
Leo mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Lili. Itu adalah pesan video yang menampakan kebersamaan dirinya dengan Maisy di hotel tadi.
Leo tanpa sadar ikut terkekeh melihat Maisy yang terus tertawa di dalam video itu. Mengapa dia tak menyadari bahwa, anaknya itu begitu sangat menggemaskan. Melihat video itu, seperti melihat bayi yang biasa menjadi bintang iklan di televisi. Seketika dia merasa kagum pada dirinya sendiri, berkat dirinya Lili bisa melahirkan anak secantik dan selucu Maisy.
Leo menekan panggilan menuju kontak Lili. Tak lama Lili pun menjawab panggilan Leo.
'Aku sudah melihatnya, sangat bagus,' ucap Leo.
'Benarkah?' tanya Lili.
'Ya,' ucap Leo.
'Ya sudah, apa kamu masih sibuk? Bukankah kamu harus bersiap?' ucap Lili.
'Sebentar lagi,' ucap Leo.
'Baiklah, aku akan melihat Maisy. Pakaianmu ada di tempat biasa, aku sudah menyiapkannya,' ucap Lili dan telepon itu berakhir.
Leo pun merapikan meja kerjanya dan beranjak dari sana. Setelah itu, dia kembali ke kamar dan mulai bersiap.
***
Pukul 5 sore.
Di ruang ganti Leo baru saja selesai memakai pakaiannya. Dia lalu mengambil ponselnya dan menekan panggilan menuju kontak Sisil. Dia menanyakan tentang persiapan pertemuan itu.
'Semuanya sudah selesai, pertemuan itu akan diadakan di hotel tempat mereka menginap,' ucap Sisil.
'Baiklah, kita akan bertemu di sana,' ucap Leo dan mengakhiri telepon itu.
Leo berbalik dan melihat Lili yang ternyata berada di ruangan itu juga. Entah kapan Lili memasuki ruangan itu, dia sama sekali tak menyadarinya.
"Aku akan pergi sekarang," ucap Leo, kemudian mengambil jam tangannya dan memakainya.
Lili menghampiri Leo yang kini berdiri di depan cermin dan berdiri di sisi Leo. Leo lantas menoleh pada Lili. Tanpa diduga, Lili justru merapikan jas yang dia kenakan.
"Kuharap pertemuan itu berjalan lancar dan sesuai keinginanmu," ucap Lili seraya menepuk pelan dada Leo.
Leo tersenyum kecil.
"Aku harap begitu," ucap Leo dan mengambil tas kerjanya yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Dia lalu berjalan menuju pintu.
"Leo!" ucap Lili, sontak saja Leo berhenti dan kembali melihat Lili.
"Aku akan mengantarmu ke depan," ucap Lili.
__ADS_1
Leo mengerutkan dahinya, tetapi kemudian dia membiarkan Lili saat Lili mengambil tas kerjanya. Dia lalu melanjutkan langkahnya dengan Lili yang juga ikut bersamanya.
"Di mana Maisy?" tanya Leo di tengah langkah menuju garasi.
"Dia di kamarnya," ucap Lili.
"Baiklah," ucap Leo dan kembali melanjutkan langkahnya menuju garasi. Dia memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Di perjalanan, Leo lagi-lagi mendapatkan telepon dari Nio. Nio menanyakan keberadaan Leo sekarang.
'Aku sedang di perjalanan, aku takan melupakannya lagi,' ucap Leo.
'Baguslah, semoga berhasil, aku akan mengabarkan pada Papi jika kamu benar-benar berhasil melakukannya,' ucap Nio dan panggilan itu berakhir.
'Aku sungguh tak ingin bekerja seperti ini! Benar-benar merepotkan,' batin Leo.
Sepertinya, bekerja di bawah tekanan orang lain bukanlah apa yang Leo harapkan. Jika saja Leo bisa mendapatkan posisi Nio, mungkin itu akan lebih baik. Apa daya, Nio memang pantas mendapatkan posisi itu karena Nio adalah anak laki-laki pertama di keluarga Sasongko. Nio lah penerus yang nantinya akan benar-benar mewarisi perusahaan Sasongko.
Sesampainya di hotel, Leo menghampiri Sisil yang sudah menunggunya di depan lobi. Berapa hari dia tak bertemu Sisil? Sisil terlihat berbeda.
Begitu Leo sampai di depan Sisil, Sisil kesulitan mengontrol napasnya. Aroma parfum di tubuh Leo dan tampilan Leo yang begitu menyegarkan membuat ketampanan Leo bertambah berkali-kali lipat. Dadanya seakan bergejolak melihat pria tampan yang tak bisa dia lihat dan sangat dia rindukan itu sekarang benar-benar ada di depannya.
"Apa mereka sudah turun?" tanya Leo.
"Sepertinya sebentar lagi, kita akan menunggu mereka," ucap Sisil.
"Ya, baiklah," ucap Sisil dan mulai menuju ruang pertemuan.
Di tengah langkahnya, Leo memperhatikan punggung Sisil dari belakang. Dia berjalan di belakang Sisil sekarang.
