
Rahman tertawa lebar.
Wahahaha....
"Kemampuanmu masih sama Ray,? ayah tau kamu pasti akan kalah lagi."
Digesrnya satu bidak catur mengancam perdana mentri.
Rayhan tersenyum mesem, "Ayah jangan bahagia dulu Rayhan belum kalah." Ucap Rayhan sambil menggeser pionnya.
"Tinggal beberapa langkah lagi menuju puncak kejayaan, kau akan kalah Ray." Ucap Rahman percaya diri.
"Tidak ! kali ini Rayhan akan menang, merebut kejayaan sebelumnya, dan SHAK (Raja terancam)"
"Apa lagi ini,? tenang masih ada perdaana mentri."
Rahman menarik perdana mentri untuk menghadang raja yang terancam.
"Oke, tenang masih ada celah untuk memborbardir kerajaan Rahman Hadiwijaya," Celetuk Rayhan sambil mendorong bidak rook maju kedepan. "Kita tunggu season selanjutnya, apa kerajaan Rahman Hadiwijaya akan tetap abadi nan jaya.? Hahaha." Rayhan tertawa renyah.
Rahman terus berfikir dengan ujung jari menepel dikepala Raja.
"Sudah, kerajaan Ayah sudah gugur sampai disini."
Disusunnya kembali Bidak-Bidak catur sesuai tempatnya.
"Kali ini kamu hanya sedang beruntung Ray," ucap Rahman sedikit tak terima dengan kekalahannya.
"Kalau kalah itu ngaku ! jangan gengsi ! tidak baik."
Ucap Rayhan setengah meledek.
"Tenang masih ada ronde kedua, ayah yakin kali ini kamu akan kalah."
"Semoga nasib baik menghampiri Ayah," ucap Rayhan sombong.
Waktu berputar begitu cepat.
Jam di dinding telah menunjukan pukul 02:45.
Namun Rahman dan Rayhan masih terduduk sambil berfikir.
Ayah dan anak ini selalu lupa waktu bila sudah bermain catur.
Dan Rayhan pun melupakan Kinara yang menunggunya hingga ketiduran.
__ADS_1