ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 9 - SINDIRAN UNTUK LILI?


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Leo sedang di kamar bermain Maisy dan memperhatikan Maisy yang sedang aktif-aktifnya mencoba hal baru. Ya, dia sudah mulai berjalan meski terkadang masih terlihat akan jatuh dan membuat takut siapapun yang melihatnya.


Tak hanya ada Leo, di sana juga ada Nina, yaitu pengasuh Maisy.


Di tengah memperhatikan Maisy bermain, tiba-tiba terdengar suara dari ponselnya. Dia pun memeriksa ponselnya dan ternyata itu suara dering alarm. Sebelumnya, dia mengatur alarm di jam 4 sore dan sekarang sudah tiba jam 4 sore.


Leo sengaja membuat alarm itu untuk mengingatkan dirinya bahwa, sore ini dia akan pergi keluar. Karena itu, dia akan mulai bersiap.


"Sust, Sust ...!" ucap Leo memanggil Nina.


"Ya, Tuan?" ucap Nina seraya melihat Leo.


"Jaga adek, jangan sampai dia jatuh. Saya akan ke kamar," ucap Leo.


"Baik, Tuan," ucap Nina.


Leo pun keluar dari taman bermain Maisy dan melangkah menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar, Leo melihat kamar tampak sepi, entah ke mana Lili? Mungkin, sejak sejam yang lalu Leo juga tak melihat Lili.


Leo terdiam ketika sampai di pintu ruang ganti, di hadapannya terlihat pemandangan yang seketika membuatnya bersemangat.


"Apa kamu akan pergi denganku?" tanya Leo seraya melipat kedua tangannya dan bersandar di pintu. Pandangannya tak beralih dari pemandangan yang membuatnya tertarik itu. Di mana di depan kaca besar dan lebar yang tertempel di lemar pakaian, Lili sedang memakai sebuah gaun.


"Hem ..." gumam Lili dan Leo pun tersenyum lebar.


Leo lantas menghampiri Lili dan mendaratkan ciuman di kepala belakang Lili. Lili pun hanya diam.


"Begitu dong, aku akan bersiap. Siapkan pakaianku, ya," ucap Leo dan berjalan menuju pintu kamar mandi.


Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.


"Aku memutuskan untuk jadi pergi denganmu, bukan karena aku takut kamu akan mengajak sekretaris-mu," ucap Lili, sontak Leo mengentikan langkahnya.


Setelah itu, Leo kembali melihat Lili.


"Semalam aku hanya bercanda, mana mungkin aku mengajak orang lain di malam spesial. Jelas aku menyiapkannya untukmu, aku hanya sedikit menjahilimu," ucap Leo.


Lili menahan napasnya sejenak dan menoleh pada Leo. Dia pun menatap Leo dengan sedikit tajam.


"Love you," ucap Leo dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah itu, Lili mengembuskan napas kasar.

__ADS_1


'Terserah dirimu,' gumam Lili dan bergegas menyiapkan pakaian untuk Leo.


Selang beberapa menit, Leo akhirnya selesai mandi. Dia mengambil pakaian yang telah Lili siapkan dan mencari Lili ke kamar. Namun, dia tak menemukan Lili di kamar. Sepertinya, Lili pergi menemui Maisy.


Leo pun akhirnya memakai pakaiannya sendiri. Padahal, sebelumnya dia berharap Lili mau membantunya memakai pakaian.


Selesai bersiap, Leo keluar dari kamar dan mencari Lili ke kamar Maisy. Benar saja, Lili sedang menyuapi Maisy.


"Ayok pergi," ucap Leo, sontak saja Lili melihat ke arah Leo.


Lili tak mengatakan apapun dan menyerahkan makanan Maisy pada pengasuh Nina. Setelah itu, Lili mengambil tasnya.


"Saya dan Tuan akan keluar sebentar, tolong titip Maisy dulu, ya," ucap Lili.


"Baik, Nyonya," ucap Nina.


Lili mengecup pipi Maisy dan ternyata Maisy meminta digendong oleh Lili. Maisy bahkan menyebut mami. Sepertinya, anak itu mengerti bahwa Lili akan pergi.


Melihat itu, Leo pun menghampiri Maisy dan berlutut di depan Maisy yang kini duduk di Baby chair.


"Pinjam Maminya sebentar, gantian sekarang Papi yang main bersama Mami," ucap Leo.


Lili memutar bola matanya. Mendengar Leo bicara seperti itu, membuat Lili menganggap bahwa, Leo cemburu pada Maisy karena dirinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Maisy dibandingkan dengan Leo.


"Tolong jaga Adek, ya. Saya dan Nyonya pergi dulu, kami mungkin kembali larut malam," ucap Leo.


"Ya, Tuan. Tenang saja, selamat bersenang-senang bersama Nyonya," ucap Nina.


"Thanks," ucap Leo dan meraih tangan Lili, Leo pun menuntun Lili keluar dari kamar dan Lili hanya menurut mengikuti Leo.


