
Ke esokan harinya.
Leo baru saja keluar dari kamar mandi, dia mengambil pakaiannya dan mulai bersiap. Tak lama, Lili memasuki ruang ganti. Dia pergi menuju lemari pakaian dan mengambil pakaiannya di sana.
"Oh ya." Lili berbalik dan melihat Leo yang enggan melihatnya. Leo sedang memakai pakaiannya.
"Jam 10 nanti aku akan pergi keluar," ucap Lili.
Leo masih tetap diam, sepertinya dia masih marah pada Lili.
Lili lantas menutup lemari dan kembali melihat Leo.
"Sudah lama sekali aku tak menikmati waktuku, dan kamu benar, tak seharusnya aku ikut andil dalam urusan rumah tangga," ucap Lili.
Leo terdiam, dan Lili menyadari kebingungan Leo atas ucapannya.
"Maksudku, mulai sekarang aku akan menyempatkan waktu untuk diriku sendiri. Misalnya, untuk bersenang-senang melepaskan penatku karena terus berada di rumah. Kamu sendiri tahu, 24 jam aku berada di rumah," ucap Lili.
Leo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia pun mengabaikan apa yang Lili katakan dan keluar dari ruang ganti.
Selang beberapa menit, Leo dan Lili duduk di meja makan. Lili pun mencoba menyiapkan sarapan untuk Leo. Namun, Leo yang baru saja mengambil peralatan makannya, justru kembali meletakan peralatan makan itu di meja.
"Aku akan sarapan di luar," ucap Leo dan bangkit dari kursinya.
Lili juga ikut bangkit dari kursinya dan memperhatikan Leo yang mulai mengambil tas kerjanya.
"Aku mendapatkan tawaran untuk kembali bekerja di perusahaan tempatku bekerja dulu, bagaimana menurutmu?" ucap Lili, sontak Leo terdiam.
Leo lalu berbalik dan melihat Lili.
"Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk membahas hal seperti ini? Aku akan pergi bekerja, kamu bisa membahasnya nanti, lagipula seharusnya kamu tahu apa jawabanku," ucap Leo dan akan melangkahkan kakinya. Namun, lagi-lagi Lili menghentikannya.
"Tapi aku menginginkan jawabanmu sekarang," ucap Lili.
Leo menghela napas dan kembali mendekati Lili.
"Tidak!" ucap Leo dengan nada bicara sedikit menekan.
"Oh, kenapa?" ucap Lili seraya mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu kenapa? Kamu pikir aku tak mampu menghidupimu, apa maksudmu ingin bekerja? Apa yang akan orangtuaku katakan nanti?" ucap Leo.
"Aku pikir, kamu menyukai wanita yang bekerja," ucap Lili.
Leo memutar bola matanya dan akan mengatakan sesuatu. Namun, Lili justru meletakan tangannya di jas yang Leo kenakan.
"Aku mengerti apa yang kamu katakan semalam, dan setelah aku memikirkannya, kamu memang benar. Aku memang perlu waktu untuk diriku sendiri, tapi jika boleh jujur, aku sebenarnya ingin kembali bekerja. Itulah mengapa, aku membahasnya denganmu sekarang," ucap Lili.
Leo menahan napasnya sejenak dan berbalik. Sebelum melangkahkan kakinya. Dia tiba-tiba mengambil dompetnya dan menyodorkannya ke hadapan Lili.
__ADS_1
Lili pun dibuat bingung.
"Ambil yang kamu butuhkan, dan pergilah keluar untuk menikmati waktumu sendiri. Tapi dengan catatan, keluar hanya untuk menyenangkan dirimu, bukan untuk menjadikanmu bawahan dari siapapun!" tegas Leo.
"Aku punya uang, aku tak butuh uang dari dompetmu. Lagipula, bukankah semalam kamu yang mengatakan padaku, bahwa aku layak menjadi pembantu? Lalu, apa bedanya pembantu dan bawahan? Bukankah itu sama saja?" ucap Lili.
Leo mengusap wajahnya, dan kembali menatap Lili.
"Aku sedang malas berdebat denganmu, sebaiknya lihat Maisy sana. Jangan sampai dia terjatuh ketika belajar berjalan," ucap Leo dan berbalik meninggalkan Lili.
Lili pun menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan sarapannya. Lihatlah, sebenarnya Lili ingin menyindir Leo, Lili berharap Leo sadar bahwa ucapan Leo semalam telah benar-benar melukai hati Lili. Namun, sepertinya mengharapkan itu dari Leo hanyalah angan-angan saja. Leo memang tak berperasaan.
Sementara itu, Leo berjalan menuju mobilnya dan membuka mobilnya dengan perasaan kesal. Lili benar-benar merusak mood-nya di pagi hari.
'Apa-apaan ingin bekerja? Apa dia ingin mempermalukanku?' batin Leo kesal.
