
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di kediaman Leo. Leo baru saja terbangun dari tidurnya.
Ya, hari ini dia bangun sangat terlambat. Sudah sejak kemarin dia tak pergi bekerja dan akhirnya mendapatkan teguran dari Nio. Namun, lagi-lagi sepertinya dia takkan pergi bekerja hari ini.
Leo lantas mendudukan tubuhnya dan bersandar sejenak, setelah itu dia melihat ke sekelilingnya yang tampak tak ada siapapun. Dia pun akhirnya mengusap wajahnya dan mengusap wajahnya. Dia hampir melupakan bahwa sejak kemarin Lili tak tinggal lagi di kediamannya.
Dia lantas mengambil ponselnya dan mencoba memeriksa ponselnya. Dia pikir, mungkin akan ada pesan ataupun panggilan dari Lili. Namun, rupanya tak ada pesan ataupun panggilan dari Lili. Yang ada justru pesan dari Florence yang mengingatkannya tentang syukuran kantor barunya.
"Aku hampir melupakan acara itu," ucap Leo dan bergegas ke kamar mandi. Dia pun memilih mandi dan setelah itu pergi dari kediamannya.
Beberapa waktu berlalu, Leo akhirnya menghentikan mobilnya di depan pintu pagar kediaman rumah Lili.
Ya, dia kembali mendatangi kediaman Lili. Dia melihat-lihat ke sekelilingnya dan mencoba melihat ke dalam pintu pagar kediaman baru Lili, dia masih merasa penasaran dan berpikir bahwa Lili benar-benar datang ke rumah itu. Namun, ada yang membuatnya masih merasa bingung.
'Kenapa tak ada mobil atau apapun yang membuatku yakin ada seseorang yang menempati rumah ini?' batin Leo heran.
Leo pun teringat kembali pada orang yang sebelumnya memberitahunya bahwa rumah itu adalah rumah yang tak berpenghuni. Leo pun menunggu beberapa menit di sana untuk memastikan Lili benar-benar ada di sana. Namun, setelah menunggu dia tak kunjung melihat keberadaan Lili.
"Aku seperti orang bodoh terus menunggu begini, sebaiknya aku pergi!" kesal Leo dan akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area itu.
Di perjalanan, Leo yang merasa kesal pada Lili pun lantas mencoba menepikan mobilnya dan menghentikannya. Dia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Lili. Namun, tiba-tiba dia terpikir sesuatu.
"Kenapa aku seperti seorang pengemis yang memohon-mohon agar seorang wanita kembali padaku? Aku yakin, dia takkan lama bertahan di luar sana. Dia pasti akan kembali padaku sebentar lagi," ucap Leo penuh percaya diri.
Leo pun menghela napas dan tersenyum. Dia tak sengaja melihat jam di pergelangan tangannya dan melihat waktu hampir memasuki jam makan siang. Tak lama masuk sebuah panggilan dan ternyata itu dari Florence. Florence lagi-lagi mengajaknya makan siang bersama dan dia pun menyetujuinya.
Sesampainya di salah satu restoran, Leo menghampiri Florence yang sudah datang lebih dulu. Florence melemparkan senyuman dan dibalas oleh Leo. Leo lantas duduk di hadapan Florence.
"Sepertinya ada yang berbeda denganmu," ucap Florence seraya tersenyum. Leo lantas mengerutkan dahinya dan melihat dirinya sendiri.
"Apa kamu tak ke kantor?" ucap Florence.
Leo pun baru memahami bahwa dia memang tak berpenampilan layaknya orang yang akan pergi ke kantor.
"Ya," ucap Leo.
Florence pun mengangguk dan akhirnya mereka memesan makan siang. Setelah pesanan minuman sampai, Florence terus memperhatikan Leo membuat Leo yang menyadari itu mulai menegur Florence.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Leo dan diangguki oleh Florence.
"Apa itu?" tanya Leo penasaran.
"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Florence. Leo pun terdiam.
"Aku melihat dirimu tak sesemangat kemarin," ucap Florence.
Leo mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Benarkah? Aku biasa saja," ucap Leo, kemudian tersenyum kecil. Dia pun mengambil minumannya dan mulai menyesapnya.
"Tapi aku merasa dirimu tak baik-baik saja, Leo," ucap Florence.
"Apa sekarang kamu menjadi paranormal?" ucap Leo, kemudian tersenyum kecil.
Florence menghela napas.
"Setidaknya aku masih ingat seperti apa dirimu saat kamu sedang tak baik-baik saja," ucap Florence.
Leo pun terdiam.
"Leo, sejak kita berpisah tak ada siapapun yang aku percayai. Aku bahkan tak memiliki teman. Tapi setelah bertemu kembali denganmu, aku kemudian mulai berpikir tak ada salahnya aku memiliki teman, aku pikir aku harus mulai membuka diriku dan melupakan semua masa laluku. Aku pikir aku harus benar-benar berdamai dengan masa laluku," ucap Florence, kemudian tersenyum.
Leo lagi-lagi terdiam. Dia sedikit bingung dengan apa yang Florence katakan.
"Leo, kita bisa menjadi teman 'kan mulai sekarang? Aku juga tak ingin melupakan karena siapa aku bisa membangun bisnisku," ucap Florence.
