
Lili mengambil ponselnya dan memeriksa ponselnya. Sebelumnya Leo sempat merebut ponselnya dan entah apa yang Leo lakukan dengan ponselnya. Namun, Lili curiga Leo melakukan sesuatu di grup alumni sekolah. Lili akhirnya membuka grup itu dan yang membuatnya bingung adalah, grup itu tak terlihat lagi di pesan masuk WhatsApp-nya. Dia mencoba mencari di kontak dan tetap saja tak menemukan grup itu.
Lili pun terdiam bingung.
'Jangan-jangan benar yang aku pikirkan,' batin Lili.
Lili mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah pesan masuk dari kontak teman pria yang sempat memujinya cantik di grup alumni tadi. Dia pun membuka pesan itu.
'Lili, kenapa kamu keluar dari grup?' tanya pria itu.
Lili pun terkejut melihat pesan itu. Seketika dia langsung teringat pada Leo. Tak lama masuk lagi sebuah pesan dari teman wanita yang mengundangnya ke acara pernikahannya di grup tadi. Wanita itupun menanyakan hal yang sama seperti pria tadi.
'Aku yakin dia yang melakukannya,' gumam Lili teringat pada Leo.
Tak salah lagi, memang Leo lah yang mengeluarkan Lili dari grup itu. Tak hanya itu, Leo bahkan menghapus jejak grup itu dari pesan masuk WhatsApp Lili. Perhatian Lili teralihkan ketika pintu kamar terbuka dan terlihat Leo kembali memasuki kamar. Lili pun menatap Leo yang sedang menatapnya, Leo terlihat biasa saja seakan tak terjadi apapun.
'Aku malas berdebat lagi dengannya!' batin Lili kesal dan akhirnya naik ke tempat tidur. Lili pun memilih tidur. Dia tak peduli apa yang akan dilakukan Leo setelah ini, Leo bahkan terlihat tak merasa bersalah karena telah mengeluarkannya dari grup alumni sehingga teman-teman mengira dia sendiri lah yang keluar dari grup itu.
Entah apa yang akan dipikirkan teman-teman setelah dia keluar, dia khawatir teman-temannya akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Lili sekarang pun merasa tak enak hati pada kedua teman yang mengiriminya pesan tadi. Dia tak mengerti harus menjawab apa pada mereka.
Ke esokan harinya.
Leo sudah duduk di meja makan, dia sedang menunggu Lili. Entah mengapa istrinya itu yang terlihat sudah mandi bahkan ketika dia baru membuka mata tadi pagi belum juga sampai di meja makan. Leo berniat sarapan bersama dengan Lili.
Tak lama yang Leo tunggu pun akhirnya terlihat.
Ya, Lili terlihat keluar dari kamar seraya menggendong Maisy. Namun, yang membuat Leo bingung, Lili terlihat rapi memakai dress sebatas lutut. Lili juga tampak membawa tas di tangannya.
Tak hanya itu, Lili memanggil seorang asisten rumah tangga dan meminta asisten rumah tangga itu untuk membawakan stroller Maisy ke depan rumah. Setelah itu Lili pun berjalan ke arah menuju pintu depan rumah. Leo yang melihat itupun lantas dibuat bingung.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Leo, sontak Lili menghentikan langkahnya dan melihat Leo. Dia tampak terkejut melihat Leo.
"Sejak kapan kamu di sana? Aku pikir kamu sudah pergi ke kantor," ucap Lili.
Leo mengerutkan dahinya, apa katanya? Apakah mungkin dirinya yang duduk dengan jarak yang hanya sekitar tiga meter dari pintu kamarnya benar-benar tak terlihat oleh Lili? Pikirnya heran.
Leo lantas menghampiri Lili dan memperhatikan penampilan Lili juga Maisy. Maisy juga terlihat rapi dan memakai sepatu. Padahal, seingatnya jika di rumah Maisy jarang memakai sepatu.
"Aku belum mengatakannya padamu, ya?" ucap Lili.
"Mengatakan apa?" tanya Leo bingung.
"Aku akan sarapan di luar dengan temanku," ucap Lili kemudian tersenyum.
