
Setelah jam makan siang, Leo dan Lili Chek-out dari hotel. Mereka memasuki mobil dan mulai meninggalkan area hotel.
Di perjalanan kembali ke rumah, Leo mendapatkan panggilan telepon. Dia mengambil ponselnya dan ternyata panggilan itu dari Sisil. Entah ada apa lagi Sisil menghubunginya? Dia pikir semua urusan dengan Sisil telah selesai setelah dia memecat Sisil dari kantornya.
Leo menolak panggilan itu dan mesenyapkan nada deringnya. Dia malas menjawab panggilan Sisil. Lagipula, di sisinya ada Lili. Jangan sampai Lili menanyakan banyak hal karena dia telah mengatakan pada Lili dia telah memecat Sisil.
Begitu sampai di halaman rumah, Lili dan pengasuh Maisy yang menggendong Maisy keluar lebih dulu dari mobil. Sementara itu, Leo kembali mendapatkan panggilan dari Sisil.
Leo pun mengabaikan panggilan itu lagi, dia menolaknya. Namun, ternyata ada pesan masuk dari Sisil.
'Leo, kenapa kamu melupakan meeting dengan klien? Aku sudah membuatkan jadwalnya sejak beberapa bulan lalu, seharusnya kamu tak melupakannya. Apa kamu tak memeriksanya jadwalmu lagi?' ucap Sisil.
Leo terdiam. Dia merasa bingung, ada meeting apa hari ini? Pikirnya. Dia juga belum melihat lagi jadwal kerjanya.
Leo pun menghubungi Sisil dan Sisil langsung menjawab panggilannya.
'Ya ampun ... Sangat susah menghubungimu,' ucap Sisil.
'Meeting apa maksudmu?' tanya Leo.
'Meeting dengan klien dari Amerika. Mereka telah datang sejak tadi pagi, dan seharusnya kamu meeting sambil makan siang dengan mereka,' ucap Sisil.
Sepertinya sekarang Sisil lebih leluasa lantaran dia sudah tak terikat pekerjaan lagi dengan Leo. Dia tak perlu bicara formal pada Leo.
Leo menepuk dahinya. Dia benar-benar melupakan hal itu.
'Apa Kak Nio tak mencoba menemui mereka?' tanya Leo.
Antonio Sasongko, atau pria yang biasa disapa Nio itu adalah kakak kandung Leo. Dia menjabat sebagai Direktur utama di perusahaan keluarga yang juga ada Leo sebagai manajer operasional di dalamnya.
'Itu pekerjaan yang dijadwalkan untukmu. Pak Nio pasti berpikir dirimu akan menanganinya. Pak Nio juga sibuk, karena itu dia tak bisa hadir. Tadi siang, justru aku dan perwakilan dari kantor yang menemui mereka. Mereka juga terus saja menghubungiku, karena mereka pasti berpikir aku masih sekretarismu. Mereka ingin bertemu langsung denganmu,' ucap Sisil.
Leo menghela napas. Matilah sudah, pertemuan itu sangat penting dan seharusnya dia tak mengabaikannya.
'Aku sudah membuat alasan pada mereka, aku memberitahu mereka bahwa terjadi sesuatu dengan dirimu. Sekarang, terserah dirimu bagaimana akan menghadapi mereka, kamu akan datang ke pertemuan itu atau tidak, itu masalahmu,' ucap Sisil.
Leo melihat layar ponselnya ketika melihat kontak sang kakak menghubunginya.
'Kalau begitu, atur pertemuan untuk malam ini dan katakan pada mereka bahwa aku akan datang menemui mereka, seharusnya mereka masih ada di Jakarta,' ucap Leo.
'Aku bukan sekretarismu lagi, kenapa harus aku? Cukup tadi siang aku membantumu, sekarang aku tak mau lagi,' ucap Sisil.
__ADS_1
Leo menghela napas. Benar saja, dia sudah memecat Sisil. Jelas saja Sisil menolak, pekerjaan itu bukan tanggung jawab Sisil lagi.
'Aku akan membayarmu,' ucap Leo.
Terdengar Sisil yang akan kembali bicara. Namun, Leo justru menyela ucapan Sisil.
'Aku akan membayarmu untuk malam ini, jadi temani aku saat menemui mereka,' ucap Leo dan mengakhiri panggilan.
Leo lalu menekan panggilan menuju kontak sang kakak dan tak lama kontak sang kakak menjawab panggilannya.
'Halo, Kak. Ada apa menghubungiku?' tanya Leo.
'Kenapa kamu tak datang ke pertemuan itu?' tanya Nio.
'Aku melupakannya,' ucap Leo.
'Bagaimana mungkin kamu ingat? Kamu bahkan tak masuk kantor,' ucap Nio.
'Masalah itu, aku terlalu bersenang-senang dengan keluargaku,' ucap Leo.
