ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 30 - KENAPA TIBA-TIBA MEMIKIRKANNYA?


__ADS_3

Waktu berlalu, Florence sampai di depan sebuah kamar dan itu adalah kamar yang ditunjukan oleh Barry.


Ya, Florence akhirnya memutuskan untuk menemui Leo. Entah apa yang akan Leo katakan saat bertemu nanti, tetapi saat ini detak jantungnya sulit untuk diajak kompromi. Sudah dua tahun berlalu, dan entah mengapa dia bisa kembali merasakan apa yang dia rasakan dulu. Apa mungkin dia kembali jatuh cinta pada Leo?


Florence menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Setelah itu, dia mengetuk pintu dan tak lama Leo muncul dibalik pintu. Florence pun tersenyum canggung.


"Apa kamu memanggilku?" tanya Florence.


"Ya, silahkan masuk!" ajak Leo dan membuka pintu kamarnya dengan lebar. Florence lantas memasuki kamar itu dan Leo mulai menutup pintu.


"Maaf jika mengganggu pekerjaanmu dan memanggilmu ke sini," ucap Leo.


"Tidak, pekerjaanku hampir selesai. Lagipula, ada banyak orang," ucap Florence.


Leo mengangguk dan mempersilakan Florence duduk di sofa. Florence pun duduk di sofa itu dan Leo mengangkat botol anggur yang belum terbuka sama sekali. Botol anggur itu masih tersegel.


"Apa kamu minum?" tanya Leo seraya melihat Florence dan mulai mengambil gelasnya.


"Tidak," ucap Florence, dan diangguki oleh Leo.


"Jadi, kenapa kamu memanggilku?" tanya Florence.


Leo menghela napas dan duduk di sofa. Dia duduk di sofa terpisah dengan Florence.


"Sebenarnya, aku ingin mengobrol denganmu," ucap Leo, sontak saja Florence mengerutkan dahinya. Entah apa maksudnya Leo ingin mengobrol dengannya, apa yang akan Leo obrolkan? Pikirnya.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Leo.


Mendengar pertanyaan Leo, Florence pun seketika terlihat tak nyaman.


"Tak perlu dijawab jika kamu tak mau menjawabnya, lupakan sa ..."


"Belum," ucap Florence dengan cepat sebelum Leo bisa menyelesaikan ucapannya. Leo pun terdiam dan mengembuskan napas perlahan.


"Begitu, ya. Jadi, kamu fokus dengan bisnismu?" tanya Leo, dan diangguki oleh Florence.


"Ya, aku sedang berusaha mengembangkan bisnisku. Sejauh ini, aku masih hanya menerima pekerjaan dari teman ke teman. Maksudku, seperti Barry saat menawariku pekerjaan ini. Kamu pasti tahu, banyak sekali yang memiliki pekerjaan sama seperti diriku," ucap Florence.


"Ya, aku mengerti. Tapi jika tak ada saingan, tetap saja tak asik. Tak ada tantangan," ucap Leo.


Florence pun tersenyum.


"Florence ..."


Florence menatap Leo ketika Leo menyebut namanya.


"Aku senang melihatmu sudah memiliki bisnis sendiri, aku ingat dulu kamu wanita yang apa-apa selalu merengek padaku. Tapi, lihatlah ..." Leo menghentikan ucapannya sejenak.

__ADS_1


"Kamu sudah menjadi wanita karir, dan mandiri. Aku berharap kelak bisnismu akan semakin besar," ucap Leo.


"Ya, aku jelas tumbuh, Leo. Dan setiap hari aku mencoba untuk tumbuh. Dan tentu saja aku juga berharap seperti dirimu, aku berharap bisnisku lancar dan semakin besar," ucap Florence, dia memperhatikan Leo yang sedang menyesap anggurnya.


"Bagaimana dengan anakmu? Dia pasti sudah lahir 'kan?" tanya Florence. Leo pun mengangguk dan meletakan gelas anggurnya di meja. Setelah itu dia kembali melihat Florence.


"Kenapa kamu belum menikah?" tanya Leo.


"Kamu ingin aku menjawabnya jujur atau tidak?" tanya Florence.


"Senyamanmu saja," ucap Leo kemudian tersenyum.


Florence pun tersenyum.


"Tak ada yang mau padaku," ucap Florence, kemudian terkekeh. Sepertinya, dia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Namun, Leo justru terdiam setelah mendengar ucapan Florence.


"Maksudku, ada beberapa pria yang mendekatiku, tapi entah mengapa aku tak bisa memulai hubungan baru dengan mereka," ucap Florence seraya menundukan pandangannya ke lantai.


Leo lagi-lagi terdiam. Dia menatap Florence ketika Florence kembali menatapnya.


"Maaf, aku jadi curhat padamu," ucap Florence terlihat canggung.


Leo pun menghela napas.


"Tak masalah, oh ya ..." Leo mengambil selembar cek dan meletakkannya di atas meja. Dia lantas menggeser cek itu ke hadapan Florence.


