
Detak jantung orang itu seketika menjadi lebih cepat melihat Leo ada di dekat Florence.
Bagaimana tidak shock? Di hadapannya berdiri Leo dan anehnya ada Florence juga di sana. Tentu saja Lili masih mengingat wajah Florence. Dia takkan mungkin melupakan wanita yang pernah terlibat dengan 1 pria yang sama dengannya itu. Namun, anehnya Florence seperti tak mengenalinya. Dia bahkan melihatnya tapi tak terlihat terkejut atau tak juga mengatakan apapun.
Sedangkan Leo, Leo yang berdiri di samping Florence tak melihat ke belakang sama sekali, Leo benar-benar tak menyadari adanya dirinya.
"Lili!" Lysa menepuk bahu Lili lantaran Lili hanya diam dan terus melihat ke punggung Florence.
Lili lantas melihat Lysa.
"Itu atasan kita, ayok bergabung dengan karyawan yang lain," ucap Lysa pelan dan menarik Lili bergabung dengan karyawan lain yang juga berdiri tak jauh dari para tamu.
Lili pun masih tetap diam seraya terus memperhatikan Leo. Leo tampak terus tersenyum seperti tak ada beban dalam hidupnya. Dia pikir, karena dia meninggalkan rumah, Leo lantas akan merasa sedih. Namun, melihat Leo yang sepertinya baik-baik saja, bahkan bisa bersikap tenang dan terlihat bahagia di samping Florence membuat Lili semakin membenci Leo. Dia benar-benar tak menyangka Leo akan kembali bersama Florence.
'Sejak kapan sebenarnya mereka bersama lagi? Kenapa aku tak pernah menyadarinya selama ini?' batin Lili penasaran.
Lili lantas memperhatikan Florence yang melihat Leo, bahkan memberikan buket bunga yang dibelinya kepada Leo.
"Leo, ini sebagai tanda terima kasihku padamu. Berkat dirimu, aku bisa membangun perusahaan ini. Terima kasih untuk dukungan materil ataupun telah mendampingiku sampai hari ini," ucap Florence seraya tersenyum.
Leo yang mendengar ucapan Florence lantas menunjukan raut wajah terkejut. Ya, sepertinya dia tak menyangka Florence akan bicara seperti itu di depan semua tamu undangan yang hadir di sana. Dia pikir, Florence hanya memintanya menemani gunting pita saja dan takkan memperlakukannya secara spesial seperti itu.
"Terima kasih," ucap Leo dan mengambil bunga itu. Leo lantas melihat pada para tamu undangan dan matanya lantas tertuju pada Lili yang sedang menatapnya.
Seketika itu juga Leo membulatkan matanya dan bunga di tangannya langsung terjatuh ke lantai.
Menyadari apa yang terjadi pada Leo, Florence lantas menyentuh bahu Leo. Leo pun melihat Florence.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Florence.
__ADS_1
"Ya, sorry," ucap Leo dan kembali melihat pada Lili. Namun, dia dibuat bingung ketika tak lagi melihat Lili di tempat di mana dia pertama kali melihat Lili.
Lysa lantas mengambil buket itu dan memberikannya pada Florence. Florence pun kembali memberikan bunga itu pada Leo dan Leo kembali mengambilnya.
'Apa aku salah melihat? Kenapa sepertinya aku melihat Lili di antara para tamu?' batinnya bertanya-tanya.
Leo tersentak ketika Florence kembali menegurnya. Dia pun akhirnya kembali fokus pada acara dan benar-benar menemani Florence menggunting pita tanda telah resminya perusahaan WO tersebut.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di sebuah ruangan. Lili sedang terduduk sendirian. Dia bahkan tak peduli lagi dengan acara peresmian kantor itu. Dia memilih menjauh dari mereka.
Lili teringat kembali pada ucapan Lysa tadi. Lysa memberitahunya bahwa Florence lah atasan mereka.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa aku sama sekali tak menyadari bahwa Florence pemilik perusahaan ini?" ucap Lili.
Tubuh Lili melemas sekarang. Bohong jika dia tak merasa cemburu melihat Leo dan Florence kembali bersama. Meski dia telah memutuskan untuk meninggalkan Leo. Namun, dia tak pernah berpikir bahwa Leo akan kembali pada Florence secepat itu.
Cukup lama Lili menyendiri dan mencoba menenangkan dirinya, hingga akhirnya Lysa menemukan Lili di ruangan itu.
"Ya ampun, Lili. Aku mencarimu sejak tadi. Kenapa kamu di sini sendirian?" tanya Lysa.
Lili tersenyum kecil.
"Aku tiba-tiba merasa pusing, karena itu aku menjauh dari keramaian. Maaf jika aku membuatmu mencariku," ucap Lili.
"Ya ampun ... Apa kamu belum sarapan? Semua orang sekarang sedang menikmati hidangan, sebaiknya kita juga bergabung sekarang," ucap Lysa. Namun, Lili menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah sarapan, aku hanya butuh istirahat sebentar," ucap Lili.
Lysa menghela napas.
__ADS_1
"Jika butuh sesuatu katakan padaku, kebetulan di sini belum ada stok obat. Jika kamu membutuhkan obat, aku akan mencarikannya untukmu," ucap Lysa.
"Terima kasih," ucap Lili dan Lysa kembali meninggalkan Lili.
Lili pun kembali menyendiri di ruangan itu hingga acara selesai. Setelah itu, Lili keluar dari ruangan itu dan melihat Lysa yang sedang bicara dengan salah satu karyawan lain. Lysa yang menyadari kehadiran Lili lantas menghampiri Lili.
"Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Lysa. Lili lantas mengangguk.
"Baiklah, jadi kamu sudah bisa menemui atasan kita 'kan?" tanya Lysa.
Lili mengerutkan dahinya.
"Apa dia menanyakan aku?" tanya Lili.
"Ya, kamu diminta datang menemuinya ke ruangannya. Kalian belum pernah bertemu 'kan? Dia pasti ingin mengenalmu, akan sangat tak lucu jika dia tak mengenal karyawannya sendiri dan kamu juga tak mengenal atasanmu sendiri," ucap Lysa, kemudian terkekeh.
Lili pun terdiam sejenak. Melihat kekehan Lysa yang sepertinya sangat lucu bagi Lysa, Lili justru bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang akan Florence lakukan dengan meminta bertemu dengannya? Apakah Florence masih tak ingat padanya atau justru mengingatnya sekarang? Pikirnya.
"Ayok cepat temui dia," ucap Lysa seraya menepuk bahu Lili, membuat Lili sedikit terkejut dan bergegas meninggalkan Lysa. Dia pergi menuju ruangan Florence.
Sesampainya di depan ruangan Florence, Lili mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Florence dari dalam ruangan itu dan Lili mulai membuka pintu.
Lili melihat Florence yang sedang berdiri memunggunginya. Di tangannya dia sedang melihat sebuah berkas. Setelah itu, dia berbalik dan melihat Lili.
"Hai, Lili. Apa kabar?" tanya Florence, sontak Lili dibuat terkejut.
'Jadi dia masih mengenalku?' batin Lili.
__ADS_1