
Seraya terus menggerutu Leo mencari pasta gigi yang Lili minta. Setelah menemukannya, Leo lantas mengetuk pintu kamar mandi dan tak lama Lili membuka pintu itu.
"Nih!" kesal Leo seraya menyodorkan pasta gigi itu ke hadapan Lili.
"Terima kasih," ucap Lili dan akan kembali menutup pintu.
Melihat itu Leo pun bergegas menjauhi pintu, dia khawatir Lili akan kembali membanting pintu kamar mandi. Namun, kali ini Lili justru tak membanting pintu, melainkan dia menutupnya dengan perlahan.
Leo pun memutar bola matanya dan memilih melepaskan atasannya. Seharian berada di luar membuatnya merasa tak nyaman. Dia lantas melemparkan pakaian itu ke sembarang arah. Dia masih kesal atas sikap Lili padanya, karena itu sebagai pelampiasannya dia membuang pakaiannya dengan sembarangan.
'Biarkan saja dia yang merapikannya,' batin Leo.
Ya, Leo justru berpikir ingin mengerjai Lili. Lebih tepatnya, dia ingin membalas dendam atas perbuatan Lili yang telah mengejutkannya.
Setelah itu dia kembali ke kamar dan mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur. Dia lantas mendengar notifikasi pesan dari ponselnya.
'Florence?' batin Leo shock ketika melihat ponselnya dan ternyata pesan itu datang dari Florence.
Leo bergegas melihat ke pintu ruang ganti. Dia khawatir Lili kembali ke kamar tiba-tiba.
'Kenapa dia mengirimiku pesan? Bagaimana jika Lili yang melihat ponselku?' gumam Leo. Setelah itu dia membuka pesan dari Florence.
'Apa kamu sudah bertemu istrimu? Aku harap dia tak marah karena kamu terlambat menjemputnya.'
Leo bergegas menghapus pesan dari Florence saat mendengar suara berisik dari ruang ganti. Dia lantas mengganti kontak Florence yang sebelumnya dia beri nama Florence menjadi nama 'EO.' Setelah itu dia menghela napas lega.
Baru sekarang dia terpikirkan memberi nama itu. Beruntung Florence memakai foto profil nama EO-nya sehingga Leo yakin Lili takan pernah curiga bahwa itu kontak Florence.
"Kamu mau mandi?" ucap Lili, sontak Leo yang terkejut pun langsung melihat ke arah Lili yang baru saja keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
"Ha? Ya," ucap Leo, kemudian meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Dia lantas tersenyum canggung menatap Lili.
Lili pun mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Lili bingung.
"Kenapa apanya?" tanya Leo lagi membuat Lili semakin bingung.
"Sudahlah, aku mau mandi," ucap Leo dan bergegas menuju kamar mandi.
Lili menggelengkan kepalanya dan perhatiannya tertuju pada ponsel Leo yang ada di atas tempat tidur. Ponsel Leo terlihat menyala. Setelah itu Lili melihat ke pintu ruang ganti dan sepertinya tak terlihat tanda-tanda Leo akan kembali ke kamar. Entah mengapa, setelah melihat ponsel Leo, Lili tiba-tiba ingin membuka ponsel Leo. Apalagi ponsel Leo terlihat masih menyala dan itu menandakan Leo sebelumnya melakukan sesuatu dengan ponselnya.
Lili lantas mengambil ponsel Leo dan melihat tak ada yang mencurigakan. Namun, begitu dia membuka WhatsApp di ponsel Leo, perhatiannya tertuju pada kontak 'EO' yang tak memiliki pesan di dalamnya.
Leo telah menghapus isi pesan di dalamnya. Namun, Leo lupa menghapus kontak itu dari pesan masuk WhatsApp-nya sehingga di pesan masuk WhatsApp-nya masih tertinggal jejak kontak itu. Lili mengerti itu menandakan bahwa sebelumnya Leo melakukan komunikasi dengan kontak EO tersebut.
"Tapi acara apalagi? Bukankah kemarin dia baru saja mengadakan acara di kantornya?" ucap Lili yang lagi-lagi semakin dibuat bingung.
Lili lantas memeriksa kontak EO itu dan memperhatikannya sebentar. Setelah itu dia bergegas melemparkan ponsel Leo ke tempat tidur saat dia mendengar Leo memanggilnya. Dia pun bergegas menghampiri Leo ke ruang ganti.
"Kenapa?" tanya Lili begitu sampai di ruang ganti. Leo tampak hanya memakai handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Handuk ini kotor terkena air," ucap Leo seraya menunjuk handuk yang dia kenakan. Lili terdiam bingung, apa sebenarnya maksud Leo? Bukankah gunanya handuk memang untuk menyeka air? Jadi wajar saja jika handuk terkena air, pikirnya.
Lili semakin dibuat bingung ketika Leo tiba-tiba melepaskan handuknya dan ternyata setelah handuk itu terbuka Leo memakai celana pendek.
"Ganti yang ini dan ambilkan handuk yang bersih," ucap Leo seraya melemparkan handuk itu ke arah Lili.
Lili dengan sigap menangkap handuk itu. Setelah itu dia meremas handuk itu seraya menatap Leo dengan sedikit tajam. Tentu saja dia tak suka Leo memperlakukannya seperti itu. Apakah Leo pikir dia pembantu Leo? Pikirnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Leo, dan Lili hanya diam seraya tetap menatap Leo dengan tatapan yang sama.
"Oh ya ampun ... Lagi-lagi aku lupa sesuatu," ucap Leo dan mendekati Lili.
Lili pun masih tetap diam saat Leo meraih kepalanya dan mendaratkan kecupan di kepalanya. Setelah itu, Leo menatap Lili seraya tersenyum.
"Sayang, tolong ambilkan handuk yang bersih," ucap Leo dengan nada bicara yang terdengar sangat manis. Leo bahkan lagi-lagi tersenyum. Setelah itu dia berbalik untuk kembali ke kamar mandi.
"Leo ...!" geram Lili, dan Leo menghentikan langkahnya. Dia kemudian tersenyum kecil.
'Rasakan, dia harus tahu akupun marah diperlakukan kasar olehnya!' batin Leo kesal.
Leo terkejut ketika Lili sampai di depannya dan Lili kemudian melilitkan handuk di lehernya. Tak hanya itu, yang lebih membuat Leo terkejut, Lili mengeratkan lilitan handuk itu sehingga membuat lehernya sedikit tercekik.
"Lili, ayolah ..." ucap Leo seraya mencoba melepaskan tangan Lili dari handuk yang melilit di lehernya. Namun, Lili terlalu erat memegang handuk itu.
"Minta tolong yang benar. Aku istrimu, bukan pembantumu!" kesal Lili.
"Aku sudah mengatakan kata tolong, apa yang salah denganmu?" ucap Leo.
"Apa yang salah katamu? Beruntung kamu Papinya Maisy, jika tidak ..." Lili terlalu geram sehingga dia semakin mengeratkan genggamannya di handuk Leo.
"Lepaskan dulu tanganmu, astaga ..." ucap Leo.
"Minta maaf padaku sekarang!" geram Lili.
Leo pun terdiam ketika melihat mata Lili memerah. Bahkan perlahan mata Lili mulai berair.
'Kenapa dia? Apa dia mau menangis?' batin Leo shock.
__ADS_1