ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 8 - JANGAN MENOLAKKU DENGAN ALASAN APAPUN!


__ADS_3

"Memangnya aku kecanduan barang haram, yang benar saja," ucap Leo. Leo tak habis pikir pada Lili, sembarangan saja jika bicara.


"Ya, kurasa memang begitu," ucap Lili ketika tiba-tiba berbalik dan kembali melihat Leo.


Leo membuka mulutnya, dia berniat mengatakan sesuatu.


"Maksudku, bukan kecanduan barang haram semacam obat-obatan terlarang ..."


Lili menghentikan ucapannya sejenak, membuat Leo mengerutkan dahinya.


"Tapi kecanduan wanita di luar sana!" cibir Lili, kemudian tersenyum sengit. Lili pun bergegas meninggalkan Leo.


Leo pun memutar bola matanya dan berjalan menuju kamar. Dia menganggap istrinya itu sangat konyol, karena itu tak penting baginya memikirkan apa yang istrinya itu katakan.


Sementara itu, setelah sampai di kamar, Lili menghubungi kontaknya melalui ponsel Leo. Sampai akhirnya Lili mendengar suara dering ponselnya yang ternyata berasal dari bawah bantal. Setelah membuka bantal itu, dia pun menghela napas lega.


'Kenapa aku bisa lupa kalau aku meletakan ponselku di bawah bantal? Jangan-jangan aku mulai menjadi pelupa?' batin Lili.


Lili pun berbalik dan hampir saja terjengkang ketika tiba-tiba melihat seseorang di depannya. Beruntung orang itu bergegas menahan punggung Lili sehingga Lili tak terempas ke tempat tidur.


"Kapan kamu masuk? Kenapa aku tak mendengar suaramu?" ucap Lili seraya memegang dadanya. Tubuhnya seketika menjadi lemas.


Ya, itu Leo. Entah kapan Leo tiba di kamar? Sebelumnya, Lili tak mendengar suara langkah kaki seseorang.


"Bagaimana mau dengar? Kamu saja fokus ke yang lain, menghubungi siapa pakai ponselku?" ucap Leo.


"Benar-benar ... Jangan mengejutkan-ku lagi, setidaknya bersuaralah ketika berjalan," ucap Lili dan menepuk dada Leo dengan ponsel Leo. Leo pun mengambil ponselnya.


Setelah itu, Leo pun diam, dia pikir Lili saja yang berlebihan. Masa iya melihat suami sendiri di kamar harus terkejut?


"Oh ya!" Lili yang baru saja akan menjauhi Leo, tiba-tiba teringat sesuatu.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Kenapa kamu menyuruh si Joko menguras kolam?" ucap Lili.


"Kenapa?" ucap Leo seraya mengerutkan dahinya.


"Ya, kenapa?" tanya Lili.


"Itukan ulahmu sendiri yang membuang bunga ke kolam, jelas saja aku memintanya membersihkan kolam. Tak mungkin aku yang membersihkan kolam, ada-ada saja," ucap Leo tak habis pikir. Leo pun naik ke tempat tidur dan Lili memperhatikan Leo.


Melihat Lili terus memperhatikannya, Leo pun menatap Lili.


"Aku tahu Istriku tak suka rumahnya kotor, dari pada besok pagi aku mendengar Istriku marah-marah, ya lebih baik aku meminta si Joko untuk membersihkannya sekarang," ucap Leo, kemudian membuka ponselnya.


Lili memutar bola matanya.


"Setidaknya jangan menyuruhnya di malam-malam begini, benar-benar tak berperasaan," ucap Lili dan naik ke tempat tidur.


Sebelum merebahkan tubuhnya, Lili kembali melihat Leo.


"Aku lupa, bagaimana bisa kamu peduli pada orang lain? Jelas-jelas kamu memang tak punya hati, bahkan padaku saja kamu keterlaluan," ucap Lili dan akan merebahkan tubuhnya.


Mendengar ucapan Lili, Leo pun menutup ponselnya dan melihat Lili yang lagi-lagi memunggunginya.

