
Aaakkkhh. Kinara Meringis.
Tubuhnya sekarang terasa lebih linu disemua bagian terlebih dibagian punggung dan kepalanya.
Dilihatnya orang-orang tengah berdiri mengelilinginya. Entah berapa lama mereka berdiri memagari Hospital Bed miliknya, menunggu dirinya terbangun.
Kinara menatapi mereka satu persatu Fahmi, Andini, Karin, Rahman, Safiq dan juga Indra.
"Apa dia benar-benar tak datang menjenguk ku.?? Hssshhh." Kinara bergumam kesal.
"Kinara, apa yang sakit sayang.??" Karin menggenggam tangan dan mengusap halus kepala Kinara.
Kinara mendongakan wajahnya menatap Karin sambil tersenyum kecil.
"Bagai mana bisa begini sayang." Karin tampak terisak, sesekali menyeka air matanya sedih melihat kondisi Kinara yang memprihatikan.
"Kenapa ini bisa menimpa mu, Nak. Besok hari pernikahan mu." Batin Karin. Yang kemudian mencium kening Kinara penuh kasih.
"Mamah kenapa menangis.??" Kinara berusaha menghapus air mata Karin. "Jangan sedih, Kinara tidak kenapa-kenapa, kok!"
Karin menggenggam tangan yang hampir menyentuh wajahnya. "Tidak sayang mamah tidak sedih, Mamah cuma kagum ternyata Kinara perempuan yang kuat, masih bisa tersenyum dalam kondisi seperti ini."
"Kinara cepat sembuh, Nak." Ucap Rahman, mencium kening Kinara.
"Ia, Yah." Kinara kembali menyunggingkan senyumnya. "Ayah. Mamah Karin, terima kasih kalian udah datang menjenguk aku." Kinara tetap tersenyum meskipun terluka dan cukup parah.
"Sayang, Ray mana.?" Tanya Karin.
"Ray.??"
Kinara menggeleng.
"Ray lagi sarapan di kantin tanteu." Jawab Indra.
"Oo. Yasudah mamah pamit dulu ya sayang Mamah ada sedikit urusan." Karin kembali membelai dan mencium kening Kinara.
"Ayah juga pamit ya, Nak. Cepat sembuh ayah tunggu kamu dirumah."
"Semuanya kami berdua pamit ya."
"Ya tanteu." Sahut mereka serentak.
Rahman dan Karin pergi diantar Syafiq, sedangkan Andini masih sibuk merekam sekeliling.
"Kinara.?" Panggil Andini. "Loe kenapa sih kok bisa begini, ? babak belur dimana-mana abis tawuran loe.?"
Kinara tersenyum kecil. "Enggak lah, lagian gue gak kenapa-kenapa, kok."
"Sudah selemah ini loe masih bisa bilang gak kenapa-kenapa,? loe yakin.?"
Kinara terkikik geli. "Ia, gue emang lagi sakit tapi tidak apa-apa setelah minum obat sakit gue pasti bakal ilang."
"Kinara." Andini memeluk Kinara, sayang.
"Dek, Kakak ke kantor sebentar ya, Kakak ada meeting penting." Indra mengusap halus kepala Kinara. "Kakak janji, Kakak cepat pulang."
Kinara mengangguk setuju.
"Kalian gak ngampus.?" Kinara menoleh Fahmi yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Ini lagi ngampus." Ucap Fahmi, sekilas menoleh Kinara.
"Din. Loe ngampus gih.!" Suruh Kinara.
"Jadi ceritanya loe ngusir gue.?" Andini memberenggut pura-pura kecewa.
"Bukan gitu. Tapi gue gak enak kalo loe bolos gara-gara gue."
"Gue gak mau pergi, titik !" Andini malah duduk diatas kursi samping Kinara.
__ADS_1
"Kak Fahmi.? Lebih baik Kakak ngampus gih Kinara gak enak kalo Kakak bolos gara-gara aku."
"Enggak kok, Dek. Sebentar lagi aku berangkat."
Andini sekilas menoleh Fahmi yang tengah sibuk dengan layar didepannya. "Iikkhh so' sibuk banget sih itu cowok." Batin Andini.
"Loe juga pergi, yah. ! Kalo loe udah selesai ngampus, kapan pun loe mau kesini gue akan nerima loe dengan lapang dada."
