
Leo sampai di sebuah kafe di mana Lili akhirnya mengajaknya bertemu di kafe tersebut. Dia lantas mencari keberadaan Lili dan pandangannya tertuju pada seorang wanita yang duduk dalam posisi memunggunginya. Dia pun tersenyum, dia yakin itu adalah Lili. Rambut pendek sebahu dan proporsi punggung wanita itu begitu mirip dengan Lili.
Dia pun bergegas menghampiri wanita itu dan langsung memeluk wanita itu, sehingga wanita itu terperanjat dan bergegas bangkit dari duduknya.
"B*engsek!" geram wanita itu seraya berbalik menghadap Leo, sontak Leo tercengang.
Leo terkejut setengah mati ketika melihat wanita itu ternyata bukanlah Lili.
"Leo!" ucap seseorang, sontak Leo berbalik dan lebih terkejut lagi karena orang yang dicarinya ternyata sedang melihatnya.
"Sayang, ini salah paham," ucap Leo terlihat gugup.
Ya, itu Lili. Dia yakin Lili melihat apa yang dia lakukan.
Plak!
Leo lagi-lagi dibuat terkejut ketika sebuah tamparan dilayangkan wanita yang belum lama dia peluk, sontak Leo pun kembali melihat wanita itu.
"Benar-benar lancang, melakukan pelecehan di depan umum!" geram wanita itu.
"Tunggu dulu, ini salah paham. Saya pikir Anda istri saya," ucap Leo mencoba menjelaskannya. Namun, wanita itu sepertinya tak mau dengar dan justru mengambil tasnya lalu memukulkannya ke dada Leo.
"Saya akan melaporkanmu ke polisi!" geram wanita itu, membuat Leo semakin panik. Dia pun bergegas menghampiri Lili dan menarik Lili menghampiri wanita itu.
"Saya bersumpah, saya pikir Anda istri saya. Lihatlah, bentuk tubuh kalian sangat mirip, itulah mengapa saya langsung memeluk Anda," ucap Leo.
"B*engsek, beraninya memperhatikan bentuk tubuh wanita di tempat umum seperti ini, dasar b*jat!" geram wanita itu.
Leo pun mengusap wajahnya, dia melihat beberapa pengunjung sedang melihatnya, bahkan ada yang bangkit dari kursi mereka dan tentu saja itu membuat Leo merasa malu.
Leo pun melihat Lili ketika Lili mendekati wanita itu.
"Tolong maafkan suami saya, saya mengenal suami saya, dia tidak seperti yang Anda katakan. Saya yakin ini hanya salah paham," ucap Lili, sontak Leo pun terdiam mendengar itu. Namun, wanita itu masih terlihat kesal meski Lili telah mengatakan kejadian itu salah paham.
Setelah itu wanita itu lantas meninggalkan kafe.
Leo lantas menghampiri Lili dan meraih kedua tangan Lili.
"Terima kasih, Sayang. Aku pikir kamu akan diam saja melihat aku dihakimi seperti itu, aku bersumpah aku pikir wanita itu dirimu," ucap Leo.
__ADS_1
Lili melepaskan tangan Leo dan kembali ke mejanya, Leo pun mengikuti Lili dan duduk di hadapan Lili. Leo lantas menyadari bahwa di meja itu Lili hanya sendiri.
"Di mana Maisy?" tanya Leo.
"Kenapa kamu menanyakannya? Bukankah kamu bilang ingin bicara denganku?" ucap Lili.
"Ya, tapi aku juga ingin melihat Maisy. Hari ini aku belum melihatnya," ucap Leo.
"Lalu apa bedanya dengan hari-hari biasanya? Paling kamu hanya akan melihatnya sebentar, setelah itu tak peduli, benar 'kan?" ucap Lili, kemudian tersenyum sinis.
Leo terdiam, dia mencoba tetap tenang meski dia sebenarnya tersinggung mendengar ucapan Lili. Dia tahu, marah di saat seperti ini bukanlah hal yang tepat untuknya, Lili bisa semakin menjauh darinya, pikirnya.
"Jadi apa yang ingin kamu katakan? Aku tak bisa berlama-lama karena aku harus segera pulang untuk Maisy," ucap Lili.
Leo menundukkan kepalanya sebentar, setelah itu dia mengembuskan napas berat dan kembali melihat Lili dan menggenggam kedua tangan Lili.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tak ingin kita seperti ini," ucap Leo.
"Seperti apa maksudmu?" tanya Lili.
"Ya, seperti ini. Kamu pergi dari rumah tanpa memberitahuku. Rumah itu rumah kita, kamu harus pulang denganku ke rumah itu," ucap Leo.
Leo akan mengatakan sesuatu. Namun, Lili justru kembali bicara.
"Saat di telepon kamu bahkan mengatakan kamu akan mengurus perpisahan kita, benar 'kan? Jangan bilang kamu melupakannya," ucap Lili.