__ADS_1


Leo lantas mengganti lampu ruangan itu dengan lampu tidur yang lebih redup. Dia pun merebahkan tubuhnya dan mendekati Lili. Dia akan memeluk Lili tetapi Lili menolaknya. Lili bahkan menatapnya dengan tajam.


"Ayolah ... Kenapa terus menolakku?" ucap Leo.


Lili bergegas duduk dan Leo pun mengikuti Lili. Dia duduk berhadapan dengan Leo.


"Apa kamu benar-benar tak mengerti, atau kamu pura-pura bodoh?" ucap Lili. Leo mengusap wajahnya dan mengembuskan napas perlahan. Setelah itu, dia menatap Lili.


"Akan aku beritahu sesuatu," ucap Lili dan beranjak dari tempat tidur.


Lili pun pergi ke ruang ganti, dan mencari pakaian yang Leo pakai sebelumnya. Setelah menemukannya, Lili membawa pakaian itu ke kamar dan menunjukannya di depan Leo.


"Mau kamu apakan bajuku?" tanya Leo bingung.


Lili melemparkan pakaian itu ke hadapan Leo dan Leo tampak tercengang. Dia pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Lili.


"Apa maksudmu melemparkannya ke padaku?" ucap Leo.


Lili mengambil pakaian Leo dan menyodorkannya ke wajah Leo. Leo pun dibuat semakin terkejut dengan sikap Lili. Dia menarik pakaian itu dari tangan Lili dan melemparnya ke lantai.


"Jaga sikapmu! Jangan sampai aku ...!"


Ucapan Leo terhenti ketika Lili tiba-tiba mendorong tubuh Leo.


"Aku tahu kamu tak sebodoh itu, Leo. Jadi, jangan bersikap seakan kamu bodoh, bahkan jangan bersikap seakan aku sangat bodoh hingga aku tak mengetahui apapun!" geram Lili.


Leo terdiam, tetapi diam-diam dia mengingat tentang Sisil. Rasanya, tak mungkin Lili mengetahui apa yang dia lakukan dengan Sisil hari ini.


"Leo, coba lihat aku," ucap Lili seraya merapikan rambutnya, dan mencondongkan wajahnya ke hadapan Leo


"Aku cantik tidak?" tanya Lili.


Leo semakin bingung mendengar ucapan Lili.


"Tentu saja," ucap Leo.


"Apa aku seksi?" tanya Lili seraya membuka satu-persatu kancing piyamanya sehingga sebagian tubuhnya terlihat.


Leo pun tersenyum dan berniat mendekati Lili. Dia pikir, Lili sedang menggodanya. Namun, ketika dirinya akan mendekat Lili, Lili justru menjauhinya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Lili.


"Ya, tentu saja. Kamu seksi, menggemaskan, apalagi setelah melahirkan. Lihatlah, dia semakin berisi," ucap Leo seraya mengarahkan tangannya ke dada Lili.


Lili pun bergegas menutup piyamanya sebelum Leo bisa menyentuhnya.


"Lagi-lagi kamu berbohong," ucap Lili, kemudian tersenyum sengit.


"Ayolah ... Aku berkata yang sebenarnya," ucap Leo.


Lili pun kesal mendengar apa yang Leo katakan. Dia bergegas mengambil pakaian Leo yang ada di lantai dan memberikannya pada Leo.


"Saat kamu memelukku di kolam, aku mencium aroma parfum wanita di pakaianmu!" kesal Lili dan melemparkan pakaian itu lagi pada Leo.


Leo pun langsung menangkap pakaiannya.

__ADS_1


"Aroma itu bukan parfum-ku, dan bukan parfum-mu juga. Jadi katakan padaku, parfum siapa yang menempel di pakaianmu? Apa sekretaris-mu?" ucap Lili seraya menatap Leo dengan curiga.


Leo terdiam mendengar ucapan Lili. Dia merasa bingung, apa iya parfum orang lain menempel di pakaiannya? Apakah itu parfum Sisil? Pikirnya. Dia ingat, hari ini dia hanya dekat dengan Sisil.


