
Waktu berlalu.
Lili dan Rani--teman Lili sudah selesai sarapan di sebuah restoran cepat saji. Hanya restoran itu yang buka 24 jam sehingga mereka tak memiliki pilihan lain. Setelah itu, keduanya pergi menuju sebuah alamat.
Sesampainya di alamat yang dituju, tepatnya di depan sebuah rumah, Lili dan Rani keluar dari mobil. Lili lantas memperhatikan penampakan bagian depan dari rumah di hadapannya. Penampakan depan rumah itu terlihat luas tetapi memiliki desain minimalis.
"Jadi ini rumahmu?" tanya Lili ketika Rani menghampirinya.
"Ya, ini rumahku yang akan aku jual," ucap Rani.
Lili mengangguk.
Sebenarnya Rani adalah teman kerja Lili di perusahaan tempat Lili bekerja dulu. Pertemanan keduanya terjalin sangat baik. Namun, semenjak Lili keluar dari perusahaan itu dan memilih bekerja di perusahaan yang berbeda, keduanya pun disibukkan oleh kegiatan masing-masing sehingga jarang berkomunikasi bahkan hampir tak pernah bertemu lagi.
"Aku benar-benar membutuhkan uang, Li. Itulah mengapa aku akan menjual rumah ini. Kamu bisa melihat-lihat bagian dalamnya, mungkin saja kamu tertarik," ucap Rani.
Ya, sebenarnya tujuan Lili bertemu dengan Rani bukan sekedar untuk sarapan bersama, melainkan Lili berniat untuk melihat rumah temannya itu.
Beberapa hari yang lalu Lili sempat melihat Rani membuat iklan di media sosial. Iklan itu tentang rumah Rani yang akan dijual. Lili yang saat itu merasa tertarik pun mencoba mengabaikan iklan itu. Namun, dua hari yang lalu dia tiba-tiba terpikirkan rumah itu dan karena itulah akhirnya dia menghubungi Rani dan meminta bertemu dengan Rani untuk melihat seperti apa rumah itu.
"Ayok masuk!" ajak Rani, dan Lili mengikuti Rani memasuki rumah itu.
Rani juga menemani Lili melihat-lihat beberapa ruangan yang ada di rumah itu. Namun, tak semua ruangan di rumah itu Lili lihat. Rumah itu terlihat tak memiliki terlalu banyak perabotan di dalamnya. Namun, Lili justru merasa tertarik karena rumah itu menjadi terlihat luas sehingga orang yang tinggal di dalamnya takan merasa pengap. Plafon di rumah itu juga terlihat tinggi sama seperti rumah yang dia tempati dengan Leo sekarang.
"Aku sepertinya tertarik dengan rumah ini," ucap Lili, sontak Rani terkejut mendengar ucapan Lili.
"Benarkah?" tanya Rani.
Lili pun mengangguk seraya tersenyum.
"Astaga, aku sangat bersyukur karena aku bertemu denganmu. Kamu tahu, beberapa hari yang lalu sudah ada yang datang melihat rumah ini, tapi orang itu justru tak cocok dengan rumah ini. Salah satunya tak cocok dengan harga rumah ini. Tapi aku tak menyangka dirimu langsung tertarik padahal kamu sejak awal tahu harga rumah ini," ucap Rani.
Lili tersenyum melihat temannya itu yang terlihat bahagia. Sepertinya memang tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang lain bahagia karena apa yang kita lakukan.
__ADS_1
"Sepertinya aku mengerti mengapa rumah ini tak jadi beralih ke tangan orang lain, mungkin memang rumah ini berjodoh denganmu," ucap Rani.
"Kalau begitu secepatnya saja urus surat-surat pembelian dan pengalihan surat kepemilikannya," ucap Lili.
"Tentu saja," ucap Rani antusias.
"Bagaimana jika besok kita ke notaris, aku juga akan memberikan cek-nya padamu?" tanya Lili.
Rani pun terkejut mendengar ucapan Lili.
"Secepat itu?" tanya Rani.
"Ya, aku dan Leo memiliki notaris pribadi. Aku akan menghubungi notaris-ku dan bertemu dengannya untuk membicarakan masalah ini," ucap Lili.
"Tentu saja, aku pikir semakin cepat akan lebih baik," ucap Rani.
