ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 15 - KENAPA TIBA-TIBA LEO PERHITUNGAN?


__ADS_3

Pukul 3 sore, Leo merapikan mejanya dan bangkit dari kursinya. Dia mengambil jasnya dan berniat keluar dari ruang kerjanya. Namun, bersamaan dengan itu, Kikan--orang yang Leo suruh membuatkan surat pemutusan kontrak kerjasama untuk Sisil memasuki ruangannya.


"Apa Anda akan pergi, Pak?" tanya Kikan.


"Ya, ada apa?" tanya Leo terlihat tak senang. Lancang sekali Kikan, apakah jika dia tak ada di kantor, terlebih di ruangannya, karyawannya biasa memasuki ruangannya tanpa izin? Pikir Leo.


"Maaf, Saya tak tahu Anda akan pulang cepat. Tapi, Saya ingin memberikan informasi tentang pencarian sekretaris baru untuk Anda," ucap Kikan.


Leo terdiam. Apakah kandidatnya sudah masuk? Kenapa cepat sekali? Pikir Leo terkejut. Dia melihat jam tangannya, baru 2 jam yang lalu dia memecat Sisil, cepat sekali Kikan dalam bekerja.


"Saya sudah membuat informasi tentang itu. Semoga secepatnya Anda bisa segera mendapatkan sekretaris baru untuk menggantikan Sisil," ucap Kikan.


Leo mengangguk dan mengambil kunci mobilnya. Setelah itu, dia kembali melihat Kikan.


"Apa ada lagi yang akan kamu sampaikan?" tanya Leo.


"Itu saja, Pak," ucap Kikan.


"Baiklah, kalau begitu Saya akan pergi," ucap Leo dan berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, Leo kembali melihat Kikan.


"Lain kali, jangan masuk sembarangan ke ruangan Saya! Apa gunanya kamu memiliki tangan jika tidak kamu manfaatkan," ucap Leo dan meninggalkan Kikan.


'Aku 'kan sudah mengetuk pintu,' batin Kikan heran.


Ya, Leo seperti tak mendengar suara ketukan di pintu. Apa Kikan kurang menggunakan tenaga? Entahlah ... Kikan pun keluar dari ruangan Leo.


Sementara itu, Leo pergi menuju mobilnya dan melajukannya menuju rumah. Begitu mobil sampai di halaman rumah, Rani--salah satu asisten rumah tangga yang sedang berada di depan rumah pun melihat ke arah mobil Leo. Tak lama Leo keluar dari mobil, dan berjalan menghampirinya.


'Kenapa Tuan Leo pulang cepat? Nyonya Lili belum pulang,' batin Rani. Mungkin, selama dia bekerja dengan Leo dan Lili, inilah kali pertama dia melihat Leo kembali ke rumah dengan cepat.


"Di mana Nyonya?" tanya Leo begitu hampir mendekati Rani.


"Nyonya belum kembali, Tuan," ucap Rani.


Leo mengerutkan dahinya dan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu hampir menunjukan pukul 4 sore.


"Maisy?" tanya Leo.


"Nona kecil juga dibawa oleh Nyonya," ucap Rani.


"Oh," ucap Leo dan berjalan menuju pintu. Sebelum memasuki rumah, dia berbalik dan kembali melihat Rani.


"Jam berapa Nyonya akan kembali ke rumah? Apa dia bilang padamu?" tanya Leo.


"Tidak, Tuan. Nyonya hanya bilang akan bertemu dengan temannya," ucap Rani.


Leo tak mengatakan apapun lagi dan meninggalkan Rani. Dia pergi ke kamarnya dan mengempaskan tubuhnya di sofa. Dia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Lili.


Tak diduga, Lili dengan cepat menjawab panggilannya.

__ADS_1


'Di mana?' tanya Leo.


'Aku sedang di luar,' ucap Lili.


'Aku tahu, maksudku di mana tempatnya?' tanya Leo.


'Kenapa? Apa kamu akan menemuiku? Aneh sekali tiba-tiba meneleponku di jam kerjamu,' ucap Lili kemudian terdengar bingung.


'Ya, aku akan menemuimu. Kirimkan alamatnya,' ucap Leo.


Terdengar Lili yang sepertinya akan mengatakan sesuatu, tetapi Leo justru langsung mengakhiri telepon. Leo pun bangkit dari sofa dan melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Setelah itu, dia pergi menuju kamar mandi.


Dia memang tak bercanda, dia benar-benar akan menyusul Lili. Namun, tentu saja dia akan mandi terlebih dahulu agar merasa segar.


***


Selesai mandi, Leo mengambil ponselnya dan melihat ada pesan dari Lili. Rupanya, pesan itu adalah sebuah foto yang sepertinya diambil di sebuah restoran. Tak ada alamat di pesan itu. Hal itu, membuat Leo menghela napas dan menghubungi kontak Lili. Tak lama Lili pun menjawab panggilannya.


'Sudah aku katakan kirimkan alamatnya, bukan foto,' ucap Leo.


'Aku sedang bersama teman wanitaku, apa kamu yakin akan menyusulku?' tanya Lili.


'Memangnya kenapa? Kirimkan cepat, aku akan bersiap,' ucap Leo dan lagi-lagi mengakhiri telepon sebelum Lili sempat mengatakan sesuatu.


Tak lama Lili mengirimkan lokasinya, ternyata Lili sedang berada di sebuah restoran yang ada di dalam salah satu Mall. Leo pun bersiap dan setelah selesai, dia melajukan mobilnya menuju Mall tersebut.


