ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 67 - BERDEBAT DENGAN BRAM


__ADS_3

Lili terdiam mendengar permintaan maaf dari Leo, dia juga tak mencoba menolak pelukan Leo.


"Rumah ini sepi sekali tanpamu dan Maisy, aku benar-benar sendirian di sini," ucap Leo.


"Bukankah memang kamu selalu merasa seperti itu meskipun ada aku? Bahkan jikapun ada Maisy kamu selalu sibuk sendiri, sampai aku berpikir kamu tak menyayangi Maisy," ucap Lili, kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Leo. Dia lantas menatap Leo.


"Ya, aku pernah mengatakan itu. Tapi jujur semuanya lebih buruk jika tanpamu dan Maisy" ucap Leo.


Lili terdiam menatap mata Leo.


"Aku tahu aku mungkin egois, aku lebih mementingkan perasaanku yang selalu menginginkan dirimu untuk ada di sampingku dalam situasi apapun tetapi aku juga tak berusaha mengerti dirimu dengan baik, aku bahkan terkadang cemburu jika kamu lebih mementingkan Maisy dari pada diriku, benar-benar konyol," ucap Leo, kemudian tersenyum miris.


Lili masih tetap diam mendengar apa yang Leo katakan.


"Ya, dulu aku tak siap saat menikahimu, tapi sekarang aku lebih tak siap lagi jika harus bercerai denganmu. Aku minta maaf jika semua yang kulakukan padamu akhirnya telah melukai hatimu. Sekarang, aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan sekali lagi, aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik," ucap Leo.


"Lebih baik untuk apa? Untuk menjadi suami? kepala keluarga, atau ayah untuk Maisy?" ucap Lili.


"Untuk semuanya. Aku akan berusaha menjadi lebih baik, Lili. Aku memang tak bisa menunjukan perhatianku sebanyak kamu memberikan perhatian pada Maisy, tapi aku juga menyayanginya. Dia anakku juga, Lili," ucap Leo.


Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.


"Aku akan pergi sekarang," ucap Lili.


Mendengar itu Leo akhirnya menahan tangan Lili. Lili kemudian kembali menatap Leo.


"Aku akan menunggu jawaban darimu," ucap Leo.


Lili tak mengatakan apapun, bahkan tak ada ekspresi di wajahnya. Dia lantas pergi dari rumah itu.


Leo kemudian terdiam, dia teringat kejadian tadi. Dia mengerti semua yang Lili katakan, Lili mengingatkannya bahwa sekecil apapun sikap atau kata-kata yang dia tunjukan bisa saja membuat orang lain salah paham sehingga sebenarnya dirinya sendirilah yang memancing diri untuk mendekat pada perbuatan yang bisa menghancurkan pernikahannya sendiri.

__ADS_1


Ya, pada awalnya Leo memang kembali tertarik pada Florence. Hanya saja sama seperti wanita lainnya, keinginan itu menghilang begitu saja saat pertama kali dia tahu bahwa Florence ingin menghancurkan pernikahannya. Dia jelas sadar bahwa wanita satu-satunya yang ada dalam hatinya hanyalah Lili, tetapi dia juga akui bahwa setiap kali melihat wanita cantik dia akan tertarik pada wanita itu. Hanya saja dia tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan wanita manapun karena dia juga benar-benar sadar bahwa dia telah menikah dan memiliki anak.


Baginya wanita yang mau dengan pria yang sudah menikah adalah wanita murahan dan tentu saja dia hanya ingin bermain-main. Dia takkan mau bersama wanita itu selamanya, dia takkan meninggalkan Lili hanya demi wanita seperti itu. Tentu saja dia ingin pendamping hidupnya adalah wanita baik-baik.


Sekarang, setelah mendengar semua yang Lili katakan, dia juga dengar sadar tahu bahwa yang Lili katakan memang benar. Ya, wanita selalu melibatkan perasaan mereka sehingga bisa jadi boomerang baginya karena tak tahu seberapa luka yang akan dia torehkan pada wanita itu. Wanita itu pasti takkan tinggal diam dan akan membalasnya dan akibatnya adalah pernikahannya bisa saja hancur. Namun, selama ini dia berpikir dia akan selalu bisa mengatasinya.


Sayangnya, kali ini Lili tak seperti sebelumnya yang selalu memaafkannya setelah tahu perbuatan buruknya dan semuanya akan seperti biasa lagi. Kali ini Lili benar-benar membuatnya panik, bahkan ketika Lili mengirimkan gugatan cerai itu jantungnya terasa lepas dari tempatnya. Dia benar-benar shock karena Lili mengambil keputusan besar itu.


Mungkin semua orang mengalaminya, atau hanya dia saja? Entahlah. Keputusan itu sangatlah berat baginya dan dia yakin tak hanya dia yang tak ingin mengalami perceraian, siapapun pasangan yang menikah pasti tak ingin mengalami perceraian. Sekarang dia tak hanya akan menunggu, tetapi juga meyakinkan Lili agar benar-benar mau tetap bersamanya.


