ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL

ISTRIKU SEPERTI PARANORMAL
PART 21 - ADA APA DENGAN MAISY?


__ADS_3

Leo kembali ke hotel dan memasuki kamarnya. Sebelum memasuki kamarnya, dia memasuki berniat menghampiri Maisy terlebih dahulu. Namun, di kamar itu hanya ada pengasuh Maisy yang sudah tertidur.


Leo pun melihat ke pintu menuju kamarnya bersama Lili, dia yakin Lili membawa Maisy ke dalam kamar itu.


Leo pun bergegas menuju kamar dan melihat Lili yang terlelap seraya menyusui Maisy. Tak ada box bayi di kamar itu, sehingga Maisy tidur dengan berjagakan bantal agar ketika berbalik nanti, Maisy takan tergelinding ke lantai.


Leo pun membuka kancing lengan kemejanya dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, dia lantas melepaskan jam tangannya dan meletakannya di atas nakas. Dia duduk di tepi tempat tidur, entah mengapa melihat Lili dan Maisy yang terlelap apalagi Maisy terlihat masih menyusu seakan muncul perasaan lain dalam hatinya.


Ya, dia memang jarang sekali memperhatikan keluarganya. Sejak awal dia menikahi Lili, dia tak benar-benar siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Dia ingin menjalani kehidupan bebas sesuai yang dia inginkan. Dia bahkan pernah bertekad, meskipun dia menikah, dia takan pernah membiarkan dirinya kehilangan pergaulannya. Dia takan pernah kehilangan waktu untuk bersenang-senang.


Namun, semua itu justru tak sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya, dia menginginkan apa yang semua orang inginkan. Dia menginginkan hal-hal sempurna dalam hidupnya. Meskipun mustahil untuk mendapatkan sesuatu dengan sempurna, tetapi dia menginginkan semua hal berjalan seperti yang dia inginkan.


Leo menunduk, baru saja dia berniat menyentuh kepala Maisy tetapi dia teringat sesuatu. Dia pun pergi ke kamar mandi setelah menyadari dia baru saja dari luar. Dia membersihkan tangan dan wajahnya setelah itu kembali ke kamar. Dia menyingkirkan bantal yang menjaga Maisy dan mulai merebahkan tubuhnya di sisi Maisy. Kini, dia lah yang menjaga Maisy. Biasanya, jika di ruman Maisy akan tidur di dalam box bayinya. Jarang sekali dia tidur dengan Maisy.


Aroma bayi menembus indera penciuman Leo, membuatnya tanpa sadar mendekatkan bibirnya ke kepala Maisy dan memberikan kecupan di sana. Dia memiliki perasaan berbeda pada Maisy meski dia belum bisa menjadi ayah yang baik.


Setelah itu, Leo memperhatikan wajah Lili. Semua yang dia rencanakan hari ini lagi-lagi tak berjalan sesuai keinginannya. Padahal, dia hanya ingin menikmati waktunya bersama Lili. Sebagai seorang suami tentu saja dia juga ingin mendapatkan haknya. Namun, lagi-lagi Lili menghindar dan tak ada yang bisa dia lakukan. Lebih baik sekarang dia mengistirahatkan matanya.


Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan lelah.


'Good night,' ucap Leo dan tertidur.


***


Ke esokan paginya, Leo terbangun karena merasakan sesuatu naik ke tubuhnya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang juga bergerak di dadanya. Dia pun perlahan membuka matanya dan pertama kali yang dia lihat adalah kepala bayi.

__ADS_1


Ya, tubuh Maisy tepat berada di atas dada Leo dan kepala Maisy terus bergerak di dada Leo.


"Kenapa membangunkan Papi? Papi masih ngantuk," ucap Leo seraya kembali memejamkan matanya. Namun, tak lama dia membuka matanya lagi dan Maisy tampak mengangkat kepalanya.


Maisy tersenyum seakan memberikan sapaan selamat pagi pada Leo. Leo pun tersenyum dan mengangkat kepalanya. Dia mengecup pipi Maisy. Dia lalu menoleh ke sampingnya dan ternyata sudah tak ada Lili.


"Ke mana Mami?" tanya Leo seraya menahan punggung Maisy. Dia khawatir anaknya itu akan terguling ke lantai.