Sesampainya di sana, Leo langsung menuju restoran tempat Lili berada. Namun, anehnya di sana tak ada orang lain. Tak ada teman Lili, dan justru hanya ada Lili bersama pengasuh Maisy. Maisy tampak berada di strollernya.


"Sayang," ucap Leo, sontak saja Lili yang sebelumnya memunggungi Leo langsung melihat ke arah Leo.


"Oh, kamu cepat sekali sampai," ucap Lili.


Leo mengangguk dan menghampiri Lili yang masih dalam keadaan duduk. Leo tiba-tiba saja membungkuk sebelum Lili bisa bangkit dari kursinya. Lili pun dibuat heran ketika dia pikir Leo akan menciumnya, tetapi ternyata Leo justru mengambil gelas berisikan minuman yang ada di depannya.


Lili pun menatap Leo tak senang ketika Leo meminum minumannya. Namun, Leo justru tersenyum dan meletakan gelas itu di atas meja setelah selesai meminumnya.


"Aku akan menggantinya," ucap Leo, membuat Lili memutar bola matanya.


Leo lantas menarik salah satu kursi dan pengasuh Maisy bergegas bangkit.


"Nyonya, Saya akan mengajak Nona kecil jalan-jalan saja, ya," ucapnya.


"Apa? Kamu tak lihat Saya baru datang? Kenapa mau membawa Maisy pergi?" tanya Leo terlihat tak senang.


Belum sempat mengatakan sesuatu, Lili justru meminta pengasuh Maisy untuk membawa Maisy jalan-jalan.


"Hei?" Leo menatap Lili bingung.


"Dari pada kamu kehilangan mood-mu 'kan? Lebih baik Maisy jalan-jalan," ucap Lili.

__ADS_1


Leo menahan napasnya sejenak. Oh sungguh, tiba-tiba dia merasa Lili sedang menyindirnya karena sebelumnya dia mengatakan tak menyukai Maisy.


Leo pun memilih mengambil buku menu dan membiarkan Maisy pergi jalan-jalan di dalam Mall bersama pengasuhnya.


"Di mana temanmu? Kenapa kamu hanya sendirian?" ucap Leo.


"Sudah pulang," ucap Lili.


Ya, itu benar. Teman wanita Lili belum lama meninggalkan restoran. Sebenarnya, sudah sejak menjelang siang tadi Lili bertemu dengan teman wanitanya. Dia benar-benar menikmati waktu bersama temannya meski Maisy ikut bersamanya. Buktinya, di kursi lain ada beberapa paper bag yang berisikan belanjaan Lili.


"Oh ya?" ucap Leo seraya melihat Lili sekilas.


"Ya, aku dan dia sejak tadi di sini. Jika saja kamu tak bersikeras ingin menyusulku, aku sudah pulang juga," ucap Lili.


Leo tak mengatakan apapun lagi dan memanggil pelayan. Dia memesan minuman pada pelayan itu. Masih tersisa waktu menuju jam makan malam, dia akan memesan makanan nanti.


Setelah memesan minuman, Leo baru tersadar pada paper bag di kursi dekat Lili.


"Kamu belanja?" tanya Leo.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Lili.


"Jawab yang benar, iya atau tidak?" ucap Leo terlihat tak senang.


Lili menatap Leo dan terdiam sejenak. Ada apa sebenarnya dengan Leo? Kenapa Leo sangat tak bersahabat? Lagipula, Leo sudah melihatnya, kenapa juga harus bertanya? Pikirnya.


"Ya," ucap Lili terdengar malas.


Leo menyodorkan tangannya ke hadapan Lili, membuat Lili mengerutkan dahinya lantaran bingung.


"Nota, aku ingin lihat berapa banyak yang kamu habiskan untuk belanjaanmu?" ucap Leo.


Lili tercengang. Apakah Leo sedang perhitungan? Kenapa tiba-tiba ingin memeriksa nota belanjaannya?


"Kemarikan!" ucap Leo terdengar tak sabar.


"Ya ampun, ada apa denganmu?" ucap Lili.


Leo mengabaikan Lili dan mengambil tas Lili yang ada di antara paper bag di kursi. Lili pun berniat merebutnya tetapi Leo menjauhkan tas itu dari jangkauan Lili. Lili pun hanya bisa terdiam dan menahan rasa kesalnya ketika Leo benar-benar mengambil dompetnya dan juga mengambil nota dari semua belanjaannya hari ini.


Leo memeriksa nota-nota itu sambil sesekali melihat Lili.


"Kenapa? Jangan bilang kamu akan perhitungan, aku bahkan tak pernah melarangmu membeli apapun!" ucap Lili dan mencoba mengambil nota-nota itu. Namun, lagi-lagi Leo menghalanginya.


"Leo!" kesal Lili. Namun, Leo justru bangkit dari kursinya dan membawa dompet Lili bersamanya.


"Astaga, mau ke mana?" tanya Lili seraya bangkit dari kursinya, tetapi Leo terus berjalan hingga akhirnya keluar dari restoran.


Lili pun jadi serba salah, dia ingin mengejar Leo tetapi dia tak bisa meninggalkan meja itu karena belum membayar semua pesanannya.

__ADS_1


'Menyebalkan sekali, tak usah menyusul saja kalau begitu!' batin Lili kesal.


__ADS_2