Leo akan kembali ke kamarnya. Namun, tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang. Dia pun terkejut melihat orang itu yang ternyata adalah Bram.


"Papi di sini? Sejak kapan?" ucap Leo.


Bram tak mengatakan apapun dan semakin mendekati Leo, sampai akhirnya Bram mengangkat tangannya.


Plak!


Leo terkejut mendapatkan tamparan keras di wajahnya. Sontak saja dia memegang wajahnya.


Leo mengepalkan tangannya, ternyata dugaannya benar bahwa papinya melihat kedatangan Florence. Hal itu membuat Leo kesal, entah ke mana sebenarnya orang-orang yang bekerja di rumah itu? Kenapa tak ada satupun yang datang padanya dan memberitahunya bahwa papinya telah datang? pikirnya.


"Kamu pasti bertanya-tanya sejak kapan Papi di sini bukan? Papi di sini sejak Lili datang ke sini. Papi datang ke sini bersama Lili," ucap Bram, Leo pun terkejut mendengar itu.


Ya, Lili sengaja mengundang Bram dan mengajak Bram ke rumah Leo. Awalnya Bram hanya tahu bahwa tujuan Lili pergi ke sana karena Lili ingin ada seseorang yang menemaninya untuk bicara dengan Leo. Lili mengatakan tak ingin bicara dengan Leo hanya berdua saja. Namun, pada akhirnya dia mengerti semua ini rencana Lili untuk memberitahunya masalah sebenarnya yang membuat Lili akhirnya ingin berpisah dengan Leo.


Sebenarnya, sebelumnya Bram sempat bicara dengan Lili melalui sambungan telepon. Dia meminta Lili untuk kembali memikirkan keputusannya untuk bercerai dengan Leo demi anak mereka. Hanya saja Lili tak mengatakan apapun dan sekarang justru menunjukkan kesalahan Leo sehingga dia mengerti bagaimana marahnya Lili sehingga mengambil keputusan untuk menggugat cerai Leo.


"Kamu tak bisa memberikan apa yang istrimu mau, yaitu tanggung jawab dan kesetiaan tapi setidaknya tak ada yang lebih mengerikan dari pada dirimu. Papi mungkin brengsek di masa lalu, tapi Papi tahu bagaimana caranya memberikan perhatian pada anak sendiri," ucap Bram.


Leo terdiam menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Leo, Papi benar-benar tak habis pikir. Kamu bisa menuntut banyak hal dari istrimu, tetapi kamu tak mengerti bagaimana cara memperlakukan istrimu. Apa kamu pikir wanita akan menghargai pria yang selalu menyakitinya? Bahkan jika posisinya ada padamu, Papi yakin kamu takkan mau memaafkan orang yang telah menyakitimu," ucap Bram.


"Maaf, Pi," ucap Leo.


"Sebaiknya kamu lepaskan saja Lili, biarkan dia melanjutkan kehidupannya dari pada kamu terus menyakitinya," ucap sang papi.


"Aku tak mau," ucap Leo.


"Kenapa? Apa kamu tak sadar telah melukai hatinya? Bagaimana bisa kamu bermain-main dengan wanita lain, bahkan kembali pada masa lalumu di saat statusmu jelas-jelas telah menikah. Jika orangtuanya masih hidup, orangtuanya pasti akan menelanmu hidup-hidup karena telah berani menyakiti anak mereka!" geram Bram.


"Pi, aku tahu aku salah. Tapi aku tak pernah kembali dengan Florence, kami bertemu secara tak sengaja," ucap Leo.


"Jangan kamu pikir Papi tak mendengar semua yang kalian bicarakan tadi," ucap Bram.


Leo menghela napas berat.


"Aku tak ingin berpisah dengan Lili," ucap Leo.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Terus menahannya di tengah kelakukanmu yang terus saja menyakitinya?" ucap Bram.


"Aku takkan seperti itu lagi, aku janji," ucap Bram.


"Benarkah?" ucap Bram ragu.


"Papi seharusnya mendukungku," ucap Leo.


"Bagaimana Papi akan mendukung perbuatanmu yang memalukan?" geram Bram.


"Bukan itu, maksudku Papi harusnya mendukungku agar aku bisa meyakinkan Lili untuk tetap bersamaku. Aku akan menjadi lebih baik," ucap Leo.


"Entahlah, kamu sendiri yang tahu seperti apa dirimu. Jika yang kamu katakan benar-benar bisa kamu lakukan, maka itu pasti takkan mudah dan jika kamu sendiri tak yakin kamu bisa melakukannya, lebih baik bercerai saja, dengan begitu Lili bisa melanjutkan hidupnya," ucap Bram dan meninggalkan Leo.

__ADS_1


Leo terdiam seraya mengepalkan tangannya. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Di sana dia kembali memikirkan ucapan papinya, dan itu membuatnya sedikit kesal.


"Tak ada yang mau mendengarkanku, Papi bahkan sibuk dengan pikirannya sendiri dibandingkan mendukungku!" gerutu Leo dan mengembuskan napas kasar.


__ADS_2