Lili tersenyum dan menghubungi notarisnya. Notaris Lili pun setuju untuk bertemu dengan Lili dan mereka bertemu di hari itu juga.
'Jadi dia benar-benar akan makan siang di rumah?' batin Lili terkejut.
Lili berpikir, Leo akan sama seperti sebelumnya, yaitu ber-omong kosong. Pasalnya, sudah tak aneh lagi bagi Lili. Ketika Leo mengatakan atau menjanjikan sesuatu Leo selalu melupakannya. Itulah mengapa kali ini pun dia berpikir Leo akan melupakan ucapannya tadi pagi saat mengatakan akan makan siang di rumah. Namun, tak disangka Leo benar-benar pulang ke rumah sekarang.
'Aku tak percaya dia benar-benar pulang ke rumah untuk makan siang. Lagipula dari rumah ke kantor 'kan cukup jauh, apa dia tak ada pekerjaan setelah makan siang?' gumam Lili di tengah langkahnya menuju rumah.
Begitu sampai di ruang makan, Lili benar-benar melihat Leo duduk di meja makan.
"Kamu benar-benar pulang, aku pikir tadi pagi kamu hanya bercanda," ucap Lili.
Lili pun menyerahkan Maisy pada asisten rumah tangga yang membantunya membawakan stroller Maisy ke dalam rumah.
Leo tak mengatakan apapun dan justru beranjak dari meja makan. Setelah itu Leo mengambil sesuatu dari dapur dan setelah itu Leo menghampiri Lili. Dia menyodorkan apa yang baru saja dia ambil ke hadapan Lili.
"Aku sudah sangat lapar, ayok masak sekarang," ucap Leo.
__ADS_1
"Tapi aku baru saja sam --" Lili terkejut ketika Leo tiba-tiba memakaikannya sesuatu dan rupanya apa yang Leo sodorkan tadi adalah apron. Leo bahkan memakaikan apron itu padanya.
"Aku menunggumu lebih dari satu jam, jangan sampai aku mati kelaparan," ucap Leo dan mendorong Lili dengan pelan menuju dapur.
"Ya ampun ... Aku baru saja sampai, lho. Aku bahkan belum bernapas. Setidaknya biarkan aku duduk sebentar," ucap Lili.
"Masak apa saja yang cepat, yang penting aku bisa makan siang di rumah," ucap Leo yang justru mengabaikan ucapan Lili.
Lili pun kesal dan menjauhi Leo yang terus mendorongnya.
"Aku tak mau!" kesal Lili tepat ketika dirinya berbalik dan berhadapan dengan Leo.
Leo pun mengerutkan dahinya. Dia melihat Lili melepaskan apron yang sebelumnya dia pakaikan.
"Apa gunanya ada asisten rumah tangga di rumah ini jika aku yang seorang nyonya di rumah ini justru masih harus melakukan pekerjaan seperti itu?" kesal Lili.
Leo terdiam, dia terkejut mendengar ucapan Lili. Bagaimana mungkin Lili bisa mengatakan itu?
Leo akan mengatakan sesuatu. Namun, Leo kembali dibuat terkejut ketika Lili berteriak memanggil asisten rumah tangga di rumah itu. Tak lama asisten rumah tangga pun sampai di depannya dan Lili.
"Kenapa kamu tak memasak makan siang? Apa kamu pikir orang-orang yang tinggal di rumah ini tak butuh makan?" ucap Lili seraya menatap asisten rumah tangga itu dengan tatapan marah.
Tak hanya itu, bahkan nada bicara Lili juga terdengar marah dan asisten rumah tangga itu terlihat terkejut.
'Ada apa dengannya?' batin Leo yang juga ikut terkejut.
Bagaimana tidak? Selama dia menikah dengan Lili, sekalipun dia tak pernah melihat Lili memarahi asisten rumah tangga. Leo juga ingat dengan jelas, selama ini Lili selalu memasak sendiri meskipun di rumah itu ada asisten rumah tangga. Namun, kali ini Lili justru tak mau memasak.
Leo terdiam melihat Lili meninggalkannya. Tiba-tiba dia teringat kembali pada ucapan Lili tadi.
'Apa gunanya ada asisten rumah tangga di rumah ini jika aku yang seorang nyonya di rumah ini justru masih harus melakukan pekerjaan seperti itu?'
Entah mengapa saat memikirkan itu Leo merasa sangat familiar. Dia merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.
__ADS_1