ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 64 SURAT UNTUK LILI


__ADS_3

Ke esokan harinya Leo pergi ke kantor. Baru saja dia memasuki ruangannya, pintu ruangannya kembali terbuka dan muncullah Nio.


Melihat kedatangan Nio membuat Leo yang sejak awal tak bersemangat untuk bekerja menjadi semakin malas. Nio pasti ingin mengajaknya bicara, sedangkan sekarang dia sedang malas banyak bicara.


"Leo, apa yang terjadi padamu sampai tak masuk kantor beberapa hari ini?" ucap Nio.


Leo menghela napas dan melepaskan jasnya. Dia kemudian meletakkan jasnya itu di sandaran kursi kerjanya.


"Apa semua baik-baik saja?" ucap Nio bingung melihat Leo yang hanya diam.


"Seperti yang kakak lihat," ucap Leo dan mulai menghampiri Nio.


Nio tampak memperhatikan Leo, wajahnya tampak lelah.


"Apa kamu tak tidur dengan benar tadi malam?" ucap Nio.


"Ya, aku tak bisa tidur tadi malam," ucap Leo seraya menyentuh tengkuknya.


"Sepertinya kamu takkan memberitahuku apa yang terjadi, karena itu aku akan keluar sekarang," ucap Nio dan berniat pergi ke pintu.


"Kak, aku sangat pusing sekarang. Lili membawa Maisy pergi dari rumah," ucap Leo, sontak Nio yang akan memegang pintu lantas berbalik melihat Leo.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" ucap Nio tampak terkejut.


"Ceritanya panjang, yang jelas ini karena salahku. Hanya saja, aku sudah coba minta maaf tapi Lili tak mau memaafkan-ku," ucap Leo.


Nio kembali menghampiri Leo.


"Karena itu aku tak bisa fokus bekerja beberapa hari ini, aku sedang berusaha menyelesaikan masalahku," ucap Leo, kemudian mengusap wajahnya.


Nio menepuk bahu Leo membuat Leo kembali menatap Nio.


"Baiklah, selesaikan saja dulu masalahmu. Kamu bisa kembali ke kantor jika semuanya sudah jauh lebih baik," ucap Nio.


"Benarkah?" ucap Leo.


"Ya," ucap Nio.

__ADS_1


Leo kemudian melihat ke meja kerjanya. Tampak ada banyak tumpukan berkas di sana, sudah dapat dipastikan bahwa itu semua pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Aku yang akan mengurusnya," ucap Nio yang langsung mengerti bahwa Leo sedang memikirkan tumpukan berkas itu.


"Terima kasih, Kak," ucap Leo, kemudian tersenyum sedikit lega.


Sebelumnya dia merasa khawatir karena masalah pribadinya pasti akan mempengaruhi pekerjaannya. Tak disangka Nio ternyata begitu pengertian dan bahkan mau memberinya waktu agar bisa menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.


"Hm ... Aku harap apapun masalahmu bisa segera selesai, Leo. Bukan aku tak ingin membantumu, tapi aku tak ingin ikut campur karena itu masalah rumah tanggamu dan kamulah yang lebih tahu cara menyelesaikannya," ucap Nio.


Leo mengangguk seraya tersenyum. Setelah itu Nio keluar dari ruangannya.


Leo kemudian terdiam sejenak. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia ingin masalahnya dengan Lili segera selesai. Namun, dia tak memiliki ide di kepalanya sekarang. Apalagi jika mengingat betapa keras kepalanya Lili, membuatnya hampir putus asa.


Leo tiba-tiba teringat pada ucapan Lili kemarin, sejujurnya itu membuatnya khawatir. Dia tak tahu apa yang akan Lili lakukan, bisa saja apa yang akan Lili lakukan nanti dapat membuat jantungnya terlepas dari tempatnya, pikirnya. Gara-gara memikirkan masalah itu juga tadi malam dia tak bisa tidur.


Leo kemudian merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya dan mencari kontak pengacaranya.


Dia menghubungi kontak pengacaranya dan meminta bertemu dengan pengacaranya. Dia ingin mendiskusikan masalahnya dengan pengacara, siapa tahu pengacara bisa membantunya mencari jalan keluar untuk masalahnya.


***


Sebuah mobil berhenti di depan di rumah Lili. Lili yang melihat kedatangan mobil asing sontak menghampiri pintu pagar dan tak lama turunlah seseorang dari mobil itu.


Lili lantas dibuat terkejut karena ternyata yang keluar dari mobil itu adalah pengacara keluarganya.


