
Assalammualaikum, teman-teman apa kabar? Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat walafiat ya.
Sebelum lanjut membaca, Author ingin mengucapkan minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin pada teman-teman semua. Mohon maaf jika Author ada salah atau khilaf pada teman-teman🙏🏻
Selamat membaca untuk teman-teman semua❤️
...****************...
Leo tampak bingung melihat pengasuh Maisy yang telah Lili pecat beberapa hari lalu justru berada di rumah baru Lili. Leo sontak saja merasa penasaran dan mendekatinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Leo.
"Anu, Tuan. Saya --"
"Aku yang memanggilnya untuk kembali bekerja mengasuh Maisy!" ucap Lili yang akhirnya kembali keluar.
Lili baru ingat dia meninggalkan pengasuh anaknya itu sendiri. Bagaimanapun rencana untuk memecat pengasuh Maisy di depan Leo adalah rencananya dan dia takkan membiarkan pengasuh anaknya itu mendapatkan masalah sekarang.
"Kenapa?" ucap Leo bingung.
Istrinya itu labil sekali, pikirnya. Lili sendiri yang memecat pengasuh Maisy tetapi dia juga yang memintanya kembali bekerja.
"Karena aku masih membutuhkannya, bagaimanapun aku tak mungkin membawa Maisy saat aku bekerja nanti," ucap Lili.
Leo menghela napas. Jika tahu begini dia takkan memberikan uang pesangon pada pengasuh Maisy. Membuang uang saja, pikirnya.
"Baiklah," ucap Leo yang akhirnya enggan berdebat dan masuk ke dalam rumah dengan santainya. Padahal, Lili belum menyuruhnya masuk.
"Nyonya, bagaimana sekarang?" ucap pengasuh setelah memastikan Leo telah benar-benar tak terlihat lagi.
"Bagaimana apanya? Saya sudah jelaskan pada Leo, jadi kamu diam saja, bekerja saja seperti biasanya," ucap Lili.
"Baiklah kalau begitu," ucapnya.
Lili kemudian masuk ke rumah, dia melihat Leo yang sedang melihat-lihat setiap sudut ruangan di rumah itu.
"Leo, bisakah segera pergi dari sini? Aku ada urusan setelah ini," ucap Lili.
"Urusan apa?" tanya Leo berbalik melihat Lili.
__ADS_1
"Apapun urusanku bukan urusanmu," ucap Lili.
"Siapa bilang? Selama kamu masih menjadi istriku maka apapun yang kamu lakukan menjadi urusanku," ucap Leo.
"Aku yang bilang, dan seharusnya kamu mengerti, Leo. Sejak aku memberikanmu surat gugatan cerai itu, sejak saat itulah aku tak ingin berurusan lagi denganmu," ucap Lili.
"Ayolah, putusan pengadilan bahkan belum keluar, bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Lagipula --"
Leo mendekati Lili dan kini posisinya cukup dekat dengan Lili.
"Aku takkan pernah membiarkan gugatan itu sampai ke pengadilan, jadi putusan itu takkan pernah ada," ucap Leo.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang aku memberimu kemudahan untuk dekat dengan wanita manapun yang kamu inginkan? Selama kita menikah, kamu diam-diam terus saja mendekati wanita-wanita di luaran sana, sampai aku berpikir bahwa pernikahan ini salah karena sebenarnya kamu masih menginginkan kebebasan. Karena itu sekarang aku telah memberikanmu kesempatan untuk bebas. Setelah kita bercerai, kamu tak perlu lagi diam-diam mendekati wanita manapun yang kamu inginkan," ucap Lili.
"Kamu mungkin benar, Lili. Tapi yang kuinginkan bukan kebebasan bersama wanita-wanita lain, aku ingin bebas bersamamu kapanpun aku inginkan. Pernahkah kamu memikirkan ini? Aku ingin pengakuan, aku ingin kamu berada di sampingku kapanpun aku membutuhkanmu sehingga aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa aku memiliki wanita di sampingku. Tapi kamu yang tak pernah menginginkannya, kamu selalu menolak setiap kali aku mengajakmu ke pesta yang dihadiri banyak orang, bukankah kamu sendiri yang menutup dirimu sampai aku merasa tak ada wanita di sampingku? Kamu sungguh tak adil, Lili. Kamu selama ini hanya memikirkan dirimu sendiri dan kecemasanmu yang berlebihan itu seolah sesuatu akan terjadi jika sebentar saja kamu tak melihat Maisy," ucap Leo, kemudian memutar bola matanya.
Lili tersenyum sinis.
"Orang yang bersalah akan selalu melakukan pembelaan, tak bisakah kamu mengakui kesalahanmu dan meminta maaf padaku saja?" geram Lili.
"Aku sudah melakukannya, tapi kamu yang tak mau memaafkan-ku, bahkan kamu langsung memberiku surat gugatan itu. Hatimu lah yang keras, Lili. Jujur saja, aku memang tak siap saat menikahimu, tapi sedikitpun tak pernah terlintas dalam benakku untuk menceraikanmu," ucap Leo.
"Terserah mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya," ucap Leo.
"Ya, aku memang tak percaya padamu. Kenyataannya kamu lah yang telah menghancurkan pernikahan ini. Kamu memakai alasan karena aku sering menolakmu, karena itu kamu mencari wanita lain untuk menghiburmu! Kamu bersikap seolah semua itu bukan kesalahan sehingga menganggapnya sebagai hal yang biasa dan berharap aku akan terus memakluminya, bagaimana mungkin hatiku tak keras setelah selalu dihancurkan olehmu? Tentu saja aku takkan membiarkannya terus menerus hancur, aku pasti akan membuatnya kokoh lagi, jika tidak sekarang aku sudah dibuat gila!" geram Lili.
