ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 57 - PERTEMUAN LILI&LEO


__ADS_3

Lili terdiam di dapur, dia sedang melihat saldo rekeningnya. Masih tersisa cukup uang di dalam rekeningnya dan itu bisa membayar kerugian perusahaan Florence. Meski dia tak merasa telah merugikan perusahaan Florence, apalagi dia baru saja bekerja di perusahaan itu tetapi dia enggan meninggalkan hutang apapun jika akhirnya dia memilih keluar dari perusahaan itu.


"Lili!"


Lili melihat ke pintu masuk dapur, Lysa memasuki dapur sekarang.


"Lily, apa yang kamu bicarakan dengan atasan kita?" tanya Lysa.


"Tak ada," ucap Lili bingung. Raut wajah Lysa terlihat tak senang, entah apa yang terjadi sekarang, pikirnya.


"Tak ada? Lalu kenapa atasan kita menjadikanmu asistennya sekarang?" ucap Lysa.


Lili terkejut mendengar itu, dia pun bangkit dari kursinya dan mendekati Lysa.


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," ucap Lili.


"Barusan Bu Florence memanggilku, dia mengatakan akan memindahkanku ke bagian lain dan kamulah yang akan menggantikan posisiku," ucap Lysa.


Lili terkejut mendengar ucapan Lysa. Dia ingat betul tak ada pembahasan tentang itu saat dia berhadapan dengan Florence tadi.


"Lysa, ini pasti salah paham. Aku dan atasan kita tak membahas tentang ini tadi," ucap Lili.


"Dan kamu pikir Bu Florence berbohong? Apa gunanya dia melakukan itu, ha?" ucap Lysa terdengar marah.


Lili pun terdiam, dia semakin bingung harus mengatakan apa pada Lysa sekarang.


"Aku seperti membantu anjing terjepit, tetapi anjing itu justru mengkhianatiku setelah terbebas!" geram Lysa dan meninggalkan Lili sebelum Lili berusaha mengatakan sesuatu padanya.


Lili yang tak terima dianggap seperti itupun lantas bergegas menuju ruangan Florence. Namun, dia tak melihat Florence ada di sana.


Lili pun teringat bahwa rumah Florence ada di dekat kantor itu, dia kemudian bergegas menuju rumah Florence dan benar saja, Florence ada di rumahnya. Dia baru saja keluar dari pintu rumahnya.


"Apa maksudmu menggantikan posisi Lysa denganku?" tanya Lili.


"Aku bosnya di sini, aku bebas menggantikan posisi siapapun sesuai yang aku inginkan," ucap Florence dan melewati Lili begitu saja.


Lili yang kesal pun mengikuti Florence, Florence sedang menuju mobilnya.


"Aku belum selesai bicara denganmu, bisakah kamu sopan sedikit, ha?" kesal Lili.


Florence yang baru saja membuka pintu mobilnya lantas melihat Lili.


"Siapa yang tak sopan? Bukankah dirimu? Beraninya karyawan baru sepertimu menggangguku, aku akan pergi sekarang. Urusanku lebih penting dari pada meladeni orang yang tak tahu diri sepertimu!" ucap Florence dan memasuki mobilnya.


Lili menggeram dalam hatinya. Dia benar-benar tak mengerti, apa sebenarnya tujuan Florence menjadikannya berada dalam posisi sebagai asisten? Jangankan menjadi asisten Florence, Lili bahkan tak senang dekat-dekat dengan Florence. Dia juga sudah memiliki niat untuk keluar dari perusahaan itu.


Lili pun hanya mampu terdiam melihat kepergian Florence. Tak lama kemudian masuk sebuah panggilan telepon, Lili mengambil ponselnya dan rupanya Leo lah yang menghubunginya.

__ADS_1


'Ini lagi, kenapa dia menghubungiku sekarang? Apa dia akan meminta maaf dan mengatakan omong kosong untuk membela dirinya?' gumam Lili kesal.


Lili lantas menjawab panggilan dari Leo.


'Sayang,' ucap Leo, Lili memutar bola matanya.


Bukannya senang Leo memanggilnya dengan panggilan mesra seperti itu, dia justru ingin memaki Leo sekarang.


'Maaf, siapa ini? Apa maksudmu memanggilku seperti itu?' tanya Lili.


'Siapa? Apa kamu menghapus nomorku, bagaimana bisa kamu lupa siapa aku?' ucap Leo terdengar bingung.


Lili menghela napas.


'Oh, aku pikir siapa,' ucap Lili.


'Ada apa denganmu?' tanya Leo.


'Kenapa kamu menghubungiku?' tanya Lili. Entah mengapa firasat Lili mengatakan bahwa Leo takkan melakukan apa yang sebelumnya ada di pikirannya.


