
Menjelang jam makan siang, Sisil bersiap untuk meninggalkan meja kerjanya. Dia tampak antusias kali ini. Dia pikir, apa yang dia bahas dengan Leo tadi pagi, akan kembali dia bahas di jam makan siang.
Ya, dia berniat mengajak Leo untuk makan siang bersama. Namun, dering telepon di meja kerjanya tiba-tiba membuat perhatiannya teralihkan. Dia pun menjawab panggilan itu setelah melihat bahwa, panggilan itu berasal dari bagian HRD.
'Halo,' ucap Sisil.
'Halo, Sisil. Bisakah ke ruangan Saya? Ada titipan untukmu,' ucap orang itu.
Ya, itu adalah orang yang sebelumnya diminta membuat surat pemutusan kontrak kerja oleh Leo. Sepertinya, dia telah menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Namun, Sisil justru dibuat bingung.
'Baiklah, tapi titipan dari siapa?' tanya Sisil penasaran sekaligus bingung. Jika itu titipan dari luar, kenapa justru dititipkan ke HRD? Bukankah bisa dititipkan ke resepsionis? Pikirnya.
'Datang dan lihatlah sendiri, Saya tak bisa memberitahumu melalui telepon,' ucap orang itu.
'Ya sudah, Saya akan ke sana,' ucap Sisil, kemudian telepon itu berakhir.
Sisil meletakan telepon dan baru saja dia akan meninggalkan mejanya, tetapi pintu ruang kerja Leo terbuka. Sisil tampak bingung melihat Leo.
"Apa Anda akan pergi keluar?" tanya Sisil.
"Ya," ucap Leo kemudian tersenyum.
"Baiklah, tadinya Saya ingin mengajak Anda makan siang bersama," ucap Sisil.
Leo menaikan satu alisnya.
'Apa dia sudah mendapatkan surat pemecatannya?' batin Leo penasaran. Namun, raut wajah Sisil sepertinya tak menunjukan reaksi berlebihan.
"Tapi Saya diminta datang ke bagian HRD, jadi Saya akan menemui HRD dulu," ucap Sisil.
"Oh, ya. Kalau begitu bareng saja, Saya juga akan turun," ucap Leo seraya mengulurkan tangannya seakan meminta Sisil untuk berjalan lebih dulu menuju lift.
Sisil tersenyum seraya mengangguk. Dia lantas berjalan menuju lift dan Leo berjalan di belakang Sisil. Keduanya pun memasuki lift.
Tak ada yang bicara, hingga akhirnya lift sampai di lantai di mana bagian HRD berada. Sebelum keluar dari lift, Sisil menahan pintu lift dengan menekan tombol lift agar pintu lift tetap terbuka.
"Ngomong-ngomong, akan makan siang di mana?" tanya Sisil.
"Aku akan keluar, bertemu teman lama," ucap Leo kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Kupikir dekat kantor, aku ingin makan siang bersamamu," ucap Sisil.
Kali ini, keduanya tak seformal sebelumnya. Itu karena sebelumnya ada cleaning service di dekat mereka, sedangkan di dalam lift itu kini hanya ada mereka berdua.
"Kamu menahan perjalananku," ucap Leo, sontak Sisil tersadar dia sudah cukup lama menahan pintu lift.
"Baiklah, aku harap kamu bersenang-senang dengan temanmu," ucap Sisil.
"Tentu," ucap Leo, kemudian Sisil keluar. Leo pun melanjutkan tujuannya menuju lantai dasar.
Sementara itu, Sisil berjalan menuju bagian HRD dan di sana seseorang yang sebelumnya menghubunginya terlihat menyambutnya.
"Ada titipan apa sebenarnya? Dari siapa?" tanya Sisil penasaran.
"Mari ke ruangan Saya, kita bicara di sana," ucap orang itu dan Sisil pun mengikuti orang itu menuju ruang kerja orang itu.
Sesampainya di sana, Sisil diminta duduk oleh orang itu dan Sisil pun melakukannya. Tak lama orang itu duduk di hadapan Sisil dan menyodorkan sebuah amplop cokelat ke hadapan Sisil.
"Apa ini?" tanya Sisil bingung.
"Itu titipan untukmu, bacalah," ucap orang itu, kemudian Sisil terdiam sejenak.
"Ayok, bacalah. Itu titipan dari Pak Leo untukmu," ucap orang itu.
"Pak Leo?" ucap Sisil semakin dibuat bingung. Kenapa Leo tak mengatakan apapun saat keduanya bertemu tadi? Pikirnya.