"Lili, apa tak ada lagi kesempatan untukku? Kita bisa memulainya dari awal 'kan? Aku akan memperbaiki semuanya," ucap Leo.
"Tidak ada kesempatan, Leo. Kesempatanmu sudah habis, aku sudah tak lagi memiliki stok kesabaran," ucap Lili.
"Sayang, aku berjanji aku takkan mengulanginya lagi," ucap Leo terlihat memelas.
"Ya, itu bagus jika kamu memang bisa berubah. Tapi aku takkan merubah keputusanku, aku tetap ingin bercerai denganmu!" ucap Lili, Leo pun mengepalkan tangannya dan menatap Lili tak senang.
Leo mengusap wajahnya, setelah itu kembali melihat Lili.
"Baiklah, begini saja. Bagaimana jika untuk sementara waktu kamu tenangkan dirimu, dan kita akan bicara lagi setelah kamu tenang. Aku tahu kamu masih marah padaku," ucap Leo.
Lili menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku ingin semuanya segera selesai, Leo. Aku Ingin kembali melanjutkan hidupku tanpa beban apapun! Lagipula, siapa yang bilang aku masih marah padamu? Sekarang aku biasa saja!" ucap Lili.
Leo menatap Lili beberapa detik, dan tak ada apapun yang dia katakan.
"Aku ingin bercerai denganmu!" ucap Lili pelan tetapi terdengar penuh penekanan.
Leo pun mengembuskan napas kasar.
"Baiklah, kalau begitu urus saja sendiri," ucap Leo dan bangkit dari duduknya.
"Bukankah kamu berjanji akan mengurusnya?" ucap Lili.
Leo yang baru saja akan meninggalkan meja itu lantas melihat Lili dan menatap Lili dengan sinis.
"Mengurusnya katamu, apa kamu pikir aku tak memiliki pekerjaan lain? Lagipula, kamu yang ingin bercerai dariku, jadi urus saja sendiri. Aku tak ada waktu melakukan semua itu!" ucap Leo.
Lili menghela napas dan bangkit dari duduknya, dia pun menatap Leo yang terlihat tanpa beban, jelas sekali terlihat berbeda dari sebelumnya di mana Leo terlihat seperti orang yang menyesal.
"Kamu tahu, Leo. Sikapmu yang seperti inilah yang membuatku semakin yakin untuk berpisah denganmu," ucap Lili.
"Dan biar aku katakan juga padamu, Lili. Sejak awal aku tak pernah ingin menikah denganmu. Bahkan menikah denganmu adalah hal yang paling aku sesali seumur hidupku, jika saja tak ada Maisy, aku takkan pernah menikahimu!" ucap Leo pelan tetapi terdengar serius.
Lili mengepalkan tangannya.
"Aku seharusnya masih bisa menikmati hidupku, tapi kamu datang menghancurkan kehidupanku dan lihatlah, sekarang kamu ingin pergi, jadi ya sudah, pergi saja sesukamu," ucap Leo, dan lagi-lagi akan meninggalkan Lili. Namun, dia kembali melihat Lili ketika dia teringat sesuatu.
Leo lalu semakin mendekati Lili dan menatap Lili yang juga menatapnya.
"Oh ya, kamu benar. Kita memang harus berpisah, dan tak perlu mempertahankan pernikahan konyol ini. Aku bahkan tak tahu seperti apa rasanya hidup berumah tangga, apakah hanya melakukan pemberkatan lalu memiliki anak adalah sebuah rumah tangga? Lili, biar aku katakan padamu, sebelum ini terjadi aku memang tak lagi merasakan kehadiranmu, jadi berpisah atau tidak, bagiku akan sama saja," ucap Leo.
Lili tersenyum getir.
"Bagiku kamu hanya seorang istri dalam status saja, kamu tak pernah benar-benar memperlakukan aku sebagai suamimu," ucap Leo dan meninggalkan Lili.
Lili terdiam sejenak, setelah itu dia menyusul Leo. Dia pun memanggil Leo, membuat Leo yang hampir mendekati mobilnya menghentikan langkahnya dan kembali melihat Lili. Lili Tampaknya akan mengatakan sesuatu.
"Kirimkan saja surat gugatan cerai itu padaku dan aku akan menandatanganinya. Tapi sebelum itu, aku minta satu hal darimu, jangan pernah halangi aku jika aku ingin bertemu dengan Maisy!" tegas Leo dan bergegas memasuki mobilnya. Dia tak memberikan kesempatan Lili untuk bicara dengannya lagi.
Lili pun mengepalkan tangannya. Entah mengapa mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Leo membuatnya ingin menangis. Bohong jika sekarang dia bahagia karena ingin bercerai dari Leo, siapapun pasti tak ingin pernikahannya hancur, begitupun dengan Lili.
__ADS_1
Perlahan dada Lili terasa sesak, membuatnya tak bisa menahan air matanya dan akhirnya air mata itu luruh perlahan.