ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 6 - JANGAN SAMPAI NYONYA MARAH!


__ADS_3

Leo menatap Lili dengan marah.


"Sejak awal kamu terus membohongiku, apa kamu tak bisa sedikit saja memikirkan seperti apa rasanya jadi diriku?" ucap Lili.


Leo membuka mulutnya. Rasanya, dia ingin bicara. Namun, dia justru bingung harus mengatakan apa.


"Ucapanmu barusan benar-benar sangat melukai hatiku, Leo. Seakan aku adalah wanita yang 2 tahun lalu datang padamu, dan menyebabkan semua hal yang terjadi di antara kita. Ucapanmu seakan kamu sedang mengatakan padaku, bahwa aku wanita yang datang mengemis agar kamu men*duriku!" ucap Lili dengan nada bicara terdengar bergetar.


Leo hanya diam, entah apa maksud Lili? Mengapa Lili bisa berpikir sejauh itu? Dia bahkan tak berpikir seperti apa yang Lili katakan saat mengatakan ucapan tadi.


"Leo, aku sudah pernah mengatakannya saat awal-awal kita menikah, dan kamu mulai membohongiku. Kamu ingat apa kebohonganmu saat itu?" ucap Lili.


"Bisakah kamu menutup mulutmu sekarang? Semakin kamu banyak bicara, aku akan pergi lagi keluar. Siapa yang ingin mendengar ocehan istrinya setelah pulang bekerja? Kurasa suami manapun takan tahan mendengarnya," ucap Leo kemudian memutar bola matanya.


Lili mengepalkan tangannya, dan mengangkat tangannya.


Plak!


"Lili!" pekik Leo, seraya menatap Lili dengan nyalang. Tentu saja dia dibuat terkejut oleh tamparan Lili barusan.


"Jika ucapanku tak cukup untuk membuatmu memahami semua yang aku katakan, aku siap menamparmu lagi, Leo!" tegas Lili.


"Astaga, heh!" pekik Leo dan mencengkeram lengan Lili. Leo menatap Lili dengan nyalang. Namun, Lili tampak tak takut melihat tatapan itu. Dia bahkan menatap Leo dengan berani.


"Karena kamu mengatakan kita bukan remaja lagi, seharusnya kamu bersikap selayaknya kepala keluarga. Bukannya justru bersikap seolah kamu masih lajang, Leo. Seharusnya kamu berpikir, ke mana pernikahan kita akan kita bawa? Apakah ada masa depan di dalamnya? Tanyakan itu pada dirimu sendiri!" ucap Lili pelan tetapi penuh penekanan.


Leo mengembuskan napas perlahan dan kali ini menatap Lili dengan tatapan biasa. Dia tahu, takan berguna meladeni kemarahan Lili.


"Sudah cukup marahnya?" tanya Leo.


"Aku takan pernah merasa cukup memarahimu!" geram Lili dan mendorong tubuh Leo.


Leo memutar bola matanya dan mendekati Lili. Dia memegang tengkuk Lili dan berniat mengecup kepala Lili. Namun, Lili menjauhkan kepalanya. Dia enggan di kecup oleh Leo. Leo pun menarik tangannya dari tengkuk Lili dan terdiam menatap Lili.


"Menjauh sana, jangan dekat-dekat denganku!" kesal Lili dan mencoba melewati Leo. Namun, belum sempat Lili melewati Leo, Leo dengan cepat menarik kepala Lili dan akhirnya berhasil mendaratkan kecupan di kepala Lili.

__ADS_1


Sontak saja Lili menatap Leo dengan tajam. Kebiasaan Leo, ketika dirinya mengomel, Leo tak pernah menganggap serius omelannya. Leo justru bersikap seakan omelannya hanya lelucon. Seperti biasanya juga ketika dia marah, Leo akan mendaratkan kecupan di kepalanya.


"Kenapa menciumku, sih? Apa telingamu bermasalah?" Lili mengusap kepalanya, berharap bekas bibir Leo menghilang dari kepalanya.


"Ayolah, jangan marah-marah terus. Jadi makan malam tidak?" ucap Leo.


"Aku tak mau, makan saja sendiri!" kesal Lili dan menyenggol tubuh Leo dengan kesal ketika berjalan melewati Leo dan masuk kembali ke rumah.


Leo pun menggidigkan bahunya dan pergi ke meja yang sudah Lili siapkan. Dia membuka salah satu tutup saji yang menutupi salah satu piring dan melihat ada menu apa di dalamnya?


Begitu membukanya, ternyata isinya adalah steak kesukaannya. Meski Lili jarang memasak karena di rumah itu ada asisten rumah tangga, terlebih Lili yang juga dibantu seorang pengasuh kini disibukan merawat anaknya, tetapi dia dibuat terkejut karena dia pikir steak itu Lili sendiri yang memasaknya.


'Mendingan aku makan, perutku lapar sekali. Aku belum memakan apapun malam ini,' batin Leo dan duduk di salah satu kursi. Dia pun mulai makan malam.


Sementara itu, Lili yang kini berada di dapur, dapat melihat dengan jelas apa yang sedang Leo lakukan.


'Aku menyesal tak buru-buru membuang makanan itu. Aku benar-benar kesal padanya, dia tak pernah menganggap serius ucapanku!' batin Lili kesal.


Bukan tanpa alasan sebelumnya Lili marah pada Leo. Lili yakin, istri manapun akan mencurigai suaminya jika ketika suaminya pulang dari luar, bahkan bekerja sekalipun, lantas mencium aroma parfum wanita di pakaian yang suaminya kenakan.


Ya, saat Leo memeluk Lili di awal tadi, Lili dengan jelas mencium aroma parfum wanita, dan itu bukanlah yang pertama kalinya. Namun, Leo selalu seperti biasanya. Leo selalu saja mengelak dan mengalihkan pembahasan setiap kali dia menanyakan kecurigaannya pada Leo.


Meski Leo selalu mengatakan mencintainya, tetapi siapa yang akan percaya jika orang yang mengatakan mencintainya justru bermain dengan wanita lain di belakangnya?


"Di luar memeluk wanita lain, di rumah memelukku! Apa-apaan dia? benar-benar keterlaluan!" kesal Lili.


Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.


'Dari pada aku terus memikirkannya, lebih baik aku membawa Maisy ke kamar,' batin Lili dan bergegas menemui pengasuh.


Maisy Callia Sasongko adalah nama anak Lili bersama Leo. Anak itu berjenis kelamin perempuan. Lili sebelumnya menitipkan anaknya pada pengasuh karena berpikir dia akan menunggu Leo dan makan malam dengan Leo. Sayangnya, dia dibuat kehilangan selera untuk makan malam bersama Leo setelah mencium aroma parfum wanita di pakaian yang Leo kenakan.


***


Selang beberapa menit, Leo akhirnya selesai makan malam. Dia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah restoran yang menjadi langganannya. Restoran itu berada di dalam sebuah Mall dan dia berencana memesan meja untuk besok malam. Besok malam adalah sabtu malam, dan dia pikir akan sangat tepat untuk pergi keluar.

__ADS_1


'Apa Anda memiliki permintaan khusus, Pak Leo? Berapa banyak kapasitas kursi yang ingin Anda reservasi?' tanya pegawai restoran ketika Leo akhirnya menyampaikan tujuannya untuk memesan meja.


'Saya butuh tempat yang tak ada satupun pengunjung lain selain Saya,' ucap Leo.


'Maksud Anda, Anda akan membooking semua meja?' tanya orang itu.


'Ya,' ucap Leo.


'Kalau begitu, berapa banyak orang yang akan datang bersama Anda? Restoran kami bisa menyediakan kursi maksimal 125 kursi, apa Anda membutuhkan meja dan kursi tambahan?' ucap pegawai restoran.


'Tidak, Saya hanya akan datang membawa satu orang,' ucap Leo.


Pegawai restoran itu terdiam sejenak. Sepertinya dia bingung dengan apa yang Leo katakan. Membooking semua meja di restoran, tetapi hanya Leo dan satu orang lainnya yang akan datang.


'Ehem ... Baiklah, apa ada lagi perminataan lainnya?' tanya pegawai restoran itu.


'Ada!' ucap Leo dan bangkit dari duduknya. Leo lantas menuangkan segelas wine favoritnya yang telah disediakan juga di meja itu.


'Saya akan mencatatnya,' ucap pegawai restoran.


Leo lalu membawa segelas wine ke tepi kolam dan mengatakan permintaan lainnya pada pegawai restoran itu.


Setelah selesai bicara dengan pegawai restoran, pandangan Leo tak sengaja mengarah pada buket Lily yang masih ada di kolam renang.


"Joko!" teriak Leo dengan keras.


Joko adalah tukang kebun di rumah Leo dan Lili. Tugasnya hanya mengurusi taman di rumahnya.


Tak lama Joko datang ke hadapan Leo.


"Ya, Tuan?" ucap Joko.


"Ambil buket itu, dan kuras kolamnya!" perintah Leo seraya mengarahkan pandangannya ke buket Lily di kolam. Sontak saja Joko melihat ke kolam, dia pun dibuat bingung.


'Menguras kolam malam-malam begini? Apa aku tak salah dengar?' batin Joko. Bayangkan saja, kolam sebesar itu harus dia kuras sendirian dan di malam-malam begini, apakah tuannya itu sedang bercanda? Pikirnya.

__ADS_1


Leo lalu berjalan ke meja dan meletakan gelas wine-nya di sana.


"Jangan sampai besok pagi Nyonya memarahimu karena melihat kolamnya kotor, kamu tahu sendiri seperti apa ketika Nyonya marah," ucap Leo dan memasuki rumah meninggalkan Joko.


__ADS_2