
Setelah membaca berkas itu, Lili melihat Leo dan Leo mengangkat kedua tangannya.
"Bagaimana? Kamu sudah membaca semuanya?" tanya Leo.
"Ya," ucap Lili.
Mr. Bryan pun tampak tersenyum kecil. Dia sepertinya tak yakin Lili bisa memahami semua yang tercatat di berkas itu.
"Jadi, bagaimana menurut Anda, Nyonya? Bukankah itu kerjasama yang menarik?" ucap Mr. Bryan.
"Ya, Anda benar. Tapi maaf, Saya perlu ke toilet sebentar," ucap Lili dan bangkit dari kursinya. Dia meninggalkan meja itu seraya membawa ponselnya.
Mr. Bryan pun merasa aneh dengan sikap Lili. Dia memperhatikan Lili yang semakin menjauhi mejanya.
"You know, Mr. Bryan. Wanita memang selalu begitu, mereka selalu membutuhkan toilet di manapun mereka berada," ucap Leo kemudian tersenyum.
Mr. Bryan sontak saja melihat Leo dan tersenyum.
"Tidak masalah, Istri Saya pun begitu," ucap Mr. Bryan kemudian melihat pada wanita yang duduk di sampingnya. Sepertinya, wanita itu istrinya, entahlah.
Selang beberapa menit, Lili kembali ke restoran dan duduk kembali di kursinya.
"Baiklah, kita lanjutkan pembahasan tadi," ucap Mr. Bryan.
Lili pun berdeham.
"Sejujurnya, Saya masih ingin memeriksa beberapa hal lagi dalam berkas yang Anda berikan, Mr. Bryan," ucap Lili kemudian tersenyum.
"Oh ya, Nyonya. Tentu saja," ucap Mr. Bryan.
Leo melihat Lili dan tak menunjukan reaksi apapun di wajahnya. Wajahnya tampak datar.
"Kalau begitu, Leo nanti akan menghubungi Anda," ucap Lili.
"Ya, Saya harap secepatnya Saya akan mendapatkan kabar baik dari Mr. Leo. Ini adalah kesempatan bagus untuk memulai kerjasama, ini akan menguntungkan kita," ucap Mr. Bryan seraya tersenyum dan terdengar penuh antusias.
Lili hanya tersenyum. Dia lantas melihat Leo dan Leo melihat Mr. Bryan.
__ADS_1
"Kalau begitu, Mr. Leo. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda malam ini," ucap Mr. Bryan dan bangkit dari kursinya. Leo pun bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Mr. Bryan.
"Sampai jumpa lagi," ucap Mr. Bryan dan meninggalkan meja itu.
Kini, hanya ada Leo dan Lili di meja itu. Lili memastikan Mr. Bryan keluar dari restoran dan barulah dia melihat Leo.
"Aku akan kembali ke kamar," ucap Lili, tetapi Leo menahan tangan Lili sebelum Lili bisa beranjak dari kursinya. Leo lantas tersenyum membuat Lili menatap Leo dengan curiga.
"Sejak awal kamu sudah tahu 'kan ada sesuatu yang aneh dengan berkas itu?" ucap Lili.
"Aku tak tahu apapun, itulah mengapa aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu terlihat ragu setelah membaca berkas itu?" tanya Leo.
Lili menghela napas dan menunjukan ponselnya pada Leo. Leo mengerutkan dahinya melihat apa yang ada di layar ponsel Lili.
"Perusahaan itu belum terdaftar dan tidak memiliki izin dari pemerintah negara Mr. Bryan, perusahaan itu perusahaan ilegal," ucap Lili.
Ya, saat Lili pergi ke toilet tadi Lili mengecek izin perusahaan itu, dia mengingat nomor perizinan perusahaan yang tercatat di dalam berkas yang dibacanya dan dia yakin dia tak salah mengeceknya.
Leo terdiam mendengar ucapan Lili. Dia pun tersenyum dalam hati karena akhirnya tak sia-sia membawa Lili datang bersamanya. Sebenarnya, jika saja orang yang selalu dia andalkan dalam membantu pekerjaannya bisa hadir bersamanya menemui Mr. Bryan, dia takan mengajak Lili.
