ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 14 - DICAMPAKKAN BAGAI SAMPAH?


__ADS_3

Satu jam berlalu, Leo akhirnya sampai di perusahaan. Dia pergi menuju ruangannya.


Begitu lift membawanya ke lantai tempat ruangannya berada, dia keluar dari lift dan mulai berjalan menuju ruangannya. Dia melewati meja kerja Sisil, dan berhenti sejenak. Setelah itu, dia kembali melihat ke meja Sisil dan dahinya berkerut ketika melihat barang-barang Sisil masih berada di meja itu. Bahkan tas Sisil pun masih ada di meja itu.


'Apa dia belum pergi?' batin Leo, kemudian melihat ke pintu ruang kerjanya. Leo tiba-tiba merasa Sisil saat ini ada di ruangannya.


Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit berat. Setelah itu, dia pun melanjutkan langkahnya memasuki ruang kerjanya.


Begitu membuka pintu ruangannya, dia melihat seorang wanita yang duduk di meja kerjanya dan tentu saja, orang itu adalah Sisil. Sisil tak langsung pergi dari perusahaan meski telah diperintahkan untuk tak lagi berada di perusahaan ketika Leo kembali.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Leo dengan tenang dan berjalan menghampiri Sisil.


Sisil mengangkat berkas pemutusan kontrak kerja yang diterimanya tadi ke hadapan Leo.


"Apa maksud semua ini? Apa kamu memecatku?" tanya Sisil.


"Apa kurang jelas apa yang tertulis di dalam berkas itu? Kontrak kerjamu dengan perusahaan ini telah berakhir," ucap Leo.


"Tapi kenapa? Kenapa kamu memutuskannya secara sepihak?" tanya Sisil dengan geram.


Sisil sudah menahan kemarahannya sejak tadi. 1 jam dia harus menunggu Leo, dia takan melepaskan Leo sebelum dia mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan hatinya. Jelas saja dia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Selama ini bahkan dia bekerja dengan hati-hati.


"Tentu saja untuk memudahkanmu," ucap Leo.


"Memudahkan apa?" tanya Sisil bingung.


Tiba-tiba Sisil terpikir bahwa, Leo memecatnya untuk memberikannya kedudukan lebih baik. Apakah Leo benar-benar sudah memikirkan apa yang dia katakan tentang perasaannya tadi pagi? Karena itu Leo tak ingin dia bekerja lagi di perusahaannya? Pikir Sisil.


"Memudahkanmu untuk melupakanku," ucap Leo kemudian melepaskan jas yang dia kenakan. Dia lalu meletakan jasnya di sandaran kursi kerjanya, sedangkan Sisil hanya diam memperhatikan Leo. Dia semakin dibuat bingung.


Leo lantas kembali melihat Sisil.


"Bukankah kamu mengatakan menyukaiku? Bahkan kamu berpikir lebih dari pada itu, kamu juga mencintaiku, iyakan?" ucap Leo.


"Ya," ucap Sisil.

__ADS_1


"Kalau begitu, mengeluarkan-mu dari perusahaan ini adalah keputusan yang tepat," ucap Leo dengan menunjukan raut wajah serius.


Leo lalu duduk di kursi kerjanya dan kembali melihat Sisil.


"Kamu Saya pecat, dan ..." Leo menghentikan ucapannya sejenak, kemudian mendorong amplop berisikan uang pesangon yang masih ada di meja kerjanya ke hadapan Sisil.


"Ambil pesangonmu, lalu tinggalkan perusahaan ini!" ucap Leo.


Sisil mengepalkan tangannya. Raut wajah dan nada bicara Leo tak seperti sedang bercanda. Dia kini yakin bahwa, Leo benar-benar ingin memecatnya.


"Aku takan pergi sebelum aku tahu apa kesalahan yang aku lakukan terhadap perusahaan ini," ucap Sisil.


"Jadi, kamu tak tahu apa kesalahanmu?" ucap Leo.


"Aku tak tahu, dan aku tak merasa melakukan kesalahan apapun. Karena itu, beritahu aku!" geram Sisil seraya menekan tangannya ke meja kerja Leo.


Leo memundurkan kursi yang didudukinya dan menatap Sisil dengan tak senang.


"Kesalahanmu memintaku untuk mempertimbangkan perasaanmu!" ucap Leo pelan, tetapi penuh penekanan.


Sisil terdiam. Tiba-tiba jantungnya berdegup cepat.