Dia menarik napasnya dan mengembuskannya dengan perlahan, dia lalu mengusap wajahnya. Tak lama Sisil menoleh padanya tetapi tak mengatakan apapun. Hingga akhirnya mereka sampai di ruang pertemuan itu dan Leo memperhatikannya dengan detail. Ada alat untuk persentase di sana, dan Leo mendekatinya.
"Apa alatnya berfungsi? Jangan sampai ada kesalahan sedikit saja," ucap Leo.
Sisil menghela napas dan mendekati Leo. Dia lalu duduk di tepi meja.
"Aku sudah mengecek semuanya, bahkan aku datang ke sini sejak tadi sore hanya untuk memastikan semua persiapan dilakukan dengan baik tanpa ada kesalahan sedikitpun," ucap Sisil.
Leo tersenyum dan mendekati Sisil.
"Pekerjaan yang bagus, Sisil," ucap Leo memuji Sisil.
Sisil yang sebelumnya saja masih mencoba mengatur napasnya, kini kembali merasa sulit mengontrol detak jantungnya. Dia tak membual, dia benar-benar jatuh cinta pada Leo.
Sisil yakin, tak hanya baginya, tetapi Leo juga pasti sosok pria idaman semua wanita di luar sana. Tak hanya tampan, tetapi Leo terlahir dari keluarga kaya raya dan sudah jelas akan menjadi pewaris kekayaan orangtuanya. Tak perlu bekerja keras, Leo akan bisa menikmati hidup bak pangeran dan siapa saja wanita yang hidup dengan Leo, sudah pasti akan diperlakukan seperti seorang putri, pikirnya.
__ADS_1
"Ayok sambut mereka," ucap Leo dan berjalan menuju pintu.
Sisil pun tersadar dari lamunannya dan bergegas menyusul Leo. Dia mendampingi Leo menyambut klien dari Amerika itu.
Tak di sangka, yang datang adalah Mr. Jacob, yang tak lain adalah petinggi di perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan Sasongko. Mr. Jacob didampingi beberapa orang.
Ini akan menjadi momen besar bagi Leo, karena itu Leo tak bisa main-main untuk pertemuan ini. Dia akan menunjukan bahwa, dia mampu meyakinkan mereka dan memperbaiki kesalahannya tadi siang yang tak datang ke pertemuan itu.
Mereka pun akhirnya pergi menuju ruang pertemuan dan mulai membicarakan pekerjaan di sana.
***
Beberapa jam berlalu, pertemuan itu ditutup dengan Leo yang berjabat tangan dengan Direktur dari perusahaan yang berasal dari Amerika itu. Keduanya akhirnya sepakat untuk bekerja sama.
"Mr. Jacob, to celebrate our partnership, I will invite you to a party tomorrow night. I will send someone to pick you up," ucap Leo.
"Mr. Jacob, untuk merayakan kerjasama kita, Saya akan mengundang Anda ke pesta besok malam. Saya akan mengirimkan seseorang untuk menjemput Anda."
"Okay, I will come," ucap Mr. Jacob seraya tersenyum.
Keduanya lalu berjalan bersama menuju pintu dan Leo mengantarnya hanya sampai di sana. Setelah mereka pergi, Leo kembali ke ruang pertemuan dan merapikan barang-barangnya. Dia lalu melihat Sisil yang juga sedang merapikan barang-barangnya.
Setelah itu, dia mengambil buku cek dan menyodorkannya ke hadapan Sisil.
"Untuk kerja kerasmu hari ini, silahkan tuliskan nominalnya di cek ini," ucap Leo.
Sisil melihat cek itu dan menghela napas. Dia lalu menatap Leo.
"Aku harap kamu tak menyesal membiarkanku menulis nominalnya sendiri," ucap Sisil.
Leo menggidigkan bahunya. Setelah itu, Sisil mengambil buku cek itu dan menuliskan nominalnya di sana. Dia lalu mengembalikan buku cek itu dan Leo melihatnya.
Ada tiga digit di depan nominal yang telah Sisil tuliskan dan tanpa ragu Leo menandatangani cek itu. Setelah itu, dia merobek cek itu dan menyerahkannya pada Sisil. Sisil pun mengambilnya.
"Terima kasih untuk kerja kerasmu, Sisil. Seperti biasa, kamu selalu luar biasa," ucap Leo kemudian menepuk pipi Sisil.
Leo lantas mengambil tasnya dan bersiap keluar dari ruangan itu.
"Kenapa kamu tak mengerti, Leo? Aku butuh dirimu, bukan uangmu," ucap Sisil.
Leo pun terdiam dan kembali melihat Sisil.
"Bisakah kamu melupakan apa yang aku katakan beberapa hari lalu? Bisakah kita tetap bersama?" tanya Sisil.
Leo lagi-lagi diam dan memperhatikan Sisil dari ujung kaki hingga akhirnya kembali menatap Sisil.
__ADS_1
"Setelah aku perhatikan, ada sesuatu yang berbeda denganmu," ucap Leo seraya menyentuh dagunya seakan dia sedang memikirkan sesuatu.
Sisil mengerutkan dahinya. Apa maksudnya? Apa yang berbeda darinya? Pikir Sisil bingung.