
Leo pergi menuju kamar, dia masih penasaran, apa sebenarnya yang terjadi pada Lili sehingga saat Lili kembali ke rumah Lili terlihat berbeda dari biasanya? Pikirnya.
Begitu sampai di kamar dia tak melihat Lili, dia lantas pergi ke ruang ganti dan melihat Lili sedang melepaskan anting-antingnya di depan cermin.
"Ke mana saja kamu seharian ini?" tanya Leo.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tadi pagi?" tanya Lili tanpa melihat Leo.
"Mana aku tahu, aku bahkan tak melihat wajah temanmu," ucap Leo.
Lili mengalami napas dan melihat Leo. Namun, tak ada yang dia katakan. Setelah itu dia berbalik dan kembali berhadapan dengan cermin.
Leo lantas menghampiri Lili dan meraih tangan sehingga dia berhadapan dengan Leo sekarang.
"Aku terkejut melihatmu memarahi Ani, sebelumnya kamu tak pernah melakukan hal seperti itu jadi aku pikir ada sesuatu yang mengganggumu," ucap Leo.
"Benarkah? Mungkin aku terlalu sabar selama ini karena itu kamu tak pernah melihatku marah pada orang lain," ucap Lili.
Leo mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan apa yang dikatakan Lili.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu memperhatikanku di rumah ini?" ucap Lili.
Lili menaikan satu alisnya, entah mengapa dia merasa Lili sedang menyindirnya.
"Ah, sudahlah. Lupakan saja tentang itu," ucap Lili melihat Leo yang hanya diam. Leo seperti orang bodoh sekarang. Sepertinya Leo benar-benar shock melihatnya memarahi Ani--sang asisten rumah tangga.
"Oh ya, besok aku akan bertemu temanku lagi," ucap Lili saat kembali melihat Leo.
"Apa?" tanya Leo sedikit terkejut.
Kenapa Lili jadi senang bepergian keluar? Pikirnya.
"Ya, aku akan bertemu dengan temanku lagi," ucap Lili.
"Teman yang mana lagi?" tanya Leo.
"Teman yang hari ini bertemu denganku," ucap Lili, kemudian tersenyum.
__ADS_1
Leo memutar bola matanya.
"Terserah kamu saja," ucap Leo, kemudian keluar dari ruang ganti. Dia bahkan keluar dari kamar.
Leo akhirnya meninggalkan rumah. Dia pikir sangat menyebalkan karena awalnya dia ingin mengerjai Lili yang meninggalkannya sarapan tadi pagi hanya demi menemui temannya. Namun, dia justru gagal mengerjai Lili. Dia pun akhirnya kehilangan selera makannya dan memilih kembali ke kantor.
Sementara itu di kamar, Lili menghubungi notaris ketika teringat sesuatu. Sepertinya ada untungnya Leo pulang ke rumah sehingga dia bisa bertemu Leo dan teringat pada hal tersebut. Tak lama sang notaris menjawab panggilannya.
'Halo Bu Lili,' ucap Rudi.
'Halo, Pak Rudi. Untuk pertemuan besok, bisakah Anda tak memberitahukannya pada Leo?' ucap Lili.
'Oh ya, saya juga belum memberitahu Pak Leo tentang rencana pembelian rumah yang akan Bu Lili lakukan,' ucap Rudi.
'Bagus sekali, saya juga ingin Anda tak mengatakan pada Leo tentang pertemuan besok,' ucap Lili.
'Maaf sebelumnya, apakah terjadi sesuatu?' tanya Rudi.
'Tidak, tapi saya yang akan mengatakannya sendiri pada Leo. Tentunya Setelah semua transaksinya selesai,' ucap Leo.
Lili lantas mengakhiri telepon itu, setelah itu dia keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang kerja Leo. Dia mengambil buku cek dari dalam laci meja kerja Leo dan menuliskan sejumlah nominal di atas selembar cek. Dia akan memberikan cek itu pada Rani. Rencananya besok dia akan bertemu kembali dengan Rani untuk mengurus pembelian rumah Rani.
Lili lantas merobek cek tersebut dan mengambil sebuah amplop dari laci meja kerja Leo. Dia memasukkan cek itu ke dalam amplop tersebut dan kembali ke kamar. Dia menyimpan cek itu di dalam tasnya untuk membuatnya tak melupakan membawa cek itu besok. Setelah itu Lili menghela napas lega.
