ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART - SIAPA ANAK LELAKI ITU?


__ADS_3

Lysa terdiam. Dia tahu Florence pasti tersinggung dengan ucapannya. Dia tak bisa menahan kekecewaannya terhadap keputusan Florence yang menukar posisinya dengan Lili. Dia marah hanya saja tak bisa secara blak-blakan meluapkan kemarahannya karena Florence adalah atasannya.


"Beraninya kamu menyebut nama wanita itu di depan saya!" geram Florence membuat Lysa terdiam bingung.


Entah apa maksud Florence mengatakan itu.


'Jadi dia bukan marah karena tersinggung dengan ucapanku? Memangnya apa yang Lili lakukan?' batin Lysa penasaran.


"Keluar dari sini dan lakukan apa yang saya katakan jika kamu masih mau bekerja di sini!" geram Florence dan kembali duduk.


Lysa pun tak mengatakan apa-apa dan pergi menuju pintu.


"Satu lagi, cari manajer keuangan yang baru!" perintah Florence membuat Lysa berhenti sejenak, dia lantas melihat Florence sebentar. Setelah itu dia keluar dari ruangan Florence.


Dia menutup pintu ruangan itu dan terdiam seraya melihat pintu ruangan itu.


'Apa yang Lili lakukan sebenarnya? Kenapa sepertinya Bu Florence sangat marah padanya?' batin Lysa semakin penasaran.


Di tengah memikirkan hal itu, Lysa dibuat terkejut oleh Florence yang tiba-tiba membuka pintu ruangannya.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Florence seraya menatap Lysa dengan tak senang.


"Saya akan pergi sekarang, permisi," ucap Lysa dan bergegas meninggalkan Florence.


Florence menutup wajahnya dan mengembuskan napas berat. Baru saja dia akan melangkahkan kakinya. Namun, dia tersentak oleh dering panggilan masuk di ponselnya. Dia pun memilih mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan telepon dari seorang wanita bernama Siti.


'Ya, halo?' ucap Florence menjawab panggilan tersebut.


'Halo, Nya. Saya akan langsung ke rumah sakit, Anda bisa menyusul ke sana. Saya sangat khawatir pada Tuan kecil,' ucap wanita bernama Siti itu.

__ADS_1


'Ya, baiklah. Beritahu saja ke rumah sakit mana kamu akan membawanya,' ucap Florence dan bergegas menutup telepon. Setelah itu dia keluar dari kantornya.


Dia memasuki mobilnya dan melajukannya meninggalkan kantornya. Di wajahnya tampak tersirat kegelisahan sekarang.


Di sepanjang perjalanan dia pun terlihat tak tenang, apalagi setelah melihat pesan dari wanita bernama Siti tadi yang mengirimkan sebuah alamat rumah sakit padanya. Dia langsung menambah kecepatan laju mobilnya seolah dia ingin segera sampai ke tempat di mana wanita bernama Siti itu berada.


***


Sesampainya di sebuah rumah sakit Florence keluar dari mobilnya dan memasuki rumah sakit dengan terburu-buru. Dia melihat Siti yang baru saja keluar dari ruang unit gawat darurat. Dia lantas bergegas menghampiri Siti.


"Apa yang terjadi?" tanya Florence.


"Tiga hari yang lalu tubuh tuan kecil demam, Nya. Saya sudah memberinya obat demam, dan saya pikir itu sudah cukup membuatnya lebih baik karena demamnya sempat turun. Tapi, sebelum saya menghubungi Nyonya tadi, tuan kecil demam lagi dan tubuhnya kejang," ucap Siti.


"Dan kamu baru memberitahu saya sekarang?" ucap Florence tampak terkejut.


"Maaf, Nya. Saya sudah menghubungi Anda sejak kemarin, tapi Anda tidak menjawab panggilan saya, jadi saya pikir Anda sedang sibuk dan saya tidak berani menghubungi Anda lagi. Tapi, saya juga sudah mencoba mengi --" Belum sempat Siti menyelesaikan ucapannya, dia dibuat terkejut oleh Florence yang tiba-tiba meraih tangannya.