Sisil pun bergegas membuka amplop itu dan mengerutkan dahinya ketika melihat berkas yang bertuliskan surat pemutusan kontrak kerja.
"Apa-apaan ini? Apa kamu bercanda?" tanya Sisil seraya melihat orang itu dengan raut wajah yang jelas sekali merasa tak senang.
Bagaimana tidak? Dia tak merasa melakukan kesalahan apapun. Namun, kenapa tiba-tiba perusahaan justru ingin memecatnya? Jika pun dia membuat kesalahan, bukankah seharusnya dia mendapatkan surat peringatan terlebih dahulu? Pikir Sisil.
"Maksudmu, Pak Leo bercanda ingin memecatmu?" tanya orang itu seraya menaikan satu alisnya.
Sisil bangkit dari kursinya dan menekan berkas itu ke atas meja. Dia menatap orang itu dengan tatapan marah.
"Apa Anda sedang membuat lelucon? Bagaimana bisa Anda memecat Saya? Memangnya siapa Anda?" ucap Sisil geram.
Orang itu bergegas bangkit dari kursinya dan menatap Sisil dengan tak senang.
__ADS_1
"Jika kamu ingin komplen, maka komplen lah pada Pak Leo. Bukankah sudah Saya katakan sejak awal, berkas itu titipan dari Pak Leo. Jadi bukan Saya yang memecatmu," ucap orang itu.
"Omong kosong!" geram Sisil dan mengangkat berkas itu ke depan wajah orang itu.
"Apa Anda tak tahu siapa Saya, ha?" tanya Sisil.
"Sisil, apa kamu tuli? Sudah Saya katakan sejak awal, bahwa berkas itu dibuat atas perintah langsung dari Pak Leo. Jadi, temuilah Pak Leo jika kamu keberatan, Saya hanya menjalankan tugas yang dia berikan," ucap orang itu, kemudian mengulurkan tangannya ke arah pintu.
Sisil benar-benar konyol, pikirnya. Dia saja tak tahu alasan Leo ingin memecat Sisil, kenapa Sisil justru marah padanya?
"Silahkan keluar dari ruangan Saya," ucap orang itu, membuat Sisil meremas berkas itu dan menggeser kursi yang diduduki sebelumnya dengan marah. Setelah itu, Sisil keluar dari ruangan itu.
Orang itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perasaan lega.
'Dia bicara dengan angkuh, memangnya siapa dia bagi Pak Leo? Kenapa juga tak berpikir apa kesalahan yang dia buat sehingga Pak Leo akhirnya memecatnya?' gumam orang itu.
Sementara itu Sisil melangkah menuju lift, dan berniat pergi ke ruangan Leo. Namun, tiba-tiba dia teringat bahwa, Leo belum lama meninggalkan perusahaan.
Sisil pun memasuki lift dengan semakin dipenuhi kemarahan.
'Aku tak percaya dia melakukan ini padaku, apa sebenarnya kesalahanku?' batin Sisil bertanya-tanya.
Begitu lift sampai di lantai yang dituju, Sisil keluar dari lift dan pergi menuju meja kerjanya. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi kontak Leo. Panggilan itu terhubung, tetapi Sisil dibuat terkejut ketika panggilan itu justru ditolak oleh Leo.
Sisil pun menutup wajahnya dengan gelisah.
'Kenapa dia menolak panggilanku? Apa sebenarnya yang terjadi?' batin Sisil.
Sisil pun berniat kembali menghubungi kontak Leo, tetapi sebelum dia mencoba panggilan yang kedua, ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia pun bergegas membuka pesan itu setelah tahu pesan itu dari Leo.
'Ada uang pesangon di atas meja kerja Saya, ambillah dan tinggalkan perusahaan. Pastikan Saat Saya kembali ke perusahaan, dirimu sudah tak ada di perusahaan lagi!'
Sisil terduduk lemas di atas kursi kerjanya, tangannya tiba-tiba gemetar setelah membaca pesan itu.
'Apa maksudnya? Apa dia benar-benar ingin menyingkirkanku?' batin Sisil. Sisil benar-benar dibuat shock oleh apa yang Leo lakukan.
Sisil pun mengusap wajahnya dan mengembuskan napas kasar. Dia pergi ke ruang kerja Leo dan melihat ada amplop cokelat yang terlihat menggembung. Dia bergegas mengambil amplop itu dan membukanya. Ternyata, di dalamnya ada 2 gepok uang pecahan seratus ribuan.
"Dia benar-benar ba*ingan, apa dia benar-benar ingin menyingkirkanku?" geram Sisil.
__ADS_1