'Entah apa yang akan terjadi saat Leo tahu bahwa aku diam-diam membeli sebuah rumah,' batin Lili penasaran.
Bukan tanpa alasan Lili ingin membeli rumah itu, tentu saja karena dia berpikir dia memiliki uang untuk membeli rumah itu. Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya selama Lili hidup dan dia akan membeli rumah dengan harga yang menurutnya sangatlah mahal. Sebelum menikah dengan Leo, dia hanya tinggal di sebuah apartemen kecil dan sederhana. Dia baru merasakan tinggal di rumah mewah setelah menikah dengan Leo.
Lili lalu pergi mencari Ani yang sempat dimarahinya tadi di depan Leo, dia bertemu Ani di dapur. Ani tampak sedang menyiapkan bahan-bahan makanan. Sepertinya Ani shock dimarahi olehnya sehingga Ani buru-buru bersiap untuk memasak.
"Ani!" panggil Lili, lantas Ani melihat Lili.
Lili pun menghampiri Ani.
"Nyonya, maafkan saya karena mungkin saya salah mengingat, tapi koreksi jika saya salah. Bukankah sebelum Anda pergi tadi pagi Anda sempat mengingatkan saya untuk tidak memasak makan siang?" tanya Ani.
Lili menghela napas. Ya, dia memang sempat mengatakan itu sebelum dia pergi untuk bertemu dengan temannya tadi. Dia juga sengaja pulang di menit-menit menjelang jam makan siang. Namun, dia tak benar-benar marah pada asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Ya," ucap Lili, membuat Ani merasa bingung. Jika Lili membenarkan apa yang dia katakan, lantas mengapa Lili memarahinya karena tak memasak makan siang? Pikirnya bingung.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud memarahimu," ucap Lili.
Ani terdiam dia masih tak mengerti, sebenarnya situasi macam apa yang sedang dialami sekarang?
"Oh ya, apa kamu akan memasak?" tanya Lili.
"Ya, saya akan memasak makan siang, Nyonya. Apa Anda sudah lapar? Saya baru akan mulai memasak," ucap Ani.
"Tak perlu memasak, lagipula Leo juga sepertinya sudah kembali ke kantor, dia mungkin makan siang di luar," ucap Lili.
"Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Ani.
"Tak masalah, buatkan makanan untuk Maisy saja. Dan untuk saya, bantu saya pesan makanan di luar. Pesankan untuk orang rumah juga," ucap Lili.
"Maksud Anda pesan untuk semua orang yang bekerja di rumah ini?" tanya Ani.
"Ya," ucap Lili, kemudian meninggalkan Ani.
Ani pun hanya diam memperhatikan kepergian Lili. Ani pun akhirnya tak jadi memasak. Dia benar-benar memesan makanan sesuai yang Lili perintahkan, dia juga memesankan makanan untuk dirinya sendiri, supir di rumah itu dan security. Setelah memesan makan siang dia mulai membuat makanan untuk Maisy.
***
Menjelang jam makan malam Leo memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, dia lantas memasuki rumah dan perhatiannya tertuju pada meja makan. Dia melihat tak ada makan malam di atas meja makan. Dia lantas mendekati meja makan itu. Dia juga melihat ke dapur dan dapur terlihat tampak rapi seperti tak ada jejak seseorang memasak di sana. Biasanya akan ada panci atau wajan berisikan makanan yang tertinggal di atas kompor. Dia juga tak melihat siapapun di rumah itu selain hanya security yang sebelumnya membukakan pintu pagar untuknya.
'Ke mana sebenarnya orang-orang di rumah ini?' batin Leo bingung.
Leo lalu pergi ke kamar dan melihat Lili yang sedang mengganti popok Maisy.
Lili tak menoleh dan tetap melihat Maisy yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Aku pulang," ucap Leo dan barulah Lili melihat ke arah Leo.
"Kenapa cepat sekali pulangnya?" ucap Lili terlihat terkejut, sontak Leo melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.
Apa Lili tak melihat jam? Jelas dia sudah pulang karena memang sudah waktunya jam pulang kantor, pikirnya.
__ADS_1