
Leo mengembalikan buku cek itu ke dalam laci meja kerjanya. Setelah itu dia meletakan pulpen ke tempatnya kembali. Dia pun akhirnya berpikir bahwa sebenarnya dialah yang tak menyadari bahwa buku cek itu ada di atas meja kerjanya karena perbuatannya. Setelah itu Leo membuka pekerjaannya dan bekerja sebentar di sana.
Ke esokan harinya.
Pagi ini tak seperti pagi kemarin di mana Lili tak menemani Leo sarapan. Ya, pagi ini Lili menemani Leo sarapan di rumah itu. Leo yang berniat pergi ke kantor dengan santai, lantas mengatakan akan mengantar Lili bertemu dengan teman Lili.
"Tak perlu, aku akan mengemudi sendiri," ucap Lili.
Leo menyeka bibirnya dengan serbet makan dan melihat Lili.
"Maksudmu mengemudi sendiri saat membawa Maisy bersamamu?" tanya Leo bingung.
"Tidak, aku akan menitipkan Maisy ke Susternya," ucap Lili.
Leo mengerutkan dahinya. Rasanya agak aneh mendengar Lili yang bisa dikatakan akan membawa Maisy sampai ke kamar mandi, tetapi kali ini tiba-tiba Lili akan pergi tanpa Maisy. Nada bicara Lili juga terdengar santai dan seperti tak khawatir akan meninggalkan Maisy.
"Sebenarnya ada urusan apa antara dirimu dengan temanmu itu?" tanya Leo penasaran.
"Hanya bertemu dan membicarakan beberapa hal saja," ucap Lili, kemudian tersenyum.
"Ya ... Lalu, hal apa itu?" tanya Leo terdengar sangat ingin tahu.
"Pembahasan tentang wanita, kupikir pria tak perlu tahu," ucap Lili.
"Benarkah?" tanya Leo seraya menatap Lili dengan curiga.
Entah mengapa sejak kemarin Lili terlihat sangat aneh. Tentu saja dia jadi tak bisa berpikir yang tidak-tidak tentang Lili.
Lili pun mengangguk.
"Aku akan bersiap, tapi jam berapa kamu akan berangkat ke kantor?" tanya Lili.
Leo menghela napas dan bangkit dari duduknya.
"Sekarang," ucap Leo dan mengambil tas kerjanya. Setelah itu dia meninggalkan meja makan.
Lili pun hanya diam tanpa melihat Leo yang semakin menjauhinya.
Setelah itu, Lili tersenyum dan mengambil air miliknya. Dia lantas meminum air tersebut dan bangkit dari kursinya.
Sesuai yang Lili katakan tadi malam, pagi ini Lili akan bersiap untuk bertemu dengan Rani. Ya, dia benar-benar akan mengurus pembelian rumah Rani dan tentunya dia sama sekali tak berniat memberitahukan itu pada Leo. Lili yakin, tanpa dia memberitahu Leo pun, Leo akan tahu dengan sendirinya nantinya.
__ADS_1
Selesai bersiap, Lili menitipkan Maisy pada pengasuhnya. Setelah itu dia memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan rumah. Dia akan langsung bertemu dengan Rani di kantor notaris pribadinya dan akan melakukan transaksi di sana. Tak hanya akan ada notaris dan Rani, melainkan akan ada pengacara yang juga akan menjadi saksi dari pembelian rumah itu nantinya.
Sesampainya di kantor notaris, tanpa berbasa-basi transaksi pun dimulai. Lili dan Rani menandatangani kesepakatan pembelian rumah itu dan setelah itu Lili menyerahkan amplop berisikan cek yang sudah dia siapkan tadi malam pada Rani.
"Terima kasih, Lili. Kamu sangat membantuku," ucap Rani terlihat ada kesedihan di matanya. Sebenarnya dia tak rela rumahnya dijual tetapi tak ada pilihan selain menjual rumah itu sekarang.
"Ya, aku bisa mengantarmu ke Bank untuk mencarikan cek itu," ucap Lili.
"Tak perlu, aku percaya padamu. Aku yakin cek ini bukan cek kosong," ucap Rani, dan Lili pun tersenyum.
Rani lantas membuka amplop itu dan melihat cek itu. Nominal yang tertera di cek itu sesuai dengan harga yang sudah disepakatinya bersama Lili. Namun, ada yang membuatnya tertarik. Cek itu ditandatangani oleh Leo, itu terlihat dari stempel yang tertera atas nama Leo yang ada di cek itu.
"Suamimu sangat baik, Lili," ucap Rani, Lili pun terdiam.
"Suamimu dengan mudahnya memberikan cek dengan nominal sebesar ini padamu, dia pasti tak perhitungan dan pastinya sangat mencintaimu," ucap Rani, dan Lili pun terkekeh.
'Sangat mencintaiku? Sungguh? Benar-benar sangat lucu, Leo bahkan tak tahu aku menggunakan uangnya untuk membeli rumah,' batin Lili.
Lili merasa ingin tertawa. Namun, sebisa mungkin dia menahan dirinya. Entah mengapa tak ada ketakutan sekarang. Padahal, ya, dia menggunakan rekening Leo untuk membeli rumah itu. Dia juga yang menggunakan stempel atas nama Leo di cek itu.