"Ok. Gue akan pergi asal loe jawab pertanyaan gue.!"
Kinara tersenyum setengah menggeleng, "Apa.?"
"Loe harus janji untuk menjawab pertanyaan gue.!"
"Ia aku janji jawab, asal pertanyaan kamu gak aneh-aneh."
"Apa loe bener mukulin Tamara.?" Tanya Andini sedikit tak percaya.
"Menurut kamu.?" Kinara malah balik bertanya.
"Gue sedikit pun tak percaya, gue yakin ini semua akal-akalan Tamara."
"Din, Apa Tamara menyebarkan rumor ini di kampus."
Andini mengangguk lemah.
"Apa mereka percaya.?"
"Sebagian masih bertanya-tanya, dan sebagian ada yang langsung percaya." Jawab Andini.
"Hhuummp." Kinara membuang nafasnya sedikit kesal. "Beginilah aku, kau lihat aku sekarang.?? Seandainya benar aku yang ngeroyok Tamara, mungin yang saat ini terbaring lemah disini adalah Tamara."
"Lalu, ??" Andini menatap Kinara penuh tanya.
"Sudahlah cepat pergi ! aku belum bisa menceritakan semuanya, aku masih perlu istirahat."
"Ya. baik lah, baiklah tapi kamu harus berjanji menceritakan semuanya kepadaku." Ucap Andini sambil mengacungkan kelingkingnya.
Fahmi mendatangi Kinara. "Dek. Aku pamit ya, cepat sembuh." Fahmi membelai Rambut Kinara.
Kinara mengangguk. "Terima kasih udah datang jenguk aku, Kak."
"Kalo gitu gue juga pamit, ya." Ucap Andini setengah melangkah.
"Ya, makasih udah datang ke sini."
Setelah itu Andini bergegas pergi, begitu juga dengan Fahmi.
Saat Andini hendak meraih gagang pintu, Fahmi telah terlebih dulu meraihnya, sehingga tampa sengaja Andini memegang tangan Fahmi.
Fahmi menatap Andini yang tengah memegang tangannya, lekat. Antara mereka berdua sempat beradu saling memandang beberapa saat sebelum Fahmi meneruskan langkahnya keluar dari ruangan Kinara dengan wajah datar.
"Ikh itu cowok nyebelin banget. Kalo saja ini bukan rumah sakit udah gue cakar mukanya habis-habisan." Andini menggerutu kesal.
Saat hendak keluar dari ruangan Kinara tanpa sengaja kaki Andini tersandung pintu hingga membuatnya meringis kesakitan. "Eeeeuuuuuuukkhh." Andini mengepalkan jemarinya kesal. "Jadi sial kan gue." Andini keluar setengah menyeret kakinya yang lumayan sakit.
......
Rayhan, Aman, Bayu.
Mereka bertiga tengah duduk bersama, disebuah kedai depan rumah sakit.
"Lalu apa yang akan loe lakuin sekarang.??" Tanya Aman sambil menutup binder yang diketahui milik Kinara.
Sejak duduk dikedai tersebut mereka bertiga tengah membahas perihal sebuah buku yang diberikan Fahmi kepada Rayhan.
Bayu merebut buku yang tengah Aman pegang.
Rayhan menghela kasar nafasnya. "Hheemmh." Rayhan meneguk kopi dihadapannya. "Gue gak tau, tetapi Kinara sangat mengharapkan pernikahan ini. Walaupun, yah loe'kan tau sendiri dia terpaksa menerima ini." Ucap Rayhan bingung.
__ADS_1
"Jangan buru-buru memutuskan Ray. Apa kalian tidak penasaran dengan bait yang dicoret disini.??" Tanya Bayu, sambil terus mencerna kata-kata yang ditulis Kinara.
Rayhan dan Aman menatap Bayu penuh tanya. "Maksud loe.?" Tanyanya serentak.
"Hmm, rasanya sia-sia ya orang tua kalian nyekolahin kalian tinggi-tinggi, pada akhirnya kalian tetap bodoh.!" Ucap Bayu, mengejek.
Aman dan Rayhan menatap Bayu, kesal.
"Heii Ray apa loe bisa sedikit menyadari isi tulisan ini.??"
Rayhan memiringakan kepalanya sedikit tak mengerti maksud Bayu.
