ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 31 - PAGI INI LEO TERLIHAT SEGAR


__ADS_3

Leo mengakhiri telepon dan dia tampak tak nyaman setelah mendengar banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Barry. Barry terlalu ingin tahu urusan orang lain, pikirnya.


Tak lama, Barry mengirimkan pesan padanya dan ternyata itu adalah pesan alamat kantor Florence. Dia pun menyimpan pesan itu dan mencoba merekamnya di kepalanya. Mungkin, dia akan mengantarkan ponsel Florence ke kantor Florence besok pagi.


Leo lantas Keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke kamarnya. Dia akhirnya memilih tidur agar tak terus memikirkan Florence.


Ke esokan paginya, Lili yang sebelumnya sudah bangun lebih dulu baru saja selesai menyiapkan sarapan. Pagi itu dia merasa antusias. Sebenarnya, dia agak tak enak hati pada Leo karena semalam dia tak menunggu Leo pulang. Dia tertidur dan tak tahu pukul berapa Leo sampai di rumah, karena itu pagi ini dia ingin duduk sarapan bersama Leo dan ingin menanyakan tentang pesta semalam. Pestanya pasti sangat menyenangkan, pikir Lili.


"Morning."


Perhatian Lili teralihkan ketika mendengar sapaan itu, dia pun tersenyum ketika melihat Leo menarik salah satu kursi, kemudian Leo mulai duduk di kursi tersebut.


"Kupikir semalam kamu pulang larut malam," ucap Lili.


"Ya, aku pulang saat kamu sudah tidur," ucap Leo dan mengambil cangkir kopinya.


"Tapi kamu terlihat segar pagi ini," ucap Lili, sontak Leo terdiam sejenak kemudian melihat Lili. Setelah itu, dia menyesap kopinya.


Sedang Lili memperhatikan Leo. Leo tak tampak lelah atau seperti orang yang semalam kembali larut malam. Bahkan dia bangun cukup pagi, Lili justru pikir Leo akan bangun sedikit terlambat.


"Tidurku berkualitas," ucap Leo kemudian tersenyum, membuat Lili akhirnya tersenyum.


Lili lalu duduk di kursinya dan menyiapkan sarapan untuk Leo. Leo pun memperhatikan apa yang Lili lakukan.


"Bagaimana semalam? Apa pestanya menyenangkan?" tanya Lili di tengah kegiatannya.


Leo menggidigkan bahunya seraya menjebikan bibirnya.


"Biasa saja," ucap Leo. Lili pun terdiam, entah mengapa sepertinya Leo terlihat malas banyak bicara.


"Oh ya, di mana Maisy? Aku tak melihatnya di kamar," ucap Leo.


"Dia bersama suster," ucap Lili.


"Semalam dia sudah tidur saat aku kembali ke rumah, aku akan melihatnya sebentar," ucap Leo dan beranjak dari kursinya. Lili pun hanya diam seraya memperhatikan punggung Leo ketika Leo terlihat meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Dia senang karena pagi ini Leo terlihat bersemangat, bahkan Leo mencari Maisy. Sepertinya, perlahan Leo mulai berubah dan tentu hal itulah yang selalu Lili nantikan dari Leo.


Dia lantas menyiapkan sarapan untuknya dan menunggu hingga Leo kembali. Entah kapan terakhir kali dia menunggu Leo hanya agar bisa sarapan bersama dengan Leo. Namun, begitu Leo kembali, Leo ternyata membawa Maisy dalam gendongannya. Leo pun kemudian memberikan Maisy padanya.


Setelah itu, Leo mengambil tas kerjanya dan Lili pun melihat Leo dengan bingung.


"Apa kamu akan pergi sekarang?" tanya Lili.


"Ya," ucap Leo dan menghampiri Maisy. Dia mengecup kepala Maisy dan tersenyum pada Lili.


"Tapi kamu belum sarapan," ucap Lili.


"Aku bisa sarapan di kantor," ucap Leo.


Lili pun lagi-lagi terdiam. Apa dia kecewa? Ya, dia merasa sedikit kecewa. Dia akhirnya hanya mampu terdiam seraya melihat piring Leo yang sudah berisikan sarapan yang dia siapkan sebelumnya. Sarapan itu masih utuh, Leo tak menyentuhnya sama sekali. Dia lantas melihat Leo yang semakin menjauh darinya. Leo benar-benar tak berbalik dan terus saja berjalan dengan langkah yang terlihat buru-buru.


'Kupikir, karena tadi malam dia begitu lelah, dia akan bekerja santai hari ini. Tapi, sepertinya dia tetap sibuk,' gumam Lili.