"Bukankah saat seseorang menikah maka uang suami adalah milik istri?" ucap Lili, Rani pun terkekeh.
Lili pun hanya tersenyum. Setelah itu Rani meninggalkan kantor notaris itu bersama pengacaranya. Kini tinggallah Lili, notaris pribadinya dan pengacaranya yang ada di sana.
"Pak Rudi, terima kasih untuk bantuannya hari ini," ucap Lili, kemudian menyodorkan tangannya ke hadapan sang notaris.
Rudi pun menjabat tangan Lili.
"Tak perlu sungkan, Bu Lili. Saya akan mengabari Anda saat surat balik nama sertifikat dari rumah itu telah selesai," ucap Rudi.
"Baiklah, kalau begitu ..." Lili melihat pada pengacaranya.
"Kita pergi dari sini," ucap Lili dan diangguki oleh sang pengacara. Keduanya lantas keluar dari kantor notaris.
Sebelum memasuki mobil, Lili kembali mengingatkan pengacaranya yang juga adalah pengacara Leo agar tidak memberitahu Leo bahwa hari ini telah terjadi pembelian rumah. Lili beralasan dia akan memberikan kejutan pada Leo.
Pengacara Lili pun mengiyakan permintaan Lili. Setelah itu Lili memasuki mobilnya dan mengambil ponselnya. Dia menghubungi kontak Leo. Namun, Leo tak menjawab panggilannya.
'Tak masalah, sekarang bisa pulang ke rumah dulu dan aku akan kembali menghubunginya nanti,' gumam Lili dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan area kantor notaris.
Di sepanjang perjalanan kembali ke rumah senyuman terukir di bibir Lili. Lili sepertinya tak bisa menahan senyuman itu keluar dari bibirnya. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.
__ADS_1
***
Waktu berlalu, menjelang jam makan siang, Leo mengambil ponselnya yang sengaja tak dia lihat karena banyaknya pekerjaan yang dia kerjakan sejak dia sampai di kantor tadi pagi. Dia lantas membuka ponselnya. Dahinya lantas berkerut saat melihat ada satu panggilan tak terjawab dari Lili. Dia lantas menghubungi kontak Lili dan tak lama Lili pun menjawab panggilannya.
'Ha --'
'Ya ampun, Sayang. Akhirnya kamu menghubungiku,' ucap Lili menyela Leo yang bahkan belum menyelesaikan ucapannya.
'Ada apa?' tanya Leo.
'Ayok dinner di luar besok malam,' ucap Lili, sontak Leo merasa heran. Tumben sekali Lili mengajaknya makan malam di luar, pikirnya.
'Memangnya ada acara apa?' tanya Leo.
'Aku merindukanmu dan ingin menghabiskan waktu berdua denganmu, memangnya apalagi?' ucap Lili, sontak Leo semakin heran.
Dia lantas melihat ponselnya, rasanya dia ragu bahwa yang bicara dengannya adalah Lili. Dia ingin pun mencoba memastikan bahwa dia tak salah menghubungi nomor telepon. Namun, setelah dia memastikannya, rupanya memang Lili lah yang sekarang sedang bicara manis padanya.
'Benarkah?' ucap Leo terdengar tak terlalu peduli.
'Tentu saja, dan apa kamu ingat saat malam itu kamu meminta sesuatu padaku?' tanya Lili, sontak Leo bergegas bangkit dari kursinya.
'Apa maksudmu?' tanya Leo penasaran.
'Ya, kenapa tidak? Aku mungkin hanya memerlukan suasana yang bagus besok malam, tapi aku bingung di mana tempat yang bagus untuk dinner kita besok malam? Aku menginginkan suasana yang romantis,' ucap Lili, sontak Leo tersenyum penuh maksud. Dia tiba-tiba terpikirkan sesuatu dan justru membayangkannya.
'Halo?' ucap Lili, sontak Leo tersadar dari lamunannya.
'Jangan khawatir, Sayang. Aku akan mengurusnya. Besok kamu hanya perlu berdandan dengan cantik dan pangeranmu akan membawamu ke sebuah tempat yang romantis,' ucap Leo, kemudian menyeringai.
Terdengar kekehan Lili dari dalam telepon.
'Aku sangat tak sabar,' ucap Lili, kemudian telepon pun berakhir.
Leo terdiam sejenak. Sebenarnya, dia agak bingung dengan Lili sekarang. Lili terlihat antusias dan tentu saja itu bukan Lili. Apalagi saat Lili mengingatkannya pada sesuatu. Dia yakin maksud Lili adalah tentang permintaannya untuk menyentuh Lili yang tak sempat Lili penuhi malam itu.
'Baiklah, atur waktu dan tempat dulu, jangan sampai aku gagal lagi,' batin Leo, kemudian memanggil sekretarisnya dan meminta sekretarisnya untuk memesankan sebuah meja di restoran salah satu hotel untuk besok malam.
Setelah itu Leo mengatur alarm untuk pulang besok sore. Dia tak ingin sampai lupa tentang makan malamnya dengan Lili besok malam.
Selain itu, momen ini amat langka, jika Leo melewatkannya, dia mungkin takan memiliki kesempatan bagus seperti ini lagi.
__ADS_1