
Jantung Lili berdegup cepat mendengar pertanyaan Leo.
"Setelah Maisy lahir, aku tak pernah menyentuhmu lagi. Apa malam ini aku boleh menyentuhmu?" tanya Leo.
Lili menelan air liurnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat mendengar pertanyaan Leo.
Lili tersentak ketika Leo tiba-tiba meraih pinggangnya dan akan menyentuh perutnya. Namun, Lili bergegas menahan tangan Leo.
"Aku tak pernah melarangmu menyentuhku," ucap Lili.
"Aku tahu, tapi kamu selalu menghindariku dan itu membuat moodku jadi kacau," ucap Leo.
Lili memalingkan wajahnya dan mencoba melepaskan diri dari Leo. Namun, Leo justru menahannya.
"Aku ingin melihat perutmu," ucap Leo.
"Untuk apa?" tanya Lili dengan cepat.
"Tentu saja untuk memeriksa bekas operasimu," ucap Leo.
"Kamu pernah melihatnya," ucap Lili.
"Tapi aku tak pernah memperhatikannya," ucap Leo.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia pun menatap Leo yang juga menatapnya.
"Aku benar-benar ingin menyentuhmu, Lili. Aku sangat merindukanmu. Apa aku tak boleh menyentuhmu sekali saja? Aku bisa gila jika harus menunggu lama lagi," ucap Leo terlihat memelas.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia lalu melepaskan tangan Leo.
"Aku tak tahu, tapi aku terus ingat apa yang kamu lakukan. Itu membuatku tak berselera untuk ber*ubungan denganmu," ucap Lili dan meninggalkan Leo menuju kamar Maisy.
Leo pun mengepalkan tangannya. Kenapa wanita sulit sekali memaafkan kesalahan prianya? Leo benar-benar bisa gila jika terus seperti ini. Bahkan dia sudah dibuat gila. Bayangkan saja, pria mana yang akan tahan tak menyentuh wanita apalagi sudah memiliki istri? Ya, mungkin saja pria itu akan tahan tapi pasti ada masalah, alisa tidak normal. Namun, dirinya pria normal. Dia bahkan sampai harus melampiaskan hasratnya pada wanita lain karena harus menunggu Lili siap.
Pada awalnya, dia tak masalah menahannya. Dia mengerti saat awal-awal dulu Lili memang harus benar-benar pulih pasca operasi caesar. Namun, sekarang sudah berlalu hampir 1 setengah tahun sejak operasi caesar itu dilakukan. Apalagi, yang membuatnya frustasi adalah, Lili terus saja mengingat kesalahannya yang sempat Lili pergoki sebelum dia bersama Sisil. Padahal, dia sudah berhati-hati tapi tetap saja ketahuan oleh Lili.
Leo melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana panjangnya saja. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Tidur saja, dari pada aku gila," ucap Leo dan menarik bantal. Dia pun memejamkan matanya.
Sementara itu, Lili kini sedang menyusui Maisy. Maisy sempat terbangun. Di tengah kegiatan itu, dia teringat kembali pada ucapan Leo tadi. Memang Lili merasa kasihan pada Leo, tapi apa yang bisa dia lakukan ketika bayangan perselingkuhan Leo terus saja berputar di kepalanya. Dia bahkan merasa jijik memikirkan itu, membuatnya selalu kesal setiap kali mengingatnya.
Selesai menyusui Leo, Lili pun kembali ke kamar dan melihat Leo yang dalam keadaan bertelungkup di tempat tidur. Dia pikir, Leo sudah tidur.
Dia pun membuka jubah mandinya dan berniat memakai pakaian yang sebelumnya dia pakai. Meski itu sudah dipakai seharian, tetapi pakaian itu tak meninggalkan aroma tak sedap. Memakai pakaian itu juga akan lebih baik dibandingkan terus memakai jubah mandi.
"Oh ya!"
"Astaga!" Lili melemparkan jubah mandi di tangannya ke arah tempat tidur ketika Leo tiba-tiba berbalik.
Leo pun mengerutkan dahinya melihat Lili yang hanya memakai da*aman saja.
Lili memegang kursi di dekatnya, dan satu tangan lainnya memegang dadanya. Jantungnya hampir saja terjatuh dari posisinya karena kelakuan Leo. Lili menatap Leo dengan tajam, tetapi Leo mengabaikannya. Leo justru memperhatikan bekas operasi caesar yang ada di perut Lili.
"Kenapa bekasnya masih terlihat jelas?" tanya Leo seraya mengerutkan dahinya.
Lili pun bergegas memakai pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.
Leo pun menjadi tak bisa tidur. Yang benar saja, bekas operasi di perut Lili membuat pandangannya sedikit terganggu. Leo pun mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter yang saat itu membantu persalinan Lili. Tak lama panggilannya pun dijawab oleh Dokter tersebut.