Florence mengambil cek itu dan melihatnya seraya terdiam.


"Apa itu bukan nominal sebenarnya?" tanya Leo bingung. Apa Barry salah memberikan laporan uang muka tadi? Pikirnya.


Florence pun menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya ... Aku merasa tak enak hati padamu," ucap Florence.


"Kenapa?" tanya Leo semakin bingung.


"Entahlah, Leo ..." Florence menatap Leo dengan tatapan yang entah, tatapan macam apa sebenarnya itu? Leo sama sekali tak memahaminya.


"Sejujurnya aku tak berharap kita akan bertemu lagi," ucap Florence.


Leo pun terdiam mendengar ucapan Florence. Apa Florence masih belum bisa move-on darinya? Pikirnya.


"Maaf, aku tak bermaksud untuk membahas masa lalu. Tapi, perpisahan kita di masa lalu membuatku sangat terpukul dan sampai sekarang aku tak bisa melupakannya. Itulah mengapa aku selalu berharap agar kita tak pernah bertemu lagi," ucap Florence dan bangkit dari duduknya.


Leo pun memperhatikan Florence yang tampak canggung.


"Tolong, lupakan saja apa yang aku katakan. Aku permisi," ucap Florence dan bergegas menuju pintu.

__ADS_1


Leo pun hanya diam seraya memperhatikan Florence sampai Florence tak lagi terlihat oleh pandangannya. Setelah itu, dia menyesap anggurnya.


"Dia terlihat sama seperti saat pertama kali aku mengenalnya, dia terlihat seperti wanita bodoh. Tapi, aku juga sebenarnya tak pernah berpikir akan bertemu dengannya lagi," ucap Leo dan melihat jam tangannya. Waktu terlihat menunjukan hampir pukul 10 malam.


Dia pun mengambil kunci mobilnya dan berniat keluar dari kamarnya. Namun, perhatiannya tertuju pada sofa yang sebelumnya diduduki oleh Florence.


Ada sebuah ponsel di sana. Dia mengambil ponsel itu dan menyalakannya. Dia pun terkejut ketika melihat wallpaper ponsel itu yang ternyata adalah foto Florence.


'Kenapa dia tak membawa ponselnya?' batin Leo.


Sepertinya, karena terlalu gugup tadi Florence sampai tak sadar bahwa ponselnya tertinggal.


Leo pun bergegas keluar dari kamarnya. Dia pergi menuju ballroom dan menanyakan Florence pada pekerja EO di sana. Namun, mereka mengatakan Florence telah meninggalkan hotel.


'Astaga, dia seperti hantu. Dia meninggalkan hotel secepat itu. Yang benar saja!' batin Leo dan keluar dari ballroom. Dia pun meninggalkan hotel dan kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, dia melihat Lili dan Maisy yang sudah tidur. Mereka terlihat begitu lelap hingga Leo enggan mengganggu tidur mereka. Leo pun pergi menuju ruang ganti dan membersihkan tubuhnya sebentar. Setelah itu, dia kembali ke kamar dan mulai naik ke tempat tidur.


Dia meletakan kepalanya di atas tangannya yang dilipat, dia lantas menoleh ke sampingnya dan melihat Lili yang tidur memunggunginya. Dia pun memiringkan tubuhnya dan memperhatikan punggung Lili. Entah apa yang dipikirannya saat ini, tetapi sedetik kemudian dia menutup wajahnya


'Kenapa aku memikirkannya?' batin Leo terkejut.


Ya, tiba-tiba bayangan Florence muncul di kepalanya.


Leo pun mendudukan tubuhnya dan mengambil ponselnya, waktu sudah hampir tengah malam dan benar-benar keterlaluan karena ketika memperhatikan Lili, justru muncul bayangan Florence di kepalanya.


Leo pun keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerjanya, dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membuka pekerjaannya. Namun, ternyata dia tak bisa fokus. Benar-benar menyebalkan, karena pikirannya terus dipenuhi oleh Florence. Wajah Florence seakan memenuhi pikirannya.


Tak diragukan lagi, sejak awal dulu dia mengenal Florence bahkan hingga saat ini, Florence masih terlihat sama. Dia terlihat sangat cantik.


Leo mengambil ponselnya. Dia benar-benar tak tahan lagi dan menghubungi Barry.


'Ya, Pak Leo. Anda belum tidur?' ucap Barry


'Ehem ... Apa kamu bisa membantu Saya?' tanya Leo.


'Katakan, Pak. Apa yang bisa Saya bantu?' tanya Barry.


'Saya butuh alamat kantor temanmu,' ucap Leo.


'Teman Saya? Yang mana, Pak?' tanya Barry terdengar bingung.


'Ituloh ... Florence,' ucap Leo.


'Oh ya, tentu. Tapi, apa ada masalah?' tanya Barry terdengar bingung.


'Kirimkan saja, banyak sekali bertanya!' ucap Leo dan mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2