Leo akan mengatakan sesuatu. Namun, Lili bergegas kembali bicara.
"Leo, selama ini aku diam saja bukan berarti aku kuat. Pernahkah kamu melihat setiap kali aku mengetahui kamu bersama wanita lain lalu aku menangis sendiri merasakan betapa sakitnya hatiku karena telah kamu khianati?" ucap Lili.
Leo kembali terdiam. Dia melihat banyak luka di mata Lili.
"Tidak pernah bukan? Ya, tentu saja kamu takkan pernah tahu tentang itu karena aku menutupinya selama ini. Aku mencoba kuat demi anakku. Aku berusaha kuat menghadapi dirimu yang bukan manusia karena kamu tak memiliki hati, Leo. Kamu tak pantas menjadi pemimpin rumah tangga, kamu sama sekali tak memiliki rasa tanggung jawab dan rasa ingin menjaga," ucap Lili.
Leo menahan napasnya, ucapan Lili sangat menyinggungnya. Bagaimana bisa Lili hanya melihat dari sisinya saja tanpa mau mengerti apa yang telah dia katakan sebelumnya?
Leo kemudian mengembuskan napasnya dengan kasar. Leo lantas memijat dahinya. Wanita benar-benar kerasa kepala ketika mereka sedang merasa tersakiti, bahkan jika kesalahan ada pada diri wanita pun mereka selalu merasa paling benar dan tak ingin disalahkan, pikir Leo.
"Kamu boleh meminta apapun, tapi tidak dengan bercerai karena aku takkan menyetujuinya," ucap Leo.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan membuatmu menyetujuinya dengan caraku sendiri!" tegas Lili.
Leo terkekeh, dia kemudian mengusap wajahnya dan kembali melihat Lili.
"Lili, kamu sangat lucu. Apa yang akan kamu lakukan?" ucap Leo.
"Aku akan memberitahu Papimu tentang kelakuanmu," ucap Lili.
Leo menaikan satu alisnya.
"Bukankah kamu sudah melakukannya? Kamu memberitahu Mami dan tentu saja Mami takkan tinggal diam, dia telah memberitahu Papi dan bahkan hari ini aku telah dipanggil oleh mereka," ucap Leo.
"Benarkah? Kalau begitu seharusnya mereka tak mendukungmu 'bukan? Aku akan meminta bantuan Papimu agar kamu mau bercerai denganku," ucap Lili.
Leo semakin terkekeh mendengar ucapan Lili.
"Apa yang kamu tertawakan?" ucap Lili.
"Papi bukan anak-anak lagi, dia tahu mana yang menjadi urusannya dan bukan. Lagipula ini masalahku, tentu saja dia akan membiarkanku menyelesaikannya sendiri," ucap Leo, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu aku harus menggunakan cara lain," ucap Lili.
Leo mengerutkan dahinya, kekonyolan apalagi yang akan Lili katakan sekarang? Ucapan Lili sebelumnya baginya hanya lelucon.
"Leo, tadinya aku ingin berpisah secara baik-baik denganmu. Aku tak ingin mempermalukan-mu, tapi kamu yang menginginkan aku bertindak jauh. Jadi aku akan melakukannya," ucap Lili.
Leo terdiam, dia sangat penasaran dengan maksud Lili.
"Leo, biar aku ingatkan dirimu. Aku masih memiliki bukti perselingkuhanmu yang tak hanya akan membuat dirimu merasa malu, bahkan aku yakin keluargamu pun akan merasa malu. Kamu juga pasti sudah bisa membayangkannya jika aku sampai menyerahkan bukti itu ke pengadilan. Aku sangat yakin pengadilan takkan berlama-lama mengeluarkan keputusannya," ucap Lili pelan tetapi penuh penekanan.
"Kamu takkan bisa melakukan itu," ucap Leo.
Lili menghela napas panjang.
"Sayang sekali aku telah kehilangan kesabaranku sekarang, jadi aku tak bisa memakluminya lagi. Tapi jika aku tak bisa melakukan cara itu, aku masih memiliki cara lainnya yang bisa aku lakukan," ucap Lili, kemudian tersenyum mengejek Leo.
Leo menghela napas dan menunjukan raut wajah cemas sekarang. Jangan sampai Lili benar-benar melakukan itu, jika itu sampai terjadi, akan ditaruh di mana wajahnya nanti? Sudah jelas itu sangat memalukan jika sampai dilihat oleh orang lain apalagi sampai dilihat oleh orangtuanya. Orangtuanya mungkin akan langsung mengutuknya karena telah membuat malu keluarga yang selama ini dipandang terhormat oleh orang lain.
"Jika saja kamu mau sedikit menghargaiku, maka aku akan lebih menghargaimu. Tapi sekarang aku benar-benar lelah. Sekarang aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan keadilan untuk diriku sendiri. Bagaimanapun aku ingin tetap mengurus anakku, karena itu aku harus tetap waras agar bisa mengurusnya dengan baik," ucap Lili dan merebut Maisy dari gendongan Leo. Setelah itu Lili meninggalkan Leo.
__ADS_1
Leo pun terdiam melihat kepergian Lili. Perlahan dia mulai mengepalkan tangannya. Tiba-tiba dia merasa khawatir, ancaman Lili tak bisa dia anggap remeh sekarang.