Sebenarnya, Lili malas sekali pergi. Ya, dia selalu khawatir setiap kali pergi keluar tanpa membawa Maisy. Sedangkan Leo, Leo selalu ingin pergi berdua dengannya dan tak ingin Maisy ikut. Lili terkadang berpikir, sebenarnya Leo menyayangi Maisy atau tidak? Leo tak pernah terlihat khawatir pada Maisy. Berbeda dengan dirinya, yang selalu mengkhawatirkan Maisy meski posisinya dan Maisy hanya terpaut beberapa ruangan saja.


Leo pun akhirnya mengajak Lili menuju restoran yang sudah dia booking.


***


Sesampainya di restoran, Leo menuntun Lili dan Lili bersikap seperti biasa ketika dirinya sedang berada di luar. Dia terlihat menikmati waktunya bersama Leo.


Hingga akhirnya Leo dan Lili di antar ke sebuah meja dan meja itu adalah satu-satunya yang terlihat memiliki design berbeda dari meja-meja lainnya. Hanya meja itu satu-satunya yang memiliki lilin menyala di atasnya. Namun, design meja itu terlihat familiar bagi Lili. Sepertinya, sebelumnya dia pernah melihat design meja seperti itu.


"Tunggu dulu di sini," ucap Leo dan bergegas menghampiri seorang pelayan. Lili melihat sebentar ke arah Leo, Leo tampak berbicara dengan pelayan.

__ADS_1


Setelah itu, Lili melihat sekeliling yang tampak sepi.


'Sepi sekali, apakah restoran ini sengaja ditutup untuk publik?' batin Lili bingung.


Malam ini adalah Sabtu malam, di mana biasanya restoran akan di penuhi oleh para pengunjung. Rasanya sangat aneh melihat restoran sepi dan tak ada pengunjung lain selain dirinya dan Leo. Apalagi, restoran itu berada di dalam Mall.


Lili pun duduk di kursi yang dia tarik sebelumnya, tak lama Leo pun duduk di hadapan Lili.


"Kita makan malam dulu," ucap Leo.


"Kenapa restoran ini sepi sekali?" tanya Lili.


"Aku yang meminta agar restoran ini ditutup selama kita mengunjunginya," ucap Leo terdengar santai.


"Apa maksudmu?" tanya Lili terkejut. Apakah Leo sedang bercanda? Apa maksudnya Leo memesan restoran itu secara pribadi selama beberapa waktu ke depan? Pikir Lili.


Leo menghela napas dan melihat Lili.


"Bukankah makan malam kita kemarin gagal? Untuk mendapatkan suasana rumah seperti kemarin malam, tentu saja aku harus membuat restoran ini sepi, agar hanya ada kita saja di sini," ucap Leo.


Lili terdiam. Dia benar-benar tak mengerti dengan isi kepala Leo. Bukankah akan lebih mudah jika makan malamnya di rumah saja? Leo bisa katakan jika ingin makan malam dengannya, tak perlu Leo mem-booking semua meja hanya untuk membuat restoran itu sepi, pikir Lili.


"Aku mengeluarkan banyak uang untuk ini, jadi jangan pasang wajah seperti itu," ucap Leo.


Lili memutar bola matanya. Ya, dia memang tak senang. Pasalnya, dia mengharapkan kejutan dari Leo kemarin malam, yaitu tepat di hari ulang tahun pernikahannya bersama Leo. Karena itu, apa yang Leo lakukan sekarang tak memberikan kesan apapun pada Lili.


"Kamu bisa memintaku menyiapkan makan malam di rumah, kenapa harus repot-repot seperti ini?" ucap Lili.


Leo lagi-lagi menghela napas. Dia pun melihat Lili yang enggan melihatnya.


"Aku ingin keluar denganmu, apa yang salah dengan itu?" tanya Leo terdengar tak senang.


Lili pun hanya diam.


'Baiklah, terserah dia saja. Toh, dia sendiri yang mengeluarkan biayanya. Aku akan mencoba menikmatinya,' batin Lili dan menyiapkan peralatan makan


"Kamu tahu, terkadang seseorang perlu memerhatikan apa yang ada di depannya," ucap Leo, sontak Lili terdiam. Entah mengapa Lili merasa bahwa, Leo sedang menyindirnya.


Lili pun melihat ke atas meja dan tiba-tiba ingin membuka tutup saji yang menutupi piringnya. Setelah tutup saja itu terbuka, Lili terdiam melihat menu makan malamnya. Dia lalu melihat ke atas meja, dan tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Setelah itu, dia kembali melihat Leo.


"Aku pikir, akan menyenangkan jika seseorang mengapresiasi kerja keras kita. Benar 'kan, Sayang?" ucap Leo seraya menatap Lili, kemudian memasukan suapan pertamanya.

__ADS_1


Lili pun lagi-lagi hanya diam.


'Astaga, apa dia sungguh-sungguh menyiapkan semua ini demi mengganti makan malam yang gagal kemarin?' batin Lili.


__ADS_2