"Jadi maksudmu kamu ingin membalas budi untuk apa yang kamu miliki sekarang?" ucap Leo.
"Kenapa tidak, aku tak ingin berhutang dan aku akan membalas kebaikan siapapun selama aku bisa," ucap Florence.
"Benarkah?" ucap Leo, Florence lantas mengangguk.
Leo pun mengembuskan napas sedikit cepat.
"Maksudmu?" ucap Florence dan diangguki oleh Leo.
"Tentu saja kita bisa berteman, tapi aku tak membutuhkan balas budi apapun darimu karena aku tak pernah memberikan apapun padamu, itu semua Papiku yang memberikannya," ucap Leo.
"Apa Lili takkan marah?" tanya Florence bingung. Dia tak percaya Leo akan mengatakan setuju untuk menjadi temannya. Apakah ada pria seperti Leo lagi di dunia ini? Atau mungkin hanya Leo seorang? Entahlah, dia benar-benar bingung dengan Leo.
"Kenapa kamu baru menanyakan itu?" tanya Leo.
Florence pun terdiam. Dia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Leo.
"Kamu sepertinya bingung dengan apa yang aku katakan," ucap Leo.
Florence hanya tersenyum canggung.
"Aku hanya bercanda, Flo. Tak perlu memikirkan ucapanku," ucap Leo, kemudian tersenyum.
Florence yang masih merasa canggung pun akhirnya mengambil minumannya dan meminumnya. Dia enggan melihat Leo kembali padahal dia masih tak mengerti apakah Leo akhirnya mau berteman dengannya atau tidak setelah Leo mengatakan mengapa dirinya baru menanyakan tentang Lili yang akan marah atau tidak jika tahu mereka berteman? Namun, ada yang membuatnya yakin bahwa Leo memang sedang memiliki masalah dan bahkan dia berpikir masalah Leo berkaitan dengan Lili.
'Aku yakin dia pasti masih sama seperti dulu, dia pasti masih seorang bajingan,' batin Florence seraya tersenyum remeh dalam hatinya.
***
__ADS_1
Ke esokan harinya di kediaman Lili.
Lili mulai bersiap-siap, dia berencana untuk datang tepat waktu ke tempat kerjanya karena tak ingin memberikan kesan yang buruk di hari pertamanya bekerja.
Selesai bersiap, Lili menghampiri Maisy yang sedang bersama pengasuhnya. Dia mengecup kepala Maisy.
"Apa Anda akan pergi, Nyonya?" tanya pengasuh.
"Ya, mulai sekarang saya akan bekerja," ucap Lili.
"Bekerja?" ucap sang pengasuh terlihat shock.
"Ya, saya akan pergi sekarang," ucap Lili dan bergegas keluar rumah. Dia memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju tempat yang kemarin dia datangi.
Sesampainya di sana, Lili lagi-lagi bertemu dengan wanita yang kemarin dia temui. Wanita itu rupanya adalah asisten dari pemilik perusahaan itu.
"Oh ya, apa saya bisa memanggilmu dengan Lili saja?" ucap wanita itu, Lili lantas tersenyum.
"Tentu saja, kita juga rekan kerja sekarang," ucap Lili.
"Ya, kamu bisa memanggilku Lysa saja. Dan ya, apa kamu sudah tahu bahwa sebenarnya kita akan segera pindah kantor?" ucap Lysa.
Lili menggelengkan kepalanya.
"Memangnya ada apa dengan kantor ini?" tanya Lili.
"Tidak apa-apa, hanya saja kantor sebenarnya baru saja selesai dibangun dan kita semua akan segera pindah ke kantor yang baru," ucap Lysa, kemudian tersenyum. Wanita itu benar-benar sangat ramah.
"Aku mengerti," ucap Lili.
Lysa pun menunjukan meja kerja Lili.
"Oh ya, jadi biasanya jam berapa atasan kita datang ke sini?" tanya Lili tepat ketika Lysa akan meninggalkan Lili.
"Dia sedang sibuk, jadi kita akan bertemu saat acara peresmian kantor baru. Tapi Lili, sebelumnya ada berkas yang harus kamu tanda tangani," ucap Lysa seraya menunjuk sebuah berkas yang ada tepat di depan Lili.
"Berkas apa itu?" tanya Lili.
"Berkas berisikan kontrak kerjamu sebagai karyawan di sini, kamu bisa melihatnya dulu apakah sudah sesuai yang kita bicarakan kemarin atau tidak, jika masih ada yang membuatmu keberatan, kita bisa membicarakannya lagi. Tapi jika sudah sesuai, kamu bisa langsung menandatanganinya dan aku akan mengambilnya kembali," ucap Lysa.
"Aku mengerti," ucap Lili seraya tersenyum.
"Kalau begitu, selamat bekerja," ucap Lysa seraya menepuk beberapa tumpukan berkas lainnya yang membuat Lili langsung menghela napas.
"Aku akan mempelajari semua ini," ucap Lili tersenyum dan Lysa pun tersenyum. Dia lantas meninggalkan Lili.
Lili kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia pun tersenyum penuh antusias.
__ADS_1
"Jika Lysa saja seramah itu, atasanku pasti orang yang lebih dari itu, dia pasti orang yang luar biasa. Aku jadi penasaran dan ingin melihatnya," ucap Lili.