Ya, dia merasa Leo menghubunginya bukan untuk meminta maaf padanya karena telah berani dekat dengan mantan kekasihnya di depan mata Lili sendiri.


'Aku merindukanmu, apa kamu tak ingin pergi keluar?' tanya Leo.


'Ha, apa?' ucap Lili seolah Lili tak mendengar apa yang Leo katakan.


'Ke manapun aku pergi bukanlah urusanmu, urus saja urusanmu sendiri!' kesal Lili.


'Lili ayolah, memangnya apa salahku? Setiap hari kamu terus mengabaikanku, apa kamu masih marah dengan yang sebelumnya?' ucap Leo.


'Aku tak marah, aku hanya merasa risi terus diganggu olehmu,' ucap Lili.


'Apa-apaan bicaramu? Aku ini suamimu, sudah jelas aku akan menghubungimu, bahkan menanyakan di mana dirimu sekarang?' ucap Leo.


'Jadi kamu hanya ingin menanyakan itu?' tanya Lili


'Sudah kubilang aku merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu!' ucap Leo terdengar kesal.


Lili terdiam sejenak, dia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.


'Baik, aku mau bertemu denganmu,' ucap Lili.


'Benarkah?' tanya Leo terdengar terkejut. Sepertinya dia tak menyangka Lili akan setuju bertemu dengannya tanpa dia harus bersusah payah membujuk Lili.


'Ya, ayok bertemu,' ucap Lili dan Lili langsung mengakhiri telepon.


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di depan kediaman baru Lili.

__ADS_1


Ya, Leo kembali ke sana setelah datang ke acara peresmian kantor baru Florence. Dia datang ke kediaman Lili berharap bisa menemukan Lili kali ini. Namun, sejak dia sampai depan kediaman baru Lili dan bahkan selesai menghubungi Lili, dia tak juga melihat keberadaan Lili.


'Jangan-jangan benar dia ada di acara itu?' batin Leo cemas.


Leo teringat lagi pada saat dia tak sengaja melihat Lili di acara peresmian kantor baru Florence tadi. Dia masih tak tahu apakah dia benar-benar melihat Lili di acara itu atau memang hanya halusinasinya saja? Pikirnya.


'Sebaiknya aku pastikan nanti saja, yang terpenting Lili mau bertemu denganku,' gumam Leo dan mulai meninggalkan area tersebut.


***


Malam hari, Leo telah sampai di sebuah restoran.


Ya, akhirnya dia akan bertemu dengan Lili. Sebelumnya, restoran itu sudah dipilih atas persetujuan Lili karena itu dia datang ke restoran itu.


Leo kemudian mencari keberadaan Lili seraya membawa buket bunga di tangannya. Entah apa tujuannya sekarang menemui Lili. Namun, sepertinya berusaha untuk meluluhkan hati Lili.


Leo tersenyum ketika melihat Lili, dia pun menghampiri Lili dan Lili bangkit dari duduknya.


Leo kemudian mendekati Lili dan memeluk Lili, Lili pun hanya diam dan tak menolak pelukan itu. Leo yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan Lili kemudian menatap Lili. Lili sedang melihat bunga yang dipegangnya.


"Apa itu bunga untukku?" tanya Lili.


"Ya, Sayang. Aku harap kamu menyukainya," ucap Leo seraya menyodorkan buket bunga itu.


Lili pun mengambil bunga itu dan menghirupnya sebentar. Setelah itu dia meletakkan bunga itu di meja dan duduk kembali. Leo pun turut duduk di hadapan Lili.


"Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Lili.


Leo terdiam sejenak, setelah itu dia meraih tangan Lili dan menggenggamnya.


"Sayang, rumah sepi tanpamu dan Maisy," ucap Leo terlihat sedih.


Lili pun diam.


"Aku mohon kembalilah ke rumah," ucap Leo memelas.


Lili menarik tangannya dari genggaman Leo. Dia lantas mengambil sesuatu dari atas kursi di sampingnya dan meletakkannya di atas meja.


"Ini untukmu," ucap Lili seraya menggesernya lebih dekat ke hadapan Leo.


"Apa ini?" tanya Leo bingung melihat apa yang baru saja Lili berikan. Itu seperti sebuah berkas.


"Baca saja," ucap Lili, kemudian mengambil minumannya dan meminumnya. Dia melihat Leo yang sedang membuka berkas itu.


"Apa-apaan ini?" tanya Leo yang langsung bangkit dari duduknya.


Lili mendongak melihat Leo.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila, kenapa kamu melakukan ini tanpa membicarakannya dulu padaku?" ucap Leo menatap Lili tak senang.


__ADS_2