ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 73 MEMERIKSA LAPORAN MEDIS


__ADS_3

Florence terkekeh mendengar pertanyaan Lili. Tentu saja itu sedikit membuat Lili bingung. Entah bagian mana yang lucu dari pertanyaannya.


"Memangnya aku siapa, ha? Aku tak memiliki apapun sehingga aku tak memiliki kesempatan untuk bisa menuntut apapun dari Leo!" geram Florence.


Mata Florence memerah membuat Lili terdiam sejenak. Bukan karena kasihan pada Florence, tentu saja dia juga patut dikasihani. Dia lagi-lagi terluka sekarang. Bagaimana tidak? Dia telah memutuskan untuk kembali memperbaiki pernikahannya dengan Leo. Namun, keadaan seperti ini justru muncul dalam pernikahannya.


Siapa yang akan diam dan tetap tenang? Siapa yang akan bisa menerima jika suaminya memiliki anak bersama wanita lain? Tentu saja takkan ada wanita yang akan merasa bahagia mendapatkan kabar seperti itu. Lili telah berusaha menahan emosinya sejak dia di rumah tadi, apalagi ketika dia berhadapan dengan Leo dan itu bukanlah hal mudah.


Tak mudah bersikap seolah tak terjadi apapun padahal kenyataannya dia lagi-lagi merasa hancur. Bahkan sekarang pun bukan hal yang mudah menghadapi wanita yang mengaku memiliki anak dari suaminya sendiri, dia berusaha dengan keras untuk menahan kemarahannya sekarang.


Lili lantas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat.


"Kalau begitu apa yang kamu inginkan sekarang untuk anak itu? Bukankah jika kamu mengatakannya pada Leo maka keluarga Leo juga kemungkinan akan mengetahuinya?" ucap Lili.


"Peduli apa dengan semua itu sekarang? Aku bukan orang yang dulu, Lili. Sekarang aku ingin menuntut tanggung jawab Leo dan ya, seperti katamu. Tentu saja aku juga akan memberitahu keluarga Leo tentang anakku, aku ingin keluarga itu mengakui bahwa anakku juga bagian dari keluarga mereka. Selama ini aku telah mengurus anak itu sendirian, dan sekarang sudah cukup aku berjuang sendiri!" geram Florence.


Lili terdiam, sementara itu Florence mengayunkan tangannya memberikan isyarat agar Lili pergi dari hadapannya.


"Aku muak melihatmu, jangan bersikap seolah kamu peduli padaku. Aku bahkan tahu sekarang dirimu lebih mengenaskan dariku, jadi lebih baik urus saja dirimu sendiri!" kesal Florence dan berbalik.


Lili pun memanggil Florence membuat Florence terdiam.


"Aku bisa membayangkan betapa kasihannya anak itu yang tak pernah tahu siapa ayahnya. Ya, tentu saja aku pun seorang ibu. Aku juga akan melakukan apapun untuk anakku, tapi jika anak itu anak Leo, apa yang akan kamu tuntut dari Leo? Apa kamu akan menuntut Leo agar menikahimu?" ucap Lili.


Florence tersenyum mendengar ucapan Lili, dia lantas kembali mendekati Lili.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Florence seraya tersenyum mengejek Lili.

__ADS_1


"Ya, kamu mungkin akan menuntut itu pada Leo, tapi itu takkan pernah terjadi!" ucap Lili.


"Bagaimana jika itu terjadi?" tanya Florence seraya kembali tersenyum seakan mengejek Lili.


"Selama aku masih menjadi istri Leo, aku takkan membiarkannya terjadi, kamu tahu kenapa?" ucap Lili.


Florence pun terdiam. Namun, tatapannya tak bisa menyembunyikan bahwa dia penasaran dengan apa yang akan Lili katakan selanjutnya.


