ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 45 - DIA SUDAH BOSAN BERNAPAS


__ADS_3

Leo mengambil ponsel Lili dan membukanya. Dia mencoba memeriksa ponsel Lili tetapi dia tak melihat ada sesuatu yang menurutnya mencurigakan di dalam ponsel Lili.


'Dia selalu bersikap tak jelas, sebaiknya aku tak meladeninya dulu,' batin Leo.


Leo terdiam sejenak, setelah itu dia terpikirkan sesuatu dan akhirnya kembali memeriksa ponsel Lili. Kali ini dia mencoba membuka galeri ponsel Lili.


'Astaga!' Leo dibuat terkejut ketika melihat sebuah video yang membuat detak jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Dia lantas melihat video lainnya dan itu membuat jantungnya seakan ingin terjatuh dari posisinya. Dia Benar-benar terkejut dan lebih terkejut lagi ketika mendengar suara pintu.


Leo pun berbalik dan terdiam melihat Lili yang ternyata sedang berdiri di pintu.


Lili lalu melihat ponselnya yang ada di tangan Leo. Dia pun menghampiri Leo dan mengambil ponselnya. Dia lantas melihat ponselnya dan melihat apa yang juga telah dilihat Leo.


"Jadi kamu sudah melihatnya?" tanya Lili. Namun, Leo hanya diam. Jelas sekali dari raut wajahnya dia masih merasa shock.


Lili pun menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia lantas berbalik dan berniat keluar dari ruang ganti.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Leo, Lili pun terdiam.


"Dari mana aku mendapatkannya itu tak penting, Leo. Yang jelas, aku tak bisa lagi mentolerir perbuatanmu!" tegas Lili, kemudian lagi-lagi dia berniat keluar dari ruang ganti. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu dan akhirnya kembali melihat Leo.


"Oh ya, ini adalah salah satu alasan kenapa aku ingin bercerai denganmu, kuharap kamu mengerti sekarang, Leo," ucap Lili dan kali ini dia benar-benar keluar dari ruang ganti.


Leo mengepalkan tangannya, dia pun bergegas keluar dari ruang ganti dan mengabaikan Lili yang ada di kamar. Dia melewati Lili begitu saja dan tanpa mengatakan apapun dia keluar dari kamar.


Tak lama terdengar suara mobil, Lili pun melihat dari jendela dan rupanya mobil Leo sedang melaju keluar dari halaman rumah.


Lili pun mengepalkan tangannya, dadanya bergemuruh dan akhirnya dia yang sejak tadi berusaha tak menangis tak bisa lagi menahan tangisnya. Dia pun menangis dan seketika terisak, dadanya terasa sangat sesak.


'Aku sudah berusaha menerimamu dengan segala kekurangan dan keburukanmu, Leo. Tapi aku benar-benar hancur sekarang,' batin Lili sedih.


Di sisi lain.


Leo mengemudikan mobilnya dengan pelan dan mengambil ponselnya. Dia lantas mencari kontak seseorang dan menghubungi orang itu. Dia pun mengajak orang itu untuk bertemu dengannya di sebuah tempat. Setelah orang itu setuju untuk bertemu dengannya, Leo menambah kecepatan laju mobilnya. Dia akan pergi menuju tempat untuk bertemu orang itu.


Begitu sampai di tempat tujuan yang tak lain adalah sebuah taman di dekat sebuah gedung apartemen, Leo menghentikan mobilnya dan menunggu orang yang akan dia temui di sana. Dia terus melihat ke depannya untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar datang menemuinya.


Selang beberapa menit, Leo pun menurunkan kaca mobilnya dan meminta orang itu untuk memasuki mobilnya. Ya, akhirnya orang itu datang. Setelah orang itu memasuki mobik Leo, Leo pun melajukan mobilnya meninggalkan area tersebut.


"Sebenarnya kita akan ke mana?" tanya orang itu.


Leo tak mengatakan apapun dan langsung menepikan mobilnya, dia pun menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Leo, jika kamu ingin bicara maka bicaralah. Kenapa kamu justru membawaku ke sini?" tanya orang itu bingung. Namun, Leo masih tetap diam.


"Apa kamu ingin memintaku untuk membantu pekerjaanmu? Jika iya, aku akan meno --"


Orang itu terkejut ketika Leo tiba-tiba meraih lengannya dan mencengkeramnya dengan erat.


"Kamu terlalu banyak bicara, membuatku tak tahan!" geram Leo.


"A-apa maksudmu?" tanya orang itu panik.


Bagaimana tidak? Tiba-tiba Leo menyerangnya dan yang lebih menakutkan sekarang dia berada di jalanan yang sepi. Entah apa sebenarnya yang akan Leo lakukan padanya di tempat sepi seperti itu? Yang jelas dia merasakan perasaan tak baik sekarang.


"Ketika aku memecatmu dari kantor, itu artinya aku memintamu tak lagi muncul dalam kehidupanku!" geram Leo seraya menatap orang itu dengan tatapan dipenuhi kemarahan.


"Apa maksudmu, kenapa kamu kasar sekali?" ucap orang itu mencoba melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan Leo. Namun, bukannya melepaskannya, Leo justru semakin erat mencengkram lengannya.


"Kamu benar-benar sudah bosan bernapas, Sisil. Apa maksudmu mengirimkan video kita pada istriku, ha?" geram Leo.


