
Waktu berlalu, Leo mengajak Lili untuk turun menuju restoran. Dia ingin sarapan terlebih dahulu. Biasanya, akan ada petugas hotel yang mengantarkan sarapan untuknya ketika dia menginap di hotel itu, tapi untuk kali ini dia meminta petugas hotel untuk jangan mengantarkan sarapannya ke kamar.
Sejak tadi juga Maisy enggan jauh darinya, bahkan menangis terus hingga membuat Leo yang sebelumnya ingin mandi saja menjadi risi dan akhirnya memutuskan tak mandi dan hanya mencuci wajahnya saja. Padahal, dia tak berencana untuk bolos kantor. Namun, melihat waktu sekarang sudah hampir jam 7, sedangkan dia saja belum mandi dan belum lagi bersiap-siap, sepertinya dia takan pergi ke kantor hari ini.
Leo dan Lili sudah sampai di restoran, sementara itu Maisy juga ada di sana. Hanya saja, kali ini dia sudah mau lepas dari Leo. Maisy tampak tenang duduk di stroller-nya yang berada di sisi Leo. Dia sedang memakan camilannya.
Leo meminta Lili untuk mengambilkan sarapan untuknya. Dia juga meminta pengasuh Maisy untuk menyiapkan sarapan yang tak menyulitkan Maisy yang ada di restoran itu. Biasanya, di hotel keluarganya juga menyediakan makanan khusus untuk anak-anak seusia Maisy.
"Papi!" Leo menoleh ketika mendengar suara menggemaskan Maisy. Dia pun tersenyum melihat Maisy.
"Mi-mi," ucap Maisy dengan nada terputus-putus.
"Mami sedang mengambil sarapan, sabar ya. Kita sarapan dulu," ucap Leo.
"Mi-mi," Maisy mengucapkan kata yang sama, dan Leo pikir Maisy ingin maminya. Leo pun menggendong Maisy dan menghampiri Lili yang masih mengambil sarapan. Begitu sampai di dekat Lili, Leo memanggil Lili sehingga Lili menoleh pada Leo.
"Tinggalkan itu, dia mau kamu," ucap Leo.
Lili yang baru saja akan meletakan piring sarapan, tiba-tiba mendengar Maisy mengucapkan kata mimi.
"Dia mau mimi, bukan Mami. Miliknya ada di atas meja, aku meletakannya di sana," ucap Lili.
"Apa Mimi?" tanya Leo tampak bingung.
"Mimi, maksudnya dia ingin minum. Bagaimana, sih? Masa tak mengerti anakmu mengatakan apa," ucap Lili tak habis pikir.
Leo membentuk mulutnya seperti huruf o. Rupanya dia salah sangka, dia pikir Maisy memanggil mami.
Lili memutar bola matanya.
"Itulah, karena kamu tak dekat dengan anakmu, jadi tak tahu anakmu sudah bisa mengucapkan beberapa kata," ucap Lili.
Leo pun mengabaikan Lili dan kembali ke mejanya. Dia lantas mencoba mendudukan Maisy di stroller-nya tetapi Maisy tak ingin duduk di sana lagi. Dia pun akhirnya meletakan Maisy di pangkuannya dan mengambil botol minum milik Maisy yang ada di atas meja. Dia memberikan air itu pada Maisy.
Ketika minum, Maisy tak sengaja menyemburkan air di mulutnya sehingga mengenai celana Leo. Leo pun sedikit terkejut dengan itu. Dia melihat pada Lili dan Lili masih saja sedang mengambil sarapan. Sedangkan pengasuh Maisy, entah ke mana dia pergi.
"Pelan-pelan dong, celana Papi jadi basah," ucap Leo.
Maisy menarik tangan Leo yang masih memegang botol minum dan tampak sekali dia masih kehausan. Leo pun mengabaikan celananya yang basah dan melanjutkan memberi Maisy minum.
Setelah selesai, Maisy meminta turun dari pangkuan Leo dan Leo melepaskannya. Bersamaan dengan itu, seseorang tak sengaja menabrak Maisy sehingga membuat Maisy hampir saja terjengkang.
__ADS_1
Leo sontak saja refleks mengambil Maisy ke dalam gendongannya dan melihat siapa orang yang sudah menabrak Maisy.
"Maaf, maaf. Saya tak sengaja," ucap orang itu yang ternyata adalah seorang pria yang juga pengunjung hotel.
"Punya mata tidak, ha? Apa tak lihat ada anak kecil?" bentak Leo.
Suara Leo sampai menarik perhatian pengunjung lainnya. Bahkan suara Leo juga menarik perhatian Maisy dan membuat Maisy menangis. Leo pun memeluk Maisy.