"Bukankah kamu bisa mengirimkan pesan pada saya? Saya akan membaca pesanmu!" ucap Florence terdengar kesal seraya mengempaskan tangan Siti.


"Saya sudah mengirimkan pesan pada Anda, tapi Anda bahkan tidak membaca pesan saya," ucap Siti.


"Kamu membuat kesalahan tapi masih berani mendebat saya? Jangan lupa, Siti. Saya membayarmu untuk menjaganya, bukan untuk membuatnya sakit!" geram Florence membuat Siti akhirnya tak bisa berkata-kata lagi.


Florence lantas melewati Siti begitu saja. Dia tampak marah sekarang, dia bahkan tak berbalik untuk melihat Siti yang dia tabrak saat melewati Siti. Padahal, Siti tampak sedikit kesakitan di bagian bahunya karena bagian itulah yang Florence tabrak.


Florence memasuki ruang unit gawat darurat dan melihat seorang anak lelaki yang usianya mungkin sekitar 2 tahunan terbaring di atas brankar. Di punggung tangannya sudah terpasang selang infus dan itu membuatnya terdiam.


Setelah itu seorang perawat yang juga berada di ruangan itu melihat ke arah Florence dan menyapa Florence. Florence lantas mendekati perawat itu dan menanyakan keadaan anak lelaki itu.

__ADS_1


"Saya sudah mengambil sampel darahnya dan sudah dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Begitu hasilnya keluar, kami akan memberitahu Anda. Sekarang, kami memberikan infus water padanya karena tubuhnya sangat lemah dan menurut perawatnya tadi, sudah sejak kemarin dia terus muntah dan hanya sedikit nutrisi yang masuk ke tubuhnya," ucap perawat itu.


Florence terdiam seraya melihat anak lelaki itu. Dia semakin tak tenang sekarang. Entah apa yang terjadi padanya. Padahal, sebelumnya dia tak pernah merasakan perasaan seperti itu ketika melihat anak lelaki. Dia bahkan tidak peduli pada anak itu.


"Berapa lama dia harus di sini?" tanya Florence seraya kembali melihat perawat itu.


"Kami masih harus memantau keadaannya, jadi Anda bisa mengurus ruang rawat untuk pasien," ucap perawat.


"Terima kasih," ucap Florence dan perawat keluar dari ruangan itu.


Florence melihat ke pintu ketika pintu itu terbuka setelah sebelumnya ditutup oleh perawat. Dia melihat Siti lah yang memasuki ruangan itu.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini!" ucap Florence dengan penuh penekanan.


"Maaf, Nya. Saya minta maaf untuk kejadian ini, saya sudah berusaha merawat tuan kecil," ucap Siti.


"Kamu masih bisa mengatakan merawatnya setelah kamu hampir membunuhnya? Apa sebenarnya yang kamu pikirkan, apa saya menelantarkan kalian? Apa saya tak memberimu uang untuk mengurusnya? Kenapa kamu baru membawanya ke Rumah Sakit sekarang, ha?" geram Florence seraya menatap wajah Siti.


Wanita yang tampak seusia dengan Florence itu terlihat takut menghadapi Florence sekarang.


"Saya tak ingin melihat wajahmu lagi!" ucap Florence dengan nada bicara yang lagi-lagi terdapat penekanan.


Siti berusaha membuka mulutnya, dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tiba-tiba Florence mendorong bahunya.


"Saya memecatmu, Siti!" tegas Florence dan Siti lagi-lagi berusaha mengatakan sesuatu. Namun, Florence tak memberinya kesempatan dan bergegas menyeretnya keluar dari ruangan itu.


"Sudah bagus saya hanya memecatmu, kamu benar-benar tak becus mengurus anak-anak. Saya akan memberimu pelajaran jika terjadi hal buruk pada William!" geram Florence seraya menunjuk wajah Siti dengan penuh kemarahan.


"Nya --"

__ADS_1


Brak!


Siti tersentak, dia shock ketika Florence tiba-tiba menutup pintu ruangan itu dengan keras.


__ADS_2