"Bodoh lu kebangetan Ray, Kinara disini menuliskan Pertemuan singkat ternyata bisa melawan kebersamaan yang lebih lama terjalin. Loe fikir deh kira-kira siapa yang Kinara sebut pertemuan singkat dan siapa yang dia maksud kebersamaan yang lebih lama. ?? Bukankah disini kita bisa tau bahwa yang Kinara maksud itu loe dan Fahmi.!"
"Maksud loe.?" Tanya Rayhan, masih tak mengerti.
"Ya gue rasa Kinara suka sama loe, karena yang gue denger meskipun Kinara dan Fahmi telah berteman lama, tapi Kinara tidak pernah menyukai Fahmi."
"Dan loe lihat deh ada kata-kata yang Kinara tulis, Perasaan ku padanya seperti bunga yang tak bisa tumbuh dipadang yang subur. Bukankah ini satu ungkapan perasaannya selama ini, Kinara tidak pernah mencintai Fahmi, Ray." Tambah Bayu.
"Gue gak ngerti, Bay." Rayhan.
"Gue juga." Aman.
Bayu menggeleng frustasi. "Intinya maksud dari tulisan ini, Kinara mengungkapkan. Dia tidak bisa mencintai Fahmi walau telah lama berteman, tapi pertemuan singkat Kinara dengan loe Rayhan membuatnya langsung jatuh cinta, begitu." Bayu mengeratkan deretan giginya kesal. "Gue jadi pusing sendiri." Ucap Bayu geram.
"Faham gak.??" Tambahnya.
Rayhan dan Aman saling menatap dan sama-sama menggeleng. "Enggak."
"Ya Tuhan." Bayu meremas rambutnya benar-benar kesal atas kebodohan kedua temannya. "Udah akh terserah loe.!" Bayu sedikit keras saat menjatuhkan buku ditangannya. "Pusing gue." Bayu keluar dari kedai tersebut.
"Mau kemana loe.?" Teriak Aman.
"Kampus, pusing gue duduk lama-lama sama loe berdua, bisa-bisa gue ikut-ikutan bodoh." Bayu berjalan menuju parkiran kemudian mengambil helem dan memutar kuncinya kearah On.
"Woii Bay, tungguin gue." Aman segera merapihkan tasnya. "Ia Ray. Gue duluan, ya. Maaf gue belum sempet jenguk Kinara, gue janji setelah selesai ngampus gue bakal mampir ke sini untuk jenguk dia."
Aman keluar sedikit terburu-buru meninggalkan Rayhan yang masih duduk mencerna tiap kalimat yang ditulis Kinara.
"Apa benar yang Bayu katakan.??" Batin Rayhan bertanya-tanya.
Drrrttt Drrttt Drrt.
Sekilas Rayhan menoleh handphonenya yang ia taruh diatas meja.
"Halo, Kak." Ucap Rayhan pada seseorang yang memanggilnya lewat telpon.
"Ray, kamu masih di rumah sakit.??" Tanya Indra.
"Ia, kenapa.?"
"Tolong jaga Kinara sebentar ya, ! dan bilang sama dia Kakak ada urusan sebentar diluar kota."
"Oh. Ia Kak nanti aku sampein."
"Terima kasih Ray." Indra menutup telponnya.
"Jadi dia sekarang sendirian,??" Rayhan bergegas berdiri dari duduknya. "Iiiikkkkss, kaki gue kenapa.?" Gumamnya sambil memukul-mukul betisnya.
Pelan-pelan Rayhan mengayunkan kaki yang terasa begitu berat dan sulit untuk dilangkahkan.
Kini Rayhan sementara tengah duduk istirahat dikursi koridor. Ditatapnya arah menuju kamar Kinara yang masih sangat jauh, lalu dia menengok kebelakang melihat seberapa jauh ia telah berjalan.
"Shhhiiitt. Kenapa baru sejauh itu.? Padahal gue udah berjalan selama sepuluh menit." Ucapnya heran dan sedikit lucu.
Sebenarnya jarak antara kedai dan rumah sakit cukup dekat, tetapi berhubung kakinya sedang sakit jarak itu kini terasa lebih jauh. "Aakkkhh." Ringisnya berulang-ulang.
Lepas baca jangan lupa tekan tombol Likeπππ dan jangan lupa komenβοΈβοΈβοΈ. Happy reading.
__ADS_1
Maaf bila ceritanya masih begitu ngambang.πππ