"Saya benar-benar tak sengaja, maafkan Saya," ucap pria itu.
"Maksudnya maaf saja bisa membuat ini tak ketakutan, ha? Tak lihat anak ini jadi menangis?" geram Leo seraya menarik kerah pakaian yang dikenakan pria itu. Sedangkan satu tangan lainnya mencoba menahan Maisy di gendongannya.
Hal itu tentu saja menarik perhatian Lili dan pengasuh Maisy yang baru saja kembali dari kamar mandi. Pengasuh Maisy dan Lili pun bergegas menghampiri Leo.
"Ada apa?" tanya Lili.
Leo melihat Lili sekilas dan kembali melihat pria itu.
"Tolong maafkan Saya, Saya benar-benar tak sengaja menyenggol anak Anda," ucap pria itu.
Lili pun mulai mengerti keributan yang terjadi, dia langsung mengambil Maisy dan menyerahkannya pada pengasuh. Dia meminta pengasuh untuk membawa Maisy menjauh dari meja itu.
"Ada apa?" tanya Lili.
"Di mana otakmu? Kenapa justru menyalahkan anak kecil!" kesal Leo akan mendekati orang itu.
Lili pun bergegas menarik tangan Leo.
"Baiklah, tidak apa-apa. Anda pasti tak sengaja," ucap Lili.
"Ya, Saya memang tak sengaja," ucap pria itu dan meninggalkan Lili juga Leo.
Leo menarik tangannya dan merapikan pakaiannya.
"Ada apa denganmu? Apa tak bisa bicara baik-baik?" tanya Lili.
"Bicara baik-baik apanya? Dia hampir membuat anakmu jatuh! Lagian, mengambil sarapan lama sekali, mengambil sarapan atau apa, ha? Begitu saja lambat, sedangkan anakmu ditinggalkan!" kesal Leo.
"Lho, bukannya kamu yang memintaku untuk mengambil sarapan? Aku pikir kamu akan menjaga Maisy," ucap Lili.
"Maksudmu semua salahku?" tanya Leo seraya menatap Lili dengan marah.
__ADS_1
Lili menahan napasnya dan hanya diam melihat Leo. Leo pun mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Aku sudah tak berselera sarapan! Menyebalkan sekali!" gerutu Leo dan meninggalkan restoran.
Lili melihat ke sekeliling, dan tampak ada yang melihat ke arahnya. Leo benar-benar membuatnya malu. Tak seharusnya Leo bersikap seperti itu, apalagi jika benar orang itu memang tak sengaja menyenggol Maisy dan hampir membuat Maisy terjatuh. Sekarang, tak hanya Leo saja yang kehilangan selera sarapannya, bahkan Lili pun menjadi tak selera sarapan.
Lili pun akhirnya mengambil stroller Maisy dan mendorongnya untuk ke kamar. Di perjalanan menuju kamar, dia rasanya tak tahan ingin memarahi Leo. Begitu sampai di dalam kamar, dia melihat pengasuh Maisy sedang sendirian.
"Di mana Maisy?" tanya Lili.
"Non kecil bersama Tuan, Nyah," ucap pengasuh.
Lili menghela napas dan berniat menghampiri Leo di kamar. Namun, pengasuh kembali memanggilnya.
"Tadi, Tuan Leo memarahi Saya. Maafkan Saya, Nyah. Saya benar-benar tak bermaksud meninggalkan non kecil," ucap pengasuh.
Lili tak mengatakan apapun dan bergegas memasuki kamar. Dia tiba-tiba terdiam ketika melihat Leo dan Maisy yang sedang tertawa bersama. Entah apa yang membuat mereka berdua tertawa sebegitu bahagianya.
"Ehem!" Lili berdeham dan Leo mengabaikan Lili.
Lili lantas melihat jam di ponselnya yang ada di atas nakas. Waktu menunjukan pukul 7 lewat.
"Kenapa kamu belum mandi? Aku bisa menjaga Maisy, mandi saja jika mau mandi. Kamu akan terlambat ke kantor," ucap Lili.
"Malas," ucap Leo.
Lili mengerutkan dahinya mendengar apa yang Leo katakan.
"Maksudmu, kamu takan ke kantor?" tanya Lili.
"Ya," ucap Leo singkat dan kembali bermain dengan Maisy.
"Tapi kenapa? Ini bukan hari libur," ucap Lili.
"Aku tahu," ucap Leo.
Leo lantas melihat pada Lili.
"Aku lapar, kenapa tak sekalian ambilkan sarapanku?" tanya Leo.
Lili pun menaikan satu alisnya. Bukankah sebelum meninggalkan restoran tadi, Leo mengatakan tak berselera sarapan? Kenapa sekarang jadi berubah pikiran? Pikir Lili.
__ADS_1