
Lili pun bangkit dari kursinya dan bergegas memeluk Leo. Namun, Leo yang masih diselimuti kebingungan pun hanya diam saja.
"Terima kasih, Sayang. Aku benar-benar tak menyangka kamu membelikanku rumah untuk hadiah ulang tahunku, kamu tahu, sudah lama aku ingin sekali membeli rumah atas namaku sendiri," ucap Lili, kemudian berhenti memeluk Leo.
Leo masih terdiam mendengar ucapan Lili, entah dia yang bodoh atau memang tanpa sadar dia memang telah membelikan sebuah rumah untuk Lili?
Ya, di dalam kotak hadiah itu ada sebuah sertifikat rumah atas nama Lili dan juga surat transaksi yang menyatakan 'Leonardo Sasongko' telah membeli sebuah rumah dengan harga cukup fantastis. Leo jelas tahu itu namanya, itulah mengapa dia menjadi bingung. Namun, jika diingat-ingat lagi rasanya akhir-akhir ini dia sibuk bekerja dan sama sekali tak membeli properti.
Jangankan membeli properti sebagai hadiah untuk Lili, dia bahkan lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun Lili sehingga dia benar-benar tak menyiapkan hadiah apapun untuk Lili. Bahkan, buket mawar itupun dia menyiapkannya bukan karena dia teringat ulang tahun Lili, dia hanya ingin memberikan Lili buket mawar itu tanpa berniat sebagai hadiah untuk ulang tahun Lili.
Lili kemudian berhenti memeluk Leo, dia lantas kembali duduk dan kembali melihat isi di dalam kotak hadiah itu yang di dalamnya ada sebuah sertifikat rumah. Dia terus tersenyum, jelas sekali dia terlihat bahagia.
'Atau jangan-jangan pelayan itu salah memberikan kotak hadiah?' batin Leo.
"Ehem ... Sepertinya ada kesalahan," ucap Leo, sontak Lili melihat Leo.
"Maksudmu?" tanya Lili tampak bingung.
"Lili, aku tak pernah menitipkan kotak hadiah itu pada pelayan tadi. Jadi aku rasa kotak hadiah itu milik orang lain, pelayan itu pasti salah memberikannya," ucap Leo.
"Tidak, ini tak salah," ucap Lili.
"Aku bersumpah, aku tak menyiapkannya untukmu. Jadi tutup lagi kotak hadiah itu, sebaiknya berikan kembali pada pelayannya," ucap Leo dan mencoba merebut kotak hadiah itu dari tangan Lili. Namun, belum sempat dia menyentuh kotak hadiah itu, tiba-tiba Lili menghentakkan kotak hadiah itu ke atas meja.
"Kotak hadiah ini memang milikku, bahkan dari diriku sendiri. Leo, aku yang membeli rumah ini dengan uangmu!" tegas Lili, sontak Leo terkejut.
"Jangan bercanda Lili, sejak kapan kamu memakai rekeningku untuk membeli rumah?" tanya Leo bingung.
"Sejak kapan itu, tanyakan saja pada pengacara kita," ucap Lili, kemudian tersenyum.
Leo mengerutkan dahinya. Namun, dia merasa penasaran. Pasalnya, Lili terlihat tak berbohong. Dia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi kontak pak Rudi, dia menanyakan tentang apa yang Lili katakan tentang pembelian rumah itu dan tentu saja dia dibuat terkejut dengan pernyataan pak Rudi bahwa apa yang Lili katakan memanglah benar, bahkan transaksi itu dilakukan dua hari yang lalu.
Leo lalu mengakhiri telepon dan terdiam sejenak, setelah itu dia melihat Lili dengan tatapan tak senang. Jelas dia kecewa pada Lili, Lili tak mengatakan apapun padanya dan mengambil keputusan sendiri dalam pembelian rumah itu. Apakah Lili tak menganggapnya sebagai kepala keluarga lagi? Pikirnya.
"Apa sebenarnya yang kamu lakukan? Kenapa kamu tak mengatakannya padaku lebih dulu?" tanya Leo.
Leo rasanya ingin marah. Namun, tidak. Di dalam restoran itu terlalu banyak orang dan itu akan membuat dirinya sendiri merasa malu. Dia pun mencoba menahan kemarahannya sekarang.
__ADS_1
"Leo ..." Lili menahan ucapannya sejenak, setelah itu dia tersenyum menatap Leo.
"Aku tahu kamu akan membuatku kecewa dia hari ulang tahunku, dan aku tak ingin itu sampai terjadi," ucap Lili.
"Karena itu kamu membeli rumah itu atas namamu dengan uangku, bahkan kamu yang menyiapkan kotak hadiah itu dan seolah-olah akulah yang memberikannya untukmu, benar 'kan?" ucap Leo.
Lili pun tercengang. Dia tampak terkejut. Namun, setelah itu dia justru terkekeh.
"Itu benar," ucap Lili.
"Kamu sudah gila, Lili. Kamu menipu dirimu sendiri seakan aku telah memberikan hadiah di ulang tahunmu. Tapi kenyataannya aku tak pernah melakukannya, dan biar aku katakan yang sebenarnya padamu, aku melupakan ulang tahunmu, aku tak ingat sama sekali," ucap Leo.