"Selamat malam, Bu Lili," ucap pengacara seraya tersenyum.


Lili lantas membuka pintu pagar.


"Kenapa Anda di sini?" ucap Lili bingung. Seingatnya urusan soal pembelian rumah itu sudah selesai, apa mungkin Leo yang mengirimnya untuk datang menemuinya? Pikirnya.


"Pak Leo yang mengirim saya ke sini, jadi bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu juga yang dititipkan oleh Pak Leo untuk Anda," ucap pengacara kembali tersenyum.


Lili terdiam sejenak, tiba-tiba dia terpikirkan surat gugatan cerai itu. Apa mungkin Leo sudah menandatanganinya? Pikirnya penasaran.


"Masuklah," ucap Lili dan pengacara kembali ke mobilnya. Dia melajukan mobilnya memasuki halaman rumah Lili.

__ADS_1


Begitu sampai di ruang tamu, Lili melihat pengacara meletakkan tas kerja di atas meja.


"Bagaimana kabar Anda dan Maisy?" ucap pengacara.


"Kami baik, apa yang Leo titipkan pada Anda?" tanya Lili.


"Oh ya." pengacara membuka tasnya dan mengambil sebuah berkas. Tak hanya itu, ada satu buah amplop putih juga yang dia ambil dari dalam tasnya.


"Ini adalah titipan dari Pak Leo, tapi sebelum itu Anda bisa membuka amplop ini terlebih dahulu," ucap pengacara.


Lili mengambil amplop itu dan mulai membukanya. Di dalamnya ternyata ada selembar surat yang berisikan tulisan tangan Leo.


...----------------...


'Lili, kamu mungkin berpikir di zaman modern seperti sekarang sangat konyol untuk menulis surat seperti ini. Tapi, aku tahu bicara langsung denganmu takkan membuat komunikasi menjadi baik dan bisa jadi kita hanya akan berakhir dengan berdebat. Aku tahu kamu sangat membenciku sekarang.


Aku ingin minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu, aku akui secara sadar aku melakukannya dan tanpa ada paksaan siapapun. Tapi sekarang aku benar-benar menyesal, aku tak ingin berpisah denganmu. Sungguh, bukan itu yang aku mau.


Aku ingin kamu memberiku kesempatan sekali lagi agar aku bisa memperbaiki segalanya, dan aku janji takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Jika aku melanggar janjiku, kamu bisa melakukan apapun padaku, kamu bahkan boleh menuntutku secara hukum.


Aku telah membuat kesepakatan hitam di atas putih. Kesepakatan itu aku tulis dengan tanganku sendiri dan telah aku tandatangani. Aku harap kamu mau menuliskan apapun yang ingin kamu tuntut dariku jika aku sampai melanggarnya. Aku siap menanggung resikonya jika kelak aku melanggar perjanjian itu.


Aku sangat mencintaimu, Lili. Aku ingin tetap bersamamu dan Maisy, maafkan aku telah sangat melukaimu. Semoga setelah melihat surat ini kamu mau mempertimbangkan kembali pernikahan kita.


Leo.'


...----------------...


Lili terdiam setelah membaca surat itu.


"Jika Anda telah selesai membaca surat itu, Anda bisa membaca ini," ucap pengacara seraya memberikan berkas yang diambil dari tasnya tadi.


Lili pun mengambil berkas itu dan mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya. Di selembar kertas itu juga tampak ada tulisan tangan Leo. Namun, dibagian pertama tampak kosong dan itu membuat Lili teringat kembali pada isi surat Leo tadi, dia yakin selembar kertas itu sengaja dikosongkan agar dia bisa mengisi tuntutannya terhadap Leo.


Sementara itu dibagian bawahnya tampak tertulis tulisan tangan Leo.


'Saya Leonardo Sasongko, secara sadar menandatangani kesepakatan ini dan akan memberikan semua yang istri saya yaitu Liliana Sasongko tuntut sebagaimana telah dicatat di poin pertama jika saya sampai mengkhianatinya dengan wanita lain. Saya bahkan siap jika nantinya istri saya memproses saya secara hukum.'

__ADS_1


Setelah membaca isinya, Lili melihat tanda tangan Leo di bagian akhir dan di sisi lainnya ada namanya yang sengaja dikosongkan agar bisa ditandatangani olehnya.


Lili kemudian terdiam, entah kenapa Leo sampai melakukan semua ini. Apa benar kali ini Leo telah benar-benar menyesali perbuatannya? Pikirnya.


__ADS_2