'Apa itu alasan? Seharusnya kamu bisa mengatur waktumu. Apa kamu lupa? Saat dulu Papi mengirimmu ke kantor cabang di Bandung? Apa kamu ingin kembali ke sana?' tanya Nio.
Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
'Ya, aku akan mengurusnya,' ucap Leo, kemudian telepon itupun berakhir.
Leo meremas ponselnya. Seketika dia menjadi kesal, terlebih setelah mendengar tentang dirinya yang sebelumnya dikirim ke kantor cabang, itu benar-benar menyebalkan.
Leo pun keluar dari mobil dan memasuki rumah. Dia melihat Lili ada di kamar. Sementara itu, Maisy sedang bersama pengasuhnya di ruangan lain.
Leo melihat jam tangannya dan waktu hampir menunjukan pukul setengah 2.
"Malam ini aku akan keluar, tolong siapkan pakaianku," ucap Leo.
"Keluar untuk apa?" tanya Lili.
Leo melihat Lili dan menghela napas.
"Pekerjaan," ucap Leo dan melepaskan jam tangannya. Dia meletakan jam tangannya di atas nakas.
"Maksudmu, kamu ada pertemuan untuk membahas pekerjaan di malam hari?" tanya Lili.
__ADS_1
Leo lagi-lagi melihat Lili.
"Aku melupakan hari ini ada pertemuan penting," ucap Leo.
Lili mengerutkan dahinya.
"Kak Nio barusan mengingatkanku tentang itu. Seharusnya aku menemui mereka di jam makan siang tadi, tapi aku lupa," ucap Leo.
Ya, Nio adalah alasan terbaiknya. Karena Nio memang benar-benar menghubunginya dan mengingatkannya tentang pertemuan itu. Tak mungkin dia mengatakan bahwa, mantan sekretarisnya lah yang lebih dulu mengingatkannya tentang pertemuan itu.
Lili diam-diam memperhatikan raut wajah Leo yang tampak tak bersemangat. Nio pasti bukan hanya mengingatkan Leo, Lili pikir Nio juga pasti memarahi Leo. Padahal, sebelumnya Leo terlihat bersemangat.
Lili juga jadi merasa tak enak hati. Karena Leo memilih menemani Maisy dan dirinya seharian ini, Leo jadi melupakan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan.
"Akan aku siapkan," ucap Lili dan tersenyum.
Leo terdiam melihat senyuman Lili. Tumben sekali istrinya itu tersenyum tulus seperti itu. Biasanya, sangat susah membuat istrinya itu tersenyum.
Leo pun diam-diam memperhatikan Lili yang berjalan menuju ruang ganti. Dia lalu keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerjanya. Di sana, dia menghubungi Sisil dan meminta Sisil mengirimkan salinan dokumen yang akan dia bahas dengan kliennya nanti malam. Memang sangat repot jika tak memiliki sekretaris, entah kapan dia akan mendapatkan sekretaris baru? Masih beruntung Sisil mau membantunya. Setidaknya, wanita yang sudah dia campakkan itu tak dendam padanya, pikirnya.
Hingga hampir pukul 4 sore Leo berada di ruang kerjanya untuk memeriksa dokumen penting itu. Dia benar-benar serius memeriksa semua hal penting dalam dokumen itu. Sepertinya, dia enggan kembali dikirim ke cabang perusahaan Bandung.
Di tengah kegiatannya, pintu ruang kerja terbuka dan perhatiannya pun tertuju pada Lili yang memasuki ruang kerjanya seraya membawa segelas jus di tangannya. Lili menghampirinya dan menyodorkan jus itu padanya.
Leo pun mengambil jus itu dan meminumnya.
"Leo," ucap Lili dan Leo yang masih meminum jusnya lantas melihat Lili.
"Terima kasih sudah bermain dengan Maisy seharian ini. Ya, meskipun kamu akhirnya melupakan tanggung jawabmu terhadap pekerjaan," ucap Lili.
Leo meletakan kedua tangannya di atas meja dan satu tangannya kemudian menopang dagunya. Dia menatap Lili membuat Lili tersenyum.
"Aku diam-diam merekam saat kamu bersama Maisy di kolam," ucap Lili.
"Oh ya? Seperti apa rekamannya?" tanya Leo.
"Apa kamu mau lihat?" tanya Lili seraya mengerutkan dahinya.
Leo pun mengangguk.
"Baiklah, akan aku kirimkan," ucap Lili dan berbalik. Dia bergegas keluar dari ruang kerja Leo.
__ADS_1
"Ah ... Dia memang lain dari pada wanita lain yang biasanya akan bahagia jika mendapatkan barang branded!" ucap Leo seraya mengulat untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku lantaran duduk cukup lama. Lihatlah, istrinya itu terlihat antusias setelah dia mengiyakan pertanyaan tadi.
Lili terlihat senang hanya karena dirinya mengatakan mau melihat rekaman video yang Lili ambil. Sedangkan saat dia membelikan gaun dan heels yang biasanya disukai para wanita, Lili justru marah-marah.