'Halo, Pak Leo. Ada apa menghubungi malam-malam begini? Apa semuanya baik-baik saja?' ucap Dokter. Dokter itu seorang wanita.
'Halo, Dokter Vani. Maaf mengganggu Anda, tapi ada yang ingin Saya tanyakan, ini tentang istri Saya,' ucap Leo.
'Oh ya, ada apa dengan bu Lili? Apa dia baik-baik saja?' tanya Dokter.
'Ya, dia baik-baik saja. Tapi Saya merasa sangat terganggu, kenapa di perutnya ada bekas operasi caesar waktu itu? Ini sudah lewat satu tahun, seharusnya tidak berbekas 'kan?' ucap Leo.
'Oh ya, Saya sudah memberikan obat oles yang bisa menyamarkan bekas luka operasi. Tapi, itu memang membutuhkan waktu untuk membuat bekas itu benar-benar menghilang,' ucap Dokter.
'Tapi itu masih jelas terlihat, obat apa yang Anda berikan? Apa mungkin obat itu tak cocok dengan Lili?' tanya Leo.
'Begini, Pak Leo. Seharusnya obat itu bisa berfungsi, obat itu aman untuk semua jenis kulit dan memang diracik khusus untuk menyamarkan beberapa jenis bekas luka. Salah satunya adalah bekas operasi, bisakah Anda tanyakan pada bu Lili, apa dia menggunakan obat itu dengan rutin?' ucap Dokter.
Perhatian Leo mengarah ke pintu kamar mandi ketika melihat Lili mulai keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
'Begitu, ya. Baiklah, terima kasih. Selamat malam,' ucap Leo dan mengakhiri telepon.
Leo memperhatikan Lili yang sedang melangkah mendekati tempat tidur, dia bahkan masih memperhatikan Lili ketika Lili naik ke tempat tidur.
Lili yang merasa diperhatikan pun lantas melihat Leo dengan bingung. Leo kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengambil tas Lili. Lili pun semakin dibuat bingung.
"Apa yang kamu cari?" tanya Lili.
"Di mana obat yang Dokter berikan padamu?" tanya Leo seraya terus memeriksa isi tas Lili. Dia bahkan menumpahkan semua isi tas Lili ke atas meja.
"Obat apa? Aku sudah tak mengonsumsi obat apapun dari Dokter," ucap Lili bingung.
"Obat untuk menghilangkan bekas operasi di perutmu," ucap Leo.
Lili mengerutkan dahinya.
"Aku benar-benar terganggu melihat bekas operasi itu, apa kamu tak menggunakan obatnya dengan rutin, ha?" ucap Leo.
Lili pun terkejut mendengar ucapan Leo. Dia bergegas menghampiri Leo dan merapikan tasnya. Dia memasukan semua isi tasnya yang sempat Leo buang ke atas meja.
Setelah itu, dia menatap Leo.
"Aku tak percaya kamu bisa bicara begitu padaku. Apa kamu lupa? Aku juga tak ingin memiliki bekas luka di tubuhku, tapi untuk bekas luka ini aku sama sekali tak keberatan. Kamu tahu kenapa?" ucap Lili.
Leo menghela napas dan hanya diam menatap Lili.
"Bekas ini ada di tubuhku karena aku melahirkan anakku, aku melahirkan anakmu, Leo! Kamu jelas tahu bagaimana keadaanku saat aku akan melahirkan Maisy, hingga Dokter harus mengambil tindakan operasi. Aku bahkan ingat seperti apa ketakutanmu saat melihatku akan melahirkan, saat itu aku benar-benar tersentuh, aku pikir kamu sangat mencintaiku. Tapi aku mengerti sekarang, apa jika aku mengalami kecelakaan dan wajahku hancur, kamu akan tetap di sisiku?" tanya Lili.
Leo lagi-lagi terdiam, membuat Lili tersenyum sengit.
"Aku sudah tahu jawabannya, dan aku benar-benar kecewa padamu, Leo!" kesal Lili dan akan meninggalkan Leo. Namun, Leo menahan tangan Lili.
"Aku tak bermaksud menyinggung-mu, tapi aku benar-benar tersinggung atas ucapanmu. Kamu pikir, kekhawatiran-ku saat itu hanya lelucon, benar 'kan? Tapi kamu lupa satu hal, Lili ..." Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Lili.
"Akulah yang menandatangani surat persetujuan saat tindakan caesar itu harus segera dilakukan. Kamu seharusnya berpikir, aku juga salah satu alasan kamu bisa melihat Maisy. Aku bahkan yakin, jika Maisy tak selamat, kamu sudah menjadi gila sekarang," ucap Leo.
Leo mengambil pakaiannya dan memakainya. Setelah itu dia keluar dari kamar. Dia meninggalkan Lili yang hatinya merasa hancur, bahkan Lili sampai tak bisa menahan air matanya. Leo benar-benar keterlaluan, ucapan Leo benar-benar sangat kejam.
__ADS_1