"Leo, aku mengatakan aku mencintaimu, karena itulah yang hatiku rasakan. Lalu apa hubungannya dengan pekerjaanku? Aku tak melakukan kesalahan apapun, aku tak terima kamu memecatku begitu saja!" geram Sisil.


Leo menggelengkan kepalanya dan mengayunkan tangannya ke arah pintu.


"Keluar!" ucap Leo.


"Apa kamu benar-benar akan menyingkirkanku setelah apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Sisil seraya menatap Leo penuh kekecewaan.


Leo mengerutkan dahinya dan menatap Sisil semakin tak senang.


"Aku tak pernah memaksamu melakukan apapun, jadi pergilah dari sini! Aku tak ingin melihatmu lagi!" tegas Leo.


"Aku takan pergi, kenapa kamu ba*ingan sekali? Kamu meninggalkanku hanya karena aku mengatakan tentang perasaanku padamu!" geram Sisil.

__ADS_1


"Karena aku tak menyukaimu! Asal kamu tahu, apapun yang aku lakukan hanya untuk menutupi rasa bosanku. Jadi jangan mengharapkan apapun dariku!" tegas Leo.


Sisil mengepalkan tangannya, napasnya memburu mendengar apa yang Leo katakan. Leo benar-benar telah menghancurkan hatinya.


Leo pun menarik Sisil menuju pintu, dan tentu saja Sisil tak terima di perlakukan seperti itu oleh Leo. Dia mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Leo, tetapi Leo terus menyeretnya hingga akhirnya Leo mendorongnya melewati pintu ruangannya. Sisil pun berbalik.


"Leo!" teriak Sisil dengan penuh kemarahan.


"Pergi, perusahaan ini tak menerimamu lagi!" tegas Leo dan mendorong pintu ruangannya dengan keras hingga menimbulkan suara yang mengejutkan Sisil.


Sisil pun semakin dibuat geram. Leo benar-benar keterlaluan. Leo mencampakannya seperti sampah dan dia sangat marah dengan perbuatan Leo.


Tak lama, pintu ruangan Leo kembali terbuka dan Leo menyodorkan amplop berisikan pesangon yang belum Sisil ambil.


"Ambil!" ucap Leo.


"Kamu benar-benar ba*ingan, Leo! Aku benar-benar membencimu!" geram Sisil.


Leo mengabaikan apa yang Sisil katakan dan berjalan menuju meja kerja Sisil. Dia melemparkan amplop itu ke atas meja kerja Sisil. Setelah itu, dia kembali ke hadapan Sisil.


"Aku bisa memanggil security jika dalam 10 menit kamu belum juga pergi dari perusahaan ini!" ancam Leo dan Leo pun kembali masuk ke ruangannya.


"Brengs*k, Leo! Aku benar-benar membencimu!" geram Sisil seraya mencoba membuka pintu ruang kerja Leo. Dia menggedor pintu itu ketika tahu bahwa, Leo mengunci pintu itu.


Sisil pun menutup wajahnya dan akhirnya menangis.


Bagaimana bisa harinya begitu buruk? Mimpi apa dia semalam sehingga dia akan dicampakkan seperti itu oleh Leo? Leo benar-benar keterlaluan. Setelah semua yang Leo lakukan padanya, Leo justru menyingkirkannya seakan dia barang yang sudah tak berguna dan telah menjadi sampah.


Sementara itu di ruangannya, Leo membuka kancing lengan kemeja yang dia kenakan dan menggulungnya hingga sebatas siku.


'Aku hanya ingin bermain-main tapi dia memakai perasaan!' gumam Leo kesal.


Ya, Leo tahu ketika sesuatu sudah melibatkan hati, maka semua akan menjadi sulit. Begitupun dengan Sisil, semakin lama dia menahan Sisil, Sisil akan semakin menyulitkannya.


Wanita selalu seperti itu, akan membuat banyak drama ketika sudah melibatkan hatinya dalam urusan apapun. Leo yang sejak awal hanya ingin bermain-main untuk membunuh rasa jenuhnya, tentu saja tak ingin dipusingkan dengan masalah cinta. Itulah mengapa, dia dengan cepat memutuskan untuk memecat Sisil dari perusahaan itu.

__ADS_1


Leo tiba-tiba teringat pada ucapan Sisil sebelumnya yang mengatakan, bahwa setelah semua yang dia lakukan pada Sisil, dia justru mencampakkan Sisil.


'Dasar bodoh, aku takan meninggalkan istriku demi wanita murahan sepertinya!' batin Leo.


__ADS_2