Lili pun memanggil Nina dan memberikan Maisy pada Nina. Dia akhirnya sarapan sendiri di meja makan.


***


Begitu sampai di depan sebuah bangun berlantai tiga yang mirip seperti ruko, Leo keluar dari mobil dan kembali memeriksa pesan lokasi yang dikirim oleh Barry. Dia mencoba mencocokan nomor ruko itu dengan nomor kantor yang tertera di pesan alamat yang diterimanya.


'Ya, ini alamatnya. Aku tak salah,' gumam Leo.


Leo lalu mengambil ponsel Florence dan menyimpannya di saku jasnya. Setelah itu, dia menutup pintu mobil dan berniat pergi menuju pintu masuk ruko itu, ruko itu sepertinya sudah buka. Namun, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan putih yang berhenti tepat di belakang mobilnya. Leo pun memperhatikan mobil itu dan ternyata yang keluar dari pintu pengemudi mobil itu adalah Florence. Florence tampak mengerutkan dahi seraya menatapnya.


Leo lantas tersenyum pada Florence begitu Florence sampai di depannya.


"Aku benar-benar terkejut melihatmu ada di sini, apa ada masalah?" tanya Florence bingung.


Rasanya, tadi malam semua urusan sudah selesai. Lantas, mengapa Leo datang ke kantornya? Seketika dia khawatir jika tanpa disadari telah terjadi masalah sehingga Leo sampai datang ke kantornya.


"Kupikir kamulah yang sedang dalam masalah sekarang," ucap Leo, Florence pun mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti dengan apa yang Leo katakan.

__ADS_1


Leo lalu merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel Florence. Florence pun tercengang melihat ponselnya ada di tangan Leo.


"Ini milikmu 'kan?" tanya Leo. Florence tak mengatakan apapun dan bergegas mengambil ponselnya dari tangan Leo.


"Astaga, aku mencarinya sepanjang malam. Aku bahkan tak bisa tidur memikirkan ponselku yang aku pikir hilang di mana," ucap Florence seraya memeriksa ponselnya.


Leo pun hanya diam. Florence terlihat senang sekali.


"Ya ampun ... Di dalamnya banyak sekali berkas penting, terkadang aku tak nyaman membawa laptop ke manapun, karena itu aku menyimpan beberapa berkas penting di dalam ponselku agar aku mudah melihat berkas-berkas itu kapanpun aku mau," ucap Florence.


"Ya, aku tahu di dalam ponselmu pasti banyak sesuatu yang berharga. Karena itu aku mengantar ponselmu ke sini. Semalam, aku meminta alamat kantormu pada Barry," ucap Leo, sontak Florence kembali melihat Leo.


"Aku tak tahu akan seperti apa jadinya jika bukan kamu yang menemukan ponselku, jika saja orang lain, aku yakin ponselku benar-benar takan kembali," ucap Florence.


Leo hanya tersenyum.


"Apa kamu akan ke kantor?" tanya Florence.


"Ya, aku sekalian mampir ke sini untuk mengembalikan ponselmu," ucap Leo.


"Terima kasih, tapi aku jadi merepotkanmu. Apa kamu mau mampir ke dalam sebentar? Maksudku, bagaimana jika minum kopi dulu, apa kamu masih minum kopi?" tanya Florence.


"Apa kamu sedang mengundangku minum kopi?" tanya Leo.


"Ya, jika kamu tak keberatan," ucap Florence, membuat Leo terkekeh.


"Baiklah," ucap Leo, dan Florence tersenyum. Dia lantas mengajak Leo masuk ke dalam kantornya.


Begitu memasuki kantor, Florence meminta Leo duduk di ruang tamu dan Florence pamit untuk pergi ke dapur. Leo pun memperhatikan sekelilingnya.


'Jadi, ini benar-benar kantornya? Kenapa kecil sekali? Aku rasa, ini bukan seperti kantor,' batin Leo seraya memperhatikan ruangan itu yang tampak memiliki ruang yang tak besar, bahkan ada beberapa furniture yang membuat ruangan itu terlihat menyesakkan.


'Aku tak mengerti, bagaimana bisa seseorang yang membutuhkan banyak ide dalam kepalanya dapat bekerja dengan fokus di ruangan seperti ini?' gumam Leo.


Bangunan itu bahkan terlihat sangat kecil bagi Leo. Jika dia jadi Florence, dia mungkin takan bisa bekerja dengan fokus. Bahkan, ruang kerjanya jauh lebih besar dari ruangan tempatnya berada sekarang.

__ADS_1


__ADS_2