Leo merasa beruntung malam ini. Dia tak menyangka Lili ternyata juga bisa mengecek perizinan untuk perusahaan asing sedangkan Leo saja tak bisa mengaksesnya kecuali Leo membayar seseorang untuk melakukan pekerjaan itu. Takan mudah mengakses sesuatu yang berkaitan dengan negara asing. Sudah pasti hanya orang-orang yang ahli di bidangnya lah yang bisa melakukannya.
Leo kemudian tersenyum.
"Kamu memanfaatkanku, benar 'kan?" ucap Lili.
"Kenapa bilang begitu? Aku 'kan suamimu, sudah seharusnya kita saling membantu, tak ada yang salah dengan itu 'kan?" ucap Leo, kemudian tersenyum semakin lebar.
Lili memutar bola matanya dan bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana? Kita bahkan belum memulai kencan kita," ucap Leo, membuat Lili terdiam. Lili melihat Leo yang memanggil pelayan dan Leo meminta sebotol anggur pada pelayan. Leo juga meminta pelayan itu membawakan anggur pesanannya ke area outdoor, yaitu area kolam renang.
"Aku sedang menyusui, apa kamu akan mengajakku minum?" ucap Lili shock.
"Tentu saja aku tak segila itu, tapi bisakah duduk sebentar lagi denganku? Apa kamu ingat, kapan terakhir kali kita menghabiskan waktu bersama?" ucap Leo.
Lili terdiam memikirkan pertanyaan Leo. Benar, dia tak ingat kapan terakhir kali dia menikmati momen hangat bersama Leo. Haruskah dia tinggal sebentar lagi bersama Leo? Pikir Lili.
__ADS_1
Leo bangkit dari duduknya dan menatap Lili penuh harap.
Lili pun berbalik dan berjalan menuju kolam renang.
'Dia seperti anak kecil yang meminta ditemani ibunya, kan bisa di kamar saja!' batin Lili di tengah langkahnya.
Sementara itu, Leo tersenyum dan berjalan menyusul Lili. Mereka duduk di salah satu meja yang ada di area outdoor itu.
Tak lama pelayan pun datang membawakan sebotol anggur pesanan Leo dan ada segelas jus juga di atas tray. Setelah pelayan itu pergi, Leo menuangkan anggur itu ke dalam gelasnya dan mengangkat gelasnya ke hadapan Lili. Lili pun dengan malas mengangkat gelas jusnya dan bersulang dengan Leo.
Lili sama sekali tak menikmati suasana di sana.
"Lili, apa aku boleh bertanya?" tanya Leo.
Lili hanya diam, entah apalagi yang akan Leo katakan. Dia hanya ingin kembali ke kamar. Dia bahkan enggan melihat Leo.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Leo, sontak Lili melihat Leo.
"Entah mengapa, aku terkadang berpikir pernikahan ini terasa membosankan," ucap Leo.
"Kalau begitu tanyakan pada hatimu, apa kamu mencintaiku?" tanya Lili.
Kali ini Leo yang terdiam.
Lili kemudian bangkit dari kursinya dan berniat melangkahkan kaki. Namun, dia kembali melihat Leo sebelum meninggalkan meja itu.
"Jangan pernah membahas perasaan denganku, jika kamu saja tak memiliki perasaan sebagai manusia," ucap Lili dan meninggalkan meja itu.
Leo pun hanya diam, dia kemudian tersenyum kecil dan menyesap anggurnya. Di wajahnya tiba-tiba terlihat kekesalan. Dia pun menghabiskan anggur itu dan beranjak dari kursinya. Dia melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan restoran.
Begitu sampai di kamar, dia melihat Lili yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lili terlihat memakai jubah mandi.
"Aku tak memiliki baju ganti, apakah kamu menyiapkan baju untukku? Tak mungkin aku tidur seperti ini," ucap Lili seraya melihat jubah mandi yang menutupi tubuhnya.
Lili terkejut ketika Leo meraih tangannya.
"Apa sekarang aku sudah bisa menyentuhmu?" tanya Leo.
__ADS_1
Lili pun terdiam mendengar pertanyaan Leo. Jantungnya bahkan berdegup cepat karena tiba-tiba mendengar Leo bertanya seperti itu.