
'Astaga, apa dia sungguh-sungguh menyiapkan semua ini demi mengganti makan malam yang gagal kemarin?' batin Lili seraya memperhatikan ke atas meja.
Dia kini tersadar, perasaan familiar yang dia rasakan tadi, sebenarnya adalah karena meja itu di design sama persis dengan meja yang tadi malam dia design di rumahnya. Bahkan tak hanya itu, menu makan malam kali ini pun sama dengan menu kemarin malam. Menu steak itu juga bahkan di percantik dengan garnish yang sama persis seperti yang dia buat kemarin malam.
"Ehem ..." deham Leo, sontak Lili tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Lili.
"Aku tahu kamu sudah bekerja keras untuk menyiapkan semuanya tadi malam, dan aku sadar aku telah menghancurkan kerja kerasmu. Kamu tak mendapatkan apa yang kamu harapkan tadi malam, karena itu aku mencoba menggantinya malam ini," ucap Leo di tengah kegiatan makannya.
Lili pun terdiam. Dia sedikit terharu kali ini, dia berpikir, ternyata Leo masih memiliki hati. Lili sebenarnya tak menyangka bahwa, Leo akan menyiapkan semua ini. Haruskah dia memaafkan Leo? Pikirnya.
Lili tersentak ketika Leo meraih satu tangannya dan menggenggamnya. Lili pun menatap Leo yang juga menatapnya.
"Happy anniversary untuk pernikahan kita yang ke dua, Lili. Aku tahu, aku telah membuatmu kesal di anniversary pernikahan kedua ini. Tapi, percayalah padaku, aku mencintaimu," ucap Leo.
Lili lagi-lagi hanya diam. Entah dirinya harus berkata apa? Dia juga mencintai Leo, tapi yang membuatnya kesal adalah, Leo seakan mempermainkan cintanya. Malam ini Leo memang mengatakan mencintainya dan mungkin Leo juga memang melakukannya, tapi belum tentu besok Leo akan mencintainya. Bahkan mungkin Leo akan melupakannya lagi. Entah mengapa, Lili merasa Leo memiliki wanita idaman lain di luar sana.
Meski dia tak bisa menemukan siapa wanita itu, tetapi sebelumnya Leo juga pernah melakukan hal yang sama. Ya, Lili pernah memergoki Leo dengan wanita lain, dan itu membuat kepercayaannya pada Leo seakan runtuh. Kini, semua yang Leo katakan ataupun perbuat, membuat dirinya sulit untuk merasa yakin.
Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama Leo bermain wanita. Sebelumnya, Leo juga pernah membohonginya.
Dua tahun lalu, atau tepatnya hari di mana Leo berjanji akan menikahi Lili, Lili mengetahui bahwa Leo masih memiliki kekasih. Karena itu, Lili meminta Leo untuk meninggalkan wanita itu jika Leo memang ingin menikahinya. Sejak awal telah Lili menegaskan bahwa, jika Leo tak ingin bertanggung jawab, Lili bisa mengurus anak itu sendiri. Tentu saja Lili menginginkan pernikahan yang normal dan sehat, dia tak ingin ada orang lain di antara dirinya dan Leo.
Namun, Leo berjanji akan meninggalkan wanita itu. Sayangnya, beberapa hari setelah Lili menikah dengan Leo, Lili justru mengetahui bahwa Leo tak pernah meninggalkan wanita itu. Kini, Leo memang sudah tak memiliki hubungan dengan wanita itu dan Lili meyakini itu. Namun, bagaimana dengan wanita lain?
Lili selalu curiga pada Leo, dan kecurigaannya bukan tanpa alasan. Contohnya saja kemarin malam, tak mungkin ada parfum wanita yang menempel di pakaian Leo, jika Leo tak bersama wanita. Bahkan Lili yakin, kebersamaan Leo dengan wanita itu melebihi batas wajar.
"Lili, apa kamu tahu harapanku untuk pernikahan kita? Tahun lalu, aku tak mengatakannya padamu 'kan? Bagaimana dengan tahun ini, apa kamu ingin mendengarnya?" ucap Leo.
"Apa harapanmu?" tanya Lili penasaran.
Tak disangka, Leo membahas tentang harapan. Tentu saja Lili sangat penasaran, selama ini Lili hanya melihat Leo seperti memainkan pernikahan.
"Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku," ucap Leo.
"Benarkah?" tanya Lili ragu dengan ucapan Leo.
Leo mengangguk.
"Aku tahu itu harapan semua pasangan yang sudah menikah, dan aku juga selalu berharap seperti itu. Jika bisa, aku tak ingin menikahi wanita manapun untuk kedua kalinya," ucap Leo.
"Bagaimana jika aku meninggalkanmu?" tanya Lili.
"Aku akan mengejarmu," ucap Leo dengan tenang.
__ADS_1
Lili terdiam mendengar jawab Leo.
"Tapi, kurasa itu takan terjadi," ucap Leo kemudian tersenyum menatap Lili.
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Lili.
"Tentu saja karena Maisy," ucap Leo.
Lili terdiam.
"Sejauh apapun kamu pergi, aku akan mengembalikan-mu ke sisiku. Bagaimanapun, Maisy juga anakku, kita terikat oleh Maisy," ucap Leo.
"Sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Lili.
"Apa?" tanya Leo.
"Apa kamu menyayangi Maisy?" tanya Lili.
Leo terdiam sejenak, membuat Lili merasa cemas. Jangan-jangan Leo benar-benar tak menganggap Maisy sebagai anaknya. Jangan-jangan Leo tak menyayangi Maisy, pikirnya.
"Tentu saja aku menyayanginya, aku Papinya. Tapi ..." ucapan Leo terhenti membuat Lili semakin penasaran.
"Tapi apa?" tanya Lili.
"Lupakan itu, makanlah makananmu," ucap Leo.
"Aku ingin dengar jawabanmu," ucap Lili.
"Aku hanya ingin makan, aku tak ingin membahas apapun sekarang," ucap Leo dan melanjutkan makan malamnya.
Lili pun memutar bola matanya.
'Jangan-jangan benar dugaanku, dia pasti tak menyayangi Maisy!' batin Lili kesal.
Jika Lili jadi Leo, Lili takan ragu melanjutkan ucapan yang Leo katakan. Namun, Leo justru langsung enggan membahasnya. Jelas saja Lili jadi berpikir yang tidak-tidak karena sikap Leo memang mencurigakan.
Selang beberapa menit, Leo bangkit dari kursinya.
"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Leo dan meninggalkan Lili.
Di toilet, Leo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kontak seseorang. Tak lama orang itupun menjawab panggilannya.
'Tolong siapkan pesanan Saya, Saya akan mengambilnya sekarang,' ucap Leo.
'Baik, Pak Leo,' ucap orang itu dan Leo menutup telepon.
__ADS_1
Leo pun pergi menemui orang itu, dia tak pergi ke toilet.
Selang beberapa menit setelah Leo pamit ke toilet, Lili mulai gelisah menunggu Leo. Leo tak kunjung kembali, apakah Leo meninggalkannya? Pikir Lili.
'Awas saja jika dia meninggalkanku, aku benar-benar takan memaafkannya! Ke toilet tapi lama sekali, dia benar-benar!' batin Lili kesal.
Lili pun bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya. Dia berbalik untuk meninggalkan meja itu. Namun, dia terdiam ketika melihat Leo yang sejak tadi dia tunggu terlihat berjalan ke arahnya. Di tangan Leo ada sebuah paper bag berwarna putih, dan di paper bag itu terlihat sebuah brand ternama. Sementara itu, satu tangan lainnya bersembunyi di balik punggung Leo.
"Aku pikir kamu meninggalkanku," ucap Lili.
Leo tak mengatakan apapun dan hanya tersenyum. Dia justru mengangkat paper bag di tangannya dan tangannya yang bersembunyi di balik punggungnya pun di arahkan ke hadapan Lili. Rupanya, Leo menyembunyikan buket bunga yang sama seperti bunga tadi malam, yaitu buket Lily.
"Aku mengambil ini, aku sudah mengatakannya padamu 'kan? Kamu boleh meminta hadiah apapun di hari anniversary pernikahan kita kali ini, tapi karena kemarin kamu marah, aku berinisiatif memilihkannya untukmu. Jadi ..." Leo menghentikan ucapannya sejenak dan mendekati Lili. Dia memeluk Lili.
"Aku harap kamu menyukai hadiah yang kuberikan," ucap Leo.
Lili hanya diam, dia tak membalas pelukan Leo.
Leo lantas mengakhiri pelukan itu dan menyodorkan lagi buket bunga dan paper bag di tangannya ke hadapan Lili. Lili pun hanya diam melihat semua itu.
"Kenapa diam? Apa kamu takan menerimanya?" tanya Leo bingung.
Lili melihat lagi kedua hadiah di tangan Leo. Setelah itu, dia menghela napas.
"Apa kamu benar-benar membeli itu untukku?" tanya Lili.
"Ya, tentu saja," ucap Leo bingung. Kenapa Lili harus bertanya lagi? Apakah yang dia katakan belum cukup? Pikirnya bingung.
Lili memutar bola matanya dan mengambil tasnya. Setelah itu, dia kembali melihat Leo. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu, tetapi dia dibuat terkejut ketika Leo tiba-tiba melemparkan buket bunga dan paper bag itu ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lili.
"Apa lagi? Bukankah kamu tak mau menerima semua hadiah itu? Jadi, aku buang saja semua hadiah itu," ucap Leo seraya mengangkat kedua tangannya.
Lili tercengang mendengar apa yang Leo katakan. Apakah dia mengatakan bahwa dia takan menerima hadiah yang Leo berikan? Kenapa Leo sangat sensitif? Pikir Lili.
Leo pun mengambil kunci mobil yang sebelumnya dia letakan di atas meja, Lili merasa Leo akan pergi.
"Leo, aku bukan me ..."
Brak!
Belum sempat Lili menyelesaikan ucapannya, lagi-lagi Lili dibuat terkejut ketika Leo tiba-tiba menggeser kursi dengan kasar.
"Aku menyesal telah mempersiapkan semua ini, benar-benar malam yang konyol!" geram Leo dan meninggalkan Lili.
__ADS_1