ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
BAB 34 - BERGEGAS PULANG


__ADS_3

Leo membuka sebuah amplop hitam berhiaskan pita yang baru saja Florence berikan padanya. Dia lantas terdiam ketika melihat isi di dalamnya yang ternyata adalah sebuah undangan.


"Undangan apa ini?" tanya Leo bingung. Jika dilihat dari luar, undangan itu sepertinya bukanlah undangan pernikahan.


"Itu undangan untuk peresmian kantor baruku, kuharap kamu bisa hadir saat persemian nanti," ucap Florence.


"Oh ya." Leo membuka undangan itu dan terlihat tanggal berlangsungnya undangan itu yang ternyata digelar beberapa hari ke depan, tepatnya pada sabtu siang.


"Kamu juga bisa mengajak Lili, tapi entahlah dia mau atau tidak datang ke persemian kantor baruku. Aku harap dia takan mengingat apa yang terjadi dua tahun lalu dan tentu saja aku juga sudah melupakannya," ucap Florence seraya tersenyum.


Leo menghela napas dan memasukan undangan itu kembali ke amplop sebelumnya.


"Terima kasih undangannya, akan aku usahakan. Tapi Lili sepertinya sibuk. Dia mungkin takan ikut denganku," ucap Leo kemudian tersenyum.


"Sibuk? Apa dia bekerja?" tanya Florence seraya mengerutkan dahinya.


"Ya, dia bekerja," ucap Leo.


Florence pun tampak terkejut.


"Kerja apa? Aku pikir dia tak bekerja dan hanya diam di rumah. Maksudku, melihat dirimu yang memiliki pekerjaan menjanjikan, aku pikir dia tak perlu bekerja lagi," ucap Florence.


Leo tersenyum mendengar ucapan Florence.


"Maksudku, Lili bekerja di rumah. Mengurus anak kami dan rumah kami," ucap Leo.


Florence terdiam sejenak, setelah itu dia tersenyum.


"Kupikir dia bekerja di luar," ucap Florence.

__ADS_1


"Tidak, aku melarangnya bekerja. Biarlah dia di rumah saja, aku masih sanggup menghidupinya," ucap Leo, kemudian terkekeh.


"Ya, suami yang baik sepatutnya memang membiarkan istrinya di rumah saja. Seharusnya memang tak perlu bekerja, apalagi yang sudah memiliki pasangan, akan lebih baik mengurus pasangan saja," ucap Florence.


"Ya, wanita mandiri juga bagus, seperti dirimu," ucap Leo.


Florence pun terdiam mendengar ucapan Leo. Namun, setelah itu dia tersenyum. Dia tampaknya senang mendengar apa yang Leo katakan barusan.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita makan malam dulu? Aku yang akan mentraktir-mu," ucap Florence.


"Ya, kapan lagi aku bisa makan gratis 'kan?" ucap Leo, kemudian Florence terkekeh.


Florence lantas memanggil seorang pelayan yang berada tak jauh dari mejanya, dia dan Leo akhirnya memesan makan malam dan mereka bahkan menikmati makan malam itu bersama.


Selesai makan malam, Leo pamit ke toilet dan dia mengaktifkan ponselnya di sana. Leo sempat menonaktifkan ponselnya ketika dia keluar dari kantor untuk tujuan menemui Florence tadi. Dia pikir itu lebih baik karena dia khawatir Lili akan menghubunginya ketika dia menemui Florence.


'Pasti ada panggilan tak terjawab darinya,' batin Leo mengingat Lili.


Ya, dia sudah tahu istrinya itu akan selalu menghubunginya ketika dia terlambat pulang kantor.


Selang beberapa menit, Leo tersenyum nyeleneh seraya melihat ponselnya. Benar saja dugaannya, ada panggilan tak terjawab dari Lili. Dia lantas melihat notifikasi pesan di layar depan dan pesan itu datang dari Lili. Dia pun membaca pesan itu tanpa membukanya, dia membaca pesan itu melalui notifikasi pesan tersebut.


Tiba-tiba dia tersentak setelah membaca pesan itu, dia akhirnya membuka pesan Lili dan ternyata banyak pesan dari Lili. Lili menanyakan kapan dirinya akan pulang ke rumah untuk menjemput Lili dan Maisy? Lili juga mengingatkan dirinya bahwa malam ini dia akan membawa Lili dan Maisy untuk makan malam di kediaman sang papi.


'Astaga ... Aku melupakan makan malam ini,' batin Leo.


Leo pun bergegas keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja Florence.


"Florence, sorry. Aku harus pergi sekarang," ucap Leo seraya menatap Florence yang masih duduk di kursinya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Florence bingung.


"Tidak, aku lupa bahwa aku memiliki urusan penting malam ini. Terima kasih untuk undangannya, dan terima kasih juga untuk makan malamnya," ucap Leo dan akan meninggalkan Florence. Namun, Florence bergegas bangkit dari kursinya.


Leo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali melihat Florence.


"Lain kali aku yang akan mentraktir-mu, aku harus menjemput istriku sekarang. Sampai jumpa," ucap Leo dan bergegas keluar dari restoran.


Florence pun terdiam sejenak, setelah itu dia melihat ke sekelilingnya. Dia melihat ada seseorang yang sedang melihat ke arahnya. Seketika itu juga dia merasa tak nyaman. Dia pun akhirnya kembali duduk. Dia lantas mengusap tengkuknya.


'Apa perlu menyebutkan istrinya? Benar-benar membuatku tak nyaman, apa yang akan orang lain pikirkan jika mereka mendengar apa yang Leo katakan tadi?' batin Florence.


Sementara itu, Leo mulai melajukan mobilnya keluar dari area restoran. Dia lantas mengambil ponselnya dan menekan panggilan menuju kontak Lili. Dia mencoba menghubungi Lili seraya mengemudi. Namun, sayangnya kontak Lili tak bisa dihubungi. Dia akhirnya menghubungi sang papi, dan menanyakan apakah Lili sudah datang ke kediaman sang papi atau belum?


'Seharusnya Papi yang bertanya, kalian ini sudah di mana? Sudah jam segini belum sampai di rumah,' ucap sang papi.


'Jadi Lili tak ada di sana?' ucap Leo.


'Tak ada, kamu sendiri yang bilang 'kan? Kamu akan membawa anak dan istrimu untuk makan malam di rumah malam ini. Kenapa justru kamu yang tak tahu di mana istrimu sekarang,' ucap sang papi.


'Bukan begitu, Pi. Aku baru keluar kantor, jadi aku terlambat menjemput Lili. Aku sudah coba hubungi Lili tapi tak bisa, karena itu aku menghubungi Papi, aku pikir Lili dan Maisy sudah ada di sana,' ucap Leo.


'Tak ada, masih di rumah kalian mungkin,' ucap sang papi.


'Ya, baiklah. Aku akan matikan teleponnya dulu,' ucap Leo dan mengakhiri telepon itu.


'Semoga saja dia tak marah saat aku sampai di rumah nanti, jika tidak ...' Leo memutar bola matanya.


Dia pun memilih kembali fokus mengemudi. Entah akan seperti apa reaksi Lili saat dia sampai di rumah nanti, tetapi tentu saja dia berharap Lili takan mengajukan banyak pertanyaan padanya. Dia juga berharap Lili takan mengajaknya berdebat.

__ADS_1


__ADS_2