
Florence kembali melihat orang itu setelah terdiam beberapa detik. Dia lantas tersenyum sinis saat orang itu melihatnya seakan mempertanyakan apa yang sedang dia lakukan dengan ponselnya?
"Sebaiknya kamu pergi dari sini!" ucap Florence dengan sinis.
"Aku takkan pergi sebelum aku melihat seperti apa wajah anak itu!" ucap orang itu dan Florence menatap orang itu yang tak lain adalah Lili.
Ya, orang itu adalah Lili. Tadi malam Lili sempat meminjam ponsel Leo dan siapa yang sangka? Dia tiba-tiba melihat Florence mengirimkan potret anak kecil dan bahkan menuliskan pesan bahwa anak itu adalah anak Leo. Tak hanya itu, di pesan itu Florence juga menuliskan harapannya agar Leo mau menemuinya dan anaknya di Rumah Sakit.
Lili tentu saja merasa terkejut dan dunianya sekali lagi seakan runtuh karena kabar itu. Dia tak memikirkan hal lain selain untuk menemui Florence dan membuktikan pesan yang Florence kirimkan tadi malam ke ponsel Leo. Namun, dia tak memiliki alasan untuk pergi langsung tadi malam, itulah mengapa dia memutuskan datang hari ini untuk menemui Florence.
"Kenapa kamu masih di sini? Apa kamu tak malu? Tak ada yang memintamu datang ke sini!" kesal Florence.
Lili menghela napas, dia memahami Florence terkejut melihatnya karena Florence pasti berpikir yang membaca pesan itu adalah Leo. Namun, Florence tak tahu bahwa meski pesan itu terkirim ke ponsel Leo tetapi Leo tak pernah membaca pesan itu karena Lili langsung menghapus pesan itu setelah dia membacanya.
Florence menatap Lili dengan tatapan tak senang. Apalagi saat Lili semakin mendekatinya dan berhenti sangat dekat dengannya. Lili sekilas melihat pada Siti tetapi dia tak bisa melihat wajah anak kecil itu karena Siti menghalanginya.
"Apa kamu terkejut karena bukan Leo yang datang ke sini?" ucap Lili.
Florence diam, dia menahan rasa kesalnya karena apa yang Lili katakan memang benar. Dia sama sekali tak berpikir Lili lah yang akan datang ke Rumah Sakit.
__ADS_1
"Sepertinya kamu bahagia menyebut nama Leo, apa kalian sudah berbaikan?" ucap Florence yang terdengar seakan mengejek Lili.
Lili kembali menghela napas, sekali lagi dia melihat pada Siti dan kembali melihat Florence. Dia lantas melewati Florence dan mendekati brankar sehingga dia bisa melihat wajah anak itu.
Lili pun seketika terdiam saat mata sayu anak itu tertuju padanya. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan anak yang sekarang ada di hadapannya adalah anak suaminya sendiri bersama wanita lain. Dia kemudian mengepalkan tangannya dengan perlahan dan kembali menghampiri Florence.
"Aku melihat ada kafe yang sudah buka di dekat Rumah Sakit ini, bagaimana jika kita menikmati kopi di sana?" ucap Lili.
Florence akan mengatakan sesuatu. Namun, Lili bergegas melewati Florence seraya mengatakan "Aku tahu kamu takkan menolak tawaranku!"
Setelah itu Lili keluar dari ruangan itu dan Florence pun menyusul Lili keluar dari ruangan itu. Namun, di saat Florence terus mengikuti Lili, Florence justru dibuat terkejut ketika Lili tiba-tiba berhenti dan berbalik padanya.
Ya, Lili tak bisa menahan dirinya untuk segera bicara dengan Florence. Dia hanya beralasan mengajak Florence ke cafe, kenyataannya dia enggan menikmati kopi dengan Florence.
"Aku tahu anak itu bukan anak Leo, dan aku sangat yakin tak ada apapun yang tertinggal dari masa lalu kalian," ucap Lili.
"Kenapa kamu bisa melupakan bagaimana dulu aku dan Leo pernah melewatkan masa-masa manis? Apa perlu aku ingatkan lagi?" ucap Florence.
Lili akan mengatakan sesuatu. Namun, Florence justru kembali bicara.
__ADS_1
"Lagipula aku tak peduli dirimu percaya atau tidak, sekarang aku hanya ingin menunjukan kebenaran bahwa anak itu adalah anakku dan Leo! Bukankah kamu juga seorang ibu? Kamu mungkin bisa membayangkan bagaimana perasaan anakku yang sejak lahir tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya, ini sangat tak adil karena dia tak pernah mendapatkan perhatian dari ayahnya sendiri!" ucap Florence menatap Lili dengan serius.
Mendengar ucapan Florence membuat Lili terdiam sejenak, setelah itu dia mendekati Florence.
"Aku tahu keinginan untuk menghancurkanku dan Leo masih tersimpan di benakmu, tapi apa kamu tak sadar? Menjadikan seorang anak kecil sebagai alat permainan buruk sangatlah tidak benar. Tak ada ibu yang akan menggunakan anaknya untuk menghancurkan orang lain, kecuali jika anak itu bukan siapa-siapa bagimu atau mungkin anak itu hanya anak yang sengaja kamu akui demi bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dariku dan Leo? Jangan-jangan anak itu kamu pungut agar tetap bisa menjalankan rencana burukmu?" ucap Lili.
Florence mengepalkan tangannya. Dia mendorong tubuh Lili membuat Lili sedikit terkejut.
"Kenapa kamu marah? Apa ucapanku benar?" ucap Lili seraya tersenyum sinis.
"Kenapa aku marah? Kamu ingin tahu kenapa aku marah, ha?" geram Florence.
Lili mengangguk.
"Berapa kali aku harus mengatakan bahwa dirimu penyebab dari semua masalah yang aku alami!" geram Florence menunjuk wajah Lili.
Lili menggelengkan kepalanya, dia lagi-lagi tersenyum sinis pada Florence.
"Gara-gara dirimu aku harus meninggalkan Leo, dan siapa yang tahu saat aku meninggalkannya ternyata aku sedang hamil? Apa kamu tak memiliki perasaan, Lili? Aku mengandung seorang anak, dan tak pernah merasakan seperti apa perhatian dari pria yang telah membuatku mengandung anaknya. Bahkan pria itu tak ada di sisiku saat aku harus berjuang di antara hidup dan mati. Tak berhenti di situ saja, aku juga harus berjuang sendiri untuk merawat anakku, bagaimana bisa kamu yang juga seorang perempuan sama sepertiku, bahkan kamu juga seorang ibu bisa bicara sekasar itu, ha?" geram Florence.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu kenapa kamu tidak datang dan meminta pertanggung jawaban Leo saat kamu tahu kamu hamil anaknya? Kenapa baru sekarang kamu datang dan memberitahunya tentang semua ini?" ucap Lili seraya menunjukan raut wajah yang masih tak percaya pada apa yang Florence katakan.
"Pertanyaan macam apa itu?" ucap Florence, kemudian terkekeh membuat Lili mengerutkan dahinya.