Leo pun memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Leo yang masih dalam perasaan kesal berjalan menuju ruangannya. Melihat kedatangan Leo, Sisil pun bergegas menghampiri Leo yang sudah masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi," ucap Sisil seraya tersenyum.
Leo mengabaikan Sisil dan melepaskan jas yang dia kenakan. Dia lalu meletakan jas itu di sandaran kursi kerjanya dan mulai menduduki kursi tersebut.
"Ada apa? Kenapa sepertinya kamu kesal sekali?" ucap Sisil bingung. Apa terjadi sesuatu di jalan, ataukah Leo bertengkar dengan istrinya? Pikir Sisil.
Setelah itu, Leo mulai melihat Sisil. Dia memperhatikan Sisil dari sepatu yang Sisil kenakan hingga berakhir menatap mata Sisil.
"Sebenarnya, apa motivasimu ingin bekerja?" tanya Leo.
Sisil mengerutkan dahinya. Dia merasa bingung mendengar pertanyaan Leo.
"Bukan aku yang mewawancarai-mu ketika kamu melamar di perusahaan ini," ucap Leo.
Sisil menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Tentu saja karena aku butuh uang," ucap Sisil.
Leo pun mengangguk. Entah apa yang ada di pikirannya. Sepertinya, kekesalannya juga mulai sedikit mereda. Biasanya ketika marah dia akan sangat sensitif. Namun, dia justru biasa saja, bahkan ketika Sisil tak memanggilnya dengan sebutan profesional. Padahal, biasanya dia akan menegur Sisil.
"Apa terjadi masalah?" tanya Sisil.
Leo menggidigkan bahunya dan memundurkan kursi kerjanya. Setelah itu, dia menepuk pahanya dan Sisil tahu apa yang Leo maksud. Dia pun bergegas menghampiri Leo dan duduk di pangkuan Leo.
Leo mendekatkan bibirnya ke bibir Sisil, tetapi sedetik kemudian dia dibuat bingung karena Sisil justru menjauhkan wajahnya. Sisil tampaknya ingin menghindari ciuman Leo.
"Leo, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Sisil.
"Oke, menyingkirlah dan bicara dengan benar," ucap Leo.
__ADS_1
Sisil pun turun dari pangkuan Leo, dan berdiri di hadapan Leo yang masih dalam keadaan duduk.
"Leo, sebenarnya aku penasaran. Apa kamu benar-benar menyukaiku?" tanya Sisil.
"Ya, itulah mengapa aku mendekatimu," ucap Leo dengan santai.
"Tapi, aku pikir perasaanku padamu melebihi perasaanmu terhadapku," ucap Sisil.
Leo mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?" tanya Leo.
"Leo, aku terus memikirkanmu, bahkan terkadang aku berpikir untuk benar-benar bisa hidup denganmu," ucap Sisil.
Leo menaikan satu alisnya.
"Maksudku, aku pikir aku mencintaimu," ucap Sisil kemudian menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya, dia merasa malu mengatakan itu. Namun, demi mendapatkan kejelasan atas perasaan Leo terhadapnya, dia berusaha menyingkirkan rasa malunya.
Leo terdiam sejenak, dia kemudian bangkit dari kursinya. Dia pun kembali menatap Sisil.
"Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Leo.
"Aku ingin kejelasan atas hubungan yang kita jalani, aku menginginkan status dan ingin bebas tanpa merasa takut setiap kali aku dekat denganmu," ucap Sisil.
"Baiklah, apalagi?" tanya Leo dengan nada bicara begitu tenang. Hal itu membuat Sisil tersenyum.
"Apa kamu akan mempertimbangkannya?" tanya Sisil.
Leo mengangguk, membuat Sisil semakin dibuat senang. Senyuman semakin lebar terukir di bibirnya. Dia pun mendekati Leo dan memeluk Leo.
"Aku mencintaimu," ucap Sisil.
"Ya, sekarang keluarlah dulu dari ruanganku," ucap Leo.
Sisil mengangguk dan melepaskan Leo dari pelukannya.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku sekarang," ucap Sisil dan bergegas keluar dari ruangan Leo.
Setelah itu, Leo mengambil telepon di mejanya dan menyambungkan panggilan menuju HRD.
'Ya, Pak Leo,' ucap orang tersebut.
'Buatkan surat pemutusan kontrak kerja untuk Sisil, dan jangan lupa berikan pada Sisil sebelum jam makan siang nanti,' ucap Leo.
'Apa terjadi masalah? Kenapa tiba-tiba Anda ingin mengakhiri kontrak kerja Sisil, apa Anda berniat memecat Sisil?' tanya orang itu terdengar terkejut.
'Memecat Sisil? Itu terlalu kasar,' ucap Leo dan mengakhiri telepon itu.
Setelah itu, Leo pun kembali duduk di kursi kerjanya dan memulai pekerjaannya seakan dia tak memiliki beban apapun. Sepertinya, dia sama sekali tak peduli bagaimana respon Sisil nantinya saat tahu bahwa, dia akhirnya memecat Sisil.
__ADS_1