Lili terdiam sejenak. Namun, Leo tak tahu bahwa di bawah meja Lili sedang mengepalkan tangannya. Leo tak menyadari ucapannya telah sangat melukai hati Lili.
Ya, meskipun Lili sudah tahu apa yang akan terjadi di hari ulang tahunnya, dan Leo mungkin benar dia sudah gila karena membuat hadiah itu seolah Leo lah yang menyiapkannya. Namun, dia pikir dengan melakukan semua itu dia takkan pernah merasa sedih di hari ulang tahunnya. Namun, sepertinya apa yang dia lakukan hanyalah sia-sia, nyatanya Leo tetap saja melukai hatinya bahkan di hari ulang tahunnya sendiri, pikirnya.
Leo bangkit dari kursinya dan melihat Lili.
"Aku sudah selesai!" ucap Leo terdengar geram dan mencoba meninggalkan Lili.
Leo terdiam, apa maksud perkataan Lili? Pikirnya.
Lili lantas mengambil tasnya dan mengambil kotak hadiah itu. Setelah itu dia kembali ke hadapan Leo.
"Aku sudah memikirkan segalanya, aku ingin bercerai denganmu!" tegas Lili, sontak Leo tercengang.
Lili pun bergegas meninggalkan Leo.
"Apa katanya, bercerai? Apa sebenarnya yang dia katakan?" ucap Leo shock.
Leo pun bergegas menyusul Lili. Begitu sampai di lobby Hotel, Leo melihat Lili yang sedang memasuki taksi. Leo pun bergegas mengejar Lili. Namun, dia tak bisa mengejar Lili karena Lili sudah lebih dulu memasuki taksi dan taksi itu pergi.
"Dia benar-benar sudah tak waras, bagaimana bisa dia mengatakan semua itu?" kesal Leo dan bergegas pergi menuju mobilnya. Dia pun meninggalkan hotel.
Sesampainya di rumah, Leo bergegas keluar dari mobilnya dan memasuki rumah dengan terburu-buru.
"Lili!" teriak Leo. Namun, tak ada sahutan dari Lili. Dia pun pergi ke kamar dan tak melihat Lili. Namun, tiba-tiba terdengar suara berisik dari ruang ganti. Dia pun bergegas menuju ruang ganti dan akhirnya menemukan Lili di sana. Namun, dia terkejut ketika melihat Lili sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
__ADS_1
"Lili apa yang sebenarnya kamu lakukan, ha? Apa kamu sudah gila?" geram Leo dan menghampiri Lili.
"Kenapa, apa yang aku katakan saat di restoran tadi belum membuatmu mengerti?" tanya Lili.
"Apa maksudmu ingin bercerai dariku?" tanya Leo.
Lili menghela napas panjang.
"Ya, aku akan menceraikanmu dan anggap saja rumah yang aku beli dengan uangmu adalah kompensasi untukku karena aku pernah menjadi istrimu. Aku akan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggalku bersama Maisy setelah aku meninggalkan rumah ini!" tegas Lili dan kembali mengambil pakaian dari lemari.
Brak!
Lili terkejut ketika tepat dia akan memasukkan pakaiannya ke dalam koper dan Leo justru melemparkan koper itu ke lantai.
"Kamu pikir kamu bisa membawa Maisy pergi dari sini? Jika kamu ingin pergi dari sini, itu urusanmu. Tapi Maisy milikku!" tegas Leo dan pergi menuju pintu.
"Kamu tak peduli pada Maisy, Leo. Aku takkan pernah membiarkan anakku hidup dengan seseorang yang tak memiliki kasih sayang seperti dirimu!" geram Lili.
"Lalu apa bedanya denganmu?" geram Leo.
Lili mengepalkan tangannya.
"Jangan lupakan, aku Papinya Maisy. Meski aku tak bisa mengurusnya seperti kamu mengurusnya, susternya akan membantuku mengurusnya. Lagipula, dia tak pantas memiliki seorang Mami sepertimu, aku bahkan baru menyadari bahwa kamu datang padaku hanya karena menginginkan uangku," ucap Leo.
"Aku tak pernah datang padamu!" tegas Lili.
"Terserah apa katamu, tapi jika rumah itu membuatmu puas maka nikmati saja, tapi jangan membawa Maisy, dia milikku!" tegas Leo dan akan meninggalkan Lili.
"Ouh ..." Leo memegang kepalanya ketika sesuatu tiba-tiba menghantam kepala belakangnya. Dia kembali melihat Lili dan pandangannya tak sengaja mengarah ke lantai. Di sana rupanya ada ponsel tergeletak dan dia tahu itu ponsel Lili.
"Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu melempar ponselmu ke kepalaku?" teriak Leo.
Lili pun bergegas menghampiri Leo.
"Kamu telah salah terus meremehkan-ku, Leo!" ucap Lili pelan tetapi terdengar penuh penekanan.
Leo pun terdiam ketika Lili meninggalkannya. Dia lagi-lagi melihat ponsel Lili di lantai. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa Lili melemparkan ponsel itu ke kepalanya bukan tanpa tujuan. Jangan-jangan ada sesuatu di ponsel Lili yang membuat Lili sangat marah bahkan sampai ingin bercerai darinya, pikirnya.
__ADS_1