Maisy yang baru bisa mengucapkan beberapa kata dan belum terlalu jelas membuat Leo menghela napas.


"Iya baiklah, coba turun dulu dari tubuh Papi. Nanti jatuh," ucap Leo.


Mendengar yang Leo katakan, Maisy justru meletakan kepalanya di dada Leo lagi, seakan dia ingin bermanja-manja dengan Leo. Leo pun dengan susah payah mencoba bangun agar tak sampai membuat tubuh Maisy tertekan. Maisy tumben sekali ingin dekat dengannya.


Begitu berhasil duduk, Leo menggendong Maisy dan mencari Lili ke kamar mandi. Namun, Lili tak ada di sana.


Maisy menggelengkan kepalanya dan justru memeluk leher Leo. Leo pun menggendong Maisy ala koala, dia lalu berjalan menuju kamar pengasuh Maisy. Barulah dia melihat Lili ada di sana.


Lili tampak terdiam melihat Leo yang sedang menggendong Maisy. Leo jarang, bahkan Lili yakin dia bisa menghitungnya. Dia merasa sedikit terkejut, entah ada angin apa pagi-pagi begini Leo begitu dekat dengan Maisy. Biasanya, pagi-pagi Leo akan sibuk bersiap ke kantor, lalu di hari libur Leo justru akan sibuk mengajaknya pergi keluar tanpa Maisy.


"Bagaimana sih? Meninggalkan Maisy sendirian di saat aku masih tidur, bagaimana jika dia jatuh?" ucap Leo. Lili melihat pengasuh Maisy yang tampak melihatnya. Pengasuh Maisy terlihat canggung.


"Aku tak tahu dia sudah bangun," ucap Lili seraya menghampiri Leo.


"Tak tahu, tak tahu. Nih," Leo berniat memberikan Maisy pada Lili tetapi Maisy justru tak ingin turun. Dia semakin erat memeluk leher Leo sehingga Leo harus menegakkan kepalanya agar kepala Maisy tak tertekan.

__ADS_1


"Dia tak mau turun," ucap Lili.


"Aku ingin buang air kecil, gendong dia dulu," ucap Leo. Lili mencoba menarik Maisy tetapi Maisy justru menggerakan kakinya. Dia enggan menjauh dari Leo


Leo pun menatap Maisy.


"Papi ingin ke kamar mandi, sebentar saja," ucap Leo.


"Papi," ucap Maisy.


Leo pun melihat Lili dan berbalik ke kamar.


"Ayok ikut, aneh sekali anak ini. Kenapa dia tak mau turun?" ucap Leo seraya melihat Lili. Lili menggidigkan bahunya. Dia juga tak mengerti mengapa Maisy semanja itu pada Leo. Padahal, biasanya Maisy biasa saja melihat Leo. Saat Leo akan pergi bekerja pun, Maisy biasa saja dan tak pernah terlihat sedih.


Begitu sampai di kamar mandi, Lili memaksa Maisy agar lepas dari Leo. Leo terus merengek ingin buang air kecil. Hal itu membuat Maisy menangis lantaran enggan lepas dari Leo.


"Kamu mengerti sekarang 'kan? Inilah yang aku alami setiap hari, aku juga kadang kesulitan ingin ke kamar mandi saat dia tak mau ditinggalkan," ucap Lili.


Leo hanya memutar bola matanya dan meminta Lili membawa Maisy menjauh darinya. Tak mungkin dia membiarkan Maisy melihatnya buang air kecil. Lili pun membawa Maisy ke tempat tidur dan menyusui Maisy di sana.


Dia memperhatikan wajah Maisy yang terlihat memerah akibat menangis tadi. Alisnya bahkan terlihat merah.


'Ya ampun, dia benar-benar sedih,' batin Lili. Lili merasa kasihan pada Maisy. Jarang sekali Maisy ingin digendong oleh Leo, bahkan jarang sampai menangis sesedih itu.


Lili pun mengusap kepala Maisy. Tak lama Leo keluar dari kamar mandi dan Maisy langsung menghentikan kegiatannya yang sedang meminum ASI. Dia melihat Leo dan meminta turun dari pangkuan Lili.

__ADS_1


Leo pun menghela napas.


'Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia manja sekali padaku?' batin Leo heran.


__ADS_2