"Apa?" tanya Leo terkejut. Bisa-bisanya Lili mengatakan akan sarapan di luar bersama temannya setelah dia mencoba menunggu Lili agar bisa sarapan bersama, pikirnya.
"Kenapa? Temanku juga sudah menikah, dia sudah punya anak dan kami akan sekalian mengajak anak-anak jalan-jalan," ucap Lili.
"Aku akan mengantarmu," ucap Leo dan berjalan lebih dulu.
"Apa katamu?" tanya Lili, sontak Leo menghentikan langkahnya dan kembali melihat Lili.
"Ayok, aku akan mengantarmu bertemu temanmu," ucap Leo.
"Oh tak perlu," ucap Lili, Leo pun menaikan satu alisnya.
Tak lama terdengar suara klakson mobil di depan rumah.
"Nah, itu temanku sudah datang menjemputku," ucap Lili.
__ADS_1
Leo pun terdiam lemas. Lili benar-benar keterlaluan, akan pergi tak bilang padanya, dan bahkan temannya menjemput pun Lili tak mengatakannya padanya. Leo jadi penasaran, teman Lili yang mana sebenarnya yang menjemput Lili? Selama menikah dengan Lili dia jarang sekali bahkan mungkin dapat dihitung dengan jari dia mengetahui Lili pergi keluar dengan temannya.
"Aku pergi dulu," ucap Lili, kemudian tersenyum. Setelah itu dia melewati Leo begitu saja.
Leo pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia lantas pergi ke pintu dan melihat ke pintu pagar rumahnya. Dia memang bisa melihat ada sebuah mini sedang yang terparkir di depan rumahnya, dia juga melihat asisten rumah tangga yang membawakan stroller Maisy tadi mencoba memasukan stroller Maisy ke mobil teman Lili. Namun, dia tak bisa melihat wajah teman Lili.
Leo lantas mengambil ponselnya dan menekan panggilan menuju kontak Lili. Tepat ketika Lili akan memasuki mobil temannya, Lili menjawab panggilannya.
'Halo,' ucap Lili, kemudian Lili tampak melihat ke arahnya.
'Aku akan makan siang di rumah, tapi aku ingin masakanmu. Jadi jangan pulang terlambat ke rumah,' ucap Leo.
'Aku bahkan baru mau per --'
Leo mengakhiri telepon bahkan ketika Lili belum selesai bicara. Lili yang masih berdiri di dekat mobil temannya pun melihatnya dengan tatapan yang terlihat tak senang. Dia lantas mengabaikan Lili dan bergegas menuju mobilnya. Dia melajukan mobilnya dan menekan klakson padahal dia tahu bahwa di depan pintu pagar rumahnya masih ada mobil teman Lili. Bahkan tak hanya satu, melainkan dua kali Leo menekan klakson.
Lili pun terdiam tak percaya Leo bisa bersikap seperti. Bukankah Leo sangat kekanakan? Leo benar-benar tak sopan dan tak menghargai tamu, pikir Lili.
Teman Lili pun akhirnya memberikan jalan untuk Leo. Setelah itu Leo melajukan mobilnya tanpa membuka pintu mobil.
"Lili, apa yang di mobil tadi suamimu?" tanya teman Lili, sontak Lili tersenyum canggung.
"Maaf, sepertinya dia sedang terburu-buru pergi ke kantor," ucap Lili tak enak hati.
"Tak masalah, aku yang minta maaf telah menghalangi jalan suamimu. Tapi kita jadi pergi 'kan?" tanya teman Lili.
"Ya, tentu saja," ucap Lili dan memasuki mobil temannya. Namun, Lili yang sebelumnya merasa antusias sekarang justru merasa canggung duduk dengan temannya.
'Kenapa dia jadi arogan?' batin Lili tak habis pikir.
__ADS_1
Mungkin Lili takan terlalu merasa tak enak hati jika Leo menurunkan kaca mobil saat keluar dari pintu pagar tadi, Lili juga berpikir Leo mungkin akan menyapa temannya saat melewati pintu pagar tadi. Namun, yang dilakukan Leo justru mengecewakannya. Entah apa sebenarnya yang ada di pikiran Leo saat bersikap seperti tadi.