Ya, itu Sisil. Leo benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tidak segera menemui Sisil setelah melihat apa yang ada di ponsel Lili.


"Apa sebenarnya maksudmu, video apa?" geram Sisil dan sekuat tenaga mencoba melepaskan lengannya dari tangan Leo.


Lengan Sisil pun akhirnya terlepas. Dia yang memakai atasan lengan pendek bisa melihat di lengannya ada bekas merah akibat cengkeraman tangan Leo.


Sisil pun melihat Leo, Leo menyeringai padanya. Hal itu tentu saja membuatnya semakin panik.


"Leo jangan macam-macam atau aku akan melaporkanmu ke Polisi!" ancam Sisil.


"Lapor Polisi katamu? Silahkan saja jika kamu masih memiliki kesempatan untuk hidup," ucap Leo, kemudian terkekeh.


"Leo!" bentak Sisil semakin panik.


Plak!


Sisil terkejut, kepalanya terbentur ke sandaran kursi ketika sebuah tamparan Leo layangkan ke wajah Sisil. Sisil pun memegang wajahnya dan melihat Leo.


"Kenapa kamu mengirimkan video itu pada istriku, ha?" tanya Leo seraya kembali mencengkram lengan Sisil.


"Aku tak mengirimkan video apapun pada istrimu, Leo. Jangan keterlaluan, aku tak tahu apapun!" teriak Sisil.


"Tak tahu apapun katamu? Siapa sebenarnya yang sedang kamu bodohi, ha? Selain dirimu lalu siapa lagi? Apa menurutmu aku pernah mengundang orang lain untuk bermain bersamamu, ha? Benar-benar sudah gila, kamu bahkan berani mengambil gambarku! Benar-benar sudah bosan hidup!" geram Leo dan akan kembali melayangkan tamparan ke wajah Sisil. Sisil pun bergegas menutupi wajahnya.

__ADS_1


Bekas tamparan sebelumnya saja masih terasa sakit di pipinya, jadi mana mungkin dia akan diam saja melihat Leo akan menamparnya lagi.


"Leo aku bersumpah aku takkan memaafkanmu dan akan melaporkanmu ke Polisi atas penganiayaan yang kamu lakukan padaku sekarang!" teriak Sisil.


"LAKUKAN SAJA, AKU SAMA SEKALI TAK TAKUT PADAMU!" teriak Leo tepat di depan wajah Sisil, sontak Sisil pun terkejut dan langsung terdiam.


Leo kembali meraih lengan Sisil.


"Gara-gara dirimu istriku marah dan sampai ingin bercerai denganku, Sisil!" geram Leo. Tatapan Leo terlihat nyalang, jelas dia sangat marah sekarang.


Sisil pun terdiam sejenak. Namun, setelah itu dia terkekeh dan membuat Leo mengerutkan dahinya.


"Kalau begitu, bukankah seharusnya kamu senang? Istrimu benar-benar masih waras karena akhirnya memilih bercerai darimu setelah apa yang kamu lakukan padanya," ucap Sisil terlihat mengejek Leo.


Leo pun semakin merasa geram.


"Leo, apa kamu pikir aku bodoh, apa kamu pikir hanya dirimu yang bisa mempermainkan-ku? Tentu saja akupun bisa melakukannya, dan kamu salah menilai jika aku sepolos itu!" ucap Sisil, kemudian terkekeh.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Leo geram.


Sisil menghela napas panjang dan tatapannya terlihat dipenuhi kebencian.


"Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan, dan aku sangat senang mendengar istrimu akan mencampakkan dirimu," ucap Sisil, dan dia lagi-lagi terkekeh. Kabar buruk bagi Leo bagaikan kabar yang luar biasa membahagiakan baginya.


Leo lantas mendorong tubuh Sisil membuat punggung Sisil terbentur ke pintu. Sisil pun menjadi geram, dia menatap Leo dengan marah.


"Kamu benar-benar sudah gila!" geram Sisil dan satu tamparan akhirnya Sisil layangkan ke wajah Leo.


Leo pun mengepalkan tangannya dan bergegas keluar dari mobil. Dia lantas membuka pintu mobil Sisil dan menyeret Sisil keluar dari mobil.


"Leo apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kamu akan meninggalkanku di sini?" ucap Sisil panik.


"Tentu saja, aku takkan menyimpan sampah di dalam mobilku!" geram Leo dan mendorong tubuh Sisil sehingga Sisil hampir saja terjatuh.


Dia lantas menggosok tangannya berulang kali.


"Iuhh ... Bisa-bisanya aku menyentuhmu, menjijikan sekali!" geram Leo menunjukan ekspresi jijik di depan Sisil.


Sisil pun mencoba memukul Leo. Namun, Leo bergegas menjauhi Sisil.


Leo bergegas memasuki mobil dan sebelum melajukan mobilnya, dia menurunkan kaca mobil dan kembali melihat Sisil. Sisil tampak melihatnya dengan tatapan dipenuhi kemarahan.

__ADS_1


"Ini yang pertama dan terakhir kalinya, Sisil. Jika ada lain kali, aku bersumpah akan membuatmu menyesal!" ancam Leo dan melajukan mobilnya meninggalkan Sisil.


Sisil pun mengepalkan tangannya, dia melihat ke sekelilingnya dan tak melihat ada siapapun. Hal itu membuatnya menjadi panik dan bergegas mengambil ponselnya untuk memesan taksi.


__ADS_2