Leo mencium aroma di pakaiannya, dan lagi-lagi terdiam ketika benar-benar mencium aroma parfum wanita dan jelas dia mengenal aroma parfum itu. Bahkan, parfum itu dia sendiri yang membelikannya..


'Bren*sek, kenapa aku tak menyadarinya sejak tadi? Pantas saja Lili langsung membuang bunga yang aku berikan setelah aku memeluknya,' batin Leo.


Ya, Leo akhirnya menyadari parfum di pakaiannya adalah parfum Sisil yang dia belikan beberapa hari lalu. Dia sangat mengenal aroma parfum itu.


"Apa kamu masih mau mengelak?" ucap Lili.


Leo mengembuskan napas berat dan menatap Lili sejenak. Setelah itu, Leo meninggalkan Lili ke ruang ganti. Lili pun mengikuti Leo dan kembali menanyakan siapa wanita itu?


Leo lantas berbalik dan kembali melihat Lili.


"Untuk apa kamu peduli? Jelas di luar sana aku bertemu wanita. Misalnya malam ini saat aku menghadiri pesta, klien wanitaku juga ada di sana. Kami tak hanya saling menyapa, tapi juga berjabat tangan dan saling menempelkan pipi. Bukankah itu masih dalam batas wajar?" ucap Leo.


Lili mengepalkan tangannya, dan Leo melihat itu.


"Bersikap seperti itu bukan berarti memiliki hubungan yang spesial 'kan? Kami hanya terikat pekerjaan, tak lebih," ucap Leo mencoba meyakinkan Lili.


Lili mengepalkan tangannya. Meski itu bukan jawaban yang dia dengar pertama kali, tetapi jawaban itu membuatnya bosan, karena Leo terus saja mengatakan jawaban yang sama setiap kali dirinya mencurigai Leo. Jawaban Leo tak pernah bisa meyakinkannya.


"Baiklah, memang percuma bertanya padamu. Seharusnya aku mengerti kamu takan memberitahuku. Tapi, aku yakin aku akan menemukan apa yang aku cari meski kamu tak mau memberitahuku," ucap Lili dan berniat keluar dari ruang ganti.


"Ayolah ..." ucap Leo mulai kesal.


Lili pun mengabaikan Leo, tetapi itu membuat Leo kesal. Leo bergegas menarik tangan Lili, dan Lili mencoba melepaskannya. Namun, Leo cukup kuat memegang tangan Lili, sehingga Lili kesulitan melepaskan lengannya dari tangan Leo.


"Besok malam kita akan pergi keluar, aku sudah memesan tempat untuk kita," ucap Leo.


Baru saja Lili akan bicara, tetapi Leo tiba-tiba mengeratkan pegangannya di lengan Lili.


"Jangan menolakku dengan alasan apapun, apalagi dengan memakai nama anakku!" ucap Leo memperingatkan Lili. Tatapannya tampak serius.


"Aku tak mau, pergi saja sendiri!" kesal Lili.


"Pergi sendiri katamu?" ucap Leo seraya melepaskan tangan Lili. Lili pun menatap Leo seakan dia sedang memberikan jawaban, ya, melalui tatapan matanya.


"Baiklah ..." ucap Leo, kemudian meregangkan otot-ototnya.


Lili pun berniat meninggalkan Leo.


"Karena kamu tak ingin pergi denganku, maka aku akan mengajak Sisil," ucap Leo.


Lili terdiam.


"Sebagai sekretaris, dia cukup tahu apa yang membuatku senang. Tak seperti dirimu, membosankan," ucap Leo dan berjalan melewati Lili.


Lili pun mengepalkan tangannya.


'Dia benar-benar keterlaluan, apa maksudnya membandingkan aku dengan wanita lain?' batin Lili.


Mendengar ucapan Leo barusan, Lili pun semakin curiga pada Leo. Dia semakin yakin bahwa, ada sesuatu antara Leo dengan Sisil.

__ADS_1


__ADS_2