"Florence, seperti yang kamu katakan. Aku seorang ibu dan aku sudah mengatakannya padamu, aku akan melakukan apapun untuk anakku! Untuk anak itu, aku akan menutup mata dan telingaku karena itu adalah hasil dari kesalahan yang kalian lakukan di masa lalu. Aku pun bukan orang yang luput dari kesalahan dan aku mungkin bisa menerima anak itu karena anak itu tak melakukan kesalahan apapun. Tapi aku takkan membiarkanmu merusak pernikahanku," ucap Lili pelan tetapi penuh penekanan.


Florence tersenyum sinis. Lili juga ikut tersenyum sinis dan meninggalkan Florence.


Florence mengepalkan tangannya seraya memperhatikan Lili yang semakin menjauhinya.


'Aku yakin dia sedang merasa stress sekarang,' gumam Florence.


Ya, baginya sangat gila karena Lili bisa tetap tenang. Jika itu dirinya, dia mungkin sudah akan membuat wanita itu kehilangan kesempatan untuk bernapas lagi.


Sementara itu Lili pergi ke bagian resepsionis, dia meminta informasi tentang sakit yang diderita oleh anak Florence. Dia penasaran, apa sebenarnya yang dialami anak itu sampai-sampai Florence harus menghubungi Leo dan bahkan meminta Leo untuk datang menemuinya. Apa mungkin anak itu menderita sakit yang parah? Pikirnya.


Begitu sampai di resepsionis, Lili meminta menemui Dokter yang menangani anak Florence. Dia akan menanyakannya secara langsung.


Resepsionis dengan ramah memberitahu Lili di mana ruangan Dokter itu berada dan Lili bergegas menuju ruangan Dokter. Dia langsung bertemu dengan Dokter dan memperkenalkan dirinya sebagai tante dari anak Florence. Dokter itu sepertinya percaya karena langsung menganggukan kepalanya.


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.


"Saya ingin tahu penyakit apa yang diderita keponakan saya, Dok?" ucap Lili.

__ADS_1


"Maaf, sebelumnya saya sudah memberitahu ibu pasien tentang keadaan anak itu," ucap Dokter.


"Begitu ya, tapi dia tak ingin memberitahu saya. Mungkin dia masih shock karena keponakan saya sekarang sedang tidak baik. Sebelumnya juga saya sudah menjenguknya, dan saya merasa sangat kasihan," ucap Lili beralasan.


"Begini, Bu. Anak itu terkena demam berdarah," ucap Dokter.


"Benarkah? Bisakah saya melihat laporan medisnya?" tanya Lili.


"Tentu," ucap Dokter dan mencari sebentar laporan medis anak Florence.


Setelah menemukannya Dokter memberikan laporan medis itu pada Lili dan Lili mulai membacanya dan akhirnya dia melihat nama anak itu. Dia kemudian dibuat terkejut karena ternyata ada nama Sasongko di belakang nama anak itu.


Ya, Michael Sasongko adalah nama anak Florence dan terlihat di catatan medis itu bahwa anak Florence lahir 2 bulan setelah Maisy lahir.


Lili berhenti sejenak ketika tiba-tiba terpikirkan sesuatu, dia lantas menutup laporan medis itu dan mengembalikan laporan medis itu pada Dokter.


"Terima kasih banyak, Dok. Tolong berikan perawatan terbaik untuk keponakan saya, saya ingin dia baik-baik saja," ucap Lili seraya tersenyum.


"Tentu, sudah tanggung jawab kami sebagai Dokter," ucap Dokter.


Lili mengangguk dan menyodorkan tangannya ke hadapan Dokter.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Lili dan Dokter menjabat tangan Lili. Lili kemudian keluar dari ruangan itu.


Baru saja dia akan melangkahkan kakinya, dia mendengar ponselnya berdering. Dia lalu mengambil ponselnya dan melihat kontak Leo menghubunginya.


'Tidak di telepon, Leo. Kita akan bicara di rumah,' batin Lili dan dia pun mengabaikan panggilan itu. Dia lantas pergi dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2