ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 71 - MENGIRIMKAN POTRET ANAK ITU


__ADS_3

Siti terdiam shock saat Florence menutup pintu ruang gawat darurat dengan cukup keras bahkan tak hanya dirinya, seseorang yang kebetulan sedang melintas di dekatnya pun sempat dibuat terkejut dan melihat ke pintu itu.


Siti lantas mengusap dadanya, Florence mungkin tak tahu atau tak ingin peduli tentang dirinya yang sebenarnya selain sudah berusaha menghubungi Florence tetapi tak mendapatkan jawaban, Siti juga sudah berusaha mendatangi rumah baru Florence. Sayangnya, saat itu dia hanya sempat bertemu dengan pekerja di rumah baru Florence dan pekerja itu mengatakan bahwa Florence sedang tak ada di rumah.


Saat itu Florence bahkan juga sedang tak ada di kantornya yang jaraknya hanya 5 meter dari rumahnya sehingga dia tak bisa menyampaikan langsung keadaan tentang anak laki-laki itu yang merupakan anak kandung Florence.


Ya, dua tahun lalu Florence melahirkan anak itu dan Siti sudah bekerja merawat anak itu sejak anak itu berusia 2 minggu.


Bagaimana mungkin Siti bisa meninggalkan anak itu sekarang? Apalagi mengingat anak itu selalu sendirian. Florence tak pernah berada di samping anak itu, Florence hanya memberikan fasilitas untuk menghidupi anak itu tetapi enggan mengurus anak itu dan tak pernah menunjukan kepedulian apalagi memberikan perhatian pada anak itu. Bahkan, Florence enggan tinggal di satu rumah yang sama dengan anak itu.


Siti sekarang menjadi khawatir, bukan karena dia akan kehilangan pekerjaannya, melainkan jika dia benar-benar dipecat oleh Florence, maka Bagaimana nasib anak laki-laki itu? Dia khawatir pada anak itu meskipun sudah pasti Florence akan mencari penggantinya. Namun, dia sudah terlanjur menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri.


Sementara itu di dalam ruangan unit gawat darurat, Florence memperhatikan tangan anak itu. Dia memperhatikan tangan kecil itu yang ditusuk oleh jarum infus. Dadanya tiba-tiba saja berdenyut, seakan ada perasaan sakit. Namun, perasaan macam apa itu? Dia seakan tak memahaminya.


Dia kerap kali tak ingin melihat wajah anak itu, tetapi melihat anak itu dalam keadaan tak baik seperti sekarang seakan membuat hatinya ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan anak itu.


Florence bergegas mengalihkan perhatiannya dari tangan anak dan mengambil ponselnya. Dia memotret keadaan anak itu dan setelah itu melihat potret anak itu dengan cukup lama. Dia kemudian keluar dari ruangan itu. Namun, dia terkejut ketika melihat Siti ternyata masih berada di depan ruangan itu.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Florence dengan menunjukan raut wajah marah seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nya. Tolong biarkan saya tetap merawat tuan kecil," ucap Siti.


Florence terdiam sejenak, entah apa yang dia pikirkan seraya melihat ponselnya kembali.


"Saya janji akan lebih berhati-hati lagi dalam merawat tuan kecil, saya takkan mengulangi kesalahan seperti ini lagi, tolong maafkan kelalaian saya," ucap Siti.


Florence menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat.


"Kali ini saya akan memaafkanmu, tapi tidak lain kali!" tegas Florence dan dengan cepat Siti mengangguk.


"Saya akan ke mobil sebentar," ucap Florence dan lagi-lagi Siti mengangguk. Dia seolah mengerti bahwa Florence sekarang memintanya menjaga anak itu.


Setelah itu dia mengirimkan potret anak itu ke salah satu kontak di ponselnya dan mengembuskan napas kasar saat melihat pesan potret anak itu telah terkirim ke kontak tujuannya.


'Aku harap dia mau menemuiku di sini,' batin Florence gelisah.


***


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Florence baru saja keluar dari kamar mandi. Tadi malam dia sudah mengurus ruang rawat untuk anaknya dan saat ini dia sedang berada di ruang rawat itu. Anak itu sudah sedikit lebih baik dan sedang bersama Siti. Namun, seperti biasanya, Florence tampak tak terlalu peduli.


Florence justru mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah pesan yang tadi malam dia kirim sudah dibaca oleh pemilik kontaknya? Dia lantas membulatkan matanya ketika melihat ternyata pesan itu telah dibaca. Dia bergegas memeriksa kapan orang itu membaca pesannya dan betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa orang itu rupanya membaca pesannya tak lama setelah dia mengirimkan pesan itu.


'Dia sudah membacanya tapi tak membalasnya? Dia bahkan tak menghubungiku, apa dia sama sekali tak percaya padaku?' batin Florence shock.


Florence tersentak ketika di tengah rasa shocknya karena pesan itu tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk oleh seseorang. Sontak saja dia melihat ke pintu.


"Masuk!" ucap Florence.


Dia pikir yang mengetuk pintu ruangan itu Dokter atau perawat. Namun, lagi-lagi dia dibuat terkejut saat melihat orang yang memasuki ruangan itu ternyata bukanlah Dokter ataupun perawat.


"Ke-kenapa kamu di sini?" tanya Florence gugup.


"Bukankah kamu yang mengirimkan pesan tadi malam dan memintaku agar aku datang ke sini?" ucap orang itu, sontak Florence menelan air liurnya.


'Apa yang dia katakan? Kapan aku memintanya datang ke sini?' batin Florence dan bergegas melihat ponselnya untuk memeriksa pesan tadi malam sudah dia kirim pada orang yang tepat.


Florence lantas terdiam ketika melihat pesan itu yang ternyata tak salah terkirim. Dia benar-benar telah mengirimkannya pada orang